23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru dan Patriotisme yang Bocor

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 31, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SELUMBARI, saya keluar rumah pagi-pagi dan ada seorang ibu naik motor lewat sambil menganggukkan kepala sopan sekali. Beliau ini meski saya  tak kenal betul, tapi saya tahu adalah guru sekolah dasar tak jauh dari rumah. Tiba-tiba ada sesuatu yang terbersit di kepala soal para guru di Indonesia.

Mungkin agak salah waktu di sini, saat saya mengajak para pembaca yang budiman untuk kembali menengok para guru. Karena biasanya para pahlawan tanpa tanda jasa kita ini hanya dielu-elukan pada bulan November saja. Biasanya setiap 25 November, lagu Hymne Guru dinyanyikan. Seingat saya liriknya sampai sekarang masih sama, nadanya masih khidmat, dan pesannya masih heroik.

Kembali lagi, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Yang namanya pahlawan itu, tidak bisa dibantah lagi tentu seorang patriot tulen. Tapi di luar aula dan lapangan upacara, realitasnya tidak segempita itu. Guru hari ini tidak lagi berdiri sebagai patriot, melainkan sering diperlakukan seperti tentara bayaran yang diminta berjuang, tapi mudah jadi korban.

Masalahnya bukan sekadar menyoal kesejahteraan guru. Yang sedang kita hadapi lebih dalam dan lebih berbahaya yaitu soal krisis patriotisme nasional. Dan ironisnya, guru justru menjadi korban paling awal dari krisis itu.

Dari Patriot ke “Tentara Bayaran” Pendidikan

Negara kita tidak asing dengan kata patriotisme. Melihat sejarah perjuangan negara kita, maka patriotisme bukan cuma slogan, melainkan ia adalah suatu bentuk praktik. Maka patriotisme hidup dari contoh, bukan dari poster. Nah, celakanya, para elite politik dan pejabat publik sejak lama memperlihatkan bahwa kepentingan pribadi bisa dinegosiasikan dan mengorbankan kepentingan bersama. Mulai di sinilah patriotisme pelan-pelan kehilangan wibawanya.

Dalam konteks Indonesia hari ini, patriotisme malah sering tampil sebagai violence simbolik. Sebab kata itu dipaksakan lewat pidato, upacara, dan kurikulum, namun ia tak lagi hidup secara alami di ruang publik.

Guru diminta menanamkan cinta tanah air, kejujuran, dan integritas, sementara murid setiap hari menyaksikan bagaimana hukum bisa lentur, Mahkamah Konstitusi bahkan pernah bisa diatur, jabatan bisa diperjualbelikan, dan moral bisa ditunda asal aman. Ini bukan kegagalan guru. Ini kegagalan teladan kolektif.  Akibatnya berat, guru lalu dianggap pembual dan jualan omong kosong. Ya, konsekuensi logisnya guru tak punya wibawa lagi.

Jika soal patriotisme lalu dikoneksikan dengan tentara, maka di titik inilah muncul suatu gambaran absurd, sepertinya guru hari ini seperti tentara bayaran, bukan patriot. Bukan karena mereka kehilangan nilai, tapi karena sistem memaksa mereka bekerja dalam logika kontrak, bukan makna.

Patriot berjuang karena keyakinan pada masa depan bersama. Tentara bayaran bekerja karena upah dan biasanya dengan perlindungan minimal. Ketika negara tidak lagi mampu menjamin para guru dalam urusan kesejahteraan, perlindungan hukum, dan otonomi pedagogis, maka yang tersisa hanyalah hubungan transaksional.

Ironisnya, guru tetap dituntut berperilaku patriotik, ikhlas, sabar, berkorban, sementara negara dan elite politik telah lama berpindah ke setelan mode pragmatis. Ini seperti meminta barisan paling belakang tetap tegak, sementara komandan sudah lebih dulu pulang. Wagu, orang Jawa bilang.

Patriotisme Versi Hegemoni

Antonio Gramsci menyebut kondisi semacam ini sebagai hegemoni. Nilai luhur disebarkan bukan untuk membebaskan, melainkan untuk menstabilkan ketimpangan. Mungkin bisa kita rasakan, kalau kita sedikit mau merenung sejenak, kini patriotisme dipelihara sebagai retorika. Masih ada, tapi hanya dibebankan kepada mereka yang paling lemah daya tawarnya. 

Guru-guu di negara kita ini menjadi penjaga moral terakhir, sementara para oknum elite bebas menegosiasikan nilai. Ketika guru menuntut upah layak, ia dianggap tidak ikhlas. Ketika ia mendisiplinkan murid, ia bisa dikriminalisasi. Patriotisme berubah dari panggilan nurani bergeser menjadi beban sepihak.  Inilah patriotisme abal-abal, keras ke bawah, lunak ke atas.

Kriminalisasi Guru dan Runtuhnya Otoritas Moral

Banyak sekali kasus di mana guru dilaporkan ke polisi karena mendidik muridnya. Saya kira, dalam konteks sekarang, ini bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari runtuhnya kepercayaan antara guru, orang tua, dan negara. 

Dalam masyarakat yang hipersensitif dan hipertransparan, seperti digambarkan Byung-Chul Han, segala konflik akan dianggap sebagai suatu kegagalan, bukan lagi suatu proses. Jadi konflik guru dan murid, juga akan dianggap sebagai suatu kegagalan.  Pendidikan dipaksa steril dari gesekan, padahal karakter justru tumbuh dari adanya batas, teguran, dan ketidaknyamanan yang timbul dari pembelajaran yang terus-menerus.

Ketika kamera ponsel dan grup WhatsApp lebih dipercaya daripada ruang kelas, otoritas guru berubah dari figur pendidik menjadi objek pengawasan. Dalam kondisi seperti ini, berbicara tentang patriotisme guru terdengar nyaris sarkastik. Atau bahkan, suatu dark jokes.

Suatu Insting Saja

Memang akhir-akhir ini sering dikatakan bahwa guru sekarang kurang idealis, atau juga dikatakan terlalu materialistis. Tuduhan ini saya pikir agak dangkal dan terasa kurang adil. Yang terjadi bukan matinya idealisme, melainkan profesionalisme yang memang dikosongkan dari makna sejatinya.  Guru diukur dari administrasi, laporan, sertifikat, dan angka kredit.

Mereka diawasi, dinilai, dan distandardisasi, tapi jarang dilindungi. Profesionalisme semacam ini tentu melahirkan teknokrasi pendidikan, terlihat rapi di atas kertas, namun kering di ruang kelas. Gramsci tentu akan menyebut ini sebagai kegagalan dalam membentuk intelektual organik. Guru direduksi menjadi pelaksana kurikulum, bukan pembentuk kesadaran. Patriotisme tak mungkin tumbuh di ruang yang hanya menghitung jam dan target.

Jadi bagi yang menuntut patriotisme harus datang dari para guru, perlu ditegaskan bahwa guru bukan penyebab krisis patriotisme. Mereka adalah cerminnya, karena mereka hanya menggambarkan realitas yang sama dengan kita semua.

Ketika saya, anda, dan para guru kita ini melihat bahwa kejujuran tidak selalu dihargai, pengorbanan sering dianggap kebodohan, dan kesetiaan pada tanah air kalah oleh kelicinan, maka wajar jika guru memilih bertahan, bukan berkorban. Ini bukan pengkhianatan nilai, melainkan insting rasional dalam sistem yang tidak adil. Sama halnya seperti seorang suami di Sleman yang dimejahijaukan karena membela isterinya yang dijambret di Bantul. Itu semua hanya insting saja.

Patriotisme yang Kehilangan Rumah

Patriotisme hanya bisa hidup jika ia punya habitat yang mendukung, negara yang konsisten, hukum yang adil, dan elite yang memberi contoh. Tanpa itu, patriotisme akan terus menjadi slogan kosong yang ditagihkan kepada mereka yang paling lemah posisinya.

Guru hari ini diminta mengajarkan nilai yang sudah lama ditinggalkan di luar kelas. Mereka diminta setia pada narasi, sementara realitas bergerak ke arah sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini, bukan patriotisme guru yang runtuh, melainkan keyakinan kita akan makna patriotisme juga ikut runtuh.

Lama-lama tanpa habitat yang mendukung, patriotisme akan bernasib seperti halnya binatang langka. Tidak lagi berkeliaran, hanya ada di suaka saja.  Atau malah cuma tinggal foto dan patungnya saja. Binatang eksotis bisa langka dan kemudian punah, karena habitat yang tidak cocok lagi atau adanya predator yang berlebih.

Jika kita sungguh ingin menghidupkan kembali patriotisme, maka langkah pertama bukanlah mengarahkan guru ini dan itu, tapi membersihkan contoh-contoh yang ada di atasnya. Patriotisme tidak bisa diperbaiki semata-mata dari ruang kelas saja, sementara ruang kekuasaan tetap bocor.  Selama oknum elite bebas pragmatis dan rakyat kecil diminta idealis, selama guru dituntut berkorban tanpa perlindungan, maka patriotisme akan tetap menjadi retorika tahunan, bukan tata laku harian. Dan guru, sekali lagi, entah sampai kapan, akan terus menjadi korban paling setia dari nilai yang sudah lama ditinggalkan oleh mereka yang paling keras mengucapkannya. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal Penting yang Diwariskan Wayan Sugita untuk Peran Patih Agung  dalam Perkembangan Drama Gong di Bali

Next Post

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co