25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengar Al-Quran Malam-Malam

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 27, 2026
in Esai
Mendengar Al-Quran Malam-Malam

Penulis: Angga Wijaya Editor: Adnyana Ole

MESKI bukan terlahir sebagai muslim, Islam begitu dekat dengan kehidupan saya. Lahir dan dibesarkan di kota kecil yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sejak kecil saya terbiasa mendengar suara adzan penanda waktu shalat. Dari pengeras suara masjid dan langgar atau musala, lantunan ayat suci Al-Quran saya rasakan begitu syahdu, meneduhkan hati.

Al-Quran seperti bait-bait puisi yang dilantunkan. Itu yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Saya ingin tahu lebih banyak tentang itu. Kanjeng Nabi pun dikatakan juga adalah seorang penyair. Di masa lalu, syair adalah ungkapan hati yang mewujud dalam kata-kata. Tak berlebihan jika saya merasakan Al-Quran begitu puitis. Pun malam kemarin, saya mendengar lantunan Al-Quran yang saya unduh dari internet. Damai begitu terasa.

Pendekatan sastra atau puisi atas Al-Quran dan juga kitab-kitab suci lain saya rasa perlu ditengok kembali. Memaknai agama sebagai sebuah rasa, sebagai olah batin yang sering dilupakan orang.  Kesadaran semacam itu tentu tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, mengikuti usia, mengikuti ingatan, mengikuti bunyi-bunyi yang sejak kecil akrab di telinga saya.

Saya tidak ingat persis kapan pertama kali benar-benar mendengar Al-Quran dengan sadar. Barangkali sejak kanak-kanak, barangkali sejak suara-suara itu sudah menjadi bagian dari udara yang saya hirup setiap hari. Di kota kecil tempat saya tumbuh, masjid tidak pernah terasa jauh. Ia hadir seperti tetangga yang tidak banyak bicara, tetapi selalu ada.

Suara itu datang dari pengeras suara yang kadang sedikit sember, kadang terlalu nyaring, kadang tenggelam oleh angin laut. Ia tidak selalu indah secara teknis. Ada hari-hari ketika bacaannya tergesa, ada malam-malam ketika nadanya goyah. Tetapi justru di situ saya merasa dekat. Ia tidak tampil sebagai sesuatu yang agung dan jauh, melainkan sebagai suara manusia yang sedang berusaha sebaik mungkin menyebut nama Tuhan-nya.

Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan dengan banyak keyakinan, saya belajar lebih dulu membedakan bunyi sebelum membedakan ajaran. Saya mengenali adzan sebelum mengenal maknanya. Saya hafal irama Tri Sandhya sebelum tahu kisah-kisah para dewa. Dunia datang kepada saya sebagai suara, bukan sebagai penjelasan.

Kadang saya berhenti bermain hanya untuk mendengarkan sebentar. Bukan karena mengerti, melainkan karena ada ketenangan aneh yang turun bersama suara itu. Sejenis jeda yang membuat sore terasa lebih panjang, lebih lapang. Ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tersimpan seperti gema yang sewaktu-waktu muncul kembali, terutama ketika malam terasa terlalu ramai oleh pikiran sendiri. Barangkali dari situlah semuanya bermula. Dari kebiasaan kecil seorang anak yang tanpa sadar belajar diam, belajar mendengar, sebelum belajar memahami.

Saya tidak mengerti bahasa Arab dengan baik. Yang saya pahami hanya potongan-potongan kecil, itu pun lebih sering lewat terjemahan. Tetapi ketika Al-Quran dibaca, ada sesuatu yang bekerja lebih dulu sebelum makna sempat disusun di kepala. Nada yang naik turun, jeda di antara ayat, panjang pendek tarikan napas, semuanya seperti sedang menulis sesuatu di udara. Bukan kalimat yang bisa saya salin, melainkan perasaan yang menetap sebentar lalu mengendap pelan.

Mungkin benar, seperti yang pernah saya baca, bahwa Al-Quran juga lahir di tengah tradisi lisan yang kuat, di dunia yang menghormati syair, irama, dan keindahan bunyi. Ia bukan hanya kumpulan perintah dan larangan, tetapi juga susunan suara yang dirawat dengan penuh hormat.

Sebagai seseorang yang hidup dari kata-kata, dari kalimat yang sering kali goyah dan ragu, saya merasa dekat dengan cara kitab suci itu memperlakukan bahasa. Tidak tergesa. Tidak asal. Setiap bunyi seolah dipilih dengan sabar. Di situlah, barangkali, hubungan saya dengan Al-Quran bermula. Bukan dari keyakinan teologis, melainkan dari kekaguman yang sangat manusiawi terhadap bunyi yang indah.

Saya paling sering mendengarnya di malam hari. Ketika kota sudah mengecil menjadi suara kipas angin dan dengung listrik yang letih. Ketika pesan-pesan di ponsel mulai sepi dan pikiran tidak lagi punya tempat untuk berlari. Saya berbaring, membiarkan layar ponsel redup, dan suara itu mengisi ruang yang biasanya dipenuhi kegelisahan kecil. Tentang hari yang tidak selalu ramah. Tentang pekerjaan yang kadang terasa seperti jalan panjang tanpa penunjuk arah. Tentang tubuh yang menua tanpa pernah benar-benar diajak berunding.

Lantunan ayat itu tidak menjawab apa pun secara langsung. Ia tidak menyodorkan solusi. Tidak menawarkan jalan keluar yang praktis. Ia hanya hadir, seperti seseorang yang duduk di samping kita tanpa banyak bicara. Anehnya, justru di situ saya merasa ditemani.

Tidak sebagai pemeluk. Tidak sebagai bagian dari barisan apa pun. Hanya sebagai manusia yang kebetulan sedang mendengar. Malam membuat segalanya terasa lebih jujur. Bunyi tidak bisa berpura-pura. Ia terdengar apa adanya. Getarannya sampai ke dada tanpa perlu izin.Dan saya membiarkan diri saya tinggal di situ sejenak, di antara gelap dan terang layar ponsel, di antara suara yang datang dari jauh dan tubuh yang masih terjaga.

Namun kedekatan itu tidak selalu terasa sederhana. Ada saat-saat ketika saya bertanya pada diri sendiri, apakah wajar mencintai sesuatu yang bukan bagian dari identitas saya. Apakah mendengar Al-Quran hanya sebagai bunyi adalah bentuk pengkhianatan yang halus, baik terhadap keyakinan orang lain maupun terhadap diri sendiri.

Saya tidak ingin menjadi turis spiritual, datang sebentar, menikmati keindahan, lalu pergi tanpa tanggung jawab. Saya juga tidak ingin sok memahami sesuatu yang saya tahu tidak sepenuhnya saya hidupi. Di situ kegelisahan kecil itu tumbuh. Saya belajar menjaga jarak yang sopan. Menikmati tanpa mengklaim. Mendengar tanpa merasa berhak berbicara terlalu jauh.

Barangkali posisi saya memang selalu di pinggir, di kursi penonton yang tidak pernah naik ke panggung. Tetapi dari sana, saya justru bisa melihat dengan lebih jernih, bahwa iman, dalam bentuk apa pun, selalu berangkat dari kerentanan manusia. Dan kerentanan itu, anehnya, terasa sangat akrab.

Di kota kecil tempat saya tumbuh, bunyi bukan sekadar suara. Ia adalah penanda waktu, penanda hidup, penanda bahwa manusia sedang saling mengabari keberadaannya. Pagi dibuka oleh adzan subuh yang memantul dari tembok-tembok rumah. Siang diisi oleh deru sepeda motor dan teriakan anak-anak pulang sekolah. Sore ditutup oleh lantunan Tri Sandhya dari pura yang diputar  perlahan, seperti mengingatkan bahwa matahari tak pernah benar-benar menunggu siapa pun.

Bunyi-bunyi itu hidup berdampingan tanpa pernah merasa perlu saling mengalahkan. Masjid dan pura berdiri tidak jauh. Kadang suaranya tumpang tindih, kadang saling menyahut, kadang bergantian mengisi udara. Saya tumbuh di antara itu semua, belajar mengenali irama tanpa harus memberi nama pada keyakinan orang lain.

Mungkin karena itulah, hingga hari ini, saya lebih mudah percaya pada bunyi daripada pada penjelasan panjang tentang iman. Bunyi tidak menuntut persetujuan. Ia hanya datang, menyentuh, lalu pergi. Seperti hujan yang tidak pernah bertanya kepada atap rumah siapa ia akan jatuh.

Di malam-malam tertentu, ketika kota kecil itu sudah jauh dalam ingatan, saya masih bisa mendengarnya kembali. Adzan yang samar, bacaan Al-Quran yang mengalun pelan, suara serangga, dan kadang langkah orang lewat yang tergesa. Semua bercampur menjadi semacam musik yang tidak pernah direkam secara resmi, tetapi menetap paling lama di kepala.

Saya kira, di situlah agama menemukan bentuknya yang paling sederhana dan paling manusiawi. Bukan pada spanduk besar, bukan pada perdebatan di televisi, bukan pada angka-angka statistik. Melainkan pada bunyi yang menemani seseorang pulang ke dirinya sendiri.

Al-Quran, dalam pengalaman saya, adalah salah satu bunyi itu. Ia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi apa pun. Ia hanya singgah, seperti angin malam yang lewat di sela jendela, meninggalkan rasa sejuk yang pelan-pelan mengendap di dada.

Pada akhirnya, saya tidak pernah benar-benar tahu harus meletakkan pengalaman mendengar Al-Quran ini di rak yang mana dalam hidup saya. Ia bukan pelajaran agama. Ia bukan pula petunjuk untuk berpindah keyakinan. Ia lebih mirip sebuah kebiasaan kecil yang tumbuh diam-diam, seperti tanaman liar di sela retakan beton, tidak dirawat, tetapi juga tidak mati.

Saya mendengarkannya tanpa niat menjadi siapa pun. Tanpa rencana. Tanpa ambisi spiritual yang besar. Hanya sebagai seseorang yang, pada malam-malam tertentu, membutuhkan suara lain selain pikirannya sendiri. Barangkali itulah cara saya beriman pada sesuatu yang lebih luas dari sekadar nama-nama. Dengan mendengar. Dengan membiarkan bunyi bekerja di dalam dada, tanpa buru-buru menafsirkannya.

Saya tahu, di luar sana, agama sering tampil dalam wajah yang keras, penuh klaim, penuh garis batas. Tetapi di kamar sempit saya, dengan lampu redup dan layar ponsel yang hampir mati, Al-Quran datang dalam wujud yang lain. Sebagai suara yang pelan. Sebagai jeda. Sebagai istirahat. Saya tidak membawa suara itu ke mana-mana. Saya tidak menjadikannya identitas. Saya hanya membiarkannya tinggal sebentar, lalu pergi.

Seperti tamu malam yang sopan. Datang tanpa mengetuk terlalu keras. Pergi tanpa meninggalkan kewajiban apa pun. Dan mungkin, di zaman ketika semua orang ingin terdengar, memilih untuk mendengar adalah bentuk keberanian yang paling sederhana.

Saya menulis bagian ini bukan untuk menambah pembenaran, melainkan untuk memperpanjang jeda. Kadang tulisan memang tidak selalu ingin sampai ke tujuan. Ia hanya ingin berjalan sedikit lebih lama, menyusuri sisa-sisa pertanyaan yang belum menemukan bangku untuk duduk.

Dalam hidup yang semakin ramai oleh pendapat, oleh keharusan memilih posisi, oleh kewajiban menunjukkan keberpihakan, mendengar sering dianggap sebagai sikap yang setengah-setengah. Tidak cukup tegas. Tidak cukup berani. Padahal bagi saya, mendengar justru menuntut keberanian yang lain. Keberanian untuk tidak segera menguasai. Keberanian untuk tidak mengubah segala hal menjadi milik sendiri.

Saya belajar itu perlahan, dari banyak peristiwa kecil. Dari percakapan dengan orang-orang yang tidak saya pahami sepenuhnya. Dari pertemuan singkat di terminal, di ruang tunggu rumah sakit, di sudut warung kopi yang lampunya selalu temaram. Dari cara ibu angkat saya dulu mendengarkan cerita tetangga tanpa pernah merasa perlu memberi nasihat. Dari wajah-wajah yang tidak meminta diselamatkan, hanya ingin didengarkan.

Barangkali, mendengar Al-Quran di malam hari adalah kelanjutan dari kebiasaan itu. Sebuah latihan untuk tidak tergesa menilai. Untuk tidak buru-buru menutup pintu hanya karena saya merasa tidak diundang masuk sepenuhnya.

Agama, dalam banyak pengalaman manusia, sering berubah menjadi bangunan yang tinggi, dengan pintu-pintu berat dan jendela sempit. Tidak semua orang berani mendekat, tidak semua orang diizinkan masuk. Tetapi bunyi, suara, getaran, tidak mengenal arsitektur semacam itu. Ia menyusup melalui celah sekecil apa pun. Ia melompati pagar tanpa harus merusaknya.

Di situlah saya menemukan bentuk lain dari kebersamaan. Bukan kebersamaan dalam satu barisan, melainkan kebersamaan sebagai sesama pendengar. Sesama makhluk yang sama-sama rapuh di hadapan malam, sama-sama membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, entah itu disebut Tuhan, semesta, atau sekadar ketenangan.

Saya tidak tahu apakah pengalaman ini penting bagi orang lain. Mungkin tidak. Ia terlalu kecil untuk dijadikan teori. Terlalu pribadi untuk dijadikan pedoman. Tetapi bagi saya, ia cukup untuk menjadi penanda bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan suara keras.

Ada hari-hari ketika saya lelah menjadi wartawan, menjadi penulis, menjadi seseorang yang dituntut terus berbicara. Ada hari-hari ketika kata-kata terasa seperti barang dagangan yang harus segera ditukar dengan perhatian. Di titik-titik seperti itu, mendengar menjadi semacam pulang yang sederhana.

Saya mematikan lampu. Membiarkan kamar tenggelam dalam warna putih yang telah memudar. Lalu suara itu datang, pelan, tidak mendesak, tidak memanggil nama saya. Dan justru karena tidak memanggil, saya merasa lebih bebas untuk tinggal sebentar.

Mungkin inilah yang selama ini saya cari dari banyak buku, dari puisi, dari perjalanan yang sering berakhir sebagai catatan kaki. Sebuah pengalaman religius tanpa upacara. Sebuah perjumpaan tanpa kewajiban untuk mengikatkan diri seumur hidup.

Saya tidak ingin mengidealkan posisi ini. Ia juga penuh keraguan. Kadang saya takut terlalu nyaman berada di pinggir, takut menggunakan jarak sebagai alasan untuk tidak terlibat sepenuhnya dengan dunia. Tetapi setidaknya, saya jujur pada cara saya merasa. Bahwa ada keindahan yang cukup dinikmati dari jauh. Bahwa ada doa yang cukup didengar tanpa harus diucapkan. Bahwa ada kitab suci yang bisa kita hormati tanpa harus kita miliki.

Dalam dunia yang gemar mengubah segala sesuatu menjadi identitas, pilihan untuk tetap menjadi pendengar mungkin terdengar ganjil. Tetapi saya tidak menemukan posisi lain yang lebih sesuai dengan tubuh dan batin saya saat ini.

Saya adalah seseorang yang tumbuh di antara bunyi-bunyi, di antara keyakinan-keyakinan, di antara definisi-definisi yang sering saling bertabrakan. Jika ada yang tetap utuh dari semua itu, barangkali hanya kemampuan untuk duduk diam dan membiarkan sesuatu bekerja di dalam diri tanpa harus segera diberi nama. Dan jika suatu hari nanti saya berhenti mendengarkan Al-Quran, saya kira tidak ada yang perlu disesali. Pengalaman ini tidak menuntut kesetiaan. Ia hanya menawarkan kemungkinan.

Kemungkinan bahwa manusia bisa saling mendekat tanpa harus saling memiliki. Kemungkinan bahwa damai tidak selalu lahir dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk membuka telinga dan menurunkan suara sendiri. Saya menutup tulisan ini seperti saya menutup malam-malam itu. Tanpa kesimpulan besar. Tanpa pernyataan iman. Hanya dengan rasa cukup.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Al-Qur'anbaliIslam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 IDA PEDANDA MADE SIDEMEN, IGP DJELANTIK & IGB SUGRIWA:  TAWUR DILAKSANAKAN PADA TILEM KESANGA

Next Post

Lima Remaja, Satu Cerita: It’s Stellar Memulai Langkah Lewat ‘Berdansa dalam Cerita’

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Lima Remaja, Satu Cerita: It’s Stellar Memulai Langkah Lewat ‘Berdansa dalam Cerita’

Lima Remaja, Satu Cerita: It’s Stellar Memulai Langkah Lewat ‘Berdansa dalam Cerita’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co