DALAM tulisan saya sebelumnya, “Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni,” saya menyoroti bagaimana ketika karya seni tampil megah secara visual, tetapi kering penjelasan konseptual. Narasi yang seharusnya menjadi jiwa justru tersisih di pinggir, bahkan sering dianggap tidak penting. Saat itu, kegelisahan saya berangkat dari pengamatan umum tentang kecenderungan seni yang semakin menonjolkan bentuk dibandingkan makna. Namun, kegelisahan itu menemukan pembenarannya ketika saya turun langsung ke lapangan, mengapresiasi beberapa karya ogoh-ogoh dalam proses penciptaannya.
Di tengah semangat gotong royong dan energi kreatif yang luar biasa, saya menemukan satu hal yang menarik sekaligus mengusik. Banyak karya dibangun dengan perencanaan teknis yang sangat matang struktur rangka diperhitungkan, komposisi visual dirancang detail, bahkan sistem mekanik dipersiapkan dengan presisi. Namun ketika pertanyaan sederhana diajukan, “Apa makna dari karya ogoh-ogoh ini? Apa pesan yang ingin disampaikan?”jawabannya spontan, atau bahkan belum pernah benar-benar dipikirkan. Di sinilah ironi itu kembali hadir, pondasi fisik dibangun dengan keseriusan, tetapi pondasi literasi dan konseptual kerap tertinggal di belakang.
Pengalaman lapangan inilah yang kemudian mendorong saya untuk merespon kembali tulisan sebelumnya, tetapi dari sudut pandang yang lebih spesifik, bahwa sebelum rekonstruksi fisik dimulai, karya ogoh-ogoh sesungguhnya membutuhkan satu hal yang lebih mendasar dan menentukan yaitu pondasi literasi. Tanpa itu, kita mungkin berhasil membangun tubuh yang besar dan mengagumkan, tetapi berisiko kehilangan ruh yang membuatnya bermakna.
Dalam setiap karya seni, ada sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan segalanya fondasi gagasan. Pada ogoh-ogoh, fondasi itu adalah literasi. Literasi bukan sekadar membaca buku atau mengutip cerita, melainkan proses menyelami makna, memahami simbol, serta menimbang konteks zaman. Literasi adalah ruang kontemplasi sebelum ruang konstruksi. Ia adalah jeda sunyi sebelum riuh pawai.
Sebuah karya yang bertumpu pada literasi akan memiliki struktur berpikir yang jelas, apa pesan yang ingin disampaikan? simbol apa yang digunakan? mengapa bentuk itu dipilih? bagaimana relevansinya dengan situasi masyarakat hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan karya yang sekadar “dibuat” dengan karya yang “dipertanggungjawabkan.”
Literasi adalah pondasi tak kasat mata yang menentukan apakah ogoh-ogoh hanya akan berdiri gagah semalam, atau hidup dalam ingatan dan diskursus jauh setelah api pembakaran padam.
Ketika Pondasi Konseptual Tergerus
Kita sedang hidup di era visual. meriah menjadi kebanggaan. Teknik menjadi perlombaan. Mekanik, lighting, dan efek gerak menjadi pusat perhatian. Dalam atmosfer seperti ini, budaya membangun pondasi literasi sering kali terpinggirkan.
Proses kreatif yang dahulu dimulai dengan diskusi panjang tentang tema dan makna, kini kerap langsung melompat pada eksekusi kilat, referensi internet, atau tren viral. Pondasi fisik didahulukan, pondasi pemikiran menyusul atau bahkan tidak pernah dibangun.
Akibatnya, muncul ironi karya kosong narasi, maknanya kabur. Di sinilah paradoks itu terasa kita membangun rangka bambu dengan perhitungan matang, tetapi membangun gagasan tanpa riset yang cukup. Kita memperkuat struktur fisik agar tidak roboh, tetapi membiarkan struktur makna rapuh dan mudah runtuh oleh kritik.
Padahal, seni tradisi Bali tidak pernah lahir dari kekosongan pengetahuan. Ia tumbuh dari perjumpaan antara pengalaman empiris, teks literasi, cerita lisan, dan refleksi spiritual.
Belajar dari Para Dalang: Maguru Kuping dan Maguru Sastra
Jika kita menengok tradisi para dalang terdahulu, kita menemukan pola belajar yang sangat sistematis sekaligus filosofis. Mereka mengenal istilah maguru kuping, belajar dengan mendengar. Mendengar cerita dari guru, menyerap informasi dan fenomena yang terjadi, memahami rasa dari pengalaman pentas, serta menangkap getaran makna dari tradisi lisan.
Namun maguru kuping tidak berdiri sendiri. Apa yang diterima tidak langsung dianggap final. Ia diverifikasi melalui maguru sastra, membaca literasi, menelaah teks, menelusuri sumber tertulis, memahami struktur cerita dan filosofi secara mendalam. Tradisi lisan dan tradisi literasi berjalan berdampingan.
Di sinilah relevansi besar bagi kreator ogoh-ogoh masa kini.
Sebelum menentukan pondasi fisik, sebelum rangka dibangun dan bentuk dipahat, seharusnya ada proses:
- Merumuskan tema secara tertulis, bukan hanya dalam percakapan spontan.
- Melakukan riset sumber, baik dari sastra agama, sejarah lokal, maupun fenomena sosial.
- Diskusi konseptual dengan tokoh atau akademisi, sebagai bentuk maguru kuping modern.
- Menguji kembali gagasan melalui bacaan, sebagai praktik maguru sastra.
- Menyusun sinopsis atau esai konsep karya, agar tim memahami arah yang sama.
Jika pola ini diterapkan, ogoh-ogoh tidak lagi sekadar proyek konstruksi, melainkan proyek intelektual dan spiritual.
Menuju Rekonstruksi Budaya Literasi dalam Ogoh-ogoh
Membangun kembali budaya literasi bukan berarti menolak inovasi visual. Justru sebaliknya, literasi memperkaya inovasi. Visual yang canggih akan semakin bermakna ketika didukung oleh pemahaman mendalam.
Kita perlu menyadari bahwa pondasi fisik hanyalah rekonstruksi dari pondasi konseptual. Jika gagasannya kokoh, bentuknya akan mengikuti. Jika pemikirannya jernih, simbolnya akan tepat. Karena pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan sekadar tubuh raksasa yang diarak lalu dibakar. Ia adalah cermin kesadaran kolektif masyarakat. Dan kesadaran tidak dibangun dari bambu atau cat semata, ia dibangun dari pengetahuan.
Jika kita ingin ogoh-ogoh tetap relevan dengan fenomena zaman, berkelas, dan berdaya reflektif, maka mari kita kembalikan satu hal yang paling mendasar, membangun pondasi literasi sebelum mendirikan pondasi fisik. [T]
Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:


























