23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Asu Gede Menang Kerahé’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 17, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah Jawa yang tidak pernah dikenalkan di kelas hubungan internasional, tapi mungkin harus diperkenalkan sebagai “teori baru” politik internasional, karena berkali-kali terbukti kebenarannya, yaitu pepatah yang berbunyi asu gede menang kerahé. Asu artinya anjing, gede artinya besar, menang ya menang, kerah artinya berkelahi tapi khusus untuk hewan, akhiran e  adalah akhiran nya.

Jadi pepatah itu artinya, anjing yang badannya besar hampir pasti menang kalau berkelahi. Dalam dunia peranjingan, memang tidak perlu alasan moral, tidak perlu legitimasi etis. Yang pokok cukup kuat, cukup besar, cukup menakutkan. Nah, kasus Venezuela versus Amerika Serikat adalah edisi terbaru dari pepatah tua itu, dengan kemasan modern bertajuk geopolitik energi.

Jadi, negara Amerika tidak datang ke Venezuela dengan diplomasi setara, tidak pula dengan kerja sama ekonomi yang fair. Ia datang dengan tekanan, pengambilalihan, dan narasi penyelamatan. Saat minyak Venezuela menjadi target, kedaulatan menjadi nonsense. Dunia menyaksikan dengan terpana, PBB dehem-dehem kecil, lalu senyap. Seolah dunia terhenyak dan sadar bahwa Ini bukan penyimpangan sistem. Ya inilah cara kerja sistem.

Ketika Dominasi Menyamar sebagai Akal Sehat

Saat masih mahasiswa saya berkenalan dengan pemikiran Antonio Gramsci.  Dia  menyebut dominasi semacam ini sebagai hegemoni, yaitu kekuasaan yang tidak selalu memaksa dengan senjata meski kalau perlu bisa saja, tapi utamanya adalah membentuk cara berpikir. Yang kuat tidak hanya menguasai sumber daya, tapi juga menguasaimakna.

Relevansinya di sini,Amerikatidak berkata, “Ven, kami ambil minyakmu ya,  karena kami kuat .” Itu terlalu blak-blakan dan naif. Tapi yang dikatakan adalah ini semua demi demokrasi, demi stabilitas, dan tentu demi rakyat Venezuela sendiri.

Narasi ini semacam ini penting. Dan soal begini sepertinya Amerika adalah jagonya. Sebab hegemoni segera bekerja ketika dunia mengangguk setuju dan merasa bahwa, ini masuk akal juga. Pada titik itu, perampasan tidak lagi terasa seperti perampasan, melainkan seperti kebijakan yang baik untuk semua.  Dan di sinilah Venezuela kalah bukan hanya dalam kerah fisik, tapi juga dalam kerah wacana.  Meski tidak di konteks peranjingan tapi toh, anjing!, juga akhirnya.

Bicara tentang anjing yang berbaku hantam, tentu bicara tentang power dan violence, dan Hannah Arendt membedakan antara power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama, namun violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Negara yang benar-benar sah sebenarnya tidak perlu terus-menerus memamerkan otot. Dalam kasus Venezuela di sini menunjukkan adanya paradoks.

Alih-alih memperkuat tatanan hukum internasional,mengingat dia kuat, malah tindakan sepihak Amerika ini justru mengonfirmasi satu hal pasti bahwa hukum hanya berlaku jika tidak mengganggu kepentingan yang kuat. Pelan-pelan kita tengok ke PBB. Dia kini menjadi  menjadi simbol tragis dari dilema Arendtia.

Institusi hukum global memang ada, tapi kekuasaannya timpang. Ketika negara besar bertindak semau dia, hukum internasional kontan berubah menjadi arsip, bukan lagi rambu. Jadi teringat dengan Banwaslu kita saya kira, sewaktu ada pemilihan sesuatu atau seseorang di beberapa saat lalu.

Jangan-Jangan Kita Sedang Antre?

Kwame Nkrumah sang pemimpin perjuangan Ghana melawan kolonialisme Inggris, yang menjadikan Ghana negara Afrika pertama yang merdeka di era modern,  sudah lama mengingatkan dunia Global South, bahwa kolonialisme tidak mati, melainkan cuma berganti baju. Neo-kolonialisme bekerja bukan lewat pendudukan, tapi lewat kontrol ekonomi, energi, dan kebijakan strategis.

Venezuela adalah contoh jelas di depan mata, suatu negara berdaulat secara formal, tapi rapuh secara struktural. Makanya, ketika minyak yang jadi urat nadi ekonomi Venezuela tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya sendiri, maka kedaulatan tinggal slogan. Dan dalam nuansa deg-degan, di sinilah refleksi itu mulai mendekat ke rumah kita sendiri, Indonesia Tanah Air Beta. Ngeri-ngeri sedap ini.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita di Indonesia ini sering merasa aman karena tidak sedang disanksi. Tapi justru di situlah bahayanya. Neo-kolonialisme modern tidak selalu datang dengan konflik terbuka. Ia datang lewat ketergantungan energi, impor BBM yang kronis, kebijakan yang rasional secara pasar tapi timpang secara kedaulatan. Nah, sudah terjadi atau belum?

Kita punya sumber daya, banyak dan macam-macam. Tapi pertanyaannya bukan punya atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang menikmati nilai tambahnya?Jika energi masih mudah ditekan lewat pasar global, jika kebijakan energi lebih takut pada reaksi investor daripada kebutuhan rakyat, jika hilirisasi berhenti di pidato, maka Indonesia tidak perlu diinvasi untuk dikendalikan.  Cukup ditekan pelan. 

Inilah pelajaran yang keras dari Venezuela. Secara terang-terangan dia diinvasi. Di tempat lain, negara besar tidak selalu perlu kekerasan terbuka. Ancaman, sinyal pasar, atau tekanan diplomatik seringkali sudah cukup. Yang kecil akan menyesuaikan diri, lalu menyebutnya sebagai tindakan realistis. Filsafat Jawa sudah membaca ini jauh sebelum teori kritis lahir.  Sasmita narendra, bahwa kekuasaan tidak perlu bicara keras. Yang kecil harus peka membaca tanda, bahwaancaman tak perlu diucapkan.

Kewaspadaan Bukan Paranoia

Refleksi ini bukan ajakan anti Amerika, dan juga bukan glorifikasi kekerasan. Ini ajakan untuk kita agar melek struktur. Perlu disadari penuh bahwa, dunia tidak bergerak oleh niat baik semata atau silat lidah main logika. Dunia digerakkan oleh relasi kuasa.

Indonesia tidak harus menjadi asu gede yang menggigit ke sana-sini.  Tapi Indonesia harus cukup besar, cukup mandiri, dan cukup cerdas agar tidak diajak kerah seenaknya, lalu kalah. Karena jika kita tidak mengusahakan hal-hal itu, yang setahu saya tercantum di Pembukaan UUD kita, hampir pasti kita hanya akan dijarah halus-halus.

Sejarah tidak akan bertanya siapakah yang bermoral . Ia hanya akan mencatat,  siapa yang kuat, dan siapa yang bisa ditekan. Dan sekali lagi, pepatah Jawa itu akan tertawa kecil dari pinggir sejarah.Asu gede menang kerahé. Atau saya tulis saja, AS-u gede menang kerahé. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika Serikathubungan internasionalIndonesiapolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Berhenti, Nada-Nada Bernyanyi, Ketika 70 Penabuh Gender Wayang Ngayah di Pura Dalem Gede Sukawati

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co