6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 10, 2026
in Panggung
Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

JALAN Pulau Obi di pinggiran timur kota Singaraja, Buleleng, tampak lengang pada malam ketika saya bersama tim tatkala.co lewat dengan perasaan senang. Senang, karena sebentar lagi kami akan melihat bagaimana sebuah sanggar seni melangsungkan kreativitas saat latihan.

Di jalan yang agak landai, saya mendengar alunan suara memecah keheningan malam. Suara itu bukan berasal dari mesin kendaraan roda dua atau roda empat, bukan pula berasal dari suara jangkrik yang barangkali masih hidup dengan baik pada lahan sawah yang beberapa masih tersisa di wilayah itu,

Alunan suara itu datang dari gema gamelan gong kebyar. Dan, ketika mendengar suara gong itu, saya yakin, sebentar lagi kami akan sampai di  Sanggar Seni Suara Mustika, sebuah sanggar seni tradisional yang cukup terkenal di wilayah Bali utara. Semabri tersenyum-senyum senang kami mencari sumber suara itu.

Tiba, dan masuklah kami ke sebuah tempat yang cukup lapang. Di sebuah bangunan saya dapat melihat puluhan pemuda berbaju kaos merah dengan saput dan udeng, mengerahkan seluruh tenaga untuk menabuh gamelan. Mereka tentu sedang latihan. Gerakan mereka cekatan. Mata berfokus pada bilah-bilah gamelan. Gong besar dipukul mengikuti irama. Sementara tangan-tangan dengan lugas menabuh kendang, yang seluruh paduan itu memperdengarkan ritme dan harmoni yang memanjakan telinga.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Saya didekati oleh seorang pemuda sanggar. Ia berkata, “Bli De-nya ada di sana!”

Mata saya langsung tertuju pada arah yang dituju, seorang lelaki dengan sebuah kendang di sampingnya. Ia tak sedang menabuh kendang. Lelaki itu fokus memperhatikan pemuda-pemuda yang sedang menabuh di depannya. Dengan satu tangan di atas kepala, jari-jarinya bergantian terbuka, berpindah secara cepat. Gerakan jari itu menjadi semacam kode-kode untuk diikuti oleh para penabuh yang sedang latihan. Gerakan jari tangan itu adalah kode atau tanda untuk menunjukkan bilah-bilah gamelan mana yang harus dipukul oleh si penabuh.

Lelaki itulah yang dipanggil Bli De. Nama lengkapnya Made Wira Okta Atmadi. Dia adalah  pendiri sekaligus pengajar di sanggar ini. Kita panggil saja lelaki itu Okta.

Ketika Okta melihat kehadiran kami, ia memberi tanda kepada penabuh untuk istirahat. Ketika itu mendekati kami dan mengajak kami mendekat, duduk di atas karpet merah di sampingnya. Ia kemudian dengan senang hati berbincang-bincang kepada kami.

***

Sanggar Seni Suara Mustika merupakan sebuah sanggar yang didirikan di tahun 2016. Berawal dari kecintaan Okta pada gamelan Bali sedari TK hingga dewasa, ia kemudian terpanggil hatinya untuk mendirikan sanggar dan berbagi ilmu kepada anak-anak muda di Bali utara.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Niatnya makin kuat, apalagi kakeknya dari pihak ibu, I Nyoman Suara (almarhum), mewariskan sejumlah perangkat gamelan dalam kondisi yang masih bagus. Di keluarganya, hanya Okta yang menekuni seni–sampai ia belajar dengan serius di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sehingga ada rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan gamelan warisan kakeknya.

“Tang (saya)awalnya tidak kepikiran mendirikan sanggar. Ini sebenarnya adalah keterpanggilan hati saya. Sehingga saya meminta gamelan kakek saya untuk saya rawat di sini (di sanggar),” kata Okta sembari menunjukkan peninggalan gamelan gong pacek peninggalan kakeknya yang terpajang di panggung sanggarnya.

Tidak hanya gamelan gong pacek, I Nyoman Suara juga mewariskan  gamelan gender wayang. Dulu, semasa hidupnya, I Nyoman Suara memang memiliki sekaa gong gamelan gender yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1980-an. Perkiraan ini muncul dari sebuah kaset CD video yang ditemukan oleh Okta yang berisi aktivitas sekaa gong kakeknya dengan gamelan gender wayang.

Gamelan gong pacek warisan I Nyoman Suara

Nama Suara Mustika untuk sanggarnya sendiri sebenarnya juga diambil dari nama sekaa gong yang dibentuk kakeknya, yakni “Sekaa Gong Suara Mustika”. Menurut Okta, ia menggunakan nama Suara Mustika sebagai bentuk penghormatan kepada kakeknya. “Tang pakai sebagai tanda penghormatan saja sih. Nama Suara Mustika itu saya gunakan sebagai nama sanggar,” katanya.

Walaupun dengan nama yang indah, Wira Okta Atmadi sampai hari ini tidak bisa memastikan kenapa kakeknya memberi nama Suara Mustika untuk sekaa yang dibentuknya dulu.  Ia hanya bisa menebak-nebak barangkali Suara Mustika berasal dari nama kakeknya sendiri, Suara, yang kemudian ditambahkan dengan Mustika yang biasa diartikan sebagai sesuatu yang gemerlap.

Atau, biasa saja Suara Mustika itu memang masksudnya sebagai suara yang gemerlap. Atau jika mengacu pada KBBI, di mana mustika berarti “keberkahan” atau “keajaiban”, maka Suara Msutika bisa berarti suara yang penuh berkah, atau suara penuah keajaiban.

Selain gamelan gong kebyar peninggalan almarhum kakek Okta, sanggar ini juga memiliki beberapa gamelan gong yang dibelinya sendiri, seperti Gamelan Semar Pengulingan dan Gamelan Gender Wayang, serta Rindik. Sanggar seni ini juga memiliki kostum tarian. 

***

Dalam kurun satu dekade ini, anak didik yang belajar di Sanggar Seni Suara Mustika jumlahnya lebih dari 150 anak, dari anak yang belajar menabuh hingga menari. Anak sanggar terdiri dari anak sekolah dasar hingga dewasa, dan asal mereka mayoritas dari daerah Banyuning.

Wira Okta Atmadi (kiri)

Para penabuh dan penari itu hampir semuanya sudah pernah mendapatkan pengalaman tampil di atas panggung besar, seperti Buleleng Festival atau pada festival seni lain, atau tampil ngayah saat upacara keagamaan, dan acara-acara dalam acara keluarga.

Sanggar Suara Mustika pernah terpilih menjadi Duta Gong Kebyar Anak Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di tahun 2018 dan Duta Gong Kebyar Dewasa Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV di tahun 2023.

Terpilih Kembali Menjadi Duta Gong Kebyar Anak

Sanggar Suara Mustika kembali terpilih menjadi Duta GKA (Gong Kebyar Anak) Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di tahun 2026. PKB dilaksanakan di bulan Juni-Juli. Untuk itulah Sanggar Suara Mustika saat ini sedang mempersiapkan diri dengan latihan, termasuk latihan yang dilaksanakan pada malam ketika kami mendatangi sanggar itu.

Berbagai piagam penghargaan untuk Sanggar Suara Mustika

Terpilihnya Sanggar Suara Mustika ke PKB 2026 diawali dengan ikut seleksi di Sasana Budaya Singaraja, 25 Januari 2026, Seleksi yang digelar Dinas Kebudayaan Buleleng itu diikuti empat sanggar yang berbeda. Empat sanggar tersebut adalah Sanggar Seni Dharma Shanti, Sanggar Pentas Marak Lestari, Sanggar Seni Wahyu Semara Shanti, dan tentunya Sanggar Seni Suara Mustika. 

Setelah menentukan empat sanggar yang akan tampil, Disbud melakukan rapat membahas materi yang akan ditampilkan. Berkumpulah keempat sanggar pada meja yang sama. Sampai disepakati bahwa materi yang akan ditampilkan adalah Tabuh Kreasi Hujan Mas style kedis yang merupakan tabuh khas Buleleng. Serta Tari Taruna Jaya. Selain pembahasan mengenai materi, rapat ini juga membahas mengenai aturan untuk seleksi GKA, seperti batas umur. Penabuh yang akan tampil tidak boleh  lebih dari 17 tahun.

Mengetahui materi yang akan ditampilkan serta aturan untuk seleksi GKA, Wira Okta Atmadi dengan anak-anak senior lantas melakukan persiapan —  latihan setiap hari dari pukul 16.00-21.00 WITA, bahkan bisa sampai jam 22.00 WITA. Walau terlihat berat, latihan dibawakan dengan menyenangkan dan tidak menekan. Sebab sanggar ini menggunakan konsep Tri Hita Karanadengan sangat efektif.

Tri Hita Karanaadalah konsep spiritual masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisan guna mendapatkan kebahagian. Konsep ini mencakupi hubungan harmonis kepada Tuhan, sesama, dan alam. Konsep seperti ini yang ditekankan oleh Wira Okta Atmadi dalam berinteraksi dengan siapapun.  “Misalnya, saya sering ngobrol sama tetangga, ya berbaur sama masyarakat. Begitupun dengan anak-anak sanggar,” kata Okta.

***

“Kegiatan latihan setiap hari tidak hanya bertabuh, ada kalanya kita akan memasak bersama atau bersih-bersih,” ujar Perdi (18), seorang anak didik di Sanggar Suara Mustika.

Perdi

Ia adalah salah satu senior di sanggar tersebut. Perdi mengakui dia sangat menyukai aktivitas belajar dan mengajar di sanggar ini — selain menggunakan konsep Tri Hita Karana, sanggar ini juga menggunakan konsep yang ia sebut sebagai “linear atas bawah”, di mana senior akan mengajari juniornya, begitupun sebaliknya. Ia juga adalah salah satu pengajar di sanggar ini, dan mengajar adik juniornya untuk persiapan GKA dan PKB nantinya.

Salah seorang penabuh muda bernama Wikan (12) ikut nimbrung bersama kami. Ia sudah ingin menjadi anak Sanggar Suara Mustika dari saat dirinya TK, namun karena sanggar waktu itu belum menerima penabuh cilik TK, Wikan harus menunggu hingga dirinya kelas satu SD.

Wikan bercerita, bahwa ketika ia menjadi anak sanggar Mustika, ia belajar banyak hal seperti etika dan kedisiplinan — setiap baru datang ke sanggar, ia dibiasakan untuk  mengucapkan “Om Swastiastu” dan menjalankan piket kebersihan.

“Aku bisa menyapu setelah masuk sanggar ini!” serunya.

Hasil keringat, jerih payah, dan keraguan mereka terbayarkan pada tanggal 25 Januari 2026. Empat sanggar diseleksi hari itu di Gedung Sasanan Budaya, Singaraja. Terdapat tim juri yang terdiri dari tiga orang — dua juri sebagai juri tabuh dan satu juri sebagai juri tari. Dan sudah kita ketahui bersama bahwa Sanggar Suara Mustika ditetapkan sebagai Duta Gong Kebyar Anak Buleleng untuk PKB XLVIII tahun 2026.

Wikan

Ketika saya dan rekan-rekan datang ke sanggar, mendengarkan cerita yang mereka ceritakan, hal itu membuat saya mengetahui alasan sanggar ini bisa berhasil mendapatkan Duta GKA. Ada tiga hal yang mempengaruhi; rasa semangat dari anak-anak sanggar, komitmen dari kakak-kakak senior dan pengajar, dan konsistensi latihan dan sikap merupakan tiga jawaban dari keberhasilan mereka. Keberhasilan mereka juga tidak lepas dari ketetapan mereka mengikuti aturan yang sudah ditentukan oleh dewan juri.

“Harapannya, saya harap Sanggar Mustika bisa membawa nama Buleleng dengan hormat dan membentuk generasi selanjutnya agar bisa meraih PKB selanjutnya,” kata Perdi. Dan ia mengaku akan terus belajar mendidik juniornya dan berkontribusi mencetak generasi yang berkualitas.

Di Peta Kesenian Bali 2026 ini Sanggar Suara Mustika akan menampilkan tiga materi pementasan sesuai dengan ketentuan pantia PKB di Provinsi Bali. Tiga materi itu adalah Tabuh Kreasi Pepanggulan, Tari Penyambutan Kembang Deeng dan Dolanan.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Salah satu materi pementasan PKB 2026 nanti adalah Dolanan. Okta mengatakan, dolanan digarap berdasarkan permainan rakyat yang ada di Bali, dan ia belum memikirkan permainan tradisional apa yang akan diangkat untuk pementasan nanti. Tapi yang jelas, ia akan berusaha memikirkan secepatnya. “Nanti liat aja di PKB 2026,” katanya. [T]

Reporter: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, Amanda Harum Puspita, Ni Ketut Winda Ari Yanti
Fotografer: Ni Ketut Winda Ari Yanti
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: bulelenggong kebyargong kebyar ank anakPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Next Post

Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? —Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? —Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? ---Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co