“Leaving on a Jet Plane” karya John Denver bukan sekadar lagu tentang bandara dan koper yang ditutup rapat. Ia adalah gubahan bagi setiap jiwa yang pernah terombang-ambing di antara hasrat untuk bertahan dan desakan untuk pergi. Ditulis pada 1966 sebagai balada lembut tentang perpisahan dan rindu, lagu ini menyimpan nuansa magis, sebuah ironi yang baru terasa sepenuhnya bertahun-tahun kemudian.
John Denver, terlahir sebagai Henry John Deutschendorf Jr. pada 1943, adalah penyanyi, penulis lagu, dan aktivis Amerika yang suaranya merdu membawakan aliran folk dan country. Di awal kariernya, ia sering menyuarakan protes sosial dan anti-perang, namun namanya lebih dikenang berkat lagu-lagu yang memuja keindahan alam dan kelestarian bumi.
Denver mulai menggesek gitarnya pada 1961, mengisi waktu di kedai-kedai kopi sambil melanjutkan studi arsitektur di Texas Tech University. Pada 1964, ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan hijrah ke Los Angeles, di mana ia mulai menapaki karier musik dengan nama panggung John Denver. Setelah sempat bergabung dengan Chad Mitchell Trio, ia memilih jalur solo pada 1969 dan merilis album perdana, Rhymes and Reasons, yang di dalamnya termuat “Leaving on a Jet Plane.” Kesuksesan pun berlanjut lewat “Sunshine on My Shoulders” dan “Annie’s Song” yang menduduki puncak tangga lagu, menjadikannya salah satu musisi paling laris di era 1970-an. Pada 1977, ia bahkan dinobatkan sebagai Penyair Laureat Resmi Colorado.
Sepanjang kariernya, Denver menghasilkan sekitar 30 album studio, 8 album live, dan 17 album kompilasi. Sebuah warisan panjang musik folk dan country yang bukan hanya mencatat produktivitas, tetapi juga menandai perjalanan seorang musisi yang terus mencari makna antara alam, cinta, dan kemanusiaan.
“Leaving on a Jet Plane”, awalnya berjudul “Babe, I Hate to Go”, lahir dari sebuah ruang tunggu bandara di Washington, D.C., saat Denver berusia 23 tahun. Terinspirasi oleh rasa frustrasi menanti penerbangan yang tertunda, lagu ini menjelma menjadi refleksi mendalam tentang konflik batin yang akrab bagi siapa saja: antara terpaksa pergi karena tuntutan waktu, harus meninggalkan orang tercinta, keinginan kuat untuk tetap tinggal, dan kesunyian karena tak tahu kapan akan kembali.
’Cause I’m leavin’ on a jet plane
Don’t know when I’ll be back again
Oh babe, I hate to go
Now the time has come to leave you
Awalnya, Denver merekam lagu ini dalam album demo mandiri bertajuk John Denver Sings, menggandakannya secara sederhana, lalu memberikannya kepada keluarga dan sahabat sebagai kado Natal. Ia tak pernah menduga bahwa lagu itu akan menjadi hit dunia saat dibawakan oleh Peter, Paul and Mary pada 1969.
Gema lagu ini terbukti melintasi zaman. Puluhan tahun setelah kepopulerannya di era 60-an, nuansa perpisahan yang getir ini kembali dihidupkan oleh Chantal Kreviazuk dalam soundtrack film Armageddon (1998). Di sana, lagu Denver menjadi latar bagi perpisahan dramatis antara pejuang bumi dan kekasih yang ditinggalkan, mengukuhkan statusnya sebagai lagu perpisahan universal bagi siapa saja yang harus menantang maut di angkasa.
Liriknya menyentuh sebuah kebenaran universal: bahwa sering kali kita harus pergi justru saat hati paling ingin tetap tinggal. Pesawat jet di sini bukan sekadar alat transportasi, melainkan metafora atas jarak yang mendadak, perubahan yang tak terelakkan, dan keterputusan yang terasa perih. Ia mewakili teknologi yang memungkinkan kepergian dalam sekejap, sekaligus menggambarkan betapa mudahnya ikatan fisik terpisah.
Namun, di balik lapisan kesedihan, terselip sebuah janji setia: “So kiss me and smile for me, tell me that you’ll wait for me.” Lagu ini tidak hanya tentang kepergian, tetapi juga tentang keyakinan bahwa cinta dan janji mampu bertahan meski dipisah ruang dan waktu.
Dan kini, setiap kali kita mendengarnya, ada kesan lain yang mengendap: sebuah ironi takdir yang membuat bulu kuduk merinding. Lagu yang ditulis tentang pergi dengan pesawat jet, ternyata seperti bisikan panjang dari masa lalu tentang cara penyanyinya meninggalkan dunia. Pada sebuah senja di tahun 1997, John Denver tewas dalam kecelakaan pesawat pribadi Rutan Long-EZ yang dikemudikannya sendiri di lepas pantai California. Sejak saat itu, “Leaving on a Jet Plane” tidak lagi hanya sekadar lagu perpisahan. Ia menjadi kenangan yang nostalgik, sekaligus pengingat pilu tentang betapa hidup sering kali menulis narasinya sendiri dengan cara yang tak terduga. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























