4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Asu Gede Menang Kerahé’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 17, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah Jawa yang tidak pernah dikenalkan di kelas hubungan internasional, tapi mungkin harus diperkenalkan sebagai “teori baru” politik internasional, karena berkali-kali terbukti kebenarannya, yaitu pepatah yang berbunyi asu gede menang kerahé. Asu artinya anjing, gede artinya besar, menang ya menang, kerah artinya berkelahi tapi khusus untuk hewan, akhiran e  adalah akhiran nya.

Jadi pepatah itu artinya, anjing yang badannya besar hampir pasti menang kalau berkelahi. Dalam dunia peranjingan, memang tidak perlu alasan moral, tidak perlu legitimasi etis. Yang pokok cukup kuat, cukup besar, cukup menakutkan. Nah, kasus Venezuela versus Amerika Serikat adalah edisi terbaru dari pepatah tua itu, dengan kemasan modern bertajuk geopolitik energi.

Jadi, negara Amerika tidak datang ke Venezuela dengan diplomasi setara, tidak pula dengan kerja sama ekonomi yang fair. Ia datang dengan tekanan, pengambilalihan, dan narasi penyelamatan. Saat minyak Venezuela menjadi target, kedaulatan menjadi nonsense. Dunia menyaksikan dengan terpana, PBB dehem-dehem kecil, lalu senyap. Seolah dunia terhenyak dan sadar bahwa Ini bukan penyimpangan sistem. Ya inilah cara kerja sistem.

Ketika Dominasi Menyamar sebagai Akal Sehat

Saat masih mahasiswa saya berkenalan dengan pemikiran Antonio Gramsci.  Dia  menyebut dominasi semacam ini sebagai hegemoni, yaitu kekuasaan yang tidak selalu memaksa dengan senjata meski kalau perlu bisa saja, tapi utamanya adalah membentuk cara berpikir. Yang kuat tidak hanya menguasai sumber daya, tapi juga menguasaimakna.

Relevansinya di sini,Amerikatidak berkata, “Ven, kami ambil minyakmu ya,  karena kami kuat .” Itu terlalu blak-blakan dan naif. Tapi yang dikatakan adalah ini semua demi demokrasi, demi stabilitas, dan tentu demi rakyat Venezuela sendiri.

Narasi ini semacam ini penting. Dan soal begini sepertinya Amerika adalah jagonya. Sebab hegemoni segera bekerja ketika dunia mengangguk setuju dan merasa bahwa, ini masuk akal juga. Pada titik itu, perampasan tidak lagi terasa seperti perampasan, melainkan seperti kebijakan yang baik untuk semua.  Dan di sinilah Venezuela kalah bukan hanya dalam kerah fisik, tapi juga dalam kerah wacana.  Meski tidak di konteks peranjingan tapi toh, anjing!, juga akhirnya.

Bicara tentang anjing yang berbaku hantam, tentu bicara tentang power dan violence, dan Hannah Arendt membedakan antara power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama, namun violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Negara yang benar-benar sah sebenarnya tidak perlu terus-menerus memamerkan otot. Dalam kasus Venezuela di sini menunjukkan adanya paradoks.

Alih-alih memperkuat tatanan hukum internasional,mengingat dia kuat, malah tindakan sepihak Amerika ini justru mengonfirmasi satu hal pasti bahwa hukum hanya berlaku jika tidak mengganggu kepentingan yang kuat. Pelan-pelan kita tengok ke PBB. Dia kini menjadi  menjadi simbol tragis dari dilema Arendtia.

Institusi hukum global memang ada, tapi kekuasaannya timpang. Ketika negara besar bertindak semau dia, hukum internasional kontan berubah menjadi arsip, bukan lagi rambu. Jadi teringat dengan Banwaslu kita saya kira, sewaktu ada pemilihan sesuatu atau seseorang di beberapa saat lalu.

Jangan-Jangan Kita Sedang Antre?

Kwame Nkrumah sang pemimpin perjuangan Ghana melawan kolonialisme Inggris, yang menjadikan Ghana negara Afrika pertama yang merdeka di era modern,  sudah lama mengingatkan dunia Global South, bahwa kolonialisme tidak mati, melainkan cuma berganti baju. Neo-kolonialisme bekerja bukan lewat pendudukan, tapi lewat kontrol ekonomi, energi, dan kebijakan strategis.

Venezuela adalah contoh jelas di depan mata, suatu negara berdaulat secara formal, tapi rapuh secara struktural. Makanya, ketika minyak yang jadi urat nadi ekonomi Venezuela tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya sendiri, maka kedaulatan tinggal slogan. Dan dalam nuansa deg-degan, di sinilah refleksi itu mulai mendekat ke rumah kita sendiri, Indonesia Tanah Air Beta. Ngeri-ngeri sedap ini.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita di Indonesia ini sering merasa aman karena tidak sedang disanksi. Tapi justru di situlah bahayanya. Neo-kolonialisme modern tidak selalu datang dengan konflik terbuka. Ia datang lewat ketergantungan energi, impor BBM yang kronis, kebijakan yang rasional secara pasar tapi timpang secara kedaulatan. Nah, sudah terjadi atau belum?

Kita punya sumber daya, banyak dan macam-macam. Tapi pertanyaannya bukan punya atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang menikmati nilai tambahnya?Jika energi masih mudah ditekan lewat pasar global, jika kebijakan energi lebih takut pada reaksi investor daripada kebutuhan rakyat, jika hilirisasi berhenti di pidato, maka Indonesia tidak perlu diinvasi untuk dikendalikan.  Cukup ditekan pelan. 

Inilah pelajaran yang keras dari Venezuela. Secara terang-terangan dia diinvasi. Di tempat lain, negara besar tidak selalu perlu kekerasan terbuka. Ancaman, sinyal pasar, atau tekanan diplomatik seringkali sudah cukup. Yang kecil akan menyesuaikan diri, lalu menyebutnya sebagai tindakan realistis. Filsafat Jawa sudah membaca ini jauh sebelum teori kritis lahir.  Sasmita narendra, bahwa kekuasaan tidak perlu bicara keras. Yang kecil harus peka membaca tanda, bahwaancaman tak perlu diucapkan.

Kewaspadaan Bukan Paranoia

Refleksi ini bukan ajakan anti Amerika, dan juga bukan glorifikasi kekerasan. Ini ajakan untuk kita agar melek struktur. Perlu disadari penuh bahwa, dunia tidak bergerak oleh niat baik semata atau silat lidah main logika. Dunia digerakkan oleh relasi kuasa.

Indonesia tidak harus menjadi asu gede yang menggigit ke sana-sini.  Tapi Indonesia harus cukup besar, cukup mandiri, dan cukup cerdas agar tidak diajak kerah seenaknya, lalu kalah. Karena jika kita tidak mengusahakan hal-hal itu, yang setahu saya tercantum di Pembukaan UUD kita, hampir pasti kita hanya akan dijarah halus-halus.

Sejarah tidak akan bertanya siapakah yang bermoral . Ia hanya akan mencatat,  siapa yang kuat, dan siapa yang bisa ditekan. Dan sekali lagi, pepatah Jawa itu akan tertawa kecil dari pinggir sejarah.Asu gede menang kerahé. Atau saya tulis saja, AS-u gede menang kerahé. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika Serikathubungan internasionalIndonesiapolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Berhenti, Nada-Nada Bernyanyi, Ketika 70 Penabuh Gender Wayang Ngayah di Pura Dalem Gede Sukawati

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co