14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 19, 2026
in Esai
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra

DALAM tulisan saya sebelumnya, “Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni,” saya menyoroti bagaimana ketika karya seni tampil megah secara visual, tetapi kering penjelasan konseptual. Narasi yang seharusnya menjadi jiwa justru tersisih di pinggir, bahkan sering dianggap tidak penting. Saat itu, kegelisahan saya berangkat dari pengamatan umum tentang kecenderungan seni yang semakin menonjolkan bentuk dibandingkan makna. Namun, kegelisahan itu menemukan pembenarannya ketika saya turun langsung ke lapangan, mengapresiasi beberapa karya ogoh-ogoh dalam proses penciptaannya.

Di tengah semangat gotong royong dan energi kreatif yang luar biasa, saya menemukan satu hal yang menarik sekaligus mengusik. Banyak karya dibangun dengan perencanaan teknis yang sangat matang struktur rangka diperhitungkan, komposisi visual dirancang detail, bahkan sistem mekanik dipersiapkan dengan presisi. Namun ketika pertanyaan sederhana diajukan, “Apa makna dari karya ogoh-ogoh ini? Apa pesan yang ingin disampaikan?”jawabannya spontan, atau bahkan belum pernah benar-benar dipikirkan. Di sinilah ironi itu kembali hadir, pondasi fisik dibangun dengan keseriusan, tetapi pondasi literasi dan konseptual kerap tertinggal di belakang.

Pengalaman lapangan inilah yang kemudian mendorong saya untuk merespon kembali tulisan sebelumnya, tetapi dari sudut pandang yang lebih spesifik, bahwa sebelum rekonstruksi fisik dimulai, karya ogoh-ogoh sesungguhnya membutuhkan satu hal yang lebih mendasar dan menentukan yaitu pondasi literasi. Tanpa itu, kita mungkin berhasil membangun tubuh yang besar dan mengagumkan, tetapi berisiko kehilangan ruh yang membuatnya bermakna.

Dalam setiap karya seni, ada sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan segalanya  fondasi gagasan. Pada ogoh-ogoh, fondasi itu adalah literasi. Literasi bukan sekadar membaca buku atau mengutip cerita, melainkan proses menyelami makna, memahami simbol, serta menimbang konteks zaman. Literasi adalah ruang kontemplasi sebelum ruang konstruksi. Ia adalah jeda sunyi sebelum riuh pawai.

Sebuah karya yang bertumpu pada literasi akan memiliki struktur berpikir yang jelas, apa pesan yang ingin disampaikan? simbol apa yang digunakan? mengapa bentuk itu dipilih? bagaimana relevansinya dengan situasi masyarakat hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan karya yang sekadar “dibuat” dengan karya yang “dipertanggungjawabkan.”

Literasi adalah pondasi tak kasat mata yang menentukan apakah ogoh-ogoh hanya akan berdiri gagah semalam, atau hidup dalam ingatan dan diskursus jauh setelah api pembakaran padam.

Ketika Pondasi Konseptual Tergerus

Kita sedang hidup di era visual. meriah menjadi kebanggaan. Teknik menjadi perlombaan. Mekanik, lighting, dan efek gerak menjadi pusat perhatian. Dalam atmosfer seperti ini, budaya membangun pondasi literasi sering kali terpinggirkan.

Proses kreatif yang dahulu dimulai dengan diskusi panjang tentang tema dan makna, kini kerap langsung melompat pada eksekusi kilat, referensi internet, atau tren viral. Pondasi fisik didahulukan, pondasi pemikiran menyusul atau bahkan tidak pernah dibangun.

Akibatnya, muncul ironi karya kosong narasi, maknanya kabur. Di sinilah paradoks itu terasa kita membangun rangka bambu dengan perhitungan matang, tetapi membangun gagasan tanpa riset yang cukup. Kita memperkuat struktur fisik agar tidak roboh, tetapi membiarkan struktur makna rapuh dan mudah runtuh oleh kritik.

Padahal, seni tradisi Bali tidak pernah lahir dari kekosongan pengetahuan. Ia tumbuh dari perjumpaan antara pengalaman empiris, teks literasi, cerita lisan, dan refleksi spiritual.

Belajar dari Para Dalang: Maguru Kuping dan Maguru Sastra

Jika kita menengok tradisi para dalang terdahulu, kita menemukan pola belajar yang sangat sistematis sekaligus filosofis. Mereka mengenal istilah maguru kuping, belajar dengan mendengar. Mendengar cerita dari guru, menyerap informasi dan fenomena yang terjadi, memahami rasa dari pengalaman pentas, serta menangkap getaran makna dari tradisi lisan.

Namun maguru kuping tidak berdiri sendiri. Apa yang diterima tidak langsung dianggap final. Ia diverifikasi melalui maguru sastra, membaca literasi, menelaah teks, menelusuri sumber tertulis, memahami struktur cerita dan filosofi secara mendalam. Tradisi lisan dan tradisi literasi berjalan berdampingan.

Di sinilah relevansi besar bagi kreator ogoh-ogoh masa kini.

Sebelum menentukan pondasi fisik, sebelum rangka dibangun dan bentuk dipahat, seharusnya ada proses:

  1. Merumuskan tema secara tertulis, bukan hanya dalam percakapan spontan.
  2. Melakukan riset sumber, baik dari sastra agama, sejarah lokal, maupun fenomena sosial.
  3. Diskusi konseptual dengan tokoh atau akademisi, sebagai bentuk maguru kuping modern.
  4. Menguji kembali gagasan melalui bacaan, sebagai praktik maguru sastra.
  5. Menyusun sinopsis atau esai konsep karya, agar tim memahami arah yang sama.

Jika pola ini diterapkan, ogoh-ogoh tidak lagi sekadar proyek konstruksi, melainkan proyek intelektual dan spiritual.

Menuju Rekonstruksi Budaya Literasi dalam Ogoh-ogoh

Membangun kembali budaya literasi bukan berarti menolak inovasi visual. Justru sebaliknya, literasi memperkaya inovasi. Visual yang canggih akan semakin bermakna ketika didukung oleh pemahaman mendalam.

Kita perlu menyadari bahwa pondasi fisik hanyalah rekonstruksi dari pondasi konseptual. Jika gagasannya kokoh, bentuknya akan mengikuti. Jika pemikirannya jernih, simbolnya akan tepat. Karena pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan sekadar tubuh raksasa yang diarak lalu dibakar. Ia adalah cermin kesadaran kolektif masyarakat. Dan kesadaran tidak dibangun dari bambu atau cat semata, ia dibangun dari pengetahuan.

Jika kita ingin ogoh-ogoh tetap relevan dengan fenomena zaman, berkelas, dan berdaya reflektif, maka mari kita kembalikan satu hal yang paling mendasar, membangun pondasi literasi sebelum mendirikan pondasi fisik. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Tags: Dalangkarawitan balikesenian baliLiterasiSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Next Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co