14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru dan Patriotisme yang Bocor

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 31, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SELUMBARI, saya keluar rumah pagi-pagi dan ada seorang ibu naik motor lewat sambil menganggukkan kepala sopan sekali. Beliau ini meski saya  tak kenal betul, tapi saya tahu adalah guru sekolah dasar tak jauh dari rumah. Tiba-tiba ada sesuatu yang terbersit di kepala soal para guru di Indonesia.

Mungkin agak salah waktu di sini, saat saya mengajak para pembaca yang budiman untuk kembali menengok para guru. Karena biasanya para pahlawan tanpa tanda jasa kita ini hanya dielu-elukan pada bulan November saja. Biasanya setiap 25 November, lagu Hymne Guru dinyanyikan. Seingat saya liriknya sampai sekarang masih sama, nadanya masih khidmat, dan pesannya masih heroik.

Kembali lagi, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Yang namanya pahlawan itu, tidak bisa dibantah lagi tentu seorang patriot tulen. Tapi di luar aula dan lapangan upacara, realitasnya tidak segempita itu. Guru hari ini tidak lagi berdiri sebagai patriot, melainkan sering diperlakukan seperti tentara bayaran yang diminta berjuang, tapi mudah jadi korban.

Masalahnya bukan sekadar menyoal kesejahteraan guru. Yang sedang kita hadapi lebih dalam dan lebih berbahaya yaitu soal krisis patriotisme nasional. Dan ironisnya, guru justru menjadi korban paling awal dari krisis itu.

Dari Patriot ke “Tentara Bayaran” Pendidikan

Negara kita tidak asing dengan kata patriotisme. Melihat sejarah perjuangan negara kita, maka patriotisme bukan cuma slogan, melainkan ia adalah suatu bentuk praktik. Maka patriotisme hidup dari contoh, bukan dari poster. Nah, celakanya, para elite politik dan pejabat publik sejak lama memperlihatkan bahwa kepentingan pribadi bisa dinegosiasikan dan mengorbankan kepentingan bersama. Mulai di sinilah patriotisme pelan-pelan kehilangan wibawanya.

Dalam konteks Indonesia hari ini, patriotisme malah sering tampil sebagai violence simbolik. Sebab kata itu dipaksakan lewat pidato, upacara, dan kurikulum, namun ia tak lagi hidup secara alami di ruang publik.

Guru diminta menanamkan cinta tanah air, kejujuran, dan integritas, sementara murid setiap hari menyaksikan bagaimana hukum bisa lentur, Mahkamah Konstitusi bahkan pernah bisa diatur, jabatan bisa diperjualbelikan, dan moral bisa ditunda asal aman. Ini bukan kegagalan guru. Ini kegagalan teladan kolektif.  Akibatnya berat, guru lalu dianggap pembual dan jualan omong kosong. Ya, konsekuensi logisnya guru tak punya wibawa lagi.

Jika soal patriotisme lalu dikoneksikan dengan tentara, maka di titik inilah muncul suatu gambaran absurd, sepertinya guru hari ini seperti tentara bayaran, bukan patriot. Bukan karena mereka kehilangan nilai, tapi karena sistem memaksa mereka bekerja dalam logika kontrak, bukan makna.

Patriot berjuang karena keyakinan pada masa depan bersama. Tentara bayaran bekerja karena upah dan biasanya dengan perlindungan minimal. Ketika negara tidak lagi mampu menjamin para guru dalam urusan kesejahteraan, perlindungan hukum, dan otonomi pedagogis, maka yang tersisa hanyalah hubungan transaksional.

Ironisnya, guru tetap dituntut berperilaku patriotik, ikhlas, sabar, berkorban, sementara negara dan elite politik telah lama berpindah ke setelan mode pragmatis. Ini seperti meminta barisan paling belakang tetap tegak, sementara komandan sudah lebih dulu pulang. Wagu, orang Jawa bilang.

Patriotisme Versi Hegemoni

Antonio Gramsci menyebut kondisi semacam ini sebagai hegemoni. Nilai luhur disebarkan bukan untuk membebaskan, melainkan untuk menstabilkan ketimpangan. Mungkin bisa kita rasakan, kalau kita sedikit mau merenung sejenak, kini patriotisme dipelihara sebagai retorika. Masih ada, tapi hanya dibebankan kepada mereka yang paling lemah daya tawarnya. 

Guru-guu di negara kita ini menjadi penjaga moral terakhir, sementara para oknum elite bebas menegosiasikan nilai. Ketika guru menuntut upah layak, ia dianggap tidak ikhlas. Ketika ia mendisiplinkan murid, ia bisa dikriminalisasi. Patriotisme berubah dari panggilan nurani bergeser menjadi beban sepihak.  Inilah patriotisme abal-abal, keras ke bawah, lunak ke atas.

Kriminalisasi Guru dan Runtuhnya Otoritas Moral

Banyak sekali kasus di mana guru dilaporkan ke polisi karena mendidik muridnya. Saya kira, dalam konteks sekarang, ini bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari runtuhnya kepercayaan antara guru, orang tua, dan negara. 

Dalam masyarakat yang hipersensitif dan hipertransparan, seperti digambarkan Byung-Chul Han, segala konflik akan dianggap sebagai suatu kegagalan, bukan lagi suatu proses. Jadi konflik guru dan murid, juga akan dianggap sebagai suatu kegagalan.  Pendidikan dipaksa steril dari gesekan, padahal karakter justru tumbuh dari adanya batas, teguran, dan ketidaknyamanan yang timbul dari pembelajaran yang terus-menerus.

Ketika kamera ponsel dan grup WhatsApp lebih dipercaya daripada ruang kelas, otoritas guru berubah dari figur pendidik menjadi objek pengawasan. Dalam kondisi seperti ini, berbicara tentang patriotisme guru terdengar nyaris sarkastik. Atau bahkan, suatu dark jokes.

Suatu Insting Saja

Memang akhir-akhir ini sering dikatakan bahwa guru sekarang kurang idealis, atau juga dikatakan terlalu materialistis. Tuduhan ini saya pikir agak dangkal dan terasa kurang adil. Yang terjadi bukan matinya idealisme, melainkan profesionalisme yang memang dikosongkan dari makna sejatinya.  Guru diukur dari administrasi, laporan, sertifikat, dan angka kredit.

Mereka diawasi, dinilai, dan distandardisasi, tapi jarang dilindungi. Profesionalisme semacam ini tentu melahirkan teknokrasi pendidikan, terlihat rapi di atas kertas, namun kering di ruang kelas. Gramsci tentu akan menyebut ini sebagai kegagalan dalam membentuk intelektual organik. Guru direduksi menjadi pelaksana kurikulum, bukan pembentuk kesadaran. Patriotisme tak mungkin tumbuh di ruang yang hanya menghitung jam dan target.

Jadi bagi yang menuntut patriotisme harus datang dari para guru, perlu ditegaskan bahwa guru bukan penyebab krisis patriotisme. Mereka adalah cerminnya, karena mereka hanya menggambarkan realitas yang sama dengan kita semua.

Ketika saya, anda, dan para guru kita ini melihat bahwa kejujuran tidak selalu dihargai, pengorbanan sering dianggap kebodohan, dan kesetiaan pada tanah air kalah oleh kelicinan, maka wajar jika guru memilih bertahan, bukan berkorban. Ini bukan pengkhianatan nilai, melainkan insting rasional dalam sistem yang tidak adil. Sama halnya seperti seorang suami di Sleman yang dimejahijaukan karena membela isterinya yang dijambret di Bantul. Itu semua hanya insting saja.

Patriotisme yang Kehilangan Rumah

Patriotisme hanya bisa hidup jika ia punya habitat yang mendukung, negara yang konsisten, hukum yang adil, dan elite yang memberi contoh. Tanpa itu, patriotisme akan terus menjadi slogan kosong yang ditagihkan kepada mereka yang paling lemah posisinya.

Guru hari ini diminta mengajarkan nilai yang sudah lama ditinggalkan di luar kelas. Mereka diminta setia pada narasi, sementara realitas bergerak ke arah sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini, bukan patriotisme guru yang runtuh, melainkan keyakinan kita akan makna patriotisme juga ikut runtuh.

Lama-lama tanpa habitat yang mendukung, patriotisme akan bernasib seperti halnya binatang langka. Tidak lagi berkeliaran, hanya ada di suaka saja.  Atau malah cuma tinggal foto dan patungnya saja. Binatang eksotis bisa langka dan kemudian punah, karena habitat yang tidak cocok lagi atau adanya predator yang berlebih.

Jika kita sungguh ingin menghidupkan kembali patriotisme, maka langkah pertama bukanlah mengarahkan guru ini dan itu, tapi membersihkan contoh-contoh yang ada di atasnya. Patriotisme tidak bisa diperbaiki semata-mata dari ruang kelas saja, sementara ruang kekuasaan tetap bocor.  Selama oknum elite bebas pragmatis dan rakyat kecil diminta idealis, selama guru dituntut berkorban tanpa perlindungan, maka patriotisme akan tetap menjadi retorika tahunan, bukan tata laku harian. Dan guru, sekali lagi, entah sampai kapan, akan terus menjadi korban paling setia dari nilai yang sudah lama ditinggalkan oleh mereka yang paling keras mengucapkannya. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Penting yang Diwariskan Wayan Sugita untuk Peran Patih Agung  dalam Perkembangan Drama Gong di Bali

Next Post

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co