— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Januari 2026
Tadi siang saya diundang bercakap di podcast/YouTube channel “Case Closed” terkait dengan hari Nyepi yang konon ingin dipindahkan ke hari Tilem Kesanga atau dimajukan sehari.
Saya ajukan pertanyaan:
“Adakah yang merasa lebih mumpuni dibandingkan tabik Ida Pedanda Made Sidemen (Maha Pandita & Maha-Kawi), I Gusti Putu Djelantik (Raja Buleleng) dan I Gusti Bagus Sugriwa (Tokoh Spiritual & Mahaguru Sastra Kawi) dalam hal lontar-lontar leluhur dan agama Hindu-Bali?”
Tokoh terpilih bertiga yang sudah berpulang ini telah menulis dengan tegas berdasarkan berbagai bacaan lontar-lontar warisan leluhur Bali secara komprehensif dan berdasarkan pertimbangan faktual tradisi yang sudah berjalan berabad-abad bahwa Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilem Kesanga dan besoknya Nyepi.

A. Ida Pedanda Made Sidemen (Maha Pandita & Maha-Kawi).
Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilĕm Kesanga. Hal ini secara jelas disebutkan dalam lontar Pūrwāgama Śāsana (Śiwāgama) karya Ida Pedanda Made Sidemen, Griya Delod Pasar, Intaran, Sanur. Kutipannya disampaikan sebagai:
“Muwah ri tĕka ning satahun, tawuren Hyang Kadurgadewi,…
…ri tilĕm ing Cetramasa… …diwasa, cetra masa, krĕṣṇapaksa pañcadaśi…”.
Lontar Pūrwāgama Śāsana (Śiwāgama) ditulis tahun 1938 atas permintaan Raja Badung untuk dijadikan pedoman Kerajaan Badung.
Tim Pengkajian Naskah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali (2002) telah meneliti 3 lontar Pūrwāgama Śāsana: Koleksi I Tekek dari Renon Kelod, Delod Rurung, Denpasar, I Gusti Agung Gede Rai Sulurda, Puri Anyar, Mambal, dan Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana.

B. I Gusti Putu Djelantik (Raja Buleleng)
IGP Djelantik, tanggal 28-9-1912, menulis Indik Sasepen, Hal Menjepi, mengutip lontar Usana Bali yang menyatakan bahwa Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem Kesanga dan esok harinya dilaksanakan Nyepi atau Sasepen:
“…di seluruh wilayah pedesaan pada Hari Tilem Kesanga, pada hari bulan mati Sasih Cetra, pada saat itu masyarakat desa melaksanakan upacara “Mecaru Agung”. …disertai dengan memukul kentongan “mamulus”, disertai sorak yang sangat ramainya. Setelah itu, keesokan harinya, tiada dibolehkan orang berlalu di seluruh jalanan, tiada boleh dilanggar ketentuan tersebut serta tiada boleh masyarakat desa memasak serta tiada boleh menghidupkan api...”.

C. I Gusti Bagus Sugriwa (Tokoh Spiritual & Mahaguru Sastra Kawi).
I Gusti Bagus Sugriwa dalam artikel petunjuk pelaksanaan dan mantra/doa pada Hari Raja Njepi, dimuat dalam Damai Tahun Ke-I No. 1, 17 Maret 1953, secara sangat tegas menyatakan Macaru atau Tawur dilaksanakan pada Tilem Kesanga dan besoknya dilaksanakan Brata Penyepian:
“Waktu hari Tilem itu, pada sore harinya diadakan persembahan kepada Tuhan Hyang Widhi-Waśa dan Hyang Surya dan Bulan. Lain dari itu diadakan pula korban kepada pertiwi dan jiwa-jiwa yang rendah tempatnya, dinamai : macaru.”
Dalam podcast/YouTube channel “Case Closed” saya tidak merasa perlu lagi beropini terkait hari Nyepi.
Jika umat Hindu Bali tidak mengenal dan tidak menjadikan ketiganya sebagai panutan, rujukan, atau referensi dalam menjalani kehidupan Hindu Bali, kepada siapa umat Hindu Bali merujuk? Jika ketiga sosok agung nan mumpuni yang berlimpah pengetahuan suci tersebut tidak diterima, lantas masa depan Hindu Bali kita serahkan pada opini liar di sosial media?
Siapalah saya dibandingkan Ida Pedanda Made Sidemen, I Gusti Putu Djelantik dan I Gusti Bagus Sugriwa?
Btw, siapa juga Anda?


























