SIDANG pembaca yang budiman, mungkin tak banyak dari kita yang tahu, bahwa tanggal 20 Februari diperingati sebagai Hari Pekerja di Indonesia. Bukan 1 Mei, yang sarat dengan sejarah gerakan buruh global itu.
Hari Pekerja adalah sebuah momentum domestik yang seolah ingin mengajak kita untuk bicara tentang kerja dengan bahasa kita sendiri. Sebagai mantan pengangguran, dan jika Anda juga pernah mengalaminya, tentu akan paham bahwa mendapatkan suatu pekerjaan memiliki dimensi yang kompleks.
Tidak sekadar mendapatkan uang, namun juga menyangkut harga diri dan cara kita memandang dunia. Nah, dalam dunia yang saat ini dipenuhi gejolak tidak pasti soal ketersediaan lapangan pekerjaan, masihkah dewasa ini kerja kita pahami sebagai sesuatu yang luhur? Atau ia sudah menyempit menjadi sekadar cara agar asal tidak mati?
Dimensi Kerja Ala Nusantara
Di tengah gelombang PHK, ekonomi gig, target Key Performance Indicator, dan hustle culture alias kerja gila-gilaan yang dipamerkan di media sosial, kerja sering tampak seperti medan kompetisi tanpa ada habisnya. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup yang bermakna, melainkan untuk bertahan hidup.
Bahkan lebih jauh, kadang cuma untuk mengejar gaya hidup. Kita mengukur nilai diri dari jabatan, slip gaji, atau jumlah proyek. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang salah. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang gagal.
Kita hidup di Nusantara yang kaya dengan berbagai budaya yang setelah saya rasa-rasa, luar biasa arifnya.
Dalam banyak tradisi Nusantara, kerja bukanlah sekadar alat survival. Ia adalah laku hidup. Mari kita tengok beberapa. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, mengandung makna aktif bekerja, giat berkontribusi namun tidak egois, dan tidak bekerja semata demi kepentingan diri sendiri. Kerja dilihat sebagai pengabdian, bukan sekadar ambisi. Bekerja bukan hanya demi diri sendiri, tetapi demi keseimbangan sosial. Ada etika, ada rasa cukup, ada harmoni. Kerja bukan hanya soal hasil, tetapi tentang cara.
Ungkapan lain, “jer basuki mawa bea”. Meski ini dapat diterapkan secara beragam, namun dalam konteks bekerja, pepatah ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan menuntut pengorbanan. Artinya, kerja bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan proses pembentukan watak. Orang ditempa melalui kesungguhan.
Keluhuran kerja terletak pada kesediaan menanggung beban dengan tanggung jawab moral. Bahkan konsep gotong royong, yang pernah ditegaskan sebagai dasar kebangsaan oleh Soekarno, menempatkan kerja dalam bingkai kolektif. Kerja bukan kompetisi brutal, melainkan partisipasi bersama. Ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian. Dengan dan melalui pekerjaan itulah manusia saling menempatkan tanggung jawabnya satu sama lain.
Namun modernitas tanpa bisa dihindari membawa pergeseran halus. Kerja lalu menjadi bersifat individual. Pasar menggantikan komunitas. Solidaritas berubah menjadi persaingan. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja produktivitas. Filsuf Jerman Hannah Arendt membedakan antara labor yaitu kerja untuk bertahan hidup, work yaitu menciptakan dunia buatan manusia, dan action yang merupakan tindakan politik sebagai warga.
Dalam masyarakat modern, kata Arendt, manusia direduksi menjadi animal laborans, istilah yang menggambarkan makhluk yang terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Hidup menjadi siklus tanpa akhir, dari kerja, lanjut konsumsi, kerja lagi. Demikian saja terus-menerus. Kita mungkin menjalaninya, namun tidak menyadarinya. Tetapi ketika manusia hanya diukur dari produktivitas, ia kehilangan ruang untuk berpikir, untuk berpolitik, untuk bertindak sebagai warga. Yang terjadi adalah menusia menjadi mesin biologis yang efisien, yang bukan untuk dirinya sendiri.
Kini dalam zaman yang disebut Byung-Chul Han sebagai achievement society, manusia tidak lagi ditindas oleh kekuasaan eksternal. Kini manusia menindas dirinya sendiri. Kita memaksa diri untuk terus naik level, terus berkembang, terus produktif. Dengan demikian burnout bukan suatu kecelakaan, melainkan konsekuensi logis. Ironisnya, kita merasa bebas padahal sedang mengeksploitasi diri.
Apakah ini berarti bekerja demi bertahan hidup itu rendah? Tidak sesederhana itu. Kita pikir logis dan realistis saja. Secara biologis, manusia memang harus makan, harus bertahan hidup. Petani, nelayan, buruh, tukang, montir apa pun itu, mereka semua bekerja keras demi kebutuhan dasar. Namun dalam budaya Nusantara, kerja untuk hidup tidak pernah dianggap hina. Ia tetap luhur karena ada kesadaran etis dan spiritual.
Ungkapan “Gusti ora sare” yang berarti Tuhan tidak tidur, selalu mengingatkan bahwa kerja adalah ruang integritas. Bahkan ketika tak ada yang melihat, ada dimensi moral yang menyertai. Kerja menjadi ibadah, bukan sekadar produksi. Masalah muncul ketika kerja kehilangan dimensi itu. Ketika nilai diganti angka. Ketika martabat diganti performa. Ketika manusia kemudian direduksi menjadi sumber daya.
Di titik ini, jika ada kritik bahwa manusia kemudian seolah menjadi seperti binatang karena hanya mengejar kelangsungan hidup perlu diluruskan. Hewan memang hidup berdasarkan insting. Tetapi manusia tidak berhenti pada insting. Ia memiliki refleksi, kesadaran, etika. Yang membuat manusia bukan sekadar fakta bahwa ia butuh makan, melainkan kemampuannya memberi makna pada aktivitasnya. Jika makna itu hilang, yang terjadi bukan manusia lantas menjadi hewan, melainkan manusia kehilangan kemanusiaannya.
Kita bisa melihatnya dalam fenomena pekerja yang merasa hampa meski bergaji tinggi. Atau generasi muda kita yang cemas karena merasa tertinggal dalam perlombaan karier. Atau rekan-rekan pegawai yang terjebak rutinitas birokrasi tanpa adanya sruang kreativitas. Mereka semua bukan malas, bukan juga tidak bersyukur. Mereka mungkin sedang mengalami krisis makna.
Di sinilah saya yakin kearifan Nusantara menjadi relevan. Kerja harus bisa dipahami sebagai bagian dari harmoni kosmis. Coba kita perhatikan baik-baik, bagaimana dalam masyarakat agraris, orang bekerja bersama alam, bukan melawannya. Dalam semangat gotong royong, orang akan bekerja bersama sesamanya, bukan saling menjatuhkan. Di sinilah, dalam laku spiritual, kerja adalah suatu pembentukan diri.
Menghidupkan Makna kerja
Modernitas memang tidak bisa ditolak. Kita tidak mungkin kembali sepenuhnya ke pola agraris komunal seperti jaman kakek nenek kita. Namun kita bisa menghidupkan kembali ruhnya. Pertama, kita bisa memulihkan dimensi kolektif kerja. Bahwa keberhasilan individu selalu ditopang oleh struktur sosial. Bahwa solidaritas bukan sekedar romantisme, melainkan kebutuhan.
Yang kedua, memulihkan dimensi etis kerja. Menekankan kembali bahwa cara lebih penting daripada sekadar hasil. Bahwa integritas tidak bisa ditukar dengan target. Kemudian yang ketiga, memulihkan dimensi makna kerja. Bahwa manusia tidak hidup hanya untuk produksi dan konsumsi, seperti apa yang di depan disebut sebagai animal laborans. Bekerja merupakan sisi kehidupan untuk relasi, untuk kontribusi, untuk pertumbuhan batin.
Dari omong-omong tadi, bisa kita tarik kesepakatan bahwa tanggal 20 Februari seharusnya tidak berhenti sekadar sebagai peringatan. Ia bisa menjadi momen refleksi untuk siapa kita bekerja? Untuk apa kita bekerja? Lalu apakah kerja kita bisa memanusiakan diri dan orang lain, atau malah justru mengerdilkan?
Kerja yang luhur bukan kerja yang glamor. Ia bisa jadi sangat sederhana. Seorang guru yang mengajar dengan hati. Seorang petani yang setia merawat tanah garapannya. Seorang pegawai yang meski rendahan, namun tetap jujur dalam tugasnya. Seorang pengusaha yang tidak menindas pekerjanya, dan sebagainya. Karena apa yang disebut keluhuran kerja, terletak pada kesadaran bahwa manusia adalah subjek, bukan alat.
Bekerja dengan Harapan
Indonesia tercinta kita ini dibangun oleh kerja, dari sawah hingga pabrik, dari kantor desa hingga ruang sidang. Tetapi tidak itu saja, Indonesia juga dibangun oleh nilai yang menyertai kerja itu, seperti gotong royong, rasa syukur, pengabdian, dan integritas. Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem global yang kompetitif dalam sekejap. Namun kita bisa memulai dari cara kita memaknai kerja.
Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan zaman ini, semoga saja kita tidak kehilangan jiwa dalam bekerja. Semoga juga, kita tidak terjebak menjadi sekadar mesin produktif. Semoga lagi, kita tetap ingat bahwa kerja bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang membangun martabat.
Dan masih semoga, bagaimana pun keadaan kita masing-masing di Indonesia ini, pada setiap tanggal 20 Februari kita dapat memahami kembali bahwa kerja adalah sesuatu yang luhur, sesuatu yang memanusiakan manusia. Memang kalau bicara soal kondisi kerja di Indonesia, banyak sekali kata semoganya. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole


























