SEORANG “prajurit” yang terus bertempur, tanpa ambisi merebut kemenangan, namun selalu dianugerahkan kemerdekaan, ia adalah seorang penulis.
Menulis adalah untuk menghargai setiap peristiwa, setiap pegalaman. Jika pengalaman adalah guru, maka menulis adalah untuk memuja semua guru-guru, terutama guru kehidupan. Semakin banyak peristiwa dan pengalaman yang dihargai, maka diri semakin kaya dalam menulis. Menghargai adalah sikap kerendahan hati dan itu menciptakan kemerdekaan abadi. Jika bukan karena itu misalnya, takkan lahir buku-buku masyur seperti tetralogi Pulau Buru karya maestro penulis Pramudya Ananta Toer.
Pramudya bahkan memberi atribut lebih kuat, menulis adalah sebuah kerja untuk keabadian. Tanpa buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu misalnya, satu bagian dari tetralogi Pulau Buru, maka kita takkan pernah tahu bagaimana perjuangan perih tak teperi seorang ayah, bertahan melawan penindasan penguasa tiran yang zolim. Pram menyederhanakannya, namun dengan tajam, dengan tulisannya tersebut, agar anak-anaknya kemudian tahu bahwa mereka pernah memiliki seorang ayah. Sebab dia tak meyakini dirinya akan keluar dari pulau Buru dalam keadaan hidup. Sebuah penghargaan akan kelamnya hidup yang sedang dijalaninya.
Saya, dalam masa bertugas kurang lebih selama 5 tahun di pedalaman Kalimantan, tak mau menyia-nyiakan semua peristiwa dan pengalaman. Maka lahirlah buku Merayakan Ingatan, Catatan Seorang Dokter Dari Bali Melanglang di Pedalaman Kalimantan (Mahima, 2019.) Begitu pula buku-buku selanjutnnya yang saya terbitkan, hampir semua berdasarkan pengalaman sebagai dokter dan berbagai peristiwa seputar profesi saya sebagai dokter, kapan dan di mana saja peritiwa tersebut terjadi.
Jika belakangan ini masyarakat sering mencibir dan mengeluhkan segelintir sikap dan prilaku dokter yang kurang professional dan etis, maka buku-buku saya dapat menjadi sanggahan bahwa sebagian besar dokter masih bakti pada profesinya dalam melayani masyarakat. Menulis, dalam hal ini tulisan satra, bagi seorang dokter adalah sebuah kemewahan. Bukan hanya karena biasanya cuma menulis resep, juga karena pada umumnya seorang dokter hanya kenal menulis sains, itupun terkait tuntutan akademik.
Tulisan sains seperti referat, laporan kasus, riset ilmiah, dan lain-lain, tentu memiliki aturan standar yang baku dan mengikat. Seorang dokter sebagai penulis, di sini menjadi bagian dari masyarakat ilmiah yang taat dengan aturan penulisan dank kode etik. Menekankan pada prinsip obyektifitas, sonder persepsi, dan wajib merujuk pada ide gagasan serupa yang sudah mendahului (referensi).
Sebuah penghargaan terhadapa karya dan buah pikiran intelekualitas insani. Tentu saja tulisan-tulisan tersebut pada umumnya dibuat karena sebuah kewajiban atau syarat akademik. Semua tulisan tersebut mesti melewati tahap penilaian oleh otoritas sebelum mendapatkan persetujuan untuk publikasi. Mendorong dokter menjadi seorang profesional berbasis ilmiah, yang intelek dan modern.
Lalu, pembacanya pun tentunya terbatas di kalangan masyarakat ilmiah semata. Dari sana, tulisan terrsebut memiliki peluang menjadi rujukan tulisan berikutnya yang memiliki gagasan serupa. Sebuah penghargaan ilmiah dan akademik. Pada dasarnya, menulis sains adalah suatu kondisi, penulis harus melepaskan persepsi personalnya, dan bergabung ke dalam masyarakat ilmiah yang rigid.
Sebaliknya, menulis satra, adalah kesempatan bagi seorang dokter untuk menikmati kebebasan. Sebuah kemewahan dalam berkarya. Seorang dokter memiliki begitu banyak bahan dan materi untuk ditulis, sehubungan dengan berbagai peristiwa dan pengalamannya bekerja sebagai petugas medis. Ia misalnya, dapat menuliskan ide tentang penyakit dengan gaya awam bahkan sastra sehingga memberikan sudut pandang dan rasa yang berbeda.
Ini akan memberi manfaat educational kepada masyarakat, mengingat fenomena medis sangat individual pada setiap orang. Hal ini dapat mendekatkan para dokter dengan para pasiennya. Hal yang selama ini sering menjadi momok dan sorotan, dokter yang terlalu ekslusif dan seakan jauh dengan pasien dan masyarakat. Dengan menulis sastra, dokter dapat mengembangkan empati lebih kuat sebab menulis adalah untuk menghargai setiap peristiwa, setiap pengalaman. Membuat dirinya rendah hati dan tetap merdeka dalam melayani. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole


























