23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 19, 2026
in Esai
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

I Gusti Made Darma Putra

DALAM tulisan saya sebelumnya, “Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni,” saya menyoroti bagaimana ketika karya seni tampil megah secara visual, tetapi kering penjelasan konseptual. Narasi yang seharusnya menjadi jiwa justru tersisih di pinggir, bahkan sering dianggap tidak penting. Saat itu, kegelisahan saya berangkat dari pengamatan umum tentang kecenderungan seni yang semakin menonjolkan bentuk dibandingkan makna. Namun, kegelisahan itu menemukan pembenarannya ketika saya turun langsung ke lapangan, mengapresiasi beberapa karya ogoh-ogoh dalam proses penciptaannya.

Di tengah semangat gotong royong dan energi kreatif yang luar biasa, saya menemukan satu hal yang menarik sekaligus mengusik. Banyak karya dibangun dengan perencanaan teknis yang sangat matang struktur rangka diperhitungkan, komposisi visual dirancang detail, bahkan sistem mekanik dipersiapkan dengan presisi. Namun ketika pertanyaan sederhana diajukan, “Apa makna dari karya ogoh-ogoh ini? Apa pesan yang ingin disampaikan?”jawabannya spontan, atau bahkan belum pernah benar-benar dipikirkan. Di sinilah ironi itu kembali hadir, pondasi fisik dibangun dengan keseriusan, tetapi pondasi literasi dan konseptual kerap tertinggal di belakang.

Pengalaman lapangan inilah yang kemudian mendorong saya untuk merespon kembali tulisan sebelumnya, tetapi dari sudut pandang yang lebih spesifik, bahwa sebelum rekonstruksi fisik dimulai, karya ogoh-ogoh sesungguhnya membutuhkan satu hal yang lebih mendasar dan menentukan yaitu pondasi literasi. Tanpa itu, kita mungkin berhasil membangun tubuh yang besar dan mengagumkan, tetapi berisiko kehilangan ruh yang membuatnya bermakna.

Dalam setiap karya seni, ada sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan segalanya  fondasi gagasan. Pada ogoh-ogoh, fondasi itu adalah literasi. Literasi bukan sekadar membaca buku atau mengutip cerita, melainkan proses menyelami makna, memahami simbol, serta menimbang konteks zaman. Literasi adalah ruang kontemplasi sebelum ruang konstruksi. Ia adalah jeda sunyi sebelum riuh pawai.

Sebuah karya yang bertumpu pada literasi akan memiliki struktur berpikir yang jelas, apa pesan yang ingin disampaikan? simbol apa yang digunakan? mengapa bentuk itu dipilih? bagaimana relevansinya dengan situasi masyarakat hari ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan karya yang sekadar “dibuat” dengan karya yang “dipertanggungjawabkan.”

Literasi adalah pondasi tak kasat mata yang menentukan apakah ogoh-ogoh hanya akan berdiri gagah semalam, atau hidup dalam ingatan dan diskursus jauh setelah api pembakaran padam.

Ketika Pondasi Konseptual Tergerus

Kita sedang hidup di era visual. meriah menjadi kebanggaan. Teknik menjadi perlombaan. Mekanik, lighting, dan efek gerak menjadi pusat perhatian. Dalam atmosfer seperti ini, budaya membangun pondasi literasi sering kali terpinggirkan.

Proses kreatif yang dahulu dimulai dengan diskusi panjang tentang tema dan makna, kini kerap langsung melompat pada eksekusi kilat, referensi internet, atau tren viral. Pondasi fisik didahulukan, pondasi pemikiran menyusul atau bahkan tidak pernah dibangun.

Akibatnya, muncul ironi karya kosong narasi, maknanya kabur. Di sinilah paradoks itu terasa kita membangun rangka bambu dengan perhitungan matang, tetapi membangun gagasan tanpa riset yang cukup. Kita memperkuat struktur fisik agar tidak roboh, tetapi membiarkan struktur makna rapuh dan mudah runtuh oleh kritik.

Padahal, seni tradisi Bali tidak pernah lahir dari kekosongan pengetahuan. Ia tumbuh dari perjumpaan antara pengalaman empiris, teks literasi, cerita lisan, dan refleksi spiritual.

Belajar dari Para Dalang: Maguru Kuping dan Maguru Sastra

Jika kita menengok tradisi para dalang terdahulu, kita menemukan pola belajar yang sangat sistematis sekaligus filosofis. Mereka mengenal istilah maguru kuping, belajar dengan mendengar. Mendengar cerita dari guru, menyerap informasi dan fenomena yang terjadi, memahami rasa dari pengalaman pentas, serta menangkap getaran makna dari tradisi lisan.

Namun maguru kuping tidak berdiri sendiri. Apa yang diterima tidak langsung dianggap final. Ia diverifikasi melalui maguru sastra, membaca literasi, menelaah teks, menelusuri sumber tertulis, memahami struktur cerita dan filosofi secara mendalam. Tradisi lisan dan tradisi literasi berjalan berdampingan.

Di sinilah relevansi besar bagi kreator ogoh-ogoh masa kini.

Sebelum menentukan pondasi fisik, sebelum rangka dibangun dan bentuk dipahat, seharusnya ada proses:

  1. Merumuskan tema secara tertulis, bukan hanya dalam percakapan spontan.
  2. Melakukan riset sumber, baik dari sastra agama, sejarah lokal, maupun fenomena sosial.
  3. Diskusi konseptual dengan tokoh atau akademisi, sebagai bentuk maguru kuping modern.
  4. Menguji kembali gagasan melalui bacaan, sebagai praktik maguru sastra.
  5. Menyusun sinopsis atau esai konsep karya, agar tim memahami arah yang sama.

Jika pola ini diterapkan, ogoh-ogoh tidak lagi sekadar proyek konstruksi, melainkan proyek intelektual dan spiritual.

Menuju Rekonstruksi Budaya Literasi dalam Ogoh-ogoh

Membangun kembali budaya literasi bukan berarti menolak inovasi visual. Justru sebaliknya, literasi memperkaya inovasi. Visual yang canggih akan semakin bermakna ketika didukung oleh pemahaman mendalam.

Kita perlu menyadari bahwa pondasi fisik hanyalah rekonstruksi dari pondasi konseptual. Jika gagasannya kokoh, bentuknya akan mengikuti. Jika pemikirannya jernih, simbolnya akan tepat. Karena pada akhirnya, ogoh-ogoh bukan sekadar tubuh raksasa yang diarak lalu dibakar. Ia adalah cermin kesadaran kolektif masyarakat. Dan kesadaran tidak dibangun dari bambu atau cat semata, ia dibangun dari pengetahuan.

Jika kita ingin ogoh-ogoh tetap relevan dengan fenomena zaman, berkelas, dan berdaya reflektif, maka mari kita kembalikan satu hal yang paling mendasar, membangun pondasi literasi sebelum mendirikan pondasi fisik. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Deskripsi yang Dipinggirkan: Ironi Narasi dalam Tubuh Karya Seni
Tags: Dalangkarawitan balikesenian baliLiterasiSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Next Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co