MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga orang yang usianya benar-benar tua dengan cekatan sekaligus sumringah menyiapkan dan membagi-bagikan takjil. Dengan sumringah dan cekatan pula jamaah masjid menyambutnya. “Lain lubuk lain ikannya,” ucap pribahasa lama, namun bagi para musafir atau bagi kaum miskin kota seperti pelajar dan mahasiswa, “lain masjid lain takjilnya.”
Takjil berasal dari bahasa Arab, dari suku kata ‘ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan, yang berarti “menyegerakan” atau “bersegera”. Ungkapan yang semula bermakna bersegera dalam melakukan apa saja ini kemudian lebih khusus dimaknai sebagai menyegerakan berbuka puasa ketika azan magrib berkumandang, sebagaimana anjuran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.
Namun, dalam bahasa kita, takjil mengalami pergeseran makna: yang semula di Arab sana bermakna aktifitas berbuka puasa, di Indonesia justru menjadi menu buka puasa. Yakjil yang semula verba kini popular sebagai nomina. Jadi ungkapan selanjutnya, misalnya, bukan “mari takjil, azan magrib sudah tiba!” namun “di masjidmu, takjilnya apa?”
Bulan Ramadan adalah bulan takjil. Aneka menu takjil disiapkan dan dibagi-bagikan di masjid-masjid pada senja hari bulan ini. Dari sekadar teh manis dan sebungkus nasi bersrlimut goreng telur, hingga es kopyor yang bersanding dengan nasi bersanding ayam goreng, lengkap dengan kurma sebagai penyegarnya.
Mempersiapkan, membagi-bagikan, serta menerima takjil ini pun bukan sekadar urusan selera lidah belaka, namun juga mempertemukan manusia, dari mana pun latar belakangnya, apa pun kelas-kelas sosialnya. Dari mahasiswa, sarjana, pengangguran, dosen, tukang becak, sosialita, pejabat, karyawan, hingga gelandangan dan aparatur negara semuanya menyatu di masjid: menerima dan menyantap takjil bersama.
Inilah satu dari sekian kemuliaan Ramadan yang tampak di mata. Dalam wujud kudapan dan menu buka puasa saja mampu menghilangkan batas-batas sosial yang sebelum Ramadan barangkali kokoh dan tak tergoyahkan. Di bulan Ramadan, manusia dari beragam latar belakang ini tak hanya meninggalkan namun juga menanggalkan atribut-atribut sosialnya. Dengan “komando” azan magrib, semuanya semangat menyambut Ramadan dengan kebahagiaan dan kebersamaaan, lewat rupa-rupa takjil di masjid yang didatanginya.
Pada bulan Ramadan, aneka takjil tumpah-ruah. Siapa pun bisa ambil bagian, siapa pun bisa menyantapnya, berpuasa atau tidak, karena takmir atau panitia takjilan di masjid tak akan menginterogasi jamaah: “Sampean berpuasa atau tidak?” Berkah Ramadan, semua orang diterima, disambut untuk mendapat bagian takjilnya, meski siangnya mungkin dia korupsi seteguk-dua teguk air saat mandi. Ah, sampai di sini, sering aku membatin: “Bagaimana puasa para koruptor? Kalau mereka berani mengambil uang aspal, uang jembatan, uang bencana, uang pengadaan kitab suci, sampai uang kuota haji, apakah mereka sanggup menahan diri untuk tidak menyuapkan sepiring nasi ke mulutnya pada siang hari di bulan Ramadan ini?
Namun kita—terutama kau dan aku—kadang lupa, abai bahkan alpa, bahwa pada bulan mulia ini Allah Ta’ala menghidangkan sekaligus membagi-bagikan takjil berupa pahala, ampunan, rida, bahkan malam teragung yang lebih betapa dari malam-malam pada seribu bulan di luar Ramadan. Pada bulan ini, kebaikan dan kedermawanan-Nya benar-benar memuncak. Kasih dan sayang-Nya tumpah-ruah di hari-hari dan di malam-malamnya.
Atau kau dan aku justru ingat, namun tak benar-benar serius menyambut dan mengambilnya, tak seserius dan tak sesemangat ketika menyambut aneka takjil di masjid menjelang buka puasa. Entahlah, yang jelas, setiap kali berbuka puasa di masjid kemudian menerima takjilan, melintas di lorong-lorong ingatanku sebait puisi berjudul “Sufi” (1995) karangan Subagio Sastrowardoyo:
…
Nikmat perempuan sudah kugantikan
dengan kehangatan menyerah kepadamu, Tuan,
dan lihat napasku bersatu dengan irama cintamu,
sedang bicaraku, ajaib, lahir dari lubuk sanubarimu.
…
Bagi aku-lirik, jangankan makanan dan minuman, nikmat bercinta dengan perempuan pun tak ada apa-apanya bila dibanding bercinta dengan Tu(h)an. Puncak kenikmatan ragawi berupa nikmat perempuan semu belaka andai disejajarkan dengan nikmat bersejiwa dengan-Nya. Tentu saja, kenikmatan ini tak akan pernah dirasakan oleh kau dan aku yang hatinya masih belepotan pada kenikmatan jasmani, serta masih dirundung pilu karena terlampau menjunjung harap pada kenikmatan-kenikmatan bendawi.
Dalam puisi yang ditulis empat bulan menjelang kematiannya itu, Subagio menegaskan, ketika seseorang telah mampu merasakan kenikmatan “bersetubuh” dengan yang Ilahi, menyatukan seluruh dimensi diri dan anasir kemanusiaannya dengan yang Ilahi, musnahlah seluruh kenikmatan ragawi dan kenikmatan-kenikmatan apapun selain-Nya. Yang Ilahi menjadi satu-satunya raja sekaligus kekasih yang bertakhta di kerajaan hati dan jiwanya, di berbagai ruang dan waktunya.
Ketika seseorang telah memenangkan yang Ilahi pada pertempuran akbar nun jauh di kedalaman dirinya, saat itulah ia merasakan napasnya bukan lagi napasnya, namun napas-Nya; cintanya bukan lagi cintanya, melainkan cinta-Nya; dan ungkapan apapun yang terlontar dari bibirnya hanyalah untaian-untaian hikmah dan kearifan yang semata-mata menyembul dari sejuk rimbun taman kasih-Nya.
Inilah kenikmatan hakiki, inilah kenikmatan rohani yang sebenarnya ditawarkan Ramadan kepadamu juga kepadaku. Inilah bulan yang di malam-malamnya Dia memanggil-manggil hatimu dan hatiku yang menggigil, tersebab mengharap karunia berupa ampunan dan rindu pada-Nya yang tak kepalang. Inilah perjamuan sekaligus pesta pora agung yang dipenuhi nampan-nampan mewah berisi takjil rohani.
Pada bulan Ramadan, masjid-masjid membagi-bagikan takjil: dari sekadar teh manis dan nasi bungkusan, hingga es kopyor lengkap dengan berbiji kurma. Pada bulan Ramadan, Allah Ta’ala menghambur-hamburkan takjil rohani: dari sekadar pahala dan tawaran menggiurkan lainnya bagi pemula, hingga karunia rasa yang menggetarkan, yang diburu-buru para salik yang telah lama mabuk dan berdansa karena mengikuti alunan melodi uluhiyyah dan irama rububiyyah-Nya. Pilihannya kemudian ada padamu, dan tentu juga padaku: akan sekadar menyantap takjil jasmani atau berduyun-duyun menyongsong takjil rohani. [T]
Penulis: Ahmadul Faqih Mahfudz
Editor: Adnyana Ole



























