1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

Jaswanto by Jaswanto
February 22, 2026
in Khas
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di Surabaya Barat. Saat itu Sem singgah sebentar di kontrakan saya setelah menempuh perjalanan jauh, dua hari berlayar dari Pulau Sulawesi menuju Tanjung Perak, Surabaya. Ia hendak pulang kampung ke Lombok Tengah, NTB. “Tak ada kapal langsung ke Lombok. Jadi, harus transit dulu di Surabaya, besok baru naik kapal lagi ke Lombok,” terang pemuda tambun itu sembari menyedot air mineral.

Sem, begitu ia akrab dipanggil, mengisahkan perjuangannya mengajar anak-anak sekolah dasar di Sulawesi Tengah, di pedalaman antah-berantah yang tak terbaca oleh peta dan tentu saja jauh dari istana presiden di ibu kota, tepatnya di SD Inpres 4 Terpencil Sidoan, Desa Sidoan Barat, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong. Guru muda lulusan Universitas Pendidikan Ganesha itu lolos PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja)—selanjutnya ditulis P3K—dan ditempatkan di sana sejak Desember tahun lalu.

“Mengetahui tempatnya sangat jauh, awalnya saya hendak mengundurkan diri,” Sem melanjutkan cerita. “Tapi ibu saya menyuruh ‘coba dulu’. Dan saya berangkat meski berat.” Ia bercerita pelan sekali, seperti orang kehabisan tenaga—ia memang terlihat capai.

Gedung sekolah itu kecil saja, kata Sem, berdiri di atas bukit yang curam. Dindingnya terbuat dari setengah kayu setengah beton. Ini satu-satunya sekolah di kawasan tersebut. Beberapa anak harus naik-turun bukit melalui jalan setapak berbatu untuk belajar. Beberapa lainnya jalan kaki menelusuri sungai. Jika sungai meluap, anak-anak terpaksa tidak bisa berangkat sekolah. Dan kalau ada angin, sekadar mendung, atau bahkan hujan, sekolah terpaksa libur atau dipulangkan sebelum waktunya. “Terlalu berisiko,” jelas pemuda kelahiran Lombok Tengah, 12 Februari 1999 itu.

Suasana di salah satu ruang kelas SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong | Foto: Erwin

Di SD Inpres 4 Terpencil Sidoan, menurut informasi dari Sem, terdapat 62 murid dari kelas satu sampai enam. Sementara itu guru dan tenaga pendidikannya tak lebih banyak dari jumlah jari tangan. “Ada 9 petugas. 1 guru PNS, 4 guru P3K, 2 guru honorer, dan 2 tendik,” katanya. Sem, yang notabene lulus pendidikan ekonomi, di SD Inpres 4 Terpencil Sidoan, nyaris mengajar semua mata pelajaran.

Malam itu Sem tidak sendiri. Ia bersama Erwin Jaya, guru P3K yang juga mengajar di wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Erwin dan Sem sama-sama dari Lombok Tengah. Apa yang dikisahkan Sem juga dirasakan oleh Erwin.

“Tapi di kawasan Erwin mengajar masih sedikit lebih enak. Soalnya bisa main bulutangkis,” ujar Sem membandingkan nasibnya sembari tertawa. Ya, di lokasinya mengajar, Sem mengaku tak memiliki hiburan apa-apa selain gawainya. Selesai mengajar, ia tak banyak beraktivitas. “Mau ke Kota Palu cukup jauh. Buang-buang waktu, tenaga, dan bensin,” ujarnya.

Erwin ditugaskan di SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong, Desa Supilopong, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong. Sekolah Erwin mengajar lebih kecil daripada tempat Sem ditugaskan. Sekolah itu berupa rumah panggung berubin kayu yang sudah lapuk dan menjadi santapan rayap. “Mulai dari lantai sampai kusen jendela rata-rata sudah bolong,” ujar Erwin, guru muda lulusan Universitas Mataram itu.

Sem bersama siswa-siswi SD Inpres 4 Terpencil Sidoan, Desa Sidoan Barat, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong | Foto: Dok. Sem

Jika di SD Inpres 4 Terpencil Sidoan terdapat 6 ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, rumah dinas dan toilet, di SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong hanya terdapat 1 gedung yang dibagi menjadi 3 ruangan, 2 ruangan tanpa sekat. SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong hanya memiliki 28 siswa dari kelas satu sampai enam dan tujuh guru: 3 honorer, 3 P3K, 1 PNS.

Tak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Sem, menurut Erwin, akses menuju ke SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong juga harus melewati pegunungan dengan tebing sangat curam. Jalurnya naik ke gunung, melewati beberapa tanjakan tajam dan menantang. Walapun sudah dirabat beton, namun kondisinya sekarang sudah mulai rusak parah.

“Saya ingat, suatu ketika, rekan saya pernah jatuh di jalan yang rusak saat membawa siswa menuruni gunung dalam rangka menghadiri kegiatan yang diadakan dinas pendidikan di sekolah negeri yang ada di bawah gunung. Anak itu menangis kesakitan karena perutnya tertindih motor,” Erwin bercerita.

Untuk bisa belajar di SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong, anak-anak harus berjalan kaki, menempuh jarak mulai dari 25 m sampai yang terjauh 2 km. “Tapi kadang ada yang diantar bapaknya sambil berangkat ke kebun,” kata Erwin.

Samsul Rizal atau akrab dipanggil Sem mengabadikan diri bersama dua siswi SD Inpres 4 Terpencil Sidoan | Foto: Sem

Wajah pendidikan di pedalaman Parigi Moutong memang masih memprihatinkan. Selain akses yang sulit dijangkau—para guru harus menggunakan motor rakitan sendiri untuk mencapai lokasi sekolah sebagaimana pengakuan Sem dan Erwin—juga minimnya tenaga pengajar dan infrastruktur sekolah yang serba terbatas. Di lokasi Erwin mengajar, misalnya, listrik belum sepenuhnya tersedia. Warga masih menggunakan mesin generator set (genset) untuk menerangi kawasan.

“Tentu saja itu membuat proses pembelajaran menjadi tidak maksimal,” ujar Erwin. “Sebagian besar dari kami [guru P3K] tidak maksimal dalam menerapkan metode belajar yang kami dapat saat PPG (Pendidikan Profesi Guru),” Erwin tampak menyesali kondisi tersebut.

Ironisnya, pemerintah yang baru ini dinilai melanggar konstitusi karena memangkas hampir sepertiga alokasi anggaran pendidikan yang berjumlah setidaknya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk program makan bergizi gratis. Atas dasar itulah, sejumlah mahasiswa, guru honorer, dan yayasan sekolah mengajukan uji materi UU Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN Tahun Anggaran 2026 ke Mahkamah Konstitusi.

Mereka menuntut, sebagaimana diberitakan BBC News Indonesia, agar pos anggaran pendidikan “steril” alias benar-benar diperuntukkan untuk fungsi inti pendidikan, sesuai UU Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan. Dalam dua aturan itu, sama sekali tidak ada ketentuan soal makan bergizi gratis.

SD Inpres 4 Terpencil Sidoan, Desa Sidoan Barat, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong | Foto: Sem

Apa yang  dikisahkan Sem dan Erwin sebenarnya bukan barang baru. Banyak kisah serupa di negeri ini—yang datang dari antah-berantah lainnya. Sebutlah di wilayah-wilayah di Papua pun di Sumatra, misalnya. Film-film macam Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Laskar Pelangi (2008), Di Timur Matahari (2012), Sokola Rimba (2013) sedikit banyak menangkap realitas itu. Dalam banyak kisah itu, selalu ada sisi di mana negara belum sepenuhnya hadir di ruang-ruang kelas sekolah pelosok. Kisah seperti ini tidak sekadar cerita tentang anak-anak yang ingin sekolah, tetapi tentang jurang panjang antara keinginan untuk belajar dan kemungkinan untuk benar-benar belajar.

Tengoklah dalam Denias, atau coba baca catatan Yang Menyublim di Sela Hujan (2018), catatan Fawaz saat bertugas di Mumugu Batas Batu, Kabupaten Asmat, pendidikan di Papua hadir nyaris sebagai sesuatu yang mitologis—jauh, sulit dijangkau, tetapi dipercaya mampu mengubah nasib. Denias—tokoh dalam film itu—harus berjalan melintasi lembah dan bukit, meninggalkan kampung halamannya, hanya untuk menemukan sesuatu yang di kota dianggap biasa: guru yang datang tepat waktu dan pasti datang, infrastruktur belajar yang memadai, dan ruang belajar yang tidak runtuh oleh hujan dan angin.

Atau perjuangan Lintang dalam Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengendarai sepeda Rally Robinson—buatan Inggris—dengan susah payah untuk berangkat ke sekolah. Lintang terpaksa mengendarai sepeda orang dewasa itu, selain jarak rumah ke sekolahnya sangat jauh, juga karena kendaraan itu satu-satunya yang keluarganya punya. Bukan hanya soal sepeda dan jarak sekolah yang menjadi masalah, tapi juga medan yang harus dilaluinya saat berangkat ke sekolah adalah hutan belantara, genangan air, sampai ancaman yang paling ekstrem: habitat buaya.

SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong, Desa Supilopong, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong | Foto: Erwin

Mengutip Ahmad Khadafi dalam Saat Anak-Anak Pemberani Pergi ke Sekolah, “ini bisa dijadikan gambaran bahwa kadang ada hal yang dilupakan dari sekadar kebutuhan pendidikan untuk setiap anak Indonesia, yakni akses pendidikan.”

Acap kali pemerintah lupa bahwa berbicara soal pendidikan tentu tidak hanya berhenti pada sistem, kurikulum, sertifikasi guru, atau insfrastruktur sekolah. Lebih dari itu, juga menyangkut soal akses sekolah. Tapi, di banyak wilayah di negara yang katanya kaya ini, pendidikan bukan hak yang otomatis diterima setiap warga negara, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan daya tahan tubuh dan keteguhan hati—bahkan nyawa, kalau boleh dikatakan demikian.

Selain itu, tak jarang bagaimana pendidikan di negara ini juga bisa begitu rapuh hingga mudah dipadamkan oleh kondisi lingkungan sosial yang, katakanlah, sangat ekstrem. “Di Parigi, narkoba seperti barang yang mudah diakses—seperti beras,” terang Sem. Erwin mengiakan. Mereka berdua sering mendengar cerita orang tua yang anaknya terjerembab dalam kerangkeng obat terlarang itu. Di hadapan gembong narkoba, sekolah pelosok macam SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong dan SD Inpres 4 Terpencil Sidoan jelas hanya lelucon gelap saja.

Sampai di titik ini, di pedalaman Sulawesi Tengah, atau di pelosok negeri lainnya, sekolah bukan hanya cukup menjelma sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang yang terancam oleh konflik, kemiskinan, kebijakan yang tak memihak, pejabat korup, sistem yang kacau. Sekolah terasa hanya berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi secara fungsi, ia nyaris kosong. Anak-anak tetap datang, tetapi sering tanpa arah, tanpa bimbingan, tanpa masa depan yang jelas, seperti yang ditangkap dalam film Di Timur Matahari (2012).

SD Kecil Terpencil Salujengi Supilopong, Desa Supilopong, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong | Foto: Erwin

Kisah-kisah semacam ini memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan di pelosok Indonesia bukan semata soal infrastruktur, melainkan juga keberadaan negara dalam bentuk paling konkret: guru. Ketika guru tidak hadir, negara juga tidak hadir. Ketika sekolah rusak dan tidak diperbaiki, negara seolah hanya menjadi konsep administratif yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Memang ada program P3K, di mana banyak guru ditempatkan di pelosok negeri, tapi tanpa diimbangi infrastruktur pendukung pendidikan yang memanadai, itu sama saja seperti menurunkan perajurit di medan perang tanpa senapan. “Ada titik kami nyaris putus atas mengajar di sana,” ujar Sem.   

Situasi ini beresonansi kuat dengan narasi dalam Sokola Rimba karya Butet Manurung. Dalam pengalamannya mengajar Orang Rimba di pedalaman Jambi, pendidikan tidak dimulai dari kurikulum, melainkan dari kepercayaan. Ia harus berjalan kaki berhari-hari, tinggal bersama komunitas, dan meyakinkan mereka bahwa membaca dan menulis bukan ancaman, melainkan alat bertahan hidup. Pendidikan, dalam konteks ini, bukan sistem yang mapan, tetapi hubungan yang rapuh dan harus dibangun perlahan.

Sem berada di jalur menuju SD Inpres 4 Terpencil Sidoan | Foto: Dok. Sem

Sayangnya, negara sering kali membangun sekolah tanpa memahami manusia yang akan mengisinya. Akibatnya, sekolah hanya menjelma menjadi bangunan fisik, bukan proses yang terus-menerus. Pendidikan sekadar menjadi program, bukan relasi yang baik. Anak-anak hadir secara fisik, tetapi sistem tidak hadir secara emosional dan kultural. Dan mungkin, seperti Denias yang terus berjalan melintasi lembah, ironi pendidikan di pelosok Indonesia masih merupakan perjalanan panjang—perjalanan yang belum selesai, entah sampai kapan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikansekolahSulawesi Tengah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Next Post

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

'Mlantjaran ka Sasak' dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co