3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 19, 2026
in Esai
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra

DALAM tulisan saya sebelumnya, “Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni,” saya menyoroti bagaimana ketika karya seni tampil megah secara visual, tetapi kering penjelasan konseptual. Narasi yang seharusnya menjadi jiwa justru tersisih di pinggir, bahkan sering dianggap tidak penting. Saat itu, kegelisahan saya berangkat dari pengamatan umum tentang kecenderungan seni yang semakin menonjolkan bentuk dibandingkan makna. Namun, kegelisahan itu menemukan pembenarannya ketika saya turun langsung ke lapangan, mengapresiasi beberapa karya ogoh-ogoh dalam proses penciptaannya.

Di tengah semangat gotong royong dan energi kreatif yang luar biasa, saya menemukan satu hal yang menarik sekaligus mengusik. Banyak karya dibangun dengan perencanaan teknis yang sangat matang struktur rangka diperhitungkan, komposisi visual dirancang detail, bahkan sistem mekanik dipersiapkan dengan presisi. Namun ketika pertanyaan sederhana diajukan, “Apa makna dari karya ogoh-ogoh ini? Apa pesan yang ingin disampaikan?”jawabannya spontan, atau bahkan belum pernah benar-benar dipikirkan. Di sinilah ironi itu kembali hadir, pondasi fisik dibangun dengan keseriusan, tetapi pondasi literasi dan konseptual kerap tertinggal di belakang.

Pengalaman lapangan inilah yang kemudian mendorong saya untuk merespon kembali tulisan sebelumnya, tetapi dari sudut pandang yang lebih spesifik, bahwa sebelum rekonstruksi fisik dimulai, karya ogoh-ogoh sesungguhnya membutuhkan satu hal yang lebih mendasar dan menentukan yaitu pondasi literasi. Tanpa itu, kita mungkin berhasil membangun tubuh yang besar dan mengagumkan, tetapi berisiko kehilangan ruh yang membuatnya bermakna.

Dalam setiap karya seni, ada sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan segalanya  fondasi gagasan. Pada ogoh-ogoh, fondasi itu adalah literasi. Literasi bukan sekadar membaca buku atau mengutip cerita, melainkan proses menyelami makna, memahami simbol, serta menimbang konteks zaman. Literasi adalah ruang kontemplasi sebelum ruang konstruksi. Ia adalah jeda sunyi sebelum riuh pawai.

Sebuah karya yang bertumpu pada literasi akan memiliki struktur berpikir yang jelas, apa pesan yang ingin disampaikan? simbol apa yang digunakan? mengapa bentuk itu dipilih? bagaimana relevansinya dengan situasi masyarakat hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan karya yang sekadar “dibuat” dengan karya yang “dipertanggungjawabkan.”

Literasi adalah pondasi tak kasat mata yang menentukan apakah ogoh-ogoh hanya akan berdiri gagah semalam, atau hidup dalam ingatan dan diskursus jauh setelah api pembakaran padam.

Ketika Pondasi Konseptual Tergerus

Kita sedang hidup di era visual. meriah menjadi kebanggaan. Teknik menjadi perlombaan. Mekanik, lighting, dan efek gerak menjadi pusat perhatian. Dalam atmosfer seperti ini, budaya membangun pondasi literasi sering kali terpinggirkan.

Proses kreatif yang dahulu dimulai dengan diskusi panjang tentang tema dan makna, kini kerap langsung melompat pada eksekusi kilat, referensi internet, atau tren viral. Pondasi fisik didahulukan, pondasi pemikiran menyusul atau bahkan tidak pernah dibangun.

Akibatnya, muncul ironi karya kosong narasi, maknanya kabur. Di sinilah paradoks itu terasa kita membangun rangka bambu dengan perhitungan matang, tetapi membangun gagasan tanpa riset yang cukup. Kita memperkuat struktur fisik agar tidak roboh, tetapi membiarkan struktur makna rapuh dan mudah runtuh oleh kritik.

Padahal, seni tradisi Bali tidak pernah lahir dari kekosongan pengetahuan. Ia tumbuh dari perjumpaan antara pengalaman empiris, teks literasi, cerita lisan, dan refleksi spiritual.

Belajar dari Para Dalang: Maguru Kuping dan Maguru Sastra

Jika kita menengok tradisi para dalang terdahulu, kita menemukan pola belajar yang sangat sistematis sekaligus filosofis. Mereka mengenal istilah maguru kuping, belajar dengan mendengar. Mendengar cerita dari guru, menyerap informasi dan fenomena yang terjadi, memahami rasa dari pengalaman pentas, serta menangkap getaran makna dari tradisi lisan.

Namun maguru kuping tidak berdiri sendiri. Apa yang diterima tidak langsung dianggap final. Ia diverifikasi melalui maguru sastra, membaca literasi, menelaah teks, menelusuri sumber tertulis, memahami struktur cerita dan filosofi secara mendalam. Tradisi lisan dan tradisi literasi berjalan berdampingan.

Di sinilah relevansi besar bagi kreator ogoh-ogoh masa kini.

Sebelum menentukan pondasi fisik, sebelum rangka dibangun dan bentuk dipahat, seharusnya ada proses:

  1. Merumuskan tema secara tertulis, bukan hanya dalam percakapan spontan.
  2. Melakukan riset sumber, baik dari sastra agama, sejarah lokal, maupun fenomena sosial.
  3. Diskusi konseptual dengan tokoh atau akademisi, sebagai bentuk maguru kuping modern.
  4. Menguji kembali gagasan melalui bacaan, sebagai praktik maguru sastra.
  5. Menyusun sinopsis atau esai konsep karya, agar tim memahami arah yang sama.

Jika pola ini diterapkan, ogoh-ogoh tidak lagi sekadar proyek konstruksi, melainkan proyek intelektual dan spiritual.

Menuju Rekonstruksi Budaya Literasi dalam Ogoh-ogoh

Membangun kembali budaya literasi bukan berarti menolak inovasi visual. Justru sebaliknya, literasi memperkaya inovasi. Visual yang canggih akan semakin bermakna ketika didukung oleh pemahaman mendalam.

Kita perlu menyadari bahwa pondasi fisik hanyalah rekonstruksi dari pondasi konseptual. Jika gagasannya kokoh, bentuknya akan mengikuti. Jika pemikirannya jernih, simbolnya akan tepat. Karena pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan sekadar tubuh raksasa yang diarak lalu dibakar. Ia adalah cermin kesadaran kolektif masyarakat. Dan kesadaran tidak dibangun dari bambu atau cat semata, ia dibangun dari pengetahuan.

Jika kita ingin ogoh-ogoh tetap relevan dengan fenomena zaman, berkelas, dan berdaya reflektif, maka mari kita kembalikan satu hal yang paling mendasar, membangun pondasi literasi sebelum mendirikan pondasi fisik. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Tags: Dalangkarawitan balikesenian baliLiterasiSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Next Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co