5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 7, 2026
in Esai
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

ADA masa ketika tubuh memaksa kita memperlambat langkah. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua kerja intelektual bisa dilakukan dengan kecepatan yang sama. Pada masa itulah saya terlibat dalam Sastrapuan, sebuah ruang kepenulisan perempuan yang menuntut kehadiran utuh, bukan sekadar kecakapan membaca teks. Saya datang sebagai penulis dan jurnalis yang terbiasa bekerja cepat, tetapi dipertemukan dengan pengalaman yang justru meminta saya berhenti sejenak.

Program Sastrapuan yang digagas Women Insight Lab mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan perempuan yang lahir dari tubuh, ingatan, dan pengalaman hidup yang selama ini kerap terlupakan. Saya dipercaya menjadi salah satu dari lima kurator esai yang kelak dibukukan. Secara ideal, masing-masing kurator mengkurasi lima esai. Namun pada saat itu, kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan untuk bekerja dalam ritme yang sama. Tubuh saya memberi batas. Penyelenggara memberi ruang. Saya hanya mengkurasi dua esai.

Keputusan itu sederhana dan manusiawi. Namun bagi saya, keputusan itu menentukan cara membaca. Saya tidak sedang mengejar jumlah, melainkan menjaga etika. Dua esai itu saya baca dengan pelan, dengan kehati-hatian yang mungkin tidak akan saya miliki jika tubuh saya sedang sepenuhnya sehat. Dalam kondisi seperti itu, membaca bukan lagi aktivitas teknis, melainkan peristiwa batin.

Ini bukan pengalaman pertama saya mengkurasi tulisan. Saya pernah berhadapan dengan naskah berita, esai budaya, sastra, dan tulisan akademik. Namun Sastrapuan menghadirkan medan yang berbeda. Saya tidak sedang menilai kecakapan argumentasi atau keindahan bahasa semata. Saya sedang berhadapan dengan tubuh orang lain yang hadir lewat kata-kata. Dan tubuh, seperti kita tahu, tidak selalu siap untuk diutak-atik.

Sastrapuan merupakan bagian dari Women in Voice 2026, sebuah ruang aman menulis yang berlangsung pada 30 hingga 31 Januari 2026 secara daring, dalam rangkaian Women Insight Lab. Program ini lahir dari kegelisahan atas pengalaman perempuan yang kerap teredam dan terlupakan di ruang publik. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak selalu tersedia ruang aman untuk menyuarakannya. Melalui pendekatan literasi kritis yang inklusif dan berperspektif gender, Women in Voice menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan ekspresi bagi peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Tema yang diangkat adalah Śāstrapuan: tubuh, ingatan, dan perspektif. Tema ini bukan sekadar tajuk, melainkan pijakan etik. Ia mengajak peserta membaca ulang pengalaman hidup sebagai sumber pengetahuan. Pengetahuan yang lahir dari tubuh perempuan, dari ingatan yang disimpan, dari perspektif yang selama ini sering dipinggirkan. Menulis, dalam konteks ini, bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan cara perempuan memaknai hidup dan menjadikannya pengetahuan yang sah.

Program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Selama dua hari pelaksanaan, banyak pengalaman personal dibagikan. Ada cerita yang disampaikan dengan suara gemetar, ada pula yang ditulis dengan nada tenang, nyaris datar. Saya belajar satu hal penting. Tidak semua pengalaman meminta penjelasan. Sebagian hanya ingin diakui keberadaannya. Dan pengakuan itu sering kali cukup.

Ruang aman yang dibangun dalam Women in Voice juga diwujudkan secara konkret. Kegiatan ini menghadirkan penerjemah bahasa isyarat melalui kolaborasi dengan GERKATIN Jawa Barat, menjadikannya ramah bagi teman-teman Tuli. Inklusivitas tidak berhenti pada jargon. Ia diterjemahkan dalam praktik. Kehadiran peserta laki-laki, termasuk saya, bukan untuk mengambil alih ruang, melainkan sebagai bentuk kesadaran bahwa menghadirkan ruang aman bagi perempuan membutuhkan empati dan dukungan lintas gender.

Dua esai yang saya kurasi datang dari latar pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan mendasar. Keduanya menempatkan tubuh sebagai ruang pengalaman. Tubuh bukan sekadar latar biologis, melainkan medan tempat ingatan, luka, penerimaan, dan perlawanan saling berkelindan.

Esai pertama ditulis oleh I Gusti Ayu Agung Istri Risna Prajna Devi, S.Psi. Dalam esai ini, tubuh perempuan hadir sebagai ruang yang sejak awal dibebani penghakiman. Tubuh tidak hanya dialami sebagai milik pribadi, tetapi sebagai objek sosial yang terus-menerus dinilai. Penulis mengurai pengalaman insecure yang tumbuh bukan semata dari dalam diri, melainkan dari komentar, perbandingan, dan standar yang dilekatkan secara terus-menerus oleh lingkungan.

Yang membuat esai ini penting bagi saya sebagai kurator bukan hanya keberanian penulis membuka pengalaman personalnya, melainkan kejujurannya dalam mengakui bagaimana penghakiman eksternal perlahan berubah menjadi penghakiman diri. Ada momen ketika tubuh tidak lagi didengarkan, melainkan diatur. Bukan demi kesehatan, melainkan demi penerimaan. Relasi dengan tubuh berubah menjadi relasi kuasa.

Dr. Kadek Sonia Piscayanti (kolom tengah/kiri), akademisi dan pendiri Komunitas Mahima, menjadi salah satu pembicara di program Sastrapuan oleh Woman Insight Lab.

Sebagai kurator, godaan terbesar saya adalah merapikan narasi itu agar terdengar lebih tegas, lebih politis. Namun saya memilih menahan diri. Kekuatan esai ini justru terletak pada ketenangannya. Ia tidak berteriak, tidak menuntut simpati. Ia bergerak perlahan menuju kesadaran bahwa merawat tubuh seharusnya berangkat dari cinta, bukan dari kebencian atau keterpaksaan. Tubuh, dalam esai ini, bukan medan perang yang harus ditaklukkan, melainkan rumah yang perlu diterima.

Esai kedua ditulis oleh Adristi Nurfajri. Jika esai Risna berbicara tentang tubuh sebagai ruang penghakiman dan penerimaan, esai ini bergerak lebih jauh ke tubuh sebagai arsip ingatan dan relasi. Penulis menghadirkan tubuh sebagai tempat ingatan menetap, bahkan ketika bahasa tidak selalu mampu menampungnya. Insecure, trust issue, dan jarak dengan orang lain tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai respons tubuh yang belajar siaga.

Yang menarik bagi saya, esai ini tidak menawarkan resolusi yang instan. Proses penerimaan dan pemulihan digambarkan sebagai sesuatu yang pelan, kadang melelahkan, dan penuh negosiasi. Memaafkan tidak dimaknai sebagai melupakan, tetapi sebagai keputusan untuk tidak terus-menerus menghidupi luka yang sama. Kepercayaan tidak hadir tanpa batas, melainkan dengan kesadaran penuh akan kebutuhan diri.

Sebagai kurator, saya merasa perlu menjaga agar esai ini tidak dipaksa menjadi kisah inspiratif yang klise. Justru kekuatannya terletak pada pengakuan bahwa merawat diri adalah kerja sunyi. Menulis menjadi ruang refleksi, bukan panggung pembuktian. Tubuh perempuan hadir sebagai ruang pengalaman yang terus berubah, menyimpan luka sekaligus menyediakan kemungkinan sembuh.

Membaca dua esai ini dalam kondisi tubuh saya yang juga sedang rapuh membuat pengalaman kuratorial terasa semakin personal. Saya tidak sedang membaca dari posisi netral yang steril. Saya membaca sebagai manusia yang juga memiliki batas. Mungkin karena itulah saya bisa lebih menghargai jeda, keraguan, dan ketidaksempurnaan yang hadir dalam teks-teks tersebut.

Sebagai jurnalis, saya terbiasa mengintervensi teks demi kejelasan pembaca. Di Sastrapuan, saya justru belajar menahan diri. Tidak semua teks perlu dipercepat menuju kesimpulan. Tidak semua pengalaman harus diringkas menjadi pesan. Ada bagian-bagian yang sah untuk tetap samar, tetap rapuh, tetap tidak selesai. Dalam konteks tulisan perempuan, ketidaksengajaan itu sering kali justru menyimpan kebenaran.

Materi yang disampaikan para pembicara perempuan dalam Women in Voice semakin menegaskan posisi ini. Dr. Kadek Sonia Piscayanti mengingatkan bahwa ingatan perempuan bukan sekadar kenangan personal, melainkan bentuk produksi pengetahuan. Sementara Ni Nyoman Ayu Suciartini mengajak peserta menyadari bahwa kebebasan memilih dan menentukan hidup lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan. Perspektif ini membuat saya semakin yakin bahwa teks-teks Sastrapuan tidak bisa dibaca secara tergesa.

Sebagai luaran utama, Women in Voice mendorong lahirnya karya-karya reflektif yang kemudian dikurasi dan disusun menjadi antologi esai perempuan. Antologi ini diharapkan menjadi arsip intelektual. Penanda cara perempuan memaknai tubuh, ingatan, dan perspektif mereka hari ini. Dalam konteks itu, kerja kuratorial menjadi sangat sensitif. Ia bukan sekadar soal memilih yang baik, tetapi soal menjaga agar teks tidak tercerabut dari pengalaman penulisnya.

Bagi saya pribadi, Sastrapuan adalah pengingat bahwa kepenulisan tidak selalu tentang suara yang lantang. Kadang ia justru tentang keberanian untuk diam, membaca pelan, dan mengakui batas diri. Menjadi kurator dengan tubuh yang sedang rapuh membuat saya sadar bahwa membaca dan menulis adalah kerja yang melibatkan seluruh diri. Bukan hanya pikiran, tetapi juga empati.

Saya menutup pengalaman ini bukan dengan perasaan lebih tahu tentang perempuan, melainkan dengan kesadaran akan ketidaktahuan saya sendiri. Dan mungkin di situlah pelajaran terpentingnya. Membaca pengalaman orang lain bukan tentang menaklukkan makna, melainkan tentang memberi ruang. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh klaim, jeda semacam ini terasa perlu. Bagi teks, bagi tubuh, dan bagi kita semua yang masih belajar mendengar. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PerempuansastraSastrapuanWomen Insight Lab
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Next Post

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yana Suryantari  | Palet Pelukis

Puisi-puisi Yana Suryantari | Palet Pelukis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co