25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 7, 2026
in Esai
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

ADA masa ketika tubuh memaksa kita memperlambat langkah. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua kerja intelektual bisa dilakukan dengan kecepatan yang sama. Pada masa itulah saya terlibat dalam Sastrapuan, sebuah ruang kepenulisan perempuan yang menuntut kehadiran utuh, bukan sekadar kecakapan membaca teks. Saya datang sebagai penulis dan jurnalis yang terbiasa bekerja cepat, tetapi dipertemukan dengan pengalaman yang justru meminta saya berhenti sejenak.

Program Sastrapuan yang digagas Women Insight Lab mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan perempuan yang lahir dari tubuh, ingatan, dan pengalaman hidup yang selama ini kerap terlupakan. Saya dipercaya menjadi salah satu dari lima kurator esai yang kelak dibukukan. Secara ideal, masing-masing kurator mengkurasi lima esai. Namun pada saat itu, kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan untuk bekerja dalam ritme yang sama. Tubuh saya memberi batas. Penyelenggara memberi ruang. Saya hanya mengkurasi dua esai.

Keputusan itu sederhana dan manusiawi. Namun bagi saya, keputusan itu menentukan cara membaca. Saya tidak sedang mengejar jumlah, melainkan menjaga etika. Dua esai itu saya baca dengan pelan, dengan kehati-hatian yang mungkin tidak akan saya miliki jika tubuh saya sedang sepenuhnya sehat. Dalam kondisi seperti itu, membaca bukan lagi aktivitas teknis, melainkan peristiwa batin.

Ini bukan pengalaman pertama saya mengkurasi tulisan. Saya pernah berhadapan dengan naskah berita, esai budaya, sastra, dan tulisan akademik. Namun Sastrapuan menghadirkan medan yang berbeda. Saya tidak sedang menilai kecakapan argumentasi atau keindahan bahasa semata. Saya sedang berhadapan dengan tubuh orang lain yang hadir lewat kata-kata. Dan tubuh, seperti kita tahu, tidak selalu siap untuk diutak-atik.

Sastrapuan merupakan bagian dari Women in Voice 2026, sebuah ruang aman menulis yang berlangsung pada 30 hingga 31 Januari 2026 secara daring, dalam rangkaian Women Insight Lab. Program ini lahir dari kegelisahan atas pengalaman perempuan yang kerap teredam dan terlupakan di ruang publik. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak selalu tersedia ruang aman untuk menyuarakannya. Melalui pendekatan literasi kritis yang inklusif dan berperspektif gender, Women in Voice menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan ekspresi bagi peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Tema yang diangkat adalah Śāstrapuan: tubuh, ingatan, dan perspektif. Tema ini bukan sekadar tajuk, melainkan pijakan etik. Ia mengajak peserta membaca ulang pengalaman hidup sebagai sumber pengetahuan. Pengetahuan yang lahir dari tubuh perempuan, dari ingatan yang disimpan, dari perspektif yang selama ini sering dipinggirkan. Menulis, dalam konteks ini, bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan cara perempuan memaknai hidup dan menjadikannya pengetahuan yang sah.

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Selama dua hari pelaksanaan, banyak pengalaman personal dibagikan. Ada cerita yang disampaikan dengan suara gemetar, ada pula yang ditulis dengan nada tenang, nyaris datar. Saya belajar satu hal penting. Tidak semua pengalaman meminta penjelasan. Sebagian hanya ingin diakui keberadaannya. Dan pengakuan itu sering kali cukup.

Ruang aman yang dibangun dalam Women in Voice juga diwujudkan secara konkret. Kegiatan ini menghadirkan penerjemah bahasa isyarat melalui kolaborasi dengan GERKATIN Jawa Barat, menjadikannya ramah bagi teman-teman Tuli. Inklusivitas tidak berhenti pada jargon. Ia diterjemahkan dalam praktik. Kehadiran peserta laki-laki, termasuk saya, bukan untuk mengambil alih ruang, melainkan sebagai bentuk kesadaran bahwa menghadirkan ruang aman bagi perempuan membutuhkan empati dan dukungan lintas gender.

Dua esai yang saya kurasi datang dari latar pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan mendasar. Keduanya menempatkan tubuh sebagai ruang pengalaman. Tubuh bukan sekadar latar biologis, melainkan medan tempat ingatan, luka, penerimaan, dan perlawanan saling berkelindan.

Esai pertama ditulis oleh I Gusti Ayu Agung Istri Risna Prajna Devi, S.Psi. Dalam esai ini, tubuh perempuan hadir sebagai ruang yang sejak awal dibebani penghakiman. Tubuh tidak hanya dialami sebagai milik pribadi, tetapi sebagai objek sosial yang terus-menerus dinilai. Penulis mengurai pengalaman insecure yang tumbuh bukan semata dari dalam diri, melainkan dari komentar, perbandingan, dan standar yang dilekatkan secara terus-menerus oleh lingkungan.

Yang membuat esai ini penting bagi saya sebagai kurator bukan hanya keberanian penulis membuka pengalaman personalnya, melainkan kejujurannya dalam mengakui bagaimana penghakiman eksternal perlahan berubah menjadi penghakiman diri. Ada momen ketika tubuh tidak lagi didengarkan, melainkan diatur. Bukan demi kesehatan, melainkan demi penerimaan. Relasi dengan tubuh berubah menjadi relasi kuasa.

Dr. Kadek Sonia Piscayanti (kolom tengah/kiri), akademisi dan pendiri Komunitas Mahima, menjadi salah satu pembicara di program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Sebagai kurator, godaan terbesar saya adalah merapikan narasi itu agar terdengar lebih tegas, lebih politis. Namun saya memilih menahan diri. Kekuatan esai ini justru terletak pada ketenangannya. Ia tidak berteriak, tidak menuntut simpati. Ia bergerak perlahan menuju kesadaran bahwa merawat tubuh seharusnya berangkat dari cinta, bukan dari kebencian atau keterpaksaan. Tubuh, dalam esai ini, bukan medan perang yang harus ditaklukkan, melainkan rumah yang perlu diterima.

Esai kedua ditulis oleh Adristi Nurfajri. Jika esai Risna berbicara tentang tubuh sebagai ruang penghakiman dan penerimaan, esai ini bergerak lebih jauh ke tubuh sebagai arsip ingatan dan relasi. Penulis menghadirkan tubuh sebagai tempat ingatan menetap, bahkan ketika bahasa tidak selalu mampu menampungnya. Insecure, trust issue, dan jarak dengan orang lain tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai respons tubuh yang belajar siaga.

Yang menarik bagi saya, esai ini tidak menawarkan resolusi yang instan. Proses penerimaan dan pemulihan digambarkan sebagai sesuatu yang pelan, kadang melelahkan, dan penuh negosiasi. Memaafkan tidak dimaknai sebagai melupakan, tetapi sebagai keputusan untuk tidak terus-menerus menghidupi luka yang sama. Kepercayaan tidak hadir tanpa batas, melainkan dengan kesadaran penuh akan kebutuhan diri.

Sebagai kurator, saya merasa perlu menjaga agar esai ini tidak dipaksa menjadi kisah inspiratif yang klise. Justru kekuatannya terletak pada pengakuan bahwa merawat diri adalah kerja sunyi. Menulis menjadi ruang refleksi, bukan panggung pembuktian. Tubuh perempuan hadir sebagai ruang pengalaman yang terus berubah, menyimpan luka sekaligus menyediakan kemungkinan sembuh.

Membaca dua esai ini dalam kondisi tubuh saya yang juga sedang rapuh membuat pengalaman kuratorial terasa semakin personal. Saya tidak sedang membaca dari posisi netral yang steril. Saya membaca sebagai manusia yang juga memiliki batas. Mungkin karena itulah saya bisa lebih menghargai jeda, keraguan, dan ketidaksempurnaan yang hadir dalam teks-teks tersebut.

Sebagai jurnalis, saya terbiasa mengintervensi teks demi kejelasan pembaca. Di Sastrapuan, saya justru belajar menahan diri. Tidak semua teks perlu dipercepat menuju kesimpulan. Tidak semua pengalaman harus diringkas menjadi pesan. Ada bagian-bagian yang sah untuk tetap samar, tetap rapuh, tetap tidak selesai. Dalam konteks tulisan perempuan, ketidaksengajaan itu sering kali justru menyimpan kebenaran.

Materi yang disampaikan para pembicara perempuan dalam Women in Voice semakin menegaskan posisi ini. Dr. Kadek Sonia Piscayanti mengingatkan bahwa ingatan perempuan bukan sekadar kenangan personal, melainkan bentuk produksi pengetahuan. Sementara Ni Nyoman Ayu Suciartini mengajak peserta menyadari bahwa kebebasan memilih dan menentukan hidup lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan. Perspektif ini membuat saya semakin yakin bahwa teks-teks Sastrapuan tidak bisa dibaca secara tergesa.

Sebagai luaran utama, Women in Voice mendorong lahirnya karya-karya reflektif yang kemudian dikurasi dan disusun menjadi antologi esai perempuan. Antologi ini diharapkan menjadi arsip intelektual. Penanda cara perempuan memaknai tubuh, ingatan, dan perspektif mereka hari ini. Dalam konteks itu, kerja kuratorial menjadi sangat sensitif. Ia bukan sekadar soal memilih yang baik, tetapi soal menjaga agar teks tidak tercerabut dari pengalaman penulisnya.

Bagi saya pribadi, Sastrapuan adalah pengingat bahwa kepenulisan tidak selalu tentang suara yang lantang. Kadang ia justru tentang keberanian untuk diam, membaca pelan, dan mengakui batas diri. Menjadi kurator dengan tubuh yang sedang rapuh membuat saya sadar bahwa membaca dan menulis adalah kerja yang melibatkan seluruh diri. Bukan hanya pikiran, tetapi juga empati.

Saya menutup pengalaman ini bukan dengan perasaan lebih tahu tentang perempuan, melainkan dengan kesadaran akan ketidaktahuan saya sendiri. Dan mungkin di situlah pelajaran terpentingnya. Membaca pengalaman orang lain bukan tentang menaklukkan makna, melainkan tentang memberi ruang. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh klaim, jeda semacam ini terasa perlu. Bagi teks, bagi tubuh, dan bagi kita semua yang masih belajar mendengar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PerempuansastraSastrapuanWomen Insight Lab
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Next Post

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yana Suryantari  | Palet Pelukis

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co