14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas

I Wayan Artika by I Wayan Artika
March 16, 2026
in Khas
Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas

Tokoh-tokoh komunitas Desa Pedawa. Buleleng

PROGRAM Desa Binaan yang dikembangkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha merupakan bagian dari upaya menghadirkan perguruan tinggi secara lebih nyata di tengah masyarakat melalui program Dikti-Saintek Berdampak. Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat desa dalam merumuskan strategi pembangunan yang berkelanjutan. Pada tahun ketiga penyelenggaraannya (2026), program Desa Binaan FBS memilih Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng sebagai lokasi kegiatan. Desa ini termasuk dalam gugusan desa Bali Aga yang memiliki kekayaan tradisi, pengetahuan lokal, serta dinamika sosial yang khas.

Secara geografis, Desa Pedawa terletak di lereng pegunungan yang menghadap ke laut di pesisir utara Bali, berada di kawasan antara Seririt dan Banjar, di sebelah barat Singaraja. Posisi geografis ini menjadikan desa memiliki karakter ekologis yang unik: wilayah perbukitan yang kaya vegetasi, sekaligus memiliki hubungan ekologis dengan wilayah pesisir. Lanskap tersebut juga membentuk sistem kehidupan masyarakat yang sangat erat dengan alam, terutama dalam pengelolaan sumber daya seperti hutan, pohon aren, dan mata air.

Pada tahun ini, strategi pelaksanaan Desa Binaan dirancang dengan pendekatan kluster yang sejalan dengan struktur akademik di FBS Undiksha. Tiga kluster kegiatan dikembangkan sesuai dengan tiga jurusan yang ada. Jurusan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, yang menaungi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Program Studi Pendidikan Bahasa Bali, menangani kluster bahasa, literasi, dan identitas desa. Kluster ini berfokus pada upaya mendokumentasikan, memperkuat, dan mengembangkan pengetahuan lokal desa sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.

Sebagai langkah awal penyusunan program, pada tanggal 15 Maret dilakukan kegiatan survey pendahuluan di Desa Pedawa. Pertemuan berlangsung di Pondok Literasi Sabih, sebuah ruang literasi komunitas yang dirintis oleh Wayan Sadnyana. Ia dikenal sebagai intelektual pegiat pembangunan desa berbasis komunitas, sekaligus dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Bahasa Asing, FBS Undiksha. Kehadiran dan keterlibatan Wayan Sadnyana dalam proses ini memberikan dukungan strategis yang sangat penting, karena ia tidak hanya memahami konteks akademik program desa binaan, tetapi juga memiliki kedekatan sosial dan pengalaman panjang dalam pengembangan komunitas di Desa Pedawa.

Pertemuan survey dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat desa, termasuk aparat desa dan sejumlah komunitas yang selama ini aktif berkontribusi dalam pembangunan desa. Dari unsur pemerintah desa hadir salah seorang kepala dusun yang mewakili Kepala Desa. Ia juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pedawa, yang bertanggung jawab dalam pengembangan sektor pariwisata desa. Kehadiran unsur pemerintah desa menunjukkan adanya dukungan institusional terhadap kegiatan ini.

Salah seorang Kadus yang hadir, pengusaha UMKM Gula Semut, Ketua Pok Darwis Desa Pedawa

Selain aparat desa, pertemuan juga dihadiri oleh sejumlah komunitas yang selama ini berperan penting dalam berbagai aspek pembangunan desa. Salah satu komunitas yang hadir adalah Komunitas Getah Uyung. Dalam bahasa Bali Aga, istilah getah uyung merujuk pada nira atau air aren yang disadap dari pohon aren, tuak (jaka). Komunitas ini lahir dari kesadaran masyarakat terhadap nilai kultural dan ekonomi pohon aren yang sejak lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pedawa. Pohon aren tidak hanya memiliki nilai ekonomi melalui produksi gula merah, tetapi juga memiliki nilai simbolik dalam tradisi lokal.

Tokoh Komunitas Konservasi Pohon Aren, Komunitas Getah Uyung

Nira yang disadap dari pohon aren diolah menjadi gula merah atau gula Bali yang kini dikenal luas di berbagai daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, gula merah Pedawa semakin populer, terutama setelah munculnya berbagai inovasi produk oleh pelaku UMKM setempat, termasuk produksi gula semut dengan kemasan yang lebih modern. Komunitas Getah Uyung tidak hanya bergerak dalam produksi ekonomi, tetapi juga melakukan konservasi pohon aren serta mengembangkan apresiasi terhadap nilai budaya yang melekat pada tanaman tersebut. Dengan demikian, komunitas ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi berkelanjutan tanpa kehilangan nilai ekologis dan kulturalnya.

Komunitas lain yang turut hadir adalah Komunitas Balawa yang bergerak dalam bidang kebersihan lingkungan desa. Salah satu program unggulannya adalah pengelolaan bank sampah yang sebelumnya dijalankan melalui kerja sama dengan instansi terkait. Program ini sempat berjalan cukup baik, tetapi dalam beberapa tahun terakhir mengalami kendala karena terputusnya mata rantai kerja sama dengan pihak yang sebelumnya membeli sampah plastik yang dikumpulkan oleh warga. Meski demikian, aktivitas komunitas ini tidak berhenti sepenuhnya. Mereka tetap menjalankan kegiatan rutin membersihkan lingkungan desa, terutama dari sampah plastik. Hasilnya dapat dilihat secara nyata di lingkungan desa yang relatif bersih, dengan jalan-jalan desa dan saluran air yang terbebas dari sampah plastik yang sering menjadi masalah di banyak desa lain di Bali.

Tim Komunitas Balawa yang bergerak dalam Pengelolaan Sampah di Desa Pedawa

Dalam bidang konservasi lingkungan, terdapat pula Komunitas Kayonan yang telah lama bergerak dalam jaringan kerja sama nasional maupun internasional. Komunitas ini mengembangkan berbagai program pelestarian lingkungan, seperti konservasi hutan, perlindungan mata air, pelestarian bambu, serta inventarisasi tanaman yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Salah satu capaian penting komunitas ini adalah pendataan mata air yang ada di Desa Pedawa yang mencapai 81 titik. Namun, kegiatan mereka tidak berhenti pada tahap pendataan semata. Komunitas Kayonan juga mengembangkan sistem konservasi berbasis mata air yang disebut kayehan, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil masyarakat yang bertanggung jawab menjaga setiap mata air beserta vegetasi di sekitarnya.

Tokoh Komunitas Kayonan yang telah malang melintang dalam konservasi mata air, hutan, dan vegetasi di Desa Pedawa dan hutan Danau Tamblingan

Dalam waktu dekat, komunitas ini juga merencanakan kegiatan penghijauan di kawasan hutan Danau Tamblingan. Program ini didasarkan pada pemahaman ekologis bahwa desa-desa yang berada di hilir dan mendapatkan sumber air dari kawasan danau memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga kelestarian wilayah hulu. Pemikiran ini menunjukkan bagaimana masyarakat desa membangun kesadaran ekologis yang melampaui batas administratif desa dan mengarah pada perspektif ekologi kawasan.

Di bidang pendidikan dan penguatan pengetahuan lokal, masyarakat Desa Pedawa juga mengembangkan Sekolah Adat. Sekolah ini bersifat informal dan memiliki kurikulum yang sangat kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa. Tujuan utama pendirian sekolah adat ini adalah untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal Pedawa yang sangat kaya tetapi mulai dilupakan oleh generasi muda. Sekolah adat tidak hanya mengajarkan tradisi masa lalu, tetapi juga memberikan pemahaman tentang berbagai isu kontemporer, seperti patologi sosial dan dinamika perkembangan dunia global. Dengan demikian, sekolah adat berfungsi sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan tradisional dengan realitas modern.

Wayan Sadnyana (atas) sebagai inisiator pembangunan Desa Pedawa berbasis komunitas selalu mendapat dukungan dari kedua orang tuanya

Komunitas lain yang hadir dalam pertemuan adalah Komunitas Lau-lau, yang bergerak dalam bidang ritual dan tradisi setempat, khususnya terkait upacara ngangkit. Istilah lau-lau merujuk pada teks yang ditulis dalam aksara Bali pada daun lontar yang digunakan dalam rangkaian upacara tersebut. Pada lembar lontar tersebut dituliskan nama orang yang meninggal, disertai doa serta pernyataan bahwa yang bersangkutan telah mendapatkan upacara yang layak dari keluarganya. Teks ini menjadi bagian penting dari proses ritual yang memohonkan anugerah serta tempat yang baik bagi roh orang yang telah meninggal. Komunitas Lau-lau dengan demikian memainkan peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi ritual dan pengetahuan aksara Bali di Desa Pedawa.

Tokoh Spiritual Komunitas Penulis Lau Lau dalam Tradisi Upacara Ngangkit di Desa Pedawa

                        

Keberadaan Komunitas Lau-lau di Desa Pedawa merupakan fenomena kultural yang menarik jika dilihat dari perspektif literasi desa. Di banyak wilayah Bali, tradisi aksara Bali sering kali hanya bertahan dalam ruang pendidikan formal atau dalam kegiatan ritual tertentu yang terbatas. Namun di Desa Pedawa, penggunaan aksara Bali masih hidup sebagai praktik sosial yang nyata melalui kegiatan penulisan dokumen ritual yang disebut lau-lau. Praktik ini menunjukkan bahwa literasi di desa tua seperti Pedawa tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis secara umum, tetapi juga sebagai kemampuan menguasai sistem aksara tradisional yang terhubung dengan praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari pertemuan survey yang berlangsung secara terbuka dan dialogis tersebut terlihat dengan jelas bahwa komunitas memiliki peran yang sangat penting dalam dinamika pembangunan Desa Pedawa. Berbagai kemajuan desa dalam bidang ekonomi, lingkungan, budaya, maupun pendidikan tidak semata-mata digerakkan oleh aparat desa, tetapi juga oleh komunitas-komunitas yang bekerja secara mandiri dan kreatif. Komunitas-komunitas ini membangun jaringan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Suasana akrab dan dialogis selama presetasi komunitas dan tanya jawab dari tim FBS, di Pondok Literasi Sabih, sekaligus rumah Pak Wayan Sadnyana, Dosen Pendidikan Bahasa Jepang FBS Undiksha dari Desa Pedawa

Dalam perspektif pembangunan desa kontemporer, kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan pembangunan berbasis komunitas. Model pembangunan semacam ini menempatkan komunitas sebagai aktor utama yang memiliki pengetahuan lokal, kepentingan langsung, serta komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan budaya. Aparat desa dalam hal ini berperan sebagai fasilitator dan penghubung administratif yang mendukung inisiatif-inisiatif komunitas.

Tantangan utama bagi program Desa Binaan FBS Undiksha pada tahun ini adalah merumuskan desain pembangunan desa yang mampu mengintegrasikan peran komunitas secara lebih sistematis. Komunitas tidak boleh diposisikan sebagai pesaing atau rival bagi aparat desa, melainkan sebagai mitra strategis yang saling melengkapi. Aparat desa memiliki kekuatan dalam aspek regulasi, koordinasi administratif, dan akses terhadap program pemerintah, sedangkan komunitas memiliki kekuatan pada kreativitas sosial, kedekatan dengan masyarakat, serta fleksibilitas dalam menjalankan berbagai inisiatif lokal.

Dengan demikian, pembangunan desa berbasis komunitas di Desa Pedawa dapat dipahami sebagai suatu model kolaboratif yang menghubungkan tiga unsur utama: pemerintah desa, komunitas lokal, dan lembaga pengetahuan seperti perguruan tinggi. Melalui kolaborasi ini diharapkan muncul desain pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian lingkungan, penguatan identitas budaya, serta pengembangan literasi masyarakat.

Dalam konteks inilah peran kluster bahasa, literasi, dan identitas desa menjadi sangat strategis. Dokumentasi pengetahuan lokal, penguatan tradisi literasi, serta pengembangan narasi identitas desa akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan Pedawa di masa depan. Desa tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga tetap berakar kuat pada warisan budaya dan pengetahuan lokal yang menjadi kekuatan utamanya. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengDesa PedawaFakultas Bahasa dan Seni UndikshakomunitasUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Next Post

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co