24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 19, 2026
in Esai
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra

DALAM tulisan saya sebelumnya, “Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni,” saya menyoroti bagaimana ketika karya seni tampil megah secara visual, tetapi kering penjelasan konseptual. Narasi yang seharusnya menjadi jiwa justru tersisih di pinggir, bahkan sering dianggap tidak penting. Saat itu, kegelisahan saya berangkat dari pengamatan umum tentang kecenderungan seni yang semakin menonjolkan bentuk dibandingkan makna. Namun, kegelisahan itu menemukan pembenarannya ketika saya turun langsung ke lapangan, mengapresiasi beberapa karya ogoh-ogoh dalam proses penciptaannya.

Di tengah semangat gotong royong dan energi kreatif yang luar biasa, saya menemukan satu hal yang menarik sekaligus mengusik. Banyak karya dibangun dengan perencanaan teknis yang sangat matang struktur rangka diperhitungkan, komposisi visual dirancang detail, bahkan sistem mekanik dipersiapkan dengan presisi. Namun ketika pertanyaan sederhana diajukan, “Apa makna dari karya ogoh-ogoh ini? Apa pesan yang ingin disampaikan?”jawabannya spontan, atau bahkan belum pernah benar-benar dipikirkan. Di sinilah ironi itu kembali hadir, pondasi fisik dibangun dengan keseriusan, tetapi pondasi literasi dan konseptual kerap tertinggal di belakang.

Pengalaman lapangan inilah yang kemudian mendorong saya untuk merespon kembali tulisan sebelumnya, tetapi dari sudut pandang yang lebih spesifik, bahwa sebelum rekonstruksi fisik dimulai, karya ogoh-ogoh sesungguhnya membutuhkan satu hal yang lebih mendasar dan menentukan yaitu pondasi literasi. Tanpa itu, kita mungkin berhasil membangun tubuh yang besar dan mengagumkan, tetapi berisiko kehilangan ruh yang membuatnya bermakna.

Dalam setiap karya seni, ada sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan segalanya  fondasi gagasan. Pada ogoh-ogoh, fondasi itu adalah literasi. Literasi bukan sekadar membaca buku atau mengutip cerita, melainkan proses menyelami makna, memahami simbol, serta menimbang konteks zaman. Literasi adalah ruang kontemplasi sebelum ruang konstruksi. Ia adalah jeda sunyi sebelum riuh pawai.

Sebuah karya yang bertumpu pada literasi akan memiliki struktur berpikir yang jelas, apa pesan yang ingin disampaikan? simbol apa yang digunakan? mengapa bentuk itu dipilih? bagaimana relevansinya dengan situasi masyarakat hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan karya yang sekadar “dibuat” dengan karya yang “dipertanggungjawabkan.”

Literasi adalah pondasi tak kasat mata yang menentukan apakah ogoh-ogoh hanya akan berdiri gagah semalam, atau hidup dalam ingatan dan diskursus jauh setelah api pembakaran padam.

Ketika Pondasi Konseptual Tergerus

Kita sedang hidup di era visual. meriah menjadi kebanggaan. Teknik menjadi perlombaan. Mekanik, lighting, dan efek gerak menjadi pusat perhatian. Dalam atmosfer seperti ini, budaya membangun pondasi literasi sering kali terpinggirkan.

Proses kreatif yang dahulu dimulai dengan diskusi panjang tentang tema dan makna, kini kerap langsung melompat pada eksekusi kilat, referensi internet, atau tren viral. Pondasi fisik didahulukan, pondasi pemikiran menyusul atau bahkan tidak pernah dibangun.

Akibatnya, muncul ironi karya kosong narasi, maknanya kabur. Di sinilah paradoks itu terasa kita membangun rangka bambu dengan perhitungan matang, tetapi membangun gagasan tanpa riset yang cukup. Kita memperkuat struktur fisik agar tidak roboh, tetapi membiarkan struktur makna rapuh dan mudah runtuh oleh kritik.

Padahal, seni tradisi Bali tidak pernah lahir dari kekosongan pengetahuan. Ia tumbuh dari perjumpaan antara pengalaman empiris, teks literasi, cerita lisan, dan refleksi spiritual.

Belajar dari Para Dalang: Maguru Kuping dan Maguru Sastra

Jika kita menengok tradisi para dalang terdahulu, kita menemukan pola belajar yang sangat sistematis sekaligus filosofis. Mereka mengenal istilah maguru kuping, belajar dengan mendengar. Mendengar cerita dari guru, menyerap informasi dan fenomena yang terjadi, memahami rasa dari pengalaman pentas, serta menangkap getaran makna dari tradisi lisan.

Namun maguru kuping tidak berdiri sendiri. Apa yang diterima tidak langsung dianggap final. Ia diverifikasi melalui maguru sastra, membaca literasi, menelaah teks, menelusuri sumber tertulis, memahami struktur cerita dan filosofi secara mendalam. Tradisi lisan dan tradisi literasi berjalan berdampingan.

Di sinilah relevansi besar bagi kreator ogoh-ogoh masa kini.

Sebelum menentukan pondasi fisik, sebelum rangka dibangun dan bentuk dipahat, seharusnya ada proses:

  1. Merumuskan tema secara tertulis, bukan hanya dalam percakapan spontan.
  2. Melakukan riset sumber, baik dari sastra agama, sejarah lokal, maupun fenomena sosial.
  3. Diskusi konseptual dengan tokoh atau akademisi, sebagai bentuk maguru kuping modern.
  4. Menguji kembali gagasan melalui bacaan, sebagai praktik maguru sastra.
  5. Menyusun sinopsis atau esai konsep karya, agar tim memahami arah yang sama.

Jika pola ini diterapkan, ogoh-ogoh tidak lagi sekadar proyek konstruksi, melainkan proyek intelektual dan spiritual.

Menuju Rekonstruksi Budaya Literasi dalam Ogoh-ogoh

Membangun kembali budaya literasi bukan berarti menolak inovasi visual. Justru sebaliknya, literasi memperkaya inovasi. Visual yang canggih akan semakin bermakna ketika didukung oleh pemahaman mendalam.

Kita perlu menyadari bahwa pondasi fisik hanyalah rekonstruksi dari pondasi konseptual. Jika gagasannya kokoh, bentuknya akan mengikuti. Jika pemikirannya jernih, simbolnya akan tepat. Karena pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan sekadar tubuh raksasa yang diarak lalu dibakar. Ia adalah cermin kesadaran kolektif masyarakat. Dan kesadaran tidak dibangun dari bambu atau cat semata, ia dibangun dari pengetahuan.

Jika kita ingin ogoh-ogoh tetap relevan dengan fenomena zaman, berkelas, dan berdaya reflektif, maka mari kita kembalikan satu hal yang paling mendasar, membangun pondasi literasi sebelum mendirikan pondasi fisik. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Tags: Dalangkarawitan balikesenian baliLiterasiSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Next Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co