SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk hiburan keluarga di akhir pekan. Lebih daripada itu, animasi garapan Pixar Animation Studios untuk Walt Disney Pictures itu juga merupakan medium kritik dan renungan bagi prilaku serakah manusia abad 21, di mana antroposentris telah menjerumuskan kita pada sifat superior—merasa jauh lebih unggul—atas mahkluk lain.
Dan benar. Setelah menonton Hoppers, dari kisah Mabel Tanaka (tokoh utama) bersama teman-teman satwanya: berang-berang yang tambun, beruang, kadal, katak, ular, ulat-ulat licik, dll—orang-orang kreatif di Pixar selalu punya kecenderungan untuk membuat cerita yang mengulik kategori dan taksonomi dunia alam, seperti kata Alissa Wilkinson di The New York Times)—keyakinan saya semakin tebal bahwa film animasi kerap hadir sebagai medium yang tampak ringan tetapi menyimpan lapisan gagasan yang kompleks. Dalam konteks itu, Hoppers muncul sebagai salah satu karya yang mencoba menjembatani hiburan dengan kritik sosial-ekologis dengan imajinsi yang segar—walaupun tampaknya hanya setengah hati, tak keras, jelas, dan menonjok sebagaimana The Lorax (2012) garapan Chris Renaud, misalnya.
Disutradarai oleh Daniel Chong, fabel ini berkisah tentang Mabel Tanaka (disuarakan oleh Piper Curda), yang sejak kecil diajarkan oleh neneknya (Karen Huie) untuk mencintai hewan, tumbuhan, dan serangga yang menghuni padang kecil—dengan genangan air berkat bendungan berang-berang yang tenang—di dekat rumah sang nenek, tepat di pinggiran kota kecil bernama Beaverton. “Sulit untuk marah ketika kamu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar,” kata sang nenek kepada Mabel kecil yang mendorongnya untuk diam dan mengamati saat satwa-satwa muncul dari hutan dan perairan. Sebagai manusia, mereka pun merupakan bagian dari ekosistem tersebut, ujar sang nenek.

Saat berusia 19 tahun, Mabel telah menjadi mahasiswi pelindung padang tersebut yang penuh semangat dan keberanian. Namun, tempat itu berada dalam bahaya besar karena Wali Kota Beaverton yang populer dan tampan, Jerry (Jon Hamm), ingin membangun jalan lingkar yang melintasinya. Jerry mengklaim mendapat izin dari negara dengan alasan bahwa semua hewan telah meninggalkan padang itu. Dalam kepanikan, Mabel berkonsultasi dengan dosen biologinya, Dr. Sam (Kathy Najimy), yang memberitahunya bahwa ada satu cara untuk menyelamatkan padang tersebut: membuat koloni berang-berang kembali tinggal di sana. Sebagai spesies kunci, berang-berang beserta bendungannya akan menarik hewan-hewan lain kembali ke wilayah itu.
Sejak awal, Hoppers menempatkan dirinya sebagai film yang sadar akan krisis ekologis. Dunia yang dibangunnya bukan sekadar latar, melainkan representasi dari relasi manusia (atau makhluk) dengan lingkungan yang kian rapuh. Isu yang digaungkan cukup jelas: eksploitasi alam, hilangnya habitat, dan konsekuensi moral dari kemajuan yang tak terkendali. Namun, yang menarik, Hoppers tidak memilih jalur alegori yang terlalu eksplisit seperti The Lorax. Jika The Lorax secara gamblang menghadirkan kapitalisme rakus melalui karakter Once-ler dan kehancuran hutan Truffula, Hoppers cenderung lebih subtil, membiarkan penonton merangkai sendiri makna dari konflik yang muncul.
Pendekatan ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, Hoppers terasa lebih dewasa karena tidak menggurui. Ia memberi ruang tafsir, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan diskursus lingkungan. Namun di sisi lain, ketidakjelasan ini bisa membuat pesan film terasa kurang menggigit. Berbeda dengan The Lorax yang secara lugas menyampaikan kritik—bahkan hingga menjadi semacam slogan aktivisme—Hoppers kadang terjebak dalam ambiguitas yang justru melemahkan urgensinya.

Dari segi plot, Hoppers memiliki struktur yang cukup konvensional: perjalanan tokoh utama dari ketidaktahuan menuju kesadaran. Narasi berkembang melalui konflik eksternal—ancaman terhadap habitat—dan konflik internal—keraguan serta transformasi karakter. Sayangnya, perkembangan ini tidak selalu terasa organik. Beberapa titik perubahan tampak dipaksakan, seolah film terburu-buru mencapai klimaks tanpa memberi cukup waktu bagi penonton untuk terlibat secara emosional.
Sebagai perbandingan, The Lorax membangun progresi cerita yang lebih rapi. Transformasi Once-ler terasa gradual, didorong oleh pilihan-pilihan yang logis meskipun tragis. Penonton diajak menyaksikan kehancuran secara bertahap, sehingga dampaknya lebih membekas. Hoppers, sebaliknya, terkadang melompat dari satu konflik ke konflik lain tanpa jembatan yang kuat, membuat ritme cerita terasa tidak stabil.
Namun demikian, Hoppers memiliki keunggulan dalam eksplorasi dunia. World-building yang ditawarkan cukup imajinatif, dengan detail yang memperkaya pengalaman visual. Lingkungan yang digambarkan tidak hanya indah, tetapi juga menyiratkan ketegangan antara alam dan intervensi teknologi (sains). Di sinilah saya mulai menemukan kekhasan film ini. Ia bukan sekadar cerita tentang penyelamatan alam, melainkan juga refleksi tentang bagaimana teknologi mengubah cara makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan.
Kualitas animasi Hoppers patut diapresiasi. Secara teknis, film ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam rendering tekstur dan pencahayaan. Detail pada lanskap—mulai dari dedaunan hingga efek air—terlihat hidup dan dinamis. Gerakan karakter pun cukup halus, meskipun pada beberapa adegan masih terasa kaku, terutama dalam ekspresi wajah yang kurang variatif.
Jika dibandingkan dengan The Lorax, yang dirilis lebih dari satu dekade lalu, Hoppers jelas unggul dalam aspek teknologi. The Lorax mengandalkan gaya visual yang lebih kartunis, dengan warna-warna cerah dan desain karakter yang sederhana namun ikonik. Sementara itu, Hoppers mencoba pendekatan yang lebih realistis, mendekati estetika animasi modern yang mengutamakan detail. Namun, keunggulan teknis ini tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan emosional. Justru kesederhanaan visual The Lorax membuatnya lebih mudah diingat, sementara kompleksitas Hoppers kadang terasa berjarak.
Dari segi karakterisasi, Hoppers menghadirkan tokoh-tokoh yang cukup beragam, tetapi tidak semuanya mendapatkan porsi pengembangan yang memadai. Tokoh utama memang mengalami perkembangan, tetapi karakter pendukung sering kali hanya berfungsi sebagai alat untuk mendorong plot. Hal ini berbeda dengan The Lorax, di mana bahkan karakter sekunder memiliki peran yang jelas dan kontribusi terhadap tema.
Dialog dalam Hoppers juga menjadi area yang bisa diperdebatkan. Beberapa bagian terasa kuat dan reflektif, terutama ketika menyentuh isu moral. Namun, ada pula dialog yang terdengar klise, seolah mengulang pesan yang sudah sering muncul dalam film bertema serupa. The Lorax, meskipun juga tidak lepas dari simplifikasi, berhasil mengemas dialog dengan lebih ringan dan mudah diingat, bahkan dalam bentuk lagu yang menjadi bagian integral dari narasi.
Yang menarik, Hoppers tampaknya mencoba menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya anak-anak tetapi juga remaja dan dewasa. Hal ini terlihat dari kompleksitas tema dan pendekatan visualnya. Namun, ambisi ini belum sepenuhnya terwujud. Film ini berada di antara dua kutub: terlalu kompleks untuk anak-anak, tetapi belum cukup tajam untuk penonton dewasa. Sementara itu, The Lorax justru berhasil menyeimbangkan keduanya, menyampaikan pesan yang sederhana namun relevan bagi berbagai usia.

Sampai di sini, Hoppers adalah film yang penting, meskipun belum sepenuhnya berhasil. Ia menunjukkan bahwa animasi masih menjadi medium yang potensial untuk mengangkat isu-isu besar, terutama terkait lingkungan. Namun, untuk benar-benar berdampak, film semacam ini perlu menemukan keseimbangan antara pesan dan penyampaian, antara kompleksitas dan kejelasan.
Pada akhirnya, terlepas dari kesetengah hatian kritik sosial-ekologisnya, mengutip kata Alissa Wilkinson di The New York Times , “ini adalah sebuah fabel dengan sentuhan kecintaan pada sains dan deretan karakter hewan yang memikat. Pilihan yang jauh lebih baik dibanding banyak film lain yang bisa saja Anda tonton di bioskop.”[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole





























