4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Chusmeru by Chusmeru
February 7, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENCERMATI perkembangan pariwisata suatu negara tidak cukup hanya melihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun mobilitas pergerakan wisatawan domestik. Tak cukup dari seberapa besar pendapatan yang diperoleh negara. Pariwisata sebagai sebuah industri, juga mencakup perilaku dan motivasi wisatawannya.

Karena itulah, tren pariwisata setiap tahun akan berubah di berbagai negara seiring dengan perubahan perilaku dan motivasi wisatawan. Perubahan tren itu selayaknya disikapi oleh industri pariwisata untuk merancang strategi pengembangan agar tetap mampu bertahan di tengah persaingan.

Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran tren pariwisata menuju pengalaman autentik, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.  Generasi Milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren pariwisata baru seperti eco-tourism, wellness tourism, sport tourism, dan Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE).

Teknologi seperti AI (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Things), dan AR/VR (Augmented Reality/Virtual Reality) turut menjadi penggerak utama dalam menciptakan perjalanan yang personal, efisien, dan imersif, sekaligus menempatkan wisatawan sebagai pusat ekosistem digital pariwisata. Hal ini terungkap dalam Siaran Pers Kementerian Pariwisata Indonesia (kemenpar.go.id, 4/12/2025).

Selanjutnya disebutkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, pemetaan tren pariwisata Indonesia pada 2026 dianalisis dari berbagai metode yang komprehensif dan berlapis. Baik wisatawan nusantara  maupun mancanegara memiliki preferensi terhadap jenis wisata yang serupa, namun dengan urutan prioritas yang berbeda. Enam tren pariwisata yang unggul di kedua segmen adalah: Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, Nature and Adventure-Based Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, Wellness Tourism, dan Bleisure. 

Kedua segmen wisatawan ini dipertemukan dengan fokus perjalanan yang lebih bermakna dan autentik. Wisatawan mancanegara cenderung menempatkan Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, dan Nature-Based Adventure sebagai prioritas utama. Hal ini mencerminkan pencarian makna, koneksi lintas budaya, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.

Sedangkan wisatawan domestik mengutamakan Culinary and Gastronomy Tourism dan Cultural Immersion yang menunjukkan orientasi pada relaksasi, eksplorasi rasa, dan kenyamanan di dalam negeri sendiri. Keduanya memiliki orientasi pada eksplorasi dan merasakan pengalaman secara langsung.

Jika tren pariwisata 2026 ini benar-benar terwujud, maka industri pariwisata harus menyikapi dengan memberikan produk dan layanan wisata dengan baik. Isu keberlanjutan yang selama ini menjadi fokus perbincangan wisatawan harus ditunjang dengan kebijakan pemerintah dan komitmen pengusaha pariwisata untuk menjaga lingkungan.

Dari beberapa tren yang diprediksi tersebut, tampaknya wisatawan mancanegara dan nusantara sama-sama mengharapkan pengalaman yang autentik dan mendalam di destinasi wisata. Artinya, wisatawan tidak lagi berburu destinasi wisata yang populer jika tidak mendapatkan kenyamanan berwisata. Begitu pula lama tinggal di destinasi tidak lagi menjadi prioritas dalam berwisata, namun lebih pada perjalanan yang mengesankan; meski sebentar dan hanya sendirian.

Fenomena Pemandu Wisata Freelance 

Pengalaman yang mendalam saat wisatawan melakukan perjalanan tidak dapat terpenuhi bila harus berlama-lama di suatu destinasi atau berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain dalam waktu yang panjang. Hal ini mendorong munculnya tren slow travel dan solo travel dari wisatawan. Liburan singkat namun berkualitas menjadi lebih penting ketimbang lama namun membosankan.

Berwisata secara mengesankan juga tidak harus bersama rombongan. Tren solo travel mengarah pada berwisata seorang diri untuk mendapat pengalaman lebih mendalam. Tren ini membuat agen atau biro perjalanan tidak begitu penting bagi wisatawan. Andai pun perlu pendamping, wisatawan akan mencari pemandu wisata freelance yang memiliki waktu panjang untuk menemaninya.

Apalagi bagi wisatawan dari Gen Z, perjalanan wisata tidak perlu direncanakan jauh hari. Sudden travel menjadi tren baru dalam berwisata. Mereka akan berwisata tergantung mood. Bisa saja tiba-tiba mereka memutuskan untuk berlibur ke Bali tanpa perencanaan yang matang. Sepanjang ada waktu luang dan dana yang cukup, maka mereka segera berwisata.

Tren wisatawan Gen Z ini ditangkap dengan cerdas oleh seorang pemandu freelance perempuan asal Jembrana, Bali. Sebagai penduduk lokal Bali ia menawarkan jasa pemandu wisata lepas bagi wisatawan domestik. Dengan logat Bali yang kental ia berselancar di dunia maya melalui akun Instagram @sitihajarhumairoh. Saat tulisan ini dibuat, ia telah mengunggah 716 postingan feed IGdengan jumlah pengikut sebanyak 59,5 ribu orang.

Sepertinya gayung bersambut. Wanita muda yang dipanggil dengan nama Siti ini kebanjiran pesanan memandu perjalanan wisata. Tarifnya pun relatif murah, hanya 500 ribu rupiah per hari. Tarif itu sudah termasuk kendaraan sepeda motor, BBM, dan parkir. Sedangkan biaya masuk objek wisata dan makan ditanggung wisatawan.

Siti tidak mematok batas waktu memandu. Prinsipnya ia siap mengantar wisatawan domestik ke mana pun di Bali sampai capai. Jika wisatawan menggunakan mobil sendiri, ia pun bersedia jika hanya memandu saja dengan tarif menyesuaikan alias berdamai. Tidak tertutup kemungkinan jasa semacam ini akan diburu wisatawan Gen Z karena merasa nyaman dipandu oleh sesama Gen Z.

Dari unggahan feed di Instagramnya, sebagian besar wisatawan yang dipandu memang Gen Z. Sikap Siti yang ramah, humoris, dan profesional berhasil menggaet banyak calon pengguna jasanya. Bahkan Siti sempat memamerkan jadwal memandunya yang padat dalam sebulan. Siti adalah gambaran anak muda yang cepat dan tanggap menyikapi tren pariwisata Indonesia yang didominasi oleh Gen Z dan milineal.

Sebagian besar wisatawan nusantara yang dipandunya sesuai dengan orientasi tren 2026. Objek wisata alam banyak dicari wisatawan. Pengalaman budaya juga menjadi alasan wisatawan berkunjung ke Bali. Dan tentu saja kuliner menjadi pertimbangan bagi wisatawan. Sebagai pemandu freelance, Siti banyak memberikan rekomendasi tentang akomodasi, objek, dan kuliner yang sesuai dengan prefrensi wisatawan.

Micro Tourism: Harapan Baru bagi Daerah

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia memang sedang tidak menggembirakan. Harga kebutuhan pokok melambung setiap hari. Namun hasrat berwisata juga tak surut seiring dengan melemahnya kemampuan ekonomi masyarakat. Berbagai upaya dilakukan agar masyarakat dapat berwisata, meski dengan keterbatasan.

Kondisi seperti itu memunculkan fenomena micro tourism, yaitu perjalanan wisata dengan skala kecil, jarak yang dekat, waktu kunjungan yang singkat, dan dengan anggaran yang secukupnya. Secara nasional fenomena ini mungkin tidak begitu tampak memberi kontribusi pada pendapatan negara. Akan tetapi micro tourism sangatlah memberi harapan baru bagi daerah di Indonesia.

Inovasi dan diversifitas produk wisata akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Persaingan antardaerah di sektor pariwisata menjadi sangat ketat. Setiap daerah akan menggali potensi wisatanya dengan mempertimbangkan autentisitas. Tren pariwisata 2026 yang ramah lingkungan dan petualangan berbasis alam yang natural akan membuat banyak objek wisata daerah diburu wisatawan.

Paling tidak, micro tourism akan memberikan tiga keuntungan bagi daerah. Pertama, secara sosial budaya akan menjadi sarana mempertahankan identitas daerah. Sudah pasti wisatawan bukan hanya menikmati pemandangan alam di daerah. Mereka juga ingin mengenal aktivitas sosial budaya masyarakat. Di sinilah momentum daerah untuk melestarikan potensi sosial budayanya lewat pariwisata.

Kedua, secara ekonomi daerah juga diuntungkan. Tidak perlu terlalu muluk-muluk berbicara manfaat ekonomi micro tourism bagi masyarakat di daerah. Pendapatan dari parkir objek wisata saja jika dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Belum lagi UMKM, baik kuliner maupun hasil kerajinan lokal akan diminati wisatawan Gen Z.

Keuntungan ketiga adalah proses pelestarian lingkungan. Secara ekologis, pariwisata memang dapat menjadi ancaman. Namun jika masyarakat setempat sepenuhnya diberi kepercayaan untuk mengelola objek wisata di daerah, maka mereka lebih memiliki sense of belonging. Sehingga masyarakat akan bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di objek wisata daerah.

Sesungguhnya berwisata memang untuk memenuhi kepuasan mata, hati, dan pikirian. Apalah artinya berwisata ke destinasi populer jika mata disuguhi pemandangan alam yang penuh sampah dan kemacetan lalu lintas. Apalah artinya berwisata bila hati dongkol dengan ulah pedagang makanan yang mematok harga tinggi. Berwisata adalah untuk menenangkan dan menjernikan pikiran. Dan itu bisa saja berupa objek wisata yang biasa dan dekat-dekat saja. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Mewarnai di Bulan Bahasa Bali 2026: Mengajak Anak-anak Mengenal Karakter dari Warna

Next Post

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co