23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

Jaswanto by Jaswanto
January 28, 2026
in Liputan Khusus
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

Pura Ponjok Batu, pintu masuk kawasan Tejakula, Buleleng, Bali | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan oleh Raja Panji Sakti itu didapuk sebagai ibu kota Karesidenan Bali pada masa penjajahan Belanda.

Sejak awal abad 19, jalur perdagangan Bali-Lombok-Batavia sudah berkembang pesat, terutama untuk kebutuhan komoditas sandang dan pangan, selain budak, tentu saja. Pada awalnya, upaya membangun rute perdagangan di Bali sebenarnya lebih tampak di daerah bagian selatan. Namun, setelah menjelang runtuhnya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)—perusahaan dagang Belanda yang didirikan pada 1602—perdagangan Bali Selatan, khususnya di Kuta, Denpasar, mengalami kemunduran.

Oleh karena itu, berkat perubahan sosial, ekonomi, dan politik pada masa itu, pusat perdagangan Bali bergeser ke utara, tepatnya ke Singaraja. Ini membuat Buleleng, diakui atau tidak, menjadi daerah penting pada awal abad 20. Hal ini disebabkan oleh dua faktor penting, yakni Singaraja sebagai kota pelabuhan dan Singaraja sebagai pusat pemerintahan (ibu kota) di Bali dan Nusa Tenggara pada masa pemerintah Hindia Belanda. Namun, perlu diketahui, jalur dagang di Bali Utara sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Banyak peneliti mengakui, bahwa sejak zaman dulu, karena Bali Utara secara geografis letaknya sangat strategis, maka kontak-kontak dagang—hubungan antara Bali dengan Jawa dan wilayah lain di dalam maupun di luar Nusantara—lebih sering terjadi di wilayah Bali Utara dan sekitarnya daripada di Bali Selatan. Di samping itu, kondisi Laut Utara yang relatif kondusif sangat memudahkan perjalanan perahu-perahu dagang yang masih menggunakan sistem teknologi navigasi sederhana. (Bacalah kisah Raja Panji Sakti yang menyelamatkan perahu dagang Tiongkok di Pantai Penimbangan.)

Hal ini diperkuat dengan adanya hikayat pelabuhan-pelabuhan alam di wilayah Pesisir Utara, seperti Sangsit, Buleleng, Temukus, Gilimanuk, Pangkung Paruk, Tanjung Ser, Pacung, dan Sembiran—yang merupakan pintu masuk dan jalur perdagangan kuno di Bali Utara yang menghubungkan Bali dengan daerah lain di Nusantara.

Pada kisaran 1989, terbit sebuah penelitian berjudul “Ekskavasi Arkeologi di Situs Sembiran dan Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng” yang ditulis oleh I Wayan Ardika dan diterbitkan Universitas Udayana. Dalam penelitian tersebut Ardika meyakini bahwa Sembiran, Pacung, Julah, dan sekitarnya sudah menjadi pemukiman sekaligus penguburan—dan terdapat beberapa bukti aktivitas kontak budaya melalui perdagangan—jauh sebelum Belanda menjadikan Buleleng sebagai pusat perekonomian.

Keyakinan Ardika didasarkan pada temuan artefak berupa gerabah India yang berhiaskan rolet—diyakini berasal dari awal abad Masehi—dan manik-manik di sekitaran pantai Sembiran dan Pacung. Tak hanya Ardika, belakangan Bagyo Prasetyo dan Ambra Calo juga menulis artikel di situs Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan memperlihatkan bahwa Pantai Utara Bali, khususnya di wilayah sekitar Sembiran dan Pacung, pernah menjadi bagian dari jaringan awal perdagangan Trans-Asiatic kuno.

Priuk-priuk bulat seperti yang ditemukan di kawasan pesisir Sembiran-Pacung memiliki kemiripan dengan temuan di situs Gilimanuk di Bali Barat. Para ahli memperkirakan benada-benda kuno itu berasal dari masa perundagian atau pra-Hindu. Priuk-priuk bulat seperti itu pada umumnya difungsikan sebagai bekal kubur yang ditempatkan dekat dengan jasad manusia. Temuan-temuan itu menguatkan apa yang tercantum dalam Prasasti Kintamani C yang menyebutkan antara lain pertemuan para saudagar di Manasa dengan menggunakan transfortasi air “jukung atau perahu”.

Lalu, Tim Gabungan yang terdiri dari peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Australian National University, Balai Arkeologi Denpasar Universitas Udayana, dll., selama kurun waktu 2012-2013 juga menemukan banyak bukti adanya aktivitas bandar kuno di Sembiran dan Pacung berupa keramik dan perhiasan yang terkubur ratusan tahun lalu. Sebagai bukti terkuat, 20 lempengan perunggu yang mempunyai inskripsi atau catatan tertulis yang diperkirakan para ahli berasal dari kurun 922-1181 Masehi, ditemukan di Desa Julah.

Selain temuan-teman itu, bukti lain yang menguatkan bahwa daerah Tejakula dan sekitarnya merupakan kawasan jalur dagang Bali Kuna, yakni di Bali Utara juga ditemukan adanya kultus-keyakinan terhadap Putri Ayu Mas Subandar. Menurut Prof. Pageh (2017), guru besar Universitas Pendidikan Ganesha, hal ini terkait dengan penguasaan perdagangan di pantai utara Bali pada zaman Kerajaan Bali Aga—zaman pemerintahan Jayapangus dan istrinya Kang Cheng Wie yang berasal dari Tiongkok—meski ada pendapat yang mengatakan ini hanya sekadar mitos.

Dalam catatan sejarah, hampir semua pelabuhan kuno di Bali dilengkapi dengan Pura Syahbandar, sebagai bentuk pemujaan Ratu Ayu Mas Subandar—yang diyakini sebagai penguasa perdagangan. Ini menjadi bukti bahwa semarak perdagangan di Bali Utara dan sekitarnya sudah ada jauh sebelum Belanda menjadikan Singaraja sebagai kota pabean—bahkan mungkin sudah berlangsung sejak zaman pra-aksara.

Prasasti Menjadi Bukti

Selain temuan benda-benda seperti yang disebut di atas, situs-situs prasasti yang berserak dan ditemukan di daerah Bali Utara, khususnya di kawasan Sawan sampai Tejakula, juga merupakan bukti yang kuat bahwa ada jejak jalur dagang kuno di Bali Utara. Situs-situs ini merupakan pintu masuk peradaban Bali pada abad ke-I hingga XII Masehi. Dalam beberapa situs diketahui bahwa Sembiran, Julah, dan sekitarnya, misalnya, merupakan salah satu pelabuhan kuno di Bali yang penting dan menjadi bukti kuat (primer) bahwa kawasan tersebut merupakan jalur dagang antarnegeri pada masa yang jauh.

Prasasti Sembiran A IV (1065 M) lembar IX b, misalnya, menyebutkan “…jika ada saudagar dari seberang laut datang dengan perahu kecil dan perahu besar yang berlabuh di Manasa, biaya bersandar maksimal 1 masaka, dan harga itu lebih mahal (dilebihkan) bagi orang terkemuka… Tidak dikenai sumbangan pengawasan (pacasaku) dan tidak ada pemaksaan jika mereka menunjukkan surat perintah membayar biaya berlabuh yang ditulis oleh paduka raja.”

Pada bagian lain, Prasasti Sembiran menyebutkan eksistensi Pelabuhan Julah—“Tidak mendapat halangan untuk menurunkan hewan seperti kerbau, sapi, kambing, babi di pesisir pantai Desa Julah [tumurun irikanang pasisi I Julah].” Secara eksplisit, prasasti tersebut menyampaikan bahwa pada masa itu di Julah dan Manasa (mungkin terletak di antara Bungkulan-Sangsit) terdapat pelabuhan besar yang ramai.

Penyataan di atas diperkuat dengan keterangan dalam Prasasti Sembiran B (873 Saka atau 951 Masehi) yang menyatakan bahwa di Julah sudah ada perkampungan saudagar (banigrama). Artinya, Julah juga memiliki pasar yang representatif yang menjadi ruang niaga bagi para pelaku ekonomi dari berbagai negeri. Itu terbukti dengan adanya jabatan ser pasar (kepala pasar) di Desa Julah yang dijabat oleh Kumpi Bahugya. Dalam prasasti ini pula disebutkan istilah banigrama yang merujuk pada pedagang atau saudagar timah.

Jika kita telusuri lebih dalam, pada kisaran abad X Masehi, tampaknya perkampungan saudagar tidak hanya ada di Desa Julah saja. Tapi juga di beberapa tempat yang menjadi, katakanlah, wilayah pabean di Bali Utara, seperti misalnya di Manasa dan sekitarnya. Asumsi ini diperkuat dengan adanya ungkapan juru kling (keling) yang terekam dalam Prasasti Bulian A (1103 Saka atau 1181 Masehi) yang diterbitkan atas nama Raja Jayapangus dengan permaisurinya. Juru keling (atau kling) diartikan para ahli sebagai petugas pemerintah lokal yang khusus mendata atau mencatat penduduk asing yang berkewarganegaraan India. Pandataan tersebut barangkali ada kaitannya dengan pembayaran pajak atau semacamnya yang diperuntukan kepada warga negara asing.

Selain itu, beberapa prasasti menunjukkan bahwa sudah terdapat struktur dalam perdagangan di pelabuhan sejak dulu, seperti tertuang dalam Prasasti Bebetin A1 (896 M) yang menyebutkan “…jika ada para saudagar (seberang pulau) yang baru datang di sana (Pelabuhan Julah) agar yang bersangkutan didaftar dan dikenakan kewajiban (pajak) untuk bangunan suci Hyang Api.” Selanjutnya, “…jika ada saudagar (seberang pulau) yang meninggal di sana, agar harta warisannya dibagi dua.” Ini salah satu bentuk peraturan yang tegas tanpa tedeng aling-aling dan sebagai bukti kuatnya penguasaan atas wilayah tersebut.

Perdagangan antarpulau juga terekam dalam Prasasti Ujung (962 Saka /1040 Masehi) yang menyatakan “…apabila ada penduduk yang hendak berlayar ke Jawa [mare Jawa], ke Gurun [mare Gurun], atau daerah jauh di seberang dengan memakai perahu dan semacamnya, penduduk Desa Jung Hyang tidak dikenai pungutan.”

Sampai di sini, Tejakula (dalam hal ini sebut saja misalnya Desa Julah, Sembiran, Pacung, dan sekitarnya) mempunyai peranan penting dalam perdagangan pada masa Bali Kuna yang dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Sembiran atau Prasasti Kintamani D yang berangka tahun 1200 Masehi—yang menyebutkan bahwa hanya penduduk Kintamani yang boleh berjualan kapas di Desa Julah, Buhundalem, Peminggir, dan Les—atau prasasti-prasasti lainnya.

Jadi, mengacu pada isi prasasti-prasasti di atas, tak dapat dimungkiri bahwa, sekali lagi, Bali Utara menjadi wilayah yang memegang peranan penting dalam sejarah perdagangan intersuler (antarpulau) maupun antara kerajaan Bali Kuna dengan kerajaan-kerajaan lain di dalam dan di luar wilayah Nusantara.[T]

Daftar Bacaan

Ardika, I Wayan. (1989). Ekskavasi Arkeologi di Situs Sembiran dan Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Denpasar: Universitas Udayana.

Arta, Ketut Sedana. (2019). Perdagangan Di Bali Utara Zaman Kerajaan Bali Kuno Perspektif Geografi Kesejarahan. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, Vol. 5, No. 2.

Martini, Ni Kadek, Dewa Made Alit. Peranan Pelabuhan Buleleng Sebagai Pusat Pelayaran Dan Jalur Perdagangan Pada Masa Pemerintahan Hindia BelandaTahun 1846-1939. Denpasar: Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mahadewa Indonesia.

Pageh, I. M. (2017). Model Revitalisasi Ideologi Desa Pakraman Bali Aga Berbasis Kearifan Lokal. Jakarta: Rajawali Pers.

Sumerata, Wayan, Gendro Keling, Ati Rati Hidayah. (2017). Potensi Sumberdaya Arkeologi Maritim di Pesisir Pantai Tejakula, Buleleng, Bali. SBA VOL.20 NO.1/2017 Hal 66-78.

Sumarta, I Ketut. (2015). Batur: Jantung Peradaban Air Bali. Kuta: Wisnu Press.

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA ARTIKEL BERIKUTNYA:
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya
Tags: bulelengsejarahTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Next Post

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

by Made Adnyana Ole
February 13, 2025
0
Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam  Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus...

Read moreDetails
Next Post
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co