24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hal-hal Penting yang Diwariskan Wayan Sugita untuk Peran Patih Agung  dalam Perkembangan Drama Gong di Bali

I Gede Tilem Pastika by I Gede Tilem Pastika
January 30, 2026
in Esai
Hal-hal Penting yang Diwariskan Wayan Sugita untuk Peran Patih Agung  dalam Perkembangan Drama Gong di Bali

I Wayan Sugita | Foto: Dok. pribadi

Pengantar editor:

Seniman drama gong legendaris sekaligus Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof Dr Drs I Wayan Sugita, MSi, berpulang karena sakit pada Rabu, 7 Januari 2026 malam di RSU Wangaya, Denpasar. Tentu saja kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga dan para seniman serta pegiat budaya Bali. Namun di balik itu, Wayan Sugita juga meninggalkan warisan berupa hal-hal baru dan hal-hal penting yang ia bangun selama memerankan Patih Agung dalam drama gong di Bali. Untuk mengetahui, apa-apa saja hal baik yang diwariskan Wayan Sugita dalam perkembangan drama gong di Bal, khususnya dalam seni peran Patih Agung, mari baca tulisan putra Wayan Sugita, I Gede Tilem Pastika.

***

PROF. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si. muncul dalam konstelasi seni pertunjukan Bali bukan sekadar sebagai seorang pelakon, melainkan sebagai sebuah fenomena intelektual yang berhasil menjembatani jurang antara menara gading akademis dengan panggung rakyat yang riuh.

Inilah hal-hal baik yang diwariskan Wayan Sugita dalam seni drama gong di Bali sehingga seni pertunjukan itu tetap memiliki wibawa hingga kini?

Karakter Patih Agung Bukan Lagi Tokoh Antagonis yang Dangkal

Kehadirannya dalam genre Drama Gong menandai sebuah era di mana karakter Patih Agung tidak lagi dipandang sebagai entitas antagonis yang dangkal, melainkan sebuah ruang dialektika yang kompleks. Sugita melakukan dekonstruksi terhadap peran-peran konvensional dengan menyuntikkan muatan epistemologis yang ia peroleh dari jenjang pendidikan formal dan pengalaman keseharianya, menciptakan sebuah hibriditas antara teori dan praksis budaya dengan praksis panggung yang sangat organis.

I Wayan Sugita | Foto: Dok. pribadi

Dalam diskursus estetika Drama Gong, posisi Patih Agung sering kali terjebak dalam dikotomi hitam-putih yang kaku, namun di tangan Sugita, karakter ini bertransformasi menjadi poros intelektual cerita. Ia tidak hanya berperan sebagai pemantik konflik dalam narasi istanasentrik, tetapi juga menjadi subjek yang menguji batas-batas moralitas melalui retorika yang tajam.

Kemampuannya dalam mengonstruksi karakter Patih Agung telah menciptakan sebuah “standardisasi baru” atau patron yang menjadi rujukan bagi generasi aktor setelahnya, di mana kekuatan karakter tidak lagi hanya bersandar pada volume suara atau kegarangan fisik, melainkan pada kedalaman intelegensi.

Bukan Sekadar Bersilat Lidah, Tapi Memainkan Dialog Improvitatif

Landasan akademis Sugita yang berakar pada Sastra Daerah di Universitas Udayana hingga mencapai gelar profesor dalam kajian budaya Hindu memberikan keunggulan komparatif yang kuat. Penguasaan linguistiknya terhadap bahasa Bali bukan sekadar kecakapan komunikatif, melainkan sebuah penguasaan terhadap “ruh” bahasa yang memungkinkan ia melakukan manuver semantik di atas panggung.

Diksi yang ia pilih secara instan dalam setiap dialog improvitatif menunjukkan sebuah proses kognitif yang matang, di mana setiap kata yang terucap memiliki beban filosofis sekaligus estetis yang mampu membius penonton.

Keberhasilan Sugita dalam menghidupkan drama tanpa naskah yang ketat, atau yang bersandar pada bantang satua, menunjukkan ketangkasan intelektual dalam mengolah struktur naratif secara spontan. Di tengah keterbatasan panduan alur yang hanya disepakati di belakang panggung, ia mampu membangun arsitektur dialog yang kokoh, penuh dengan metafora, dan kaya akan referensi budaya. Hal ini menegaskan bahwa bagi Sugita, panggung Drama Gong adalah sebuah laboratorium bahasa di mana ia terus mengeksplorasi elastisitas tata bahasa Bali dalam ruang publik yang dinamis.

Cerminan Wibawa yang Natural

Peran Sugita sebagai seorang juru raos dalam kehidupan adat Bali  (khususnya di Desa Adat Bukit Batu, Gianyar) memberikan dimensi otentisitas yang kuat pada setiap penampilannya. Keterlibatannya yang aktif dalam forum-forum adat memungkinkannya untuk membawa aura otoritas nyata ke dalam karakter fiktif seorang pejabat kerajaan.

Pengalaman empiris dalam memimpin diskursus publik di dunia nyata ini ia transformasikan menjadi energi panggung yang membuat karakter Patih Agung yang dibawakannya memiliki wibawa yang sangat natural, seolah garis batas antara sang profesor dan sang patih telah melebur sepenuhnya.

Karakter Patih Agung: Antara Kelicikan dan Kecerdasan

Permainan Sugita sering kali menampilkan paradoks yang memukau antara kelicikan yang memuakkan dan kecerdasan yang mengagumkan. Ia sangat mahir dalam menggiring opini publik di dalam cerita, memaksa “kebathilan” atau rencana jahatnya untuk tampak sebagai sebuah kebenaran logis melalui argumen-argumen yang sistematis.

I Wayan Sugita | Foto: Dok. pribadi

Teknik manipulasi verbal ini tidak hanya menunjukkan kualitas akting yang mumpuni, tetapi juga merupakan kritik tajam terhadap bagaimana kekuasaan dan bahasa sering kali digunakan untuk mendistorsi realitas dalam struktur sosial politik.

Patih Agung versus Patih Anom: Medan Tempur Intelektual

Konfrontasi verbal antara Patih Agung versi Sugita dengan tokoh Patih Anom atau Patih Werda sering kali menjadi puncak estetika dalam setiap pementasan Drama Gong.

Dalam adu mulut tersebut, Sugita tidak hanya mengandalkan emosi, tetapi juga menggunakan kutipan-kutipan dari pustaka suci dan paribasa Bali sebagai instrumen untuk memenangkan perdebatan. Pertarungan ideologi ini menjadi medan tempur intelektual yang mengangkat derajat Drama Gong dari sekadar tontonan menjadi sebuah tuntunan yang kaya akan nilai-nilai etika dan dialektika.

Humor di Antara Ketegasan dan Kelicikan

Satu hal yang sangat distingtif dari gaya Sugita adalah kemampuannya menyelipkan unsur humor di tengah karakterisasi yang tegas dan licik. Humor yang ia bawakan bukanlah banyolan hambar, melainkan satire yang muncul dari ketajaman logika, yang sering kali justru membuat penonton merasa antipati sekaligus terhibur secara bersamaan. Dualitas emosi yang dirasakan penonton ini—antara benci terhadap karakternya namun kagum pada kecerdasannya—adalah bukti keberhasilan Sugita dalam mencapai kedalaman psikologis sebuah peran antagonis.

I Wayan Sugita | Foto: Dok. pribadi

Berbeda dengan ayahnya, alm. I Ketut Merta, yang juga memerankan patih agung pada Drama Gong Bintang Bali Timur, yang dikenal dengan julukan Arya Barak. Alm. I Ketut Merta terkenal dengan kebengisanya, hingga tak tanggung-tanggung secara total terlihat menyiksa lawan mainya seperti adegan menyiksa tuan putri atau bahkan intrik lainya yang juga dilakukan dengan sungguh-sungguh (bahkan masih teringat pernah mendengar cerita jika adegan yang dilakukan memang benar-benar terasa sakit secara fisik)

Sugita melihat hal tersebut sebagai kepatutan untuk karakter patih agung, bengis, jahat, galak, dan tidak bisa diajak bercanda. Namun, dirinya menyadari bahwa untuk menjaga dinamika pertunjukan yang didasari pada spontanitas ia harus mampu membaca situasi, hingga menerka ke mana arah adegan saat berada di dalam pementasan. Beberapa hal yang dilakukan sugita adalah mencoba membaca lawan main. Misalnya pada adegan patangkilan di karang kepatihan, saat pelawak Dolar-Petruk (contoh yang terkenal) bercengkrama bersama tokoh Patih Agung yang dimainkan Sugita, yang secara jelas berbeda dari strata sosial (berikut tata krama dan sikap), namun selayaknya Patih Agung yang juga memikirkan bagaimana pelawak ini dapat sukses ia mengikuti permainan, membaca lawan main, kemudia nterlibat di dalamnya dengan tetap konsisten pada karakter patih agungnya.

Misalnya saat patangkilan ada kesalahan yang dilakukan oleh pelawak (parekan) ia akan dengan tegas memarahi parekan itu, namun disisi lain (di belakang patih) parekan lainya seolah-olah meniru gerak patih, dan berulang hingga terkesan lucu dan hidup. Hal ini bukan berarti Sugita menjadi patih yang jenaka, namun sigap membaca situasi.

Menurut pemahaman saya, Sugita melakukan hal tersebut adalah karena ia memahami aspek dramaturgi, Sugita selaku seniman praktisi sekaligus akademisi (drama gong) ia mempelajari dramaturi dan teater barat sebagai bekalnya untuk mematangkan karakter patih agungnya.

Fleksibilitas Sugita ini bukanlah suatu hal yang dilakukan untuk merusak citra patih agung, namun inovasi yang dilakukan adalah mengisi celah dan peluang, di tengah-tengah larutnya penonton dalam romance putra manis dan putri, kemudian lucunya pelawak, namun dirinya menarik emosi bernas penonton, maka kenyanglah emosi penonton dengan lalah manisnya pertunjukan drama gong kala itu.

Selain drama gong, Sugita juga beberapa kali terlibat dalam pertunjukan lainya. Ini karena ayahnya juga dikenal sebagai penari Arja (pernah dinobatkan sebagai Juara 1 Penasar Buduh Terbaik pada Festival Arja se-Bali tahun 70-an) hingga sering terlibat dalam pertunjukan barong landung. Hal itulah yang membuat Sugita juga ingin mencoba terlibat dalam berbagai jenis pertunjukan lainya.

Sugita sesekali berperan sebagai bondres, menari topeng, dan lainnya yang membuatnya lebih fleksibel dalam karakternya sebagai Patih Agung terbukti setelah surutnya drama gong pada awal 2000-an, dirinya terjun sebagai bondres balian pengeng yang namanya cukup dikenal kala itu dengan grup bondres Sekdut (Sekaa demen ulian tresna).

Cara Bertutur dengan Memperhitungkan Rima dan Irama

Pendalaman Sugita terhadap seni dharmagita juga memberikan rima dan irama yang unik pada cara ia bertutur di panggung. Ada musikalitas dalam dialognya yang membuat setiap argumen panjang yang ia sampaikan terasa memiliki tempo yang terjaga, sehingga penonton tidak merasa lelah meski harus menyimak perdebatan yang berat.

Integrasi antara seni suara tradisional dan seni peran ini menciptakan sebuah pertunjukan yang multisensorik, di mana keindahan vokal dan ketajaman akal berpadu dalam harmoni yang sempurna.

Gerak Tubuh yang Konsisten dan Membentuk Karakter Khas

Ciri khas lain yang biasa diamati adalah gestur/gerak tubuh Patih Agung ala Sugita yang biasanya diejek seperti ngandong karung (menggendong karung). Karena jalanya layaknya mengenjot sembari mengangguk dengan tubuh sedikit menunduk layaknya bersiap untuk menyerang musuh.

Biasanya hal ini dijadikan bahan lawakan oleh para parekan. Dalam pertunjukan drama gong dengan gerak realis tanpa gerak tari, dirinya mencoba untuk tetap terikat dengan tetabuhan gamelan, ritme jalannya tetap dijaga mengikuti ketukan gamelan. Hal ini menjadikan gestur yang dilakukan matanjek gong, meskipun tidak terlihat menari namun tetap metakeh.

Riasan yang Tebal untuk Mempertegas Karakter

Terkait dengan tata rias dan kostum, visualisasi karakter Patih Agung ala Sugita masih mengadopsi secara garis besar karakter visual dari Patih Agung yang dibawakan oleh ayahnya. Namun penajaman dilakukan dengan mempertegas goresan wajah (pada masa ayahnya terkenal dengan riasan yang tipis hingga hanya sekedar berias), bahkan pada beberapa tokoh drama gong seperti alm. I Wayan Puja (Singapadu) beliau tampil dengan wajah natural tanpa riasan saat menjadi patih agung.

I Wayan Sugita | Foto: Dok. pribadi

Sugita mempertajam karakternya dengan rias tebal, hal ini dilakukan karena dirinya sadar. Bahwa pentas malam dengan menggunakan pencahayaan panggung mengharuskan kontur wajah pemain harus jelas terlihat, dan rias digunakan untuk mempertegas karakter (hingga menggunakan merah pipi/blash on yang tebal).

Untuk kostum, Sugita bermain warna. Sebelumnya banyak Patih Agung yang tampil dengan warna gelap, namun kembali sugita memilih warna kontras, merah, hitam, dan poleng menjadi ciri khasnya. Hal ini merupakan hasil evaluasinya dari menonton rekaman-rekaman pertunjukanya sendiri. Sugita aktif melakukan evaluasi, tak puas dengan pencapainya, selalu mencari cara berbenah. Hal ini menunjukkan bahwa seni tradisi tidak harus selalu diam ditempat, ia dapat berkembang namun tetap mempertahankan rohnya.

Inovasi Terus Menerus

Konsistensi Sugita dalam menekuni kajian Drama Gong dari jenjang S1-S3 hingga Guru Besar mencerminkan sebuah komitmen total terhadap pelestarian kebudayaan Bali melalui jalur saintifik dan artistik. Ia tidak hanya mempraktikkan seni, tetapi juga meneliti, membedah, dan mendokumentasikannya ke dalam karya tulis ilmiah. Pendekatan holistik ini menjadikan setiap gerak dan ucapannya di panggung memiliki landasan teoretis yang kuat, sehingga setiap inovasi yang ia lakukan tetap berada dalam koridor etika budaya namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Inovasi yang dilakukan Sugita di tengah kekakuan pakem Drama Gong merupakan sebuah langkah berani yang menembus batas-batas tradisionalisme tanpa harus merusaknya. Ia memahami betul struktur dasar drama tersebut, namun ia juga sadar bahwa tradisi yang hidup adalah tradisi yang mampu berdialog dengan modernitas. Dengan membawa isu-isu kontemporer dan kedalaman logika akademis ke dalam dialog klasik, ia berhasil membuat Drama Gong tetap diminati oleh khalayak luas, termasuk kalangan intelektual muda yang haus akan tontonan bermutu.

Kematangan Sugita dalam memerankan karakter Patih Agung juga terlihat dari caranya menguasai “gestur patih”. Setiap langkah kaki, gerak tangan, hingga sorot mata diatur sedemikian rupa untuk membangun ketegangan atmosfer sebelum ia mulai berbicara. Penguasaan ruang panggung ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang koreografer bagi dirinya sendiri, yang mengerti bahwa bahasa tubuh adalah teks non-verbal yang sama pentingnya dengan kata-kata yang ia ucapkan.

Dampak dari sepak terjang Sugita di kancah seni Bali melampaui sekadar popularitas individu; ia telah menginspirasi sebuah ekosistem seni yang lebih kritis dan terdidik. Kehadirannya membuktikan bahwa menjadi seorang seniman tradisi tidak harus meninggalkan jalur pendidikan formal, justru sebaliknya, pendidikan mampu memperkaya khazanah kreatifitas. Ia menjadi antitesis bagi pandangan yang memisahkan dunia praktik seni dengan dunia pemikiran teoritis, menunjukkan bahwa keduanya dapat saling memperkuat satu sama lain dalam satu raga seniman.

I Wayan Sugita | Foto: Dok. pribadi

Melihat kembali perjalanan panjang karirnya, Sugita telah berhasil mengukir identitas yang khusus dan personal yang hampir mustahil untuk direplikasi secara identik oleh orang lain. Karakter Patih Agung miliknya adalah sebuah tanda tangan artistik yang autentik, lahir dari perpaduan antara bakat alamiah, ketekunan belajar, dan kepekaan sosial yang tinggi. Ia telah menjadikan panggung drama sebagai sebuah cermin besar bagi masyarakat Bali untuk melihat kembali kerumitan bahasa, budaya, dan struktur kekuasaan mereka sendiri.

Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si. layak disebut sebagai sang maestro yang berhasil memanusiakan antagonisme. Melalui ketajaman diksi, penguasaan literatur, dan integritas akademisnya, ia telah mengangkat derajat Drama Gong ke level yang lebih tinggi dalam peta seni pertunjukan dunia. Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya sekadar ingatan tentang peran yang hebat, tetapi sebuah metodologi tentang bagaimana seni tradisi seharusnya dirawat: dengan cinta yang mendalam, dedikasi yang tak tergoyahkan, dan intelegensi yang tajam. [T]

Penulis: I Gede Tilem Pastika
Editor: Adnyana Ole

Tags: drama gongin memoriamkesenian baliPatih Agungseni pertunjukanteater tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga UPTD pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Gali Masukan Lewat Forum Konsultasi Publik

Next Post

Guru dan Patriotisme yang Bocor

I Gede Tilem Pastika

I Gede Tilem Pastika

Dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar, seniman, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Guru dan Patriotisme yang Bocor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co