PROGRAM Desa Binaan yang dikembangkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha merupakan bagian dari upaya menghadirkan perguruan tinggi secara lebih nyata di tengah masyarakat melalui program Dikti-Saintek Berdampak. Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat desa dalam merumuskan strategi pembangunan yang berkelanjutan. Pada tahun ketiga penyelenggaraannya (2026), program Desa Binaan FBS memilih Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng sebagai lokasi kegiatan. Desa ini termasuk dalam gugusan desa Bali Aga yang memiliki kekayaan tradisi, pengetahuan lokal, serta dinamika sosial yang khas.
Secara geografis, Desa Pedawa terletak di lereng pegunungan yang menghadap ke laut di pesisir utara Bali, berada di kawasan antara Seririt dan Banjar, di sebelah barat Singaraja. Posisi geografis ini menjadikan desa memiliki karakter ekologis yang unik: wilayah perbukitan yang kaya vegetasi, sekaligus memiliki hubungan ekologis dengan wilayah pesisir. Lanskap tersebut juga membentuk sistem kehidupan masyarakat yang sangat erat dengan alam, terutama dalam pengelolaan sumber daya seperti hutan, pohon aren, dan mata air.
Pada tahun ini, strategi pelaksanaan Desa Binaan dirancang dengan pendekatan kluster yang sejalan dengan struktur akademik di FBS Undiksha. Tiga kluster kegiatan dikembangkan sesuai dengan tiga jurusan yang ada. Jurusan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, yang menaungi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Program Studi Pendidikan Bahasa Bali, menangani kluster bahasa, literasi, dan identitas desa. Kluster ini berfokus pada upaya mendokumentasikan, memperkuat, dan mengembangkan pengetahuan lokal desa sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Sebagai langkah awal penyusunan program, pada tanggal 15 Maret dilakukan kegiatan survey pendahuluan di Desa Pedawa. Pertemuan berlangsung di Pondok Literasi Sabih, sebuah ruang literasi komunitas yang dirintis oleh Wayan Sadnyana. Ia dikenal sebagai intelektual pegiat pembangunan desa berbasis komunitas, sekaligus dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Bahasa Asing, FBS Undiksha. Kehadiran dan keterlibatan Wayan Sadnyana dalam proses ini memberikan dukungan strategis yang sangat penting, karena ia tidak hanya memahami konteks akademik program desa binaan, tetapi juga memiliki kedekatan sosial dan pengalaman panjang dalam pengembangan komunitas di Desa Pedawa.
Pertemuan survey dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat desa, termasuk aparat desa dan sejumlah komunitas yang selama ini aktif berkontribusi dalam pembangunan desa. Dari unsur pemerintah desa hadir salah seorang kepala dusun yang mewakili Kepala Desa. Ia juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pedawa, yang bertanggung jawab dalam pengembangan sektor pariwisata desa. Kehadiran unsur pemerintah desa menunjukkan adanya dukungan institusional terhadap kegiatan ini.

Selain aparat desa, pertemuan juga dihadiri oleh sejumlah komunitas yang selama ini berperan penting dalam berbagai aspek pembangunan desa. Salah satu komunitas yang hadir adalah Komunitas Getah Uyung. Dalam bahasa Bali Aga, istilah getah uyung merujuk pada nira atau air aren yang disadap dari pohon aren, tuak (jaka). Komunitas ini lahir dari kesadaran masyarakat terhadap nilai kultural dan ekonomi pohon aren yang sejak lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pedawa. Pohon aren tidak hanya memiliki nilai ekonomi melalui produksi gula merah, tetapi juga memiliki nilai simbolik dalam tradisi lokal.

Nira yang disadap dari pohon aren diolah menjadi gula merah atau gula Bali yang kini dikenal luas di berbagai daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, gula merah Pedawa semakin populer, terutama setelah munculnya berbagai inovasi produk oleh pelaku UMKM setempat, termasuk produksi gula semut dengan kemasan yang lebih modern. Komunitas Getah Uyung tidak hanya bergerak dalam produksi ekonomi, tetapi juga melakukan konservasi pohon aren serta mengembangkan apresiasi terhadap nilai budaya yang melekat pada tanaman tersebut. Dengan demikian, komunitas ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi berkelanjutan tanpa kehilangan nilai ekologis dan kulturalnya.
Komunitas lain yang turut hadir adalah Komunitas Balawa yang bergerak dalam bidang kebersihan lingkungan desa. Salah satu program unggulannya adalah pengelolaan bank sampah yang sebelumnya dijalankan melalui kerja sama dengan instansi terkait. Program ini sempat berjalan cukup baik, tetapi dalam beberapa tahun terakhir mengalami kendala karena terputusnya mata rantai kerja sama dengan pihak yang sebelumnya membeli sampah plastik yang dikumpulkan oleh warga. Meski demikian, aktivitas komunitas ini tidak berhenti sepenuhnya. Mereka tetap menjalankan kegiatan rutin membersihkan lingkungan desa, terutama dari sampah plastik. Hasilnya dapat dilihat secara nyata di lingkungan desa yang relatif bersih, dengan jalan-jalan desa dan saluran air yang terbebas dari sampah plastik yang sering menjadi masalah di banyak desa lain di Bali.


Dalam bidang konservasi lingkungan, terdapat pula Komunitas Kayonan yang telah lama bergerak dalam jaringan kerja sama nasional maupun internasional. Komunitas ini mengembangkan berbagai program pelestarian lingkungan, seperti konservasi hutan, perlindungan mata air, pelestarian bambu, serta inventarisasi tanaman yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Salah satu capaian penting komunitas ini adalah pendataan mata air yang ada di Desa Pedawa yang mencapai 81 titik. Namun, kegiatan mereka tidak berhenti pada tahap pendataan semata. Komunitas Kayonan juga mengembangkan sistem konservasi berbasis mata air yang disebut kayehan, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil masyarakat yang bertanggung jawab menjaga setiap mata air beserta vegetasi di sekitarnya.

Dalam waktu dekat, komunitas ini juga merencanakan kegiatan penghijauan di kawasan hutan Danau Tamblingan. Program ini didasarkan pada pemahaman ekologis bahwa desa-desa yang berada di hilir dan mendapatkan sumber air dari kawasan danau memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga kelestarian wilayah hulu. Pemikiran ini menunjukkan bagaimana masyarakat desa membangun kesadaran ekologis yang melampaui batas administratif desa dan mengarah pada perspektif ekologi kawasan.
Di bidang pendidikan dan penguatan pengetahuan lokal, masyarakat Desa Pedawa juga mengembangkan Sekolah Adat. Sekolah ini bersifat informal dan memiliki kurikulum yang sangat kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa. Tujuan utama pendirian sekolah adat ini adalah untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal Pedawa yang sangat kaya tetapi mulai dilupakan oleh generasi muda. Sekolah adat tidak hanya mengajarkan tradisi masa lalu, tetapi juga memberikan pemahaman tentang berbagai isu kontemporer, seperti patologi sosial dan dinamika perkembangan dunia global. Dengan demikian, sekolah adat berfungsi sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan tradisional dengan realitas modern.



Komunitas lain yang hadir dalam pertemuan adalah Komunitas Lau-lau, yang bergerak dalam bidang ritual dan tradisi setempat, khususnya terkait upacara ngangkit. Istilah lau-lau merujuk pada teks yang ditulis dalam aksara Bali pada daun lontar yang digunakan dalam rangkaian upacara tersebut. Pada lembar lontar tersebut dituliskan nama orang yang meninggal, disertai doa serta pernyataan bahwa yang bersangkutan telah mendapatkan upacara yang layak dari keluarganya. Teks ini menjadi bagian penting dari proses ritual yang memohonkan anugerah serta tempat yang baik bagi roh orang yang telah meninggal. Komunitas Lau-lau dengan demikian memainkan peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi ritual dan pengetahuan aksara Bali di Desa Pedawa.

Keberadaan Komunitas Lau-lau di Desa Pedawa merupakan fenomena kultural yang menarik jika dilihat dari perspektif literasi desa. Di banyak wilayah Bali, tradisi aksara Bali sering kali hanya bertahan dalam ruang pendidikan formal atau dalam kegiatan ritual tertentu yang terbatas. Namun di Desa Pedawa, penggunaan aksara Bali masih hidup sebagai praktik sosial yang nyata melalui kegiatan penulisan dokumen ritual yang disebut lau-lau. Praktik ini menunjukkan bahwa literasi di desa tua seperti Pedawa tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis secara umum, tetapi juga sebagai kemampuan menguasai sistem aksara tradisional yang terhubung dengan praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari pertemuan survey yang berlangsung secara terbuka dan dialogis tersebut terlihat dengan jelas bahwa komunitas memiliki peran yang sangat penting dalam dinamika pembangunan Desa Pedawa. Berbagai kemajuan desa dalam bidang ekonomi, lingkungan, budaya, maupun pendidikan tidak semata-mata digerakkan oleh aparat desa, tetapi juga oleh komunitas-komunitas yang bekerja secara mandiri dan kreatif. Komunitas-komunitas ini membangun jaringan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Dalam perspektif pembangunan desa kontemporer, kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan pembangunan berbasis komunitas. Model pembangunan semacam ini menempatkan komunitas sebagai aktor utama yang memiliki pengetahuan lokal, kepentingan langsung, serta komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan budaya. Aparat desa dalam hal ini berperan sebagai fasilitator dan penghubung administratif yang mendukung inisiatif-inisiatif komunitas.
Tantangan utama bagi program Desa Binaan FBS Undiksha pada tahun ini adalah merumuskan desain pembangunan desa yang mampu mengintegrasikan peran komunitas secara lebih sistematis. Komunitas tidak boleh diposisikan sebagai pesaing atau rival bagi aparat desa, melainkan sebagai mitra strategis yang saling melengkapi. Aparat desa memiliki kekuatan dalam aspek regulasi, koordinasi administratif, dan akses terhadap program pemerintah, sedangkan komunitas memiliki kekuatan pada kreativitas sosial, kedekatan dengan masyarakat, serta fleksibilitas dalam menjalankan berbagai inisiatif lokal.
Dengan demikian, pembangunan desa berbasis komunitas di Desa Pedawa dapat dipahami sebagai suatu model kolaboratif yang menghubungkan tiga unsur utama: pemerintah desa, komunitas lokal, dan lembaga pengetahuan seperti perguruan tinggi. Melalui kolaborasi ini diharapkan muncul desain pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian lingkungan, penguatan identitas budaya, serta pengembangan literasi masyarakat.
Dalam konteks inilah peran kluster bahasa, literasi, dan identitas desa menjadi sangat strategis. Dokumentasi pengetahuan lokal, penguatan tradisi literasi, serta pengembangan narasi identitas desa akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan Pedawa di masa depan. Desa tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga tetap berakar kuat pada warisan budaya dan pengetahuan lokal yang menjadi kekuatan utamanya. [T]
Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole




























