2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru dan Patriotisme yang Bocor

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 31, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SELUMBARI, saya keluar rumah pagi-pagi dan ada seorang ibu naik motor lewat sambil menganggukkan kepala sopan sekali. Beliau ini meski saya  tak kenal betul, tapi saya tahu adalah guru sekolah dasar tak jauh dari rumah. Tiba-tiba ada sesuatu yang terbersit di kepala soal para guru di Indonesia.

Mungkin agak salah waktu di sini, saat saya mengajak para pembaca yang budiman untuk kembali menengok para guru. Karena biasanya para pahlawan tanpa tanda jasa kita ini hanya dielu-elukan pada bulan November saja. Biasanya setiap 25 November, lagu Hymne Guru dinyanyikan. Seingat saya liriknya sampai sekarang masih sama, nadanya masih khidmat, dan pesannya masih heroik.

Kembali lagi, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Yang namanya pahlawan itu, tidak bisa dibantah lagi tentu seorang patriot tulen. Tapi di luar aula dan lapangan upacara, realitasnya tidak segempita itu. Guru hari ini tidak lagi berdiri sebagai patriot, melainkan sering diperlakukan seperti tentara bayaran yang diminta berjuang, tapi mudah jadi korban.

Masalahnya bukan sekadar menyoal kesejahteraan guru. Yang sedang kita hadapi lebih dalam dan lebih berbahaya yaitu soal krisis patriotisme nasional. Dan ironisnya, guru justru menjadi korban paling awal dari krisis itu.

Dari Patriot ke “Tentara Bayaran” Pendidikan

Negara kita tidak asing dengan kata patriotisme. Melihat sejarah perjuangan negara kita, maka patriotisme bukan cuma slogan, melainkan ia adalah suatu bentuk praktik. Maka patriotisme hidup dari contoh, bukan dari poster. Nah, celakanya, para elite politik dan pejabat publik sejak lama memperlihatkan bahwa kepentingan pribadi bisa dinegosiasikan dan mengorbankan kepentingan bersama. Mulai di sinilah patriotisme pelan-pelan kehilangan wibawanya.

Dalam konteks Indonesia hari ini, patriotisme malah sering tampil sebagai violence simbolik. Sebab kata itu dipaksakan lewat pidato, upacara, dan kurikulum, namun ia tak lagi hidup secara alami di ruang publik.

Guru diminta menanamkan cinta tanah air, kejujuran, dan integritas, sementara murid setiap hari menyaksikan bagaimana hukum bisa lentur, Mahkamah Konstitusi bahkan pernah bisa diatur, jabatan bisa diperjualbelikan, dan moral bisa ditunda asal aman. Ini bukan kegagalan guru. Ini kegagalan teladan kolektif.  Akibatnya berat, guru lalu dianggap pembual dan jualan omong kosong. Ya, konsekuensi logisnya guru tak punya wibawa lagi.

Jika soal patriotisme lalu dikoneksikan dengan tentara, maka di titik inilah muncul suatu gambaran absurd, sepertinya guru hari ini seperti tentara bayaran, bukan patriot. Bukan karena mereka kehilangan nilai, tapi karena sistem memaksa mereka bekerja dalam logika kontrak, bukan makna.

Patriot berjuang karena keyakinan pada masa depan bersama. Tentara bayaran bekerja karena upah dan biasanya dengan perlindungan minimal. Ketika negara tidak lagi mampu menjamin para guru dalam urusan kesejahteraan, perlindungan hukum, dan otonomi pedagogis, maka yang tersisa hanyalah hubungan transaksional.

Ironisnya, guru tetap dituntut berperilaku patriotik, ikhlas, sabar, berkorban, sementara negara dan elite politik telah lama berpindah ke setelan mode pragmatis. Ini seperti meminta barisan paling belakang tetap tegak, sementara komandan sudah lebih dulu pulang. Wagu, orang Jawa bilang.

Patriotisme Versi Hegemoni

Antonio Gramsci menyebut kondisi semacam ini sebagai hegemoni. Nilai luhur disebarkan bukan untuk membebaskan, melainkan untuk menstabilkan ketimpangan. Mungkin bisa kita rasakan, kalau kita sedikit mau merenung sejenak, kini patriotisme dipelihara sebagai retorika. Masih ada, tapi hanya dibebankan kepada mereka yang paling lemah daya tawarnya. 

Guru-guu di negara kita ini menjadi penjaga moral terakhir, sementara para oknum elite bebas menegosiasikan nilai. Ketika guru menuntut upah layak, ia dianggap tidak ikhlas. Ketika ia mendisiplinkan murid, ia bisa dikriminalisasi. Patriotisme berubah dari panggilan nurani bergeser menjadi beban sepihak.  Inilah patriotisme abal-abal, keras ke bawah, lunak ke atas.

Kriminalisasi Guru dan Runtuhnya Otoritas Moral

Banyak sekali kasus di mana guru dilaporkan ke polisi karena mendidik muridnya. Saya kira, dalam konteks sekarang, ini bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari runtuhnya kepercayaan antara guru, orang tua, dan negara. 

Dalam masyarakat yang hipersensitif dan hipertransparan, seperti digambarkan Byung-Chul Han, segala konflik akan dianggap sebagai suatu kegagalan, bukan lagi suatu proses. Jadi konflik guru dan murid, juga akan dianggap sebagai suatu kegagalan.  Pendidikan dipaksa steril dari gesekan, padahal karakter justru tumbuh dari adanya batas, teguran, dan ketidaknyamanan yang timbul dari pembelajaran yang terus-menerus.

Ketika kamera ponsel dan grup WhatsApp lebih dipercaya daripada ruang kelas, otoritas guru berubah dari figur pendidik menjadi objek pengawasan. Dalam kondisi seperti ini, berbicara tentang patriotisme guru terdengar nyaris sarkastik. Atau bahkan, suatu dark jokes.

Suatu Insting Saja

Memang akhir-akhir ini sering dikatakan bahwa guru sekarang kurang idealis, atau juga dikatakan terlalu materialistis. Tuduhan ini saya pikir agak dangkal dan terasa kurang adil. Yang terjadi bukan matinya idealisme, melainkan profesionalisme yang memang dikosongkan dari makna sejatinya.  Guru diukur dari administrasi, laporan, sertifikat, dan angka kredit.

Mereka diawasi, dinilai, dan distandardisasi, tapi jarang dilindungi. Profesionalisme semacam ini tentu melahirkan teknokrasi pendidikan, terlihat rapi di atas kertas, namun kering di ruang kelas. Gramsci tentu akan menyebut ini sebagai kegagalan dalam membentuk intelektual organik. Guru direduksi menjadi pelaksana kurikulum, bukan pembentuk kesadaran. Patriotisme tak mungkin tumbuh di ruang yang hanya menghitung jam dan target.

Jadi bagi yang menuntut patriotisme harus datang dari para guru, perlu ditegaskan bahwa guru bukan penyebab krisis patriotisme. Mereka adalah cerminnya, karena mereka hanya menggambarkan realitas yang sama dengan kita semua.

Ketika saya, anda, dan para guru kita ini melihat bahwa kejujuran tidak selalu dihargai, pengorbanan sering dianggap kebodohan, dan kesetiaan pada tanah air kalah oleh kelicinan, maka wajar jika guru memilih bertahan, bukan berkorban. Ini bukan pengkhianatan nilai, melainkan insting rasional dalam sistem yang tidak adil. Sama halnya seperti seorang suami di Sleman yang dimejahijaukan karena membela isterinya yang dijambret di Bantul. Itu semua hanya insting saja.

Patriotisme yang Kehilangan Rumah

Patriotisme hanya bisa hidup jika ia punya habitat yang mendukung, negara yang konsisten, hukum yang adil, dan elite yang memberi contoh. Tanpa itu, patriotisme akan terus menjadi slogan kosong yang ditagihkan kepada mereka yang paling lemah posisinya.

Guru hari ini diminta mengajarkan nilai yang sudah lama ditinggalkan di luar kelas. Mereka diminta setia pada narasi, sementara realitas bergerak ke arah sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini, bukan patriotisme guru yang runtuh, melainkan keyakinan kita akan makna patriotisme juga ikut runtuh.

Lama-lama tanpa habitat yang mendukung, patriotisme akan bernasib seperti halnya binatang langka. Tidak lagi berkeliaran, hanya ada di suaka saja.  Atau malah cuma tinggal foto dan patungnya saja. Binatang eksotis bisa langka dan kemudian punah, karena habitat yang tidak cocok lagi atau adanya predator yang berlebih.

Jika kita sungguh ingin menghidupkan kembali patriotisme, maka langkah pertama bukanlah mengarahkan guru ini dan itu, tapi membersihkan contoh-contoh yang ada di atasnya. Patriotisme tidak bisa diperbaiki semata-mata dari ruang kelas saja, sementara ruang kekuasaan tetap bocor.  Selama oknum elite bebas pragmatis dan rakyat kecil diminta idealis, selama guru dituntut berkorban tanpa perlindungan, maka patriotisme akan tetap menjadi retorika tahunan, bukan tata laku harian. Dan guru, sekali lagi, entah sampai kapan, akan terus menjadi korban paling setia dari nilai yang sudah lama ditinggalkan oleh mereka yang paling keras mengucapkannya. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Penting yang Diwariskan Wayan Sugita untuk Peran Patih Agung  dalam Perkembangan Drama Gong di Bali

Next Post

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co