5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Chusmeru by Chusmeru
February 7, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENCERMATI perkembangan pariwisata suatu negara tidak cukup hanya melihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun mobilitas pergerakan wisatawan domestik. Tak cukup dari seberapa besar pendapatan yang diperoleh negara. Pariwisata sebagai sebuah industri, juga mencakup perilaku dan motivasi wisatawannya.

Karena itulah, tren pariwisata setiap tahun akan berubah di berbagai negara seiring dengan perubahan perilaku dan motivasi wisatawan. Perubahan tren itu selayaknya disikapi oleh industri pariwisata untuk merancang strategi pengembangan agar tetap mampu bertahan di tengah persaingan.

Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran tren pariwisata menuju pengalaman autentik, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.  Generasi Milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren pariwisata baru seperti eco-tourism, wellness tourism, sport tourism, dan Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE).

Teknologi seperti AI (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Things), dan AR/VR (Augmented Reality/Virtual Reality) turut menjadi penggerak utama dalam menciptakan perjalanan yang personal, efisien, dan imersif, sekaligus menempatkan wisatawan sebagai pusat ekosistem digital pariwisata. Hal ini terungkap dalam Siaran Pers Kementerian Pariwisata Indonesia (kemenpar.go.id, 4/12/2025).

Selanjutnya disebutkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, pemetaan tren pariwisata Indonesia pada 2026 dianalisis dari berbagai metode yang komprehensif dan berlapis. Baik wisatawan nusantara  maupun mancanegara memiliki preferensi terhadap jenis wisata yang serupa, namun dengan urutan prioritas yang berbeda. Enam tren pariwisata yang unggul di kedua segmen adalah: Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, Nature and Adventure-Based Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, Wellness Tourism, dan Bleisure. 

Kedua segmen wisatawan ini dipertemukan dengan fokus perjalanan yang lebih bermakna dan autentik. Wisatawan mancanegara cenderung menempatkan Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, dan Nature-Based Adventure sebagai prioritas utama. Hal ini mencerminkan pencarian makna, koneksi lintas budaya, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.

Sedangkan wisatawan domestik mengutamakan Culinary and Gastronomy Tourism dan Cultural Immersion yang menunjukkan orientasi pada relaksasi, eksplorasi rasa, dan kenyamanan di dalam negeri sendiri. Keduanya memiliki orientasi pada eksplorasi dan merasakan pengalaman secara langsung.

Jika tren pariwisata 2026 ini benar-benar terwujud, maka industri pariwisata harus menyikapi dengan memberikan produk dan layanan wisata dengan baik. Isu keberlanjutan yang selama ini menjadi fokus perbincangan wisatawan harus ditunjang dengan kebijakan pemerintah dan komitmen pengusaha pariwisata untuk menjaga lingkungan.

Dari beberapa tren yang diprediksi tersebut, tampaknya wisatawan mancanegara dan nusantara sama-sama mengharapkan pengalaman yang autentik dan mendalam di destinasi wisata. Artinya, wisatawan tidak lagi berburu destinasi wisata yang populer jika tidak mendapatkan kenyamanan berwisata. Begitu pula lama tinggal di destinasi tidak lagi menjadi prioritas dalam berwisata, namun lebih pada perjalanan yang mengesankan; meski sebentar dan hanya sendirian.

Fenomena Pemandu Wisata Freelance 

Pengalaman yang mendalam saat wisatawan melakukan perjalanan tidak dapat terpenuhi bila harus berlama-lama di suatu destinasi atau berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain dalam waktu yang panjang. Hal ini mendorong munculnya tren slow travel dan solo travel dari wisatawan. Liburan singkat namun berkualitas menjadi lebih penting ketimbang lama namun membosankan.

Berwisata secara mengesankan juga tidak harus bersama rombongan. Tren solo travel mengarah pada berwisata seorang diri untuk mendapat pengalaman lebih mendalam. Tren ini membuat agen atau biro perjalanan tidak begitu penting bagi wisatawan. Andai pun perlu pendamping, wisatawan akan mencari pemandu wisata freelance yang memiliki waktu panjang untuk menemaninya.

Apalagi bagi wisatawan dari Gen Z, perjalanan wisata tidak perlu direncanakan jauh hari. Sudden travel menjadi tren baru dalam berwisata. Mereka akan berwisata tergantung mood. Bisa saja tiba-tiba mereka memutuskan untuk berlibur ke Bali tanpa perencanaan yang matang. Sepanjang ada waktu luang dan dana yang cukup, maka mereka segera berwisata.

Tren wisatawan Gen Z ini ditangkap dengan cerdas oleh seorang pemandu freelance perempuan asal Jembrana, Bali. Sebagai penduduk lokal Bali ia menawarkan jasa pemandu wisata lepas bagi wisatawan domestik. Dengan logat Bali yang kental ia berselancar di dunia maya melalui akun Instagram @sitihajarhumairoh. Saat tulisan ini dibuat, ia telah mengunggah 716 postingan feed IGdengan jumlah pengikut sebanyak 59,5 ribu orang.

Sepertinya gayung bersambut. Wanita muda yang dipanggil dengan nama Siti ini kebanjiran pesanan memandu perjalanan wisata. Tarifnya pun relatif murah, hanya 500 ribu rupiah per hari. Tarif itu sudah termasuk kendaraan sepeda motor, BBM, dan parkir. Sedangkan biaya masuk objek wisata dan makan ditanggung wisatawan.

Siti tidak mematok batas waktu memandu. Prinsipnya ia siap mengantar wisatawan domestik ke mana pun di Bali sampai capai. Jika wisatawan menggunakan mobil sendiri, ia pun bersedia jika hanya memandu saja dengan tarif menyesuaikan alias berdamai. Tidak tertutup kemungkinan jasa semacam ini akan diburu wisatawan Gen Z karena merasa nyaman dipandu oleh sesama Gen Z.

Dari unggahan feed di Instagramnya, sebagian besar wisatawan yang dipandu memang Gen Z. Sikap Siti yang ramah, humoris, dan profesional berhasil menggaet banyak calon pengguna jasanya. Bahkan Siti sempat memamerkan jadwal memandunya yang padat dalam sebulan. Siti adalah gambaran anak muda yang cepat dan tanggap menyikapi tren pariwisata Indonesia yang didominasi oleh Gen Z dan milineal.

Sebagian besar wisatawan nusantara yang dipandunya sesuai dengan orientasi tren 2026. Objek wisata alam banyak dicari wisatawan. Pengalaman budaya juga menjadi alasan wisatawan berkunjung ke Bali. Dan tentu saja kuliner menjadi pertimbangan bagi wisatawan. Sebagai pemandu freelance, Siti banyak memberikan rekomendasi tentang akomodasi, objek, dan kuliner yang sesuai dengan prefrensi wisatawan.

Micro Tourism: Harapan Baru bagi Daerah

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia memang sedang tidak menggembirakan. Harga kebutuhan pokok melambung setiap hari. Namun hasrat berwisata juga tak surut seiring dengan melemahnya kemampuan ekonomi masyarakat. Berbagai upaya dilakukan agar masyarakat dapat berwisata, meski dengan keterbatasan.

Kondisi seperti itu memunculkan fenomena micro tourism, yaitu perjalanan wisata dengan skala kecil, jarak yang dekat, waktu kunjungan yang singkat, dan dengan anggaran yang secukupnya. Secara nasional fenomena ini mungkin tidak begitu tampak memberi kontribusi pada pendapatan negara. Akan tetapi micro tourism sangatlah memberi harapan baru bagi daerah di Indonesia.

Inovasi dan diversifitas produk wisata akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Persaingan antardaerah di sektor pariwisata menjadi sangat ketat. Setiap daerah akan menggali potensi wisatanya dengan mempertimbangkan autentisitas. Tren pariwisata 2026 yang ramah lingkungan dan petualangan berbasis alam yang natural akan membuat banyak objek wisata daerah diburu wisatawan.

Paling tidak, micro tourism akan memberikan tiga keuntungan bagi daerah. Pertama, secara sosial budaya akan menjadi sarana mempertahankan identitas daerah. Sudah pasti wisatawan bukan hanya menikmati pemandangan alam di daerah. Mereka juga ingin mengenal aktivitas sosial budaya masyarakat. Di sinilah momentum daerah untuk melestarikan potensi sosial budayanya lewat pariwisata.

Kedua, secara ekonomi daerah juga diuntungkan. Tidak perlu terlalu muluk-muluk berbicara manfaat ekonomi micro tourism bagi masyarakat di daerah. Pendapatan dari parkir objek wisata saja jika dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Belum lagi UMKM, baik kuliner maupun hasil kerajinan lokal akan diminati wisatawan Gen Z.

Keuntungan ketiga adalah proses pelestarian lingkungan. Secara ekologis, pariwisata memang dapat menjadi ancaman. Namun jika masyarakat setempat sepenuhnya diberi kepercayaan untuk mengelola objek wisata di daerah, maka mereka lebih memiliki sense of belonging. Sehingga masyarakat akan bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di objek wisata daerah.

Sesungguhnya berwisata memang untuk memenuhi kepuasan mata, hati, dan pikirian. Apalah artinya berwisata ke destinasi populer jika mata disuguhi pemandangan alam yang penuh sampah dan kemacetan lalu lintas. Apalah artinya berwisata bila hati dongkol dengan ulah pedagang makanan yang mematok harga tinggi. Berwisata adalah untuk menenangkan dan menjernikan pikiran. Dan itu bisa saja berupa objek wisata yang biasa dan dekat-dekat saja. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Mewarnai di Bulan Bahasa Bali 2026: Mengajak Anak-anak Mengenal Karakter dari Warna

Next Post

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co