23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkaca Pada Prambanan

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 21, 2026
in Esai
Berkaca Pada Prambanan

Candi Prambanan | Foto: Canva

Berkaca membuat seseorang bisa melihat bayangan tubuhnya fisiknya sendiri, dari kepala, rambut, wajah, mata, hidung, bibir, kulit, badan, juga semua yang melekat dan menutupi badan. Tujuan seseorang berkaca biasanya adalah untuk melihat pantulan dirinya dengan lebih obyektif, sehingga “memperindah” dirinya.

Subyek dan Obyek

Berkaca lazimnya menempatkan subyek dan obyek secara terpisah. Umumnya kualitas dan kuantitas subyek yang dipantulkan sesuai dengan kualitas dan kuantitas asli subyek.

Kejelasan pantulan sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas cahaya, jarak, jumlah, ruang dan waktu antara subyek dan obyek.

Misalnya saya bercermin dalam cahaya remang, tentu sulit melihat bayangan tubuh sendiri, atau berjarak 1 meter, 2 meter, 10 meter dst, dalam ruang sempit, lebar, luas dst, bersama dua orang, 10,100 dst, tentu pantulan diri akan berbeda.
Jika yang dipakai untuk bercermin adalah jenis kaca cembung yang bersifat memperlebar dan memperluas hasilnya akan memperluas dan memperlebar subyek, dan jenis kaca cekung yang bersifat mempertajam dan memperjelas subyek.

Negara dan Rakyat

Yang berkaca bisa negara ini(pejabatnya) atau rakyat (seseorang), bersifat personal maupun komunal, tetapi siapapun yang berkaca haruslah seseorang manusia yang berjiwa-raga, dengan indria-indrianya. Kuncinya adalah “manusia” entah itu orang biasa atau pejabat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, dunia dan semesta raya. Ingatlah cermin/kaca itu hanya obyek yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk kelihatan dirinya secara obyektif.

Cermin negara (pejabatnya) bisanya bersifat cembung, dan cermin masyarakat bersifat cekung. Dalam hal ini negara yang bersifat abstrak bisa memakai cermin cembung untuk memperluas, dan memperlebar jangkauan, terapi juga harus dihimbangi dengan cermin cekung agar bisa mempersempit, dan mempertajam bayangan.

Cermin cembung atau cekung hanya sebuah alat dan strategi awal sebelum menemukan cermin datar yang jernih dan obyektif.

Candi Prambanan sebagai Cermin

Dalam kiprah berkeyakinan umat Hindu di Bali Pura Besakih telah berabad-abad menjadi cermin. Kini negara mengijinkan Candi Perambanan sebagai ruang dan peluang bagi umat Hindu Nusantara, pemujaan dan keyakinannya.

Ijin negara telah disambut sumbrigah oleh umat Hindu, khususnya yang berada di kawasan sekitar candi, yang selama ini menjalani keyakinannya dengan sembunyi-sembunyi, penuh halangan dan rintangan.

Nur Kesava

Salah satu yang sangat bersemangat itu adalah yunior saya di Arkeologi UGM yang banyak membantu dalam penyelesaian S2 tentang Linga Yoni di Tamblingan. Panggilannya Nur, nama di Fb Nur Kesava (cahaya Dewa Wisnu) yang menjaga, memelihara, mengelola alam semesta.

Nur, sebagai cahaya membuat saya bisa bercermin pada Candi Prambanan sebagai tempat pemujaan umat Hindu, terutama saat digelarnya Puja Mahasiwa Latri pada 15 Februari 2026 lalu.

Prambanan

Nama Candi Prambanan konon berasal dari nama tempat candi itu berdiri, apakah nama desa atau nama candi yang lebih dulu ada, sulit untuk ditebak, seperti telur dan ayam.

Agar perdebatan tak berkepanjangan (debat kusir), tanpa menyentuh substansi, saya selalu ingat penyair Umbu Pandu Paranggi, “cukuplah di judul”, teriaknya sambil terkekeh. Biasanya para pesilat lidah, pendebat, pengotot, pemlotot, akan terdiam, menunduk dengan wajah dan telinga agak memerah muda.

Siwagrha

Prambanan kemungkinan berkaitan dengan penyebutan Wanua Pangramwan (daerah tempat berdirinya Pangramwan) dalam prasasti Poh tahun 950 Masehi. Kemungkinan berasal dari kata Para/Pra dan Brahman/Brahmana, sebagai rumah Siwa/Siwagrha dalam prasasti Muntil bertahun 856 Masehi

Sebagai tempat pemujaan umat beragama (yang berdiam dalam keyakinan pada Tuhan) Nusantara, acara Mahapuja Siwa Latri 2026 lalu bisa dimanfaatkan sebagai cermin bagi umat sebagai pribadi maupun negara.

Asalkan mau dan mampu siapapun bisa bercermin di sana. Kita bisa bercermin tentang diri sebagai pribadi, kelompok, negara, bumi maupun semesta.

Bercermin dalam keramaian perlu menyusup, diam-diam, sendiri, mengatur jarak, ruang, dan waktu agar melihat pantulan yang lebih obyektif, bukan dari kaca cembung ataupun cekung.

Candi Prambanan tidak saja bisa memantulkan bayangan kita hari ini, saat ini, juga bayangan kemarin, masa lalu, sebagai bekal untuk melangkah hari esok dan masa depan. Sebagai peninggalan leluhur masa lalu, Prambanan juga bisa memberi bayangan masa depan sebagai ramalan bagi nusantara.

Pada Candi Prambanan ada tempat, benda dan peristiwa yang bersifat material dan spiritual.
Sungguh menarik untuk dikenali, diamati, ditelisik, dipelajari, dianalisa untuk dipahami, sehingga mampu memperkuat, memperluas memperdalam pengetahuan keyakinan pada Tuhan (Siwa).

Candi Prambanan terdiri dari 6 candi utama: 3 jalur kanan dan 3 jalur kiri. Yang paling depan di jalur kanan adalah Candi Brahma yang berhadapan dengan Candi Angsa, yang tengah adalah Candi Siwa yang berhadapan dengan Candi Nandi, dan yang paling belakang adalah Candi Wisnu yang berhadapan dengan Candi Garuda.

Angsa dipersonifikasikan sebagai binatang suci yang bijaksana dalam memilah dan memilih antara makanan antara yang baik dan buruk.

Nandi dipersonifikasikan sebagai ibu para mahluk yang memberi susu (energi untuk hidup), bertubuh kuat, tekun bekerja, dan tulus memberi dan mengabdi.

Garuda dipersonifikasikan sebagai burung besar yang bisa terbang tinggi di langit luas, yang membawa tirta amertha (air kehidupan).

Arca Candi Siwa

Pada Candi Siwa terdapat patung/arca utama Dewa Mahadewa yang bersenjatakan Trisula. Wujud Mahadewa, bisa jadi agar kita memahami bahwa Tuhan juga hadir dalam manifestasinya sebagai tanah/pertiwi yang bersenjatakan panah Naga Pasha (kekuatan esensi dari 4 unsur alam dan variasi turunannya yang bersifat sangat halus menyusup layaknya bisa ular yang menjadi kekuatan juga membinasakan. Sedangkan Trisula lazimnya adalah senjata Dewa Sambu (Siwa Mahaguru, paduan esensi udara dan air, mampu menikam sabda (suara), bayu (kekuatan) dan idep (pikiran, kesadaran).

Ada juga patung/arca Dewi Durga Mahisa Sura Mardhini (manifestasi sakti Dewa Siwa dalam tugasnya mengalahkan Raksasa berwujud Kerbau yang kuat (simbol kerakyatan dan kekuatan rakyat yang kurang cerdas dan kurang bijak). Lembu Sura sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan Lembu Putih Nandini wahana Dewa Siwa dan saktinya.

Ah Prambanan, dan Pemujaan Siwa di Candi Prambanan seperti mengajak saya berkaca dalam cahaya agar bernar-benar bisa mengenali apakah saya seorang yang seperti Lembu Putih Nandi atau Raksasa Lembu Hitam, Mahisa Sura Mardhini? Bagaimana dengan anda? [T]

Tags: BudhaCandi Prambananhindunegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Next Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co