4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 7, 2026
in Esai
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

ADA masa ketika tubuh memaksa kita memperlambat langkah. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua kerja intelektual bisa dilakukan dengan kecepatan yang sama. Pada masa itulah saya terlibat dalam Sastrapuan, sebuah ruang kepenulisan perempuan yang menuntut kehadiran utuh, bukan sekadar kecakapan membaca teks. Saya datang sebagai penulis dan jurnalis yang terbiasa bekerja cepat, tetapi dipertemukan dengan pengalaman yang justru meminta saya berhenti sejenak.

Program Sastrapuan yang digagas Women Insight Lab mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan perempuan yang lahir dari tubuh, ingatan, dan pengalaman hidup yang selama ini kerap terlupakan. Saya dipercaya menjadi salah satu dari lima kurator esai yang kelak dibukukan. Secara ideal, masing-masing kurator mengkurasi lima esai. Namun pada saat itu, kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan untuk bekerja dalam ritme yang sama. Tubuh saya memberi batas. Penyelenggara memberi ruang. Saya hanya mengkurasi dua esai.

Keputusan itu sederhana dan manusiawi. Namun bagi saya, keputusan itu menentukan cara membaca. Saya tidak sedang mengejar jumlah, melainkan menjaga etika. Dua esai itu saya baca dengan pelan, dengan kehati-hatian yang mungkin tidak akan saya miliki jika tubuh saya sedang sepenuhnya sehat. Dalam kondisi seperti itu, membaca bukan lagi aktivitas teknis, melainkan peristiwa batin.

Ini bukan pengalaman pertama saya mengkurasi tulisan. Saya pernah berhadapan dengan naskah berita, esai budaya, sastra, dan tulisan akademik. Namun Sastrapuan menghadirkan medan yang berbeda. Saya tidak sedang menilai kecakapan argumentasi atau keindahan bahasa semata. Saya sedang berhadapan dengan tubuh orang lain yang hadir lewat kata-kata. Dan tubuh, seperti kita tahu, tidak selalu siap untuk diutak-atik.

Sastrapuan merupakan bagian dari Women in Voice 2026, sebuah ruang aman menulis yang berlangsung pada 30 hingga 31 Januari 2026 secara daring, dalam rangkaian Women Insight Lab. Program ini lahir dari kegelisahan atas pengalaman perempuan yang kerap teredam dan terlupakan di ruang publik. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak selalu tersedia ruang aman untuk menyuarakannya. Melalui pendekatan literasi kritis yang inklusif dan berperspektif gender, Women in Voice menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan ekspresi bagi peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Tema yang diangkat adalah Śāstrapuan: tubuh, ingatan, dan perspektif. Tema ini bukan sekadar tajuk, melainkan pijakan etik. Ia mengajak peserta membaca ulang pengalaman hidup sebagai sumber pengetahuan. Pengetahuan yang lahir dari tubuh perempuan, dari ingatan yang disimpan, dari perspektif yang selama ini sering dipinggirkan. Menulis, dalam konteks ini, bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan cara perempuan memaknai hidup dan menjadikannya pengetahuan yang sah.

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Selama dua hari pelaksanaan, banyak pengalaman personal dibagikan. Ada cerita yang disampaikan dengan suara gemetar, ada pula yang ditulis dengan nada tenang, nyaris datar. Saya belajar satu hal penting. Tidak semua pengalaman meminta penjelasan. Sebagian hanya ingin diakui keberadaannya. Dan pengakuan itu sering kali cukup.

Ruang aman yang dibangun dalam Women in Voice juga diwujudkan secara konkret. Kegiatan ini menghadirkan penerjemah bahasa isyarat melalui kolaborasi dengan GERKATIN Jawa Barat, menjadikannya ramah bagi teman-teman Tuli. Inklusivitas tidak berhenti pada jargon. Ia diterjemahkan dalam praktik. Kehadiran peserta laki-laki, termasuk saya, bukan untuk mengambil alih ruang, melainkan sebagai bentuk kesadaran bahwa menghadirkan ruang aman bagi perempuan membutuhkan empati dan dukungan lintas gender.

Dua esai yang saya kurasi datang dari latar pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan mendasar. Keduanya menempatkan tubuh sebagai ruang pengalaman. Tubuh bukan sekadar latar biologis, melainkan medan tempat ingatan, luka, penerimaan, dan perlawanan saling berkelindan.

Esai pertama ditulis oleh I Gusti Ayu Agung Istri Risna Prajna Devi, S.Psi. Dalam esai ini, tubuh perempuan hadir sebagai ruang yang sejak awal dibebani penghakiman. Tubuh tidak hanya dialami sebagai milik pribadi, tetapi sebagai objek sosial yang terus-menerus dinilai. Penulis mengurai pengalaman insecure yang tumbuh bukan semata dari dalam diri, melainkan dari komentar, perbandingan, dan standar yang dilekatkan secara terus-menerus oleh lingkungan.

Yang membuat esai ini penting bagi saya sebagai kurator bukan hanya keberanian penulis membuka pengalaman personalnya, melainkan kejujurannya dalam mengakui bagaimana penghakiman eksternal perlahan berubah menjadi penghakiman diri. Ada momen ketika tubuh tidak lagi didengarkan, melainkan diatur. Bukan demi kesehatan, melainkan demi penerimaan. Relasi dengan tubuh berubah menjadi relasi kuasa.

Dr. Kadek Sonia Piscayanti (kolom tengah/kiri), akademisi dan pendiri Komunitas Mahima, menjadi salah satu pembicara di program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Sebagai kurator, godaan terbesar saya adalah merapikan narasi itu agar terdengar lebih tegas, lebih politis. Namun saya memilih menahan diri. Kekuatan esai ini justru terletak pada ketenangannya. Ia tidak berteriak, tidak menuntut simpati. Ia bergerak perlahan menuju kesadaran bahwa merawat tubuh seharusnya berangkat dari cinta, bukan dari kebencian atau keterpaksaan. Tubuh, dalam esai ini, bukan medan perang yang harus ditaklukkan, melainkan rumah yang perlu diterima.

Esai kedua ditulis oleh Adristi Nurfajri. Jika esai Risna berbicara tentang tubuh sebagai ruang penghakiman dan penerimaan, esai ini bergerak lebih jauh ke tubuh sebagai arsip ingatan dan relasi. Penulis menghadirkan tubuh sebagai tempat ingatan menetap, bahkan ketika bahasa tidak selalu mampu menampungnya. Insecure, trust issue, dan jarak dengan orang lain tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai respons tubuh yang belajar siaga.

Yang menarik bagi saya, esai ini tidak menawarkan resolusi yang instan. Proses penerimaan dan pemulihan digambarkan sebagai sesuatu yang pelan, kadang melelahkan, dan penuh negosiasi. Memaafkan tidak dimaknai sebagai melupakan, tetapi sebagai keputusan untuk tidak terus-menerus menghidupi luka yang sama. Kepercayaan tidak hadir tanpa batas, melainkan dengan kesadaran penuh akan kebutuhan diri.

Sebagai kurator, saya merasa perlu menjaga agar esai ini tidak dipaksa menjadi kisah inspiratif yang klise. Justru kekuatannya terletak pada pengakuan bahwa merawat diri adalah kerja sunyi. Menulis menjadi ruang refleksi, bukan panggung pembuktian. Tubuh perempuan hadir sebagai ruang pengalaman yang terus berubah, menyimpan luka sekaligus menyediakan kemungkinan sembuh.

Membaca dua esai ini dalam kondisi tubuh saya yang juga sedang rapuh membuat pengalaman kuratorial terasa semakin personal. Saya tidak sedang membaca dari posisi netral yang steril. Saya membaca sebagai manusia yang juga memiliki batas. Mungkin karena itulah saya bisa lebih menghargai jeda, keraguan, dan ketidaksempurnaan yang hadir dalam teks-teks tersebut.

Sebagai jurnalis, saya terbiasa mengintervensi teks demi kejelasan pembaca. Di Sastrapuan, saya justru belajar menahan diri. Tidak semua teks perlu dipercepat menuju kesimpulan. Tidak semua pengalaman harus diringkas menjadi pesan. Ada bagian-bagian yang sah untuk tetap samar, tetap rapuh, tetap tidak selesai. Dalam konteks tulisan perempuan, ketidaksengajaan itu sering kali justru menyimpan kebenaran.

Materi yang disampaikan para pembicara perempuan dalam Women in Voice semakin menegaskan posisi ini. Dr. Kadek Sonia Piscayanti mengingatkan bahwa ingatan perempuan bukan sekadar kenangan personal, melainkan bentuk produksi pengetahuan. Sementara Ni Nyoman Ayu Suciartini mengajak peserta menyadari bahwa kebebasan memilih dan menentukan hidup lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan. Perspektif ini membuat saya semakin yakin bahwa teks-teks Sastrapuan tidak bisa dibaca secara tergesa.

Sebagai luaran utama, Women in Voice mendorong lahirnya karya-karya reflektif yang kemudian dikurasi dan disusun menjadi antologi esai perempuan. Antologi ini diharapkan menjadi arsip intelektual. Penanda cara perempuan memaknai tubuh, ingatan, dan perspektif mereka hari ini. Dalam konteks itu, kerja kuratorial menjadi sangat sensitif. Ia bukan sekadar soal memilih yang baik, tetapi soal menjaga agar teks tidak tercerabut dari pengalaman penulisnya.

Bagi saya pribadi, Sastrapuan adalah pengingat bahwa kepenulisan tidak selalu tentang suara yang lantang. Kadang ia justru tentang keberanian untuk diam, membaca pelan, dan mengakui batas diri. Menjadi kurator dengan tubuh yang sedang rapuh membuat saya sadar bahwa membaca dan menulis adalah kerja yang melibatkan seluruh diri. Bukan hanya pikiran, tetapi juga empati.

Saya menutup pengalaman ini bukan dengan perasaan lebih tahu tentang perempuan, melainkan dengan kesadaran akan ketidaktahuan saya sendiri. Dan mungkin di situlah pelajaran terpentingnya. Membaca pengalaman orang lain bukan tentang menaklukkan makna, melainkan tentang memberi ruang. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh klaim, jeda semacam ini terasa perlu. Bagi teks, bagi tubuh, dan bagi kita semua yang masih belajar mendengar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PerempuansastraSastrapuanWomen Insight Lab
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Next Post

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yana Suryantari  | Palet Pelukis

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co