SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam saya berbunyi. Pesan masuk dari grup WhatsApp. Putu Ferryawan menyapa singkat, “Selamat pagi.” Sapaan sederhana, tetapi cukup untuk membangunkan semangat kami semua.
Pagi itu, Sabtu, 21 Februari 2026, kami telah berjanji untuk menanam pohon di kawasan hutan Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run yang akan digelar pada 22 Maret 2026.
Putu Ferryawan adalah orang yang paling bersemangat. Maklum, di tengah kesibukannya sebagai wakil kepala di tempatnya bekerja, waktu santai menjadi barang mewah. Sudah lama ia meminta saya mengajaknya ke Hutan Panji, namun selalu saja tertunda. Kesempatan ini akhirnya menjadi jawaban. Bahkan sejak rapat awal, ia termasuk yang paling antusias membahas jadwal dan jumlah pohon yang akan ditanam.
Ada pula seorang kawan lain, dosen di perguruan tinggi terbesar di Buleleng, yang awalnya tak kalah bersemangat. Ia turut berdiskusi menentukan hari baik untuk penanaman. Namun pada hari pelaksanaan, ia malah berhalangan karena harus menghadiri upacara adat. Namanya juga hari baik, kadang memang telah lebih dulu dipilih untuk kepentingan adat.


Penanaman pohon sendiri dipilih sebagai salah satu agenda utama Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026. Ini jadi bentuk rasa terima kasih dan kepedulian terhadap alam, khususnya kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan dan penghasil oksigen.
“Kalau kita rajin olahraga, rajin lari tapi udaranya tidak sehat, belum tentu juga kita jadi sehat,” canda Ketua Panitia, Dedy Saputra, pada kami. Ia seorang pelari aktif asal Desa Pemuteran yang telah mengikuti puluhan event lari di Bali.
Pesannya itu sederhana, namun saya merasakan makna yang dalam. Sebelum berlari untuk kesehatan, pastikan alam yang kita pijak tetap lestari dan sehat.
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Yayasan Hamemayu Cendekia Bumi (Mayubumi), Pemerintah Desa Panji, serta Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Panji yang turut hadir dan mendampingi proses penanaman.
Awalnya saya sempat mengira Desa Panji dipilih karena saya adalah warga setempat. Ternyata bukan. Panji dipilih karena belakangan menjadi perbincangan terkait kondisi hutannya. Media sosial sempat diramaikan dengan berbagai isu. Hingga pemerintah desa harus memberikan klarifikasi agar tidak terjadi bias informasi. Maka, menanam pohon ini bagi kami menjadi simbol kepedulian sekaligus dukungan.


Tepat pukul delapan pagi, sebelas orang perwakilan panitia tiba di titik kumpul Monumen Bhuana Kerta—sembilan laki-laki dan dua perempuan, seluruhnya serempak mengenakan seragam alumni SMANSA Singaraja. Turut hadir Ketua Karang Taruna Desa Panji, Wayan Ganesha, beserta anggotanya, ada juga Gede “Gabeng” Sukerta Sekretaris Bumdes Panji yang ikut mengawal kegiatan.
Perjalanan menuju lokasi penanaman tak sampai sepuluh menit berkendara, dari Monumen Bhuana Kerta hingga Bendungan Tiying Tali. Di sana, rombongan disambut Kelompok Tani Hutan Desa Panji.
Setelah menerima arahan dari Perbekel Desa Panji dan Ketua LPHD Panji penanaman pun dimulai. Puluhan bibit beringin dan matoa ditanam di sepanjang jalur air dari Bendungan Tiying Tali hingga Air Terjun Cemara atas arahan dari Ketua LPHD Panji.
Suasana sejuk menyelimuti langkah kami. Suara air sungai mengalir pelan, seolah menyamarkan napas yang mulai terengah. Meski jalurnya tidak terlalu menanjak, berjalan sejauh dua kilometer di medan licin tetap menguras tenaga, terutama bagi yang baru pertama kali menyusuri hutan ini. Dengan bantuan peralatan dari Kelompok Tani Hutan, satu per satu pohon ditanam.
Menurut Pak De Benot, sapaan akrab Ketua LPHD Bhuana Utama Panji, kawasan hutan Panji masih membutuhkan banyak penanaman dan perawatan berkelanjutan.
“Tidak cukup hanya menanam. Agar pohon bisa tumbuh, harus dirawat,” kata Pak De Benot.
Peran anggota LPHD sangat penting. Mereka rutin turun membersihkan tanaman liar yang kerap tumbuh cepat, apalagi di musim hujan. Jika dibiarkan, tanaman liar dapat menutupi bibit yang baru ditanam dan menghambat pertumbuhannya. Hutan Desa Panji sendiri memiliki luas hampir 129 hektare—ini jadi tanggung jawab yang tidak kecil.


Setelah penanaman selesai, Air Terjun Cemara menjadi tempat melepas lelah. Sambil menikmati bekal, kami berbincang dan mengabadikan momen bersama.
Damar Windu, Founder Yayasan Mayubumi yang juga dosen di Universitas Pendidikan Ganesha, menegaskan bahwa gerakan menanam pohon adalah tanggung jawab bersama. “Kolaborasi adalah kekuatan. Merawat bumi tidak bisa dikerjakan sendirian,” ujarnya.
Desi Parlina, salah satu panitia yang ikut serta, bahkan bangun pukul lima pagi demi bisa hadir. “Aku tadi bangun pagi sekali, masak dulu untuk anak-anak di rumah, biar tenang di hutan,” katanya sambil tersenyum. Ia berharap suatu hari dapat mengajak anak-anaknya menyusuri Hutan Panji.
Hari itu saya jadi belajar satu hal sederhana dan penting. Pergi ke hutan dan menanam pohon bisa menjadi pelepas jenuh. Menghirup udara segar, merasakan dinginnya air sungai, dan menyentuh tanah basah menghadirkan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga alam.
Menjaga hutan tetap lestari mungkin akan membuat kita benar-benar bisa berlari dengan bahagia. Ya Fun Run— bisa berlari dengan pasokan udara yang bersih dan hati yang ringan.

Sebelum berlari pada 22 Maret 2026 nanti, panitia Alumni Smansa Charity Fun Run telah lebih dulu menanam harapan. Sebab mereka percaya kesehatan bukan hanya soal seberapa jauh kita berlari. Tetapi juga seberapa peduli kita turut menjaga bumi tempat kita melangkah. Dan saya percaya dimana setiap langkah berani dimulai, selalu bisa jadi harapan. [T]
Penulis: Gading Ganesha
Editor: Adnyana Ole



























