25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 7, 2026
in Esai
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

ADA masa ketika tubuh memaksa kita memperlambat langkah. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua kerja intelektual bisa dilakukan dengan kecepatan yang sama. Pada masa itulah saya terlibat dalam Sastrapuan, sebuah ruang kepenulisan perempuan yang menuntut kehadiran utuh, bukan sekadar kecakapan membaca teks. Saya datang sebagai penulis dan jurnalis yang terbiasa bekerja cepat, tetapi dipertemukan dengan pengalaman yang justru meminta saya berhenti sejenak.

Program Sastrapuan yang digagas Women Insight Lab mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan perempuan yang lahir dari tubuh, ingatan, dan pengalaman hidup yang selama ini kerap terlupakan. Saya dipercaya menjadi salah satu dari lima kurator esai yang kelak dibukukan. Secara ideal, masing-masing kurator mengkurasi lima esai. Namun pada saat itu, kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan untuk bekerja dalam ritme yang sama. Tubuh saya memberi batas. Penyelenggara memberi ruang. Saya hanya mengkurasi dua esai.

Keputusan itu sederhana dan manusiawi. Namun bagi saya, keputusan itu menentukan cara membaca. Saya tidak sedang mengejar jumlah, melainkan menjaga etika. Dua esai itu saya baca dengan pelan, dengan kehati-hatian yang mungkin tidak akan saya miliki jika tubuh saya sedang sepenuhnya sehat. Dalam kondisi seperti itu, membaca bukan lagi aktivitas teknis, melainkan peristiwa batin.

Ini bukan pengalaman pertama saya mengkurasi tulisan. Saya pernah berhadapan dengan naskah berita, esai budaya, sastra, dan tulisan akademik. Namun Sastrapuan menghadirkan medan yang berbeda. Saya tidak sedang menilai kecakapan argumentasi atau keindahan bahasa semata. Saya sedang berhadapan dengan tubuh orang lain yang hadir lewat kata-kata. Dan tubuh, seperti kita tahu, tidak selalu siap untuk diutak-atik.

Sastrapuan merupakan bagian dari Women in Voice 2026, sebuah ruang aman menulis yang berlangsung pada 30 hingga 31 Januari 2026 secara daring, dalam rangkaian Women Insight Lab. Program ini lahir dari kegelisahan atas pengalaman perempuan yang kerap teredam dan terlupakan di ruang publik. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak selalu tersedia ruang aman untuk menyuarakannya. Melalui pendekatan literasi kritis yang inklusif dan berperspektif gender, Women in Voice menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan ekspresi bagi peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Tema yang diangkat adalah Śāstrapuan: tubuh, ingatan, dan perspektif. Tema ini bukan sekadar tajuk, melainkan pijakan etik. Ia mengajak peserta membaca ulang pengalaman hidup sebagai sumber pengetahuan. Pengetahuan yang lahir dari tubuh perempuan, dari ingatan yang disimpan, dari perspektif yang selama ini sering dipinggirkan. Menulis, dalam konteks ini, bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan cara perempuan memaknai hidup dan menjadikannya pengetahuan yang sah.

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Selama dua hari pelaksanaan, banyak pengalaman personal dibagikan. Ada cerita yang disampaikan dengan suara gemetar, ada pula yang ditulis dengan nada tenang, nyaris datar. Saya belajar satu hal penting. Tidak semua pengalaman meminta penjelasan. Sebagian hanya ingin diakui keberadaannya. Dan pengakuan itu sering kali cukup.

Ruang aman yang dibangun dalam Women in Voice juga diwujudkan secara konkret. Kegiatan ini menghadirkan penerjemah bahasa isyarat melalui kolaborasi dengan GERKATIN Jawa Barat, menjadikannya ramah bagi teman-teman Tuli. Inklusivitas tidak berhenti pada jargon. Ia diterjemahkan dalam praktik. Kehadiran peserta laki-laki, termasuk saya, bukan untuk mengambil alih ruang, melainkan sebagai bentuk kesadaran bahwa menghadirkan ruang aman bagi perempuan membutuhkan empati dan dukungan lintas gender.

Dua esai yang saya kurasi datang dari latar pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan mendasar. Keduanya menempatkan tubuh sebagai ruang pengalaman. Tubuh bukan sekadar latar biologis, melainkan medan tempat ingatan, luka, penerimaan, dan perlawanan saling berkelindan.

Esai pertama ditulis oleh I Gusti Ayu Agung Istri Risna Prajna Devi, S.Psi. Dalam esai ini, tubuh perempuan hadir sebagai ruang yang sejak awal dibebani penghakiman. Tubuh tidak hanya dialami sebagai milik pribadi, tetapi sebagai objek sosial yang terus-menerus dinilai. Penulis mengurai pengalaman insecure yang tumbuh bukan semata dari dalam diri, melainkan dari komentar, perbandingan, dan standar yang dilekatkan secara terus-menerus oleh lingkungan.

Yang membuat esai ini penting bagi saya sebagai kurator bukan hanya keberanian penulis membuka pengalaman personalnya, melainkan kejujurannya dalam mengakui bagaimana penghakiman eksternal perlahan berubah menjadi penghakiman diri. Ada momen ketika tubuh tidak lagi didengarkan, melainkan diatur. Bukan demi kesehatan, melainkan demi penerimaan. Relasi dengan tubuh berubah menjadi relasi kuasa.

Dr. Kadek Sonia Piscayanti (kolom tengah/kiri), akademisi dan pendiri Komunitas Mahima, menjadi salah satu pembicara di program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Sebagai kurator, godaan terbesar saya adalah merapikan narasi itu agar terdengar lebih tegas, lebih politis. Namun saya memilih menahan diri. Kekuatan esai ini justru terletak pada ketenangannya. Ia tidak berteriak, tidak menuntut simpati. Ia bergerak perlahan menuju kesadaran bahwa merawat tubuh seharusnya berangkat dari cinta, bukan dari kebencian atau keterpaksaan. Tubuh, dalam esai ini, bukan medan perang yang harus ditaklukkan, melainkan rumah yang perlu diterima.

Esai kedua ditulis oleh Adristi Nurfajri. Jika esai Risna berbicara tentang tubuh sebagai ruang penghakiman dan penerimaan, esai ini bergerak lebih jauh ke tubuh sebagai arsip ingatan dan relasi. Penulis menghadirkan tubuh sebagai tempat ingatan menetap, bahkan ketika bahasa tidak selalu mampu menampungnya. Insecure, trust issue, dan jarak dengan orang lain tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai respons tubuh yang belajar siaga.

Yang menarik bagi saya, esai ini tidak menawarkan resolusi yang instan. Proses penerimaan dan pemulihan digambarkan sebagai sesuatu yang pelan, kadang melelahkan, dan penuh negosiasi. Memaafkan tidak dimaknai sebagai melupakan, tetapi sebagai keputusan untuk tidak terus-menerus menghidupi luka yang sama. Kepercayaan tidak hadir tanpa batas, melainkan dengan kesadaran penuh akan kebutuhan diri.

Sebagai kurator, saya merasa perlu menjaga agar esai ini tidak dipaksa menjadi kisah inspiratif yang klise. Justru kekuatannya terletak pada pengakuan bahwa merawat diri adalah kerja sunyi. Menulis menjadi ruang refleksi, bukan panggung pembuktian. Tubuh perempuan hadir sebagai ruang pengalaman yang terus berubah, menyimpan luka sekaligus menyediakan kemungkinan sembuh.

Membaca dua esai ini dalam kondisi tubuh saya yang juga sedang rapuh membuat pengalaman kuratorial terasa semakin personal. Saya tidak sedang membaca dari posisi netral yang steril. Saya membaca sebagai manusia yang juga memiliki batas. Mungkin karena itulah saya bisa lebih menghargai jeda, keraguan, dan ketidaksempurnaan yang hadir dalam teks-teks tersebut.

Sebagai jurnalis, saya terbiasa mengintervensi teks demi kejelasan pembaca. Di Sastrapuan, saya justru belajar menahan diri. Tidak semua teks perlu dipercepat menuju kesimpulan. Tidak semua pengalaman harus diringkas menjadi pesan. Ada bagian-bagian yang sah untuk tetap samar, tetap rapuh, tetap tidak selesai. Dalam konteks tulisan perempuan, ketidaksengajaan itu sering kali justru menyimpan kebenaran.

Materi yang disampaikan para pembicara perempuan dalam Women in Voice semakin menegaskan posisi ini. Dr. Kadek Sonia Piscayanti mengingatkan bahwa ingatan perempuan bukan sekadar kenangan personal, melainkan bentuk produksi pengetahuan. Sementara Ni Nyoman Ayu Suciartini mengajak peserta menyadari bahwa kebebasan memilih dan menentukan hidup lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan. Perspektif ini membuat saya semakin yakin bahwa teks-teks Sastrapuan tidak bisa dibaca secara tergesa.

Sebagai luaran utama, Women in Voice mendorong lahirnya karya-karya reflektif yang kemudian dikurasi dan disusun menjadi antologi esai perempuan. Antologi ini diharapkan menjadi arsip intelektual. Penanda cara perempuan memaknai tubuh, ingatan, dan perspektif mereka hari ini. Dalam konteks itu, kerja kuratorial menjadi sangat sensitif. Ia bukan sekadar soal memilih yang baik, tetapi soal menjaga agar teks tidak tercerabut dari pengalaman penulisnya.

Bagi saya pribadi, Sastrapuan adalah pengingat bahwa kepenulisan tidak selalu tentang suara yang lantang. Kadang ia justru tentang keberanian untuk diam, membaca pelan, dan mengakui batas diri. Menjadi kurator dengan tubuh yang sedang rapuh membuat saya sadar bahwa membaca dan menulis adalah kerja yang melibatkan seluruh diri. Bukan hanya pikiran, tetapi juga empati.

Saya menutup pengalaman ini bukan dengan perasaan lebih tahu tentang perempuan, melainkan dengan kesadaran akan ketidaktahuan saya sendiri. Dan mungkin di situlah pelajaran terpentingnya. Membaca pengalaman orang lain bukan tentang menaklukkan makna, melainkan tentang memberi ruang. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh klaim, jeda semacam ini terasa perlu. Bagi teks, bagi tubuh, dan bagi kita semua yang masih belajar mendengar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PerempuansastraSastrapuanWomen Insight Lab
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Next Post

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yana Suryantari  | Palet Pelukis

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co