14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
in Esai
Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Ilustrasi tatkala.co dibuat dengan ChatGpt

PERTANYAAN tentang mungkinkah Bahasa Bali punah terasa kian relevan jika kita menengok kehidupan Bali hari ini. Di tengah pesatnya pariwisata, teknologi, dan arus globalisasi, cara orang Bali berkomunikasi ikut berubah. Di rumah, di sekolah, bahkan di lingkungan bermain anak-anak, bahasa Indonesia kini lebih sering terdengar ketimbang Bahasa Bali. Pergeseran ini terjadi perlahan, hampir tanpa disadari, namun dampaknya sangat besar bagi keberlangsungan bahasa daerah.

Dulu, Bahasa Bali hidup kuat sebagai bahasa sehari-hari. Anak-anak tumbuh dengan Bahasa Bali sebagai bahasa pertama yang mereka dengar dari orang tua dan lingkungan sekitar. Bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pembawa nilai, sopan santun, humor, hingga cara pandang orang Bali terhadap dunia. Kini situasinya berbeda. Banyak keluarga memilih menggunakan bahasa Indonesia sejak anak-anak mereka masih belia. Alasannya beragam, mulai dari ingin anak lebih siap masuk sekolah, takut anak kesulitan mengikuti pelajaran, sampai anggapan bahwa bahasa Indonesia terasa lebih praktis.

Bahasa ibu tentu bisa apa saja. Setiap keluarga berhak menentukan bahasa yang digunakan di rumah. Namun ketika Bahasa Bali tidak lagi dikenalkan sebagai bahasa ibu, muncul persoalan baru. Anak-anak tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan bahasa daerahnya sendiri. Akibatnya, ketika mereka dewasa, Bahasa Bali terasa asing. Tidak sedikit orang Bali hari ini yang mengaku mengerti sedikit, tetapi tidak percaya diri untuk berbicara. Ada pula yang benar-benar tidak paham, terutama ragam halus yang sarat makna budaya.

Padahal, mengenalkan Bahasa Bali sejak dini tidak akan menyulitkan anak di masa depan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa secara alami. Anak yang sejak kecil terbiasa dengan Bahasa Bali dan bahasa Indonesia justru memiliki kepekaan bahasa yang lebih baik. Mereka bisa tumbuh sebagai penutur dwibahasa tanpa harus mengorbankan salah satunya. Masalahnya bukan pada kemampuan anak, melainkan pada kebiasaan orang dewasa yang perlahan meninggalkan Bahasa Bali.

Jika kondisi ini dibiarkan, Bahasa Bali berisiko mengalami penyempitan fungsi. Ia hanya dipakai saat upacara adat, kegiatan resmi, atau di ruang kelas sebagai mata pelajaran. Bahasa yang hidup seharusnya dipakai dalam percakapan sehari-hari, dalam canda, dan dalam nasihat orang tua kepada anak. Ketika Bahasa Bali hanya hadir di ruang formal, ia kehilangan denyut kehidupannya. Lambat laun, kosakata menghilang, ungkapan tradisional terlupakan, dan generasi muda semakin jauh dari akar budayanya.

Bahasa tentu tidak bisa dipisahkan dari identitas. Dalam Bahasa Bali tersimpan konsep tingkat tuturan dalam berucap ─ perbedaan rasa hormat dalam bertutur dengan lawan tutur tertentu. Semua itu sulit diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa lain. Saat Bahasa Bali melemah, yang ikut melemah adalah jembatan nilai antar generasi. Anak-anak mungkin tetap menjadi orang Bali secara administratif, tetapi pemahaman terhadap budayanya sendiri menipis.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Sekolah menuntut penguasaan bahasa Indonesia. Media dan gawai menghadirkan konten berbahasa nasional dan asing. Dunia kerja menuntut keterampilan komunikasi yang luas. Semua itu nyata. Namun di tengah tuntutan tersebut, ruang keluarga tetap memiliki peran paling penting. Orang tua adalah guru pertama. Jika di rumah Bahasa Bali dihidupkan kembali, digunakan dalam percakapan ringan, dalam memanggil anak, bercerita, maupun menasihati, maka benih kecintaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Upaya pelestarian juga bisa dilakukan secara kolektif. Desa adat, sekolah, dan komunitas kreatif dapat menghadirkan ruang penggunaan Bahasa Bali yang menyenangkan. Misalnya melalui lomba-lomba, pertunjukan seni, konten digital, atau kegiatan literasi berbahasa Bali. Bahasa perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak muda, bukan hanya dalam buku pelajaran. Ketika Bahasa Bali terasa relevan dan membumi, generasi muda akan lebih mudah menerimanya.

Ungkapan lama mengingatkan kita. Utamakan bahasa Indonesia, pelihara bahasa daerah, kuasai bahasa asing. Kalimat ini bukan sekadar slogan. Di dalamnya ada keseimbangan. Bahasa Indonesia menyatukan kita sebagai bangsa. Bahasa asing membuka jendela dunia. Sementara bahasa daerah menjaga akar identitas. Ketiganya bisa berjalan beriringan, tidak perlu saling meniadakan.

Jadi, mungkinkah Bahasa Bali punah? Jawabannya bergantung pada pilihan kita hari ini. Jika kita terus membiarkannya tersisih dari rumah dan kehidupan sehari-hari, risikonya nyata. Namun jika kita mulai dari langkah kecil, berbicara kepada anak dengan Bahasa Bali, menertawakan lelucon sederhana dalam Bahasa Bali, dan merasa bangga menggunakannya, harapan itu masih ada. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasaBahasa BalibaliBulan Bahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru dan Patriotisme yang Bocor

Next Post

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

'Leaving on a Jet Plane': Bisikan Nostalgia dan Takdir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co