24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, mungkin tak banyak dari kita yang tahu, bahwa tanggal 20 Februari diperingati sebagai Hari Pekerja di Indonesia. Bukan 1 Mei, yang sarat dengan sejarah gerakan buruh global itu.

Hari Pekerja adalah sebuah momentum domestik yang seolah ingin mengajak kita untuk bicara tentang kerja dengan bahasa kita sendiri. Sebagai mantan pengangguran, dan jika Anda juga pernah mengalaminya, tentu akan paham bahwa mendapatkan suatu pekerjaan memiliki dimensi yang kompleks.

Tidak sekadar mendapatkan uang, namun juga menyangkut harga diri dan cara kita memandang dunia.  Nah, dalam dunia yang saat ini dipenuhi gejolak tidak pasti soal ketersediaan lapangan pekerjaan, masihkah dewasa ini kerja kita pahami sebagai sesuatu yang luhur? Atau ia sudah menyempit menjadi sekadar cara agar asal tidak mati?

Dimensi Kerja Ala Nusantara

Di tengah gelombang PHK, ekonomi gig, target Key Performance Indicator, dan hustle culture alias kerja gila-gilaan yang dipamerkan di media sosial, kerja sering tampak seperti medan kompetisi tanpa ada habisnya. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup yang bermakna, melainkan untuk bertahan hidup.

Bahkan lebih jauh, kadang cuma untuk mengejar gaya hidup. Kita mengukur nilai diri dari jabatan, slip gaji, atau jumlah proyek. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang salah. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang gagal.

Kita hidup di Nusantara yang kaya dengan berbagai budaya yang setelah saya rasa-rasa, luar biasa arifnya.

Dalam banyak tradisi Nusantara, kerja bukanlah sekadar alat survival. Ia adalah laku hidup.  Mari kita tengok beberapa. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, mengandung makna aktif bekerja, giat berkontribusi namun tidak egois, dan tidak bekerja semata demi kepentingan diri sendiri. Kerja dilihat sebagai pengabdian, bukan sekadar ambisi. Bekerja bukan hanya demi diri sendiri, tetapi demi keseimbangan sosial. Ada etika, ada rasa cukup, ada harmoni. Kerja bukan hanya soal hasil, tetapi tentang cara.

Ungkapan lain, “jer basuki mawa bea”. Meski ini dapat diterapkan secara beragam, namun dalam konteks bekerja, pepatah ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan menuntut pengorbanan. Artinya, kerja bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan proses pembentukan watak. Orang ditempa melalui kesungguhan.

Keluhuran kerja terletak pada kesediaan menanggung beban dengan tanggung jawab moral.  Bahkan konsep gotong royong, yang pernah ditegaskan sebagai dasar kebangsaan oleh Soekarno, menempatkan kerja dalam bingkai kolektif. Kerja bukan kompetisi brutal, melainkan partisipasi bersama. Ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian. Dengan dan melalui pekerjaan itulah manusia saling menempatkan tanggung jawabnya satu sama lain.

Namun modernitas tanpa bisa dihindari membawa pergeseran halus. Kerja lalu menjadi bersifat individual. Pasar menggantikan komunitas. Solidaritas berubah menjadi persaingan. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja produktivitas. Filsuf Jerman Hannah Arendt membedakan antara labor yaitu kerja untuk bertahan hidup, work yaitu menciptakan dunia buatan manusia, dan action yang merupakan tindakan politik sebagai warga.

Dalam masyarakat modern, kata Arendt, manusia direduksi menjadi animal laborans, istilah yang menggambarkan makhluk yang terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Hidup menjadi siklus tanpa akhir, dari kerja, lanjut konsumsi, kerja lagi. Demikian saja terus-menerus.  Kita mungkin menjalaninya, namun tidak menyadarinya.  Tetapi ketika manusia hanya diukur dari produktivitas, ia kehilangan ruang untuk berpikir, untuk berpolitik, untuk bertindak sebagai warga. Yang terjadi adalah menusia menjadi mesin biologis yang efisien, yang bukan untuk dirinya sendiri. 

Kini dalam zaman yang disebut Byung-Chul Han sebagai achievement society, manusia tidak lagi ditindas oleh kekuasaan eksternal. Kini manusia menindas dirinya sendiri. Kita memaksa diri untuk terus naik level, terus berkembang, terus produktif. Dengan demikian burnout bukan suatu kecelakaan, melainkan konsekuensi logis. Ironisnya, kita merasa bebas padahal sedang mengeksploitasi diri.

Apakah ini berarti bekerja demi bertahan hidup itu rendah? Tidak sesederhana itu.  Kita pikir logis dan realistis saja. Secara biologis, manusia memang harus makan, harus bertahan hidup. Petani, nelayan, buruh, tukang, montir apa pun itu, mereka semua bekerja keras demi kebutuhan dasar. Namun dalam budaya Nusantara, kerja untuk hidup tidak pernah dianggap hina. Ia tetap luhur karena ada kesadaran etis dan spiritual.

Ungkapan “Gusti ora sare” yang berarti Tuhan tidak tidur, selalu mengingatkan bahwa kerja adalah ruang integritas. Bahkan ketika tak ada yang melihat, ada dimensi moral yang menyertai. Kerja menjadi ibadah, bukan sekadar produksi. Masalah muncul ketika kerja kehilangan dimensi itu. Ketika nilai diganti angka. Ketika martabat diganti performa. Ketika manusia kemudian direduksi menjadi sumber daya.

Di titik ini, jika ada kritik bahwa manusia kemudian seolah menjadi seperti binatang karena hanya mengejar kelangsungan hidup perlu diluruskan. Hewan memang hidup berdasarkan insting. Tetapi manusia tidak berhenti pada insting. Ia memiliki refleksi, kesadaran, etika. Yang membuat manusia bukan sekadar fakta bahwa ia butuh makan, melainkan kemampuannya memberi makna pada aktivitasnya.  Jika makna itu hilang, yang terjadi bukan manusia lantas menjadi hewan, melainkan manusia kehilangan kemanusiaannya.

Kita bisa melihatnya dalam fenomena pekerja yang merasa hampa meski bergaji tinggi. Atau generasi muda kita yang cemas karena merasa tertinggal dalam perlombaan karier. Atau rekan-rekan pegawai yang terjebak rutinitas birokrasi tanpa adanya sruang kreativitas. Mereka semua bukan malas, bukan juga tidak bersyukur. Mereka mungkin sedang mengalami krisis makna.

Di sinilah saya yakin kearifan Nusantara menjadi relevan. Kerja harus bisa dipahami sebagai bagian dari harmoni kosmis. Coba kita perhatikan baik-baik, bagaimana dalam masyarakat agraris, orang bekerja bersama alam, bukan melawannya. Dalam semangat gotong royong, orang akan bekerja bersama sesamanya, bukan saling menjatuhkan. Di sinilah, dalam laku spiritual, kerja adalah suatu pembentukan diri.

Menghidupkan Makna kerja

Modernitas memang tidak bisa ditolak. Kita tidak mungkin kembali sepenuhnya ke pola agraris komunal seperti jaman kakek nenek kita. Namun kita bisa menghidupkan kembali ruhnya. Pertama, kita bisa memulihkan dimensi kolektif kerja. Bahwa keberhasilan individu selalu ditopang oleh struktur sosial. Bahwa solidaritas bukan sekedar romantisme, melainkan kebutuhan.

Yang kedua, memulihkan dimensi etis kerja. Menekankan kembali bahwa cara lebih penting daripada sekadar hasil. Bahwa integritas tidak bisa ditukar dengan target.  Kemudian yang ketiga, memulihkan dimensi makna kerja. Bahwa manusia tidak hidup hanya untuk produksi dan konsumsi, seperti apa yang di depan disebut sebagai animal laborans. Bekerja merupakan sisi kehidupan untuk relasi, untuk kontribusi, untuk pertumbuhan batin.

Dari omong-omong tadi, bisa kita tarik kesepakatan bahwa tanggal 20 Februari seharusnya tidak berhenti sekadar sebagai peringatan. Ia bisa menjadi momen refleksi untuk siapa kita bekerja? Untuk apa kita bekerja? Lalu apakah kerja kita bisa memanusiakan diri dan orang lain, atau malah justru mengerdilkan?

Kerja yang luhur bukan kerja yang glamor. Ia bisa jadi sangat sederhana. Seorang guru yang mengajar dengan hati. Seorang petani yang setia merawat tanah garapannya. Seorang pegawai yang meski rendahan, namun tetap jujur dalam tugasnya. Seorang pengusaha yang tidak menindas pekerjanya, dan sebagainya. Karena apa yang disebut keluhuran kerja, terletak pada kesadaran bahwa manusia adalah subjek, bukan alat.

Bekerja dengan Harapan

Indonesia tercinta kita ini dibangun oleh kerja, dari sawah hingga pabrik, dari kantor desa hingga ruang sidang. Tetapi tidak itu saja, Indonesia juga dibangun oleh nilai yang menyertai kerja itu, seperti gotong royong, rasa syukur, pengabdian, dan integritas.  Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem global yang kompetitif dalam sekejap. Namun kita bisa memulai dari cara kita memaknai kerja. 

Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan zaman ini, semoga saja kita tidak kehilangan jiwa dalam bekerja. Semoga juga, kita tidak terjebak menjadi sekadar mesin produktif. Semoga lagi, kita tetap ingat bahwa kerja bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang membangun martabat.

Dan masih semoga, bagaimana pun keadaan kita masing-masing di Indonesia ini, pada setiap tanggal 20 Februari kita dapat memahami kembali bahwa kerja adalah sesuatu yang luhur, sesuatu yang memanusiakan manusia. Memang kalau bicara soal kondisi kerja di Indonesia, banyak sekali kata semoganya. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dunia KerjaHari Pekerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Membaca 'Lampah Sang Pragina', Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co