25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Asu Gede Menang Kerahé’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 17, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah Jawa yang tidak pernah dikenalkan di kelas hubungan internasional, tapi mungkin harus diperkenalkan sebagai “teori baru” politik internasional, karena berkali-kali terbukti kebenarannya, yaitu pepatah yang berbunyi asu gede menang kerahé. Asu artinya anjing, gede artinya besar, menang ya menang, kerah artinya berkelahi tapi khusus untuk hewan, akhiran e  adalah akhiran nya.

Jadi pepatah itu artinya, anjing yang badannya besar hampir pasti menang kalau berkelahi. Dalam dunia peranjingan, memang tidak perlu alasan moral, tidak perlu legitimasi etis. Yang pokok cukup kuat, cukup besar, cukup menakutkan. Nah, kasus Venezuela versus Amerika Serikat adalah edisi terbaru dari pepatah tua itu, dengan kemasan modern bertajuk geopolitik energi.

Jadi, negara Amerika tidak datang ke Venezuela dengan diplomasi setara, tidak pula dengan kerja sama ekonomi yang fair. Ia datang dengan tekanan, pengambilalihan, dan narasi penyelamatan. Saat minyak Venezuela menjadi target, kedaulatan menjadi nonsense. Dunia menyaksikan dengan terpana, PBB dehem-dehem kecil, lalu senyap. Seolah dunia terhenyak dan sadar bahwa Ini bukan penyimpangan sistem. Ya inilah cara kerja sistem.

Ketika Dominasi Menyamar sebagai Akal Sehat

Saat masih mahasiswa saya berkenalan dengan pemikiran Antonio Gramsci.  Dia  menyebut dominasi semacam ini sebagai hegemoni, yaitu kekuasaan yang tidak selalu memaksa dengan senjata meski kalau perlu bisa saja, tapi utamanya adalah membentuk cara berpikir. Yang kuat tidak hanya menguasai sumber daya, tapi juga menguasaimakna.

Relevansinya di sini,Amerikatidak berkata, “Ven, kami ambil minyakmu ya,  karena kami kuat .” Itu terlalu blak-blakan dan naif. Tapi yang dikatakan adalah ini semua demi demokrasi, demi stabilitas, dan tentu demi rakyat Venezuela sendiri.

Narasi ini semacam ini penting. Dan soal begini sepertinya Amerika adalah jagonya. Sebab hegemoni segera bekerja ketika dunia mengangguk setuju dan merasa bahwa, ini masuk akal juga. Pada titik itu, perampasan tidak lagi terasa seperti perampasan, melainkan seperti kebijakan yang baik untuk semua.  Dan di sinilah Venezuela kalah bukan hanya dalam kerah fisik, tapi juga dalam kerah wacana.  Meski tidak di konteks peranjingan tapi toh, anjing!, juga akhirnya.

Bicara tentang anjing yang berbaku hantam, tentu bicara tentang power dan violence, dan Hannah Arendt membedakan antara power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama, namun violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Negara yang benar-benar sah sebenarnya tidak perlu terus-menerus memamerkan otot. Dalam kasus Venezuela di sini menunjukkan adanya paradoks.

Alih-alih memperkuat tatanan hukum internasional,mengingat dia kuat, malah tindakan sepihak Amerika ini justru mengonfirmasi satu hal pasti bahwa hukum hanya berlaku jika tidak mengganggu kepentingan yang kuat. Pelan-pelan kita tengok ke PBB. Dia kini menjadi  menjadi simbol tragis dari dilema Arendtia.

Institusi hukum global memang ada, tapi kekuasaannya timpang. Ketika negara besar bertindak semau dia, hukum internasional kontan berubah menjadi arsip, bukan lagi rambu. Jadi teringat dengan Banwaslu kita saya kira, sewaktu ada pemilihan sesuatu atau seseorang di beberapa saat lalu.

Jangan-Jangan Kita Sedang Antre?

Kwame Nkrumah sang pemimpin perjuangan Ghana melawan kolonialisme Inggris, yang menjadikan Ghana negara Afrika pertama yang merdeka di era modern,  sudah lama mengingatkan dunia Global South, bahwa kolonialisme tidak mati, melainkan cuma berganti baju. Neo-kolonialisme bekerja bukan lewat pendudukan, tapi lewat kontrol ekonomi, energi, dan kebijakan strategis.

Venezuela adalah contoh jelas di depan mata, suatu negara berdaulat secara formal, tapi rapuh secara struktural. Makanya, ketika minyak yang jadi urat nadi ekonomi Venezuela tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya sendiri, maka kedaulatan tinggal slogan. Dan dalam nuansa deg-degan, di sinilah refleksi itu mulai mendekat ke rumah kita sendiri, Indonesia Tanah Air Beta. Ngeri-ngeri sedap ini.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita di Indonesia ini sering merasa aman karena tidak sedang disanksi. Tapi justru di situlah bahayanya. Neo-kolonialisme modern tidak selalu datang dengan konflik terbuka. Ia datang lewat ketergantungan energi, impor BBM yang kronis, kebijakan yang rasional secara pasar tapi timpang secara kedaulatan. Nah, sudah terjadi atau belum?

Kita punya sumber daya, banyak dan macam-macam. Tapi pertanyaannya bukan punya atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang menikmati nilai tambahnya?Jika energi masih mudah ditekan lewat pasar global, jika kebijakan energi lebih takut pada reaksi investor daripada kebutuhan rakyat, jika hilirisasi berhenti di pidato, maka Indonesia tidak perlu diinvasi untuk dikendalikan.  Cukup ditekan pelan. 

Inilah pelajaran yang keras dari Venezuela. Secara terang-terangan dia diinvasi. Di tempat lain, negara besar tidak selalu perlu kekerasan terbuka. Ancaman, sinyal pasar, atau tekanan diplomatik seringkali sudah cukup. Yang kecil akan menyesuaikan diri, lalu menyebutnya sebagai tindakan realistis. Filsafat Jawa sudah membaca ini jauh sebelum teori kritis lahir.  Sasmita narendra, bahwa kekuasaan tidak perlu bicara keras. Yang kecil harus peka membaca tanda, bahwaancaman tak perlu diucapkan.

Kewaspadaan Bukan Paranoia

Refleksi ini bukan ajakan anti Amerika, dan juga bukan glorifikasi kekerasan. Ini ajakan untuk kita agar melek struktur. Perlu disadari penuh bahwa, dunia tidak bergerak oleh niat baik semata atau silat lidah main logika. Dunia digerakkan oleh relasi kuasa.

Indonesia tidak harus menjadi asu gede yang menggigit ke sana-sini.  Tapi Indonesia harus cukup besar, cukup mandiri, dan cukup cerdas agar tidak diajak kerah seenaknya, lalu kalah. Karena jika kita tidak mengusahakan hal-hal itu, yang setahu saya tercantum di Pembukaan UUD kita, hampir pasti kita hanya akan dijarah halus-halus.

Sejarah tidak akan bertanya siapakah yang bermoral . Ia hanya akan mencatat,  siapa yang kuat, dan siapa yang bisa ditekan. Dan sekali lagi, pepatah Jawa itu akan tertawa kecil dari pinggir sejarah.Asu gede menang kerahé. Atau saya tulis saja, AS-u gede menang kerahé. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika Serikathubungan internasionalIndonesiapolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Berhenti, Nada-Nada Bernyanyi, Ketika 70 Penabuh Gender Wayang Ngayah di Pura Dalem Gede Sukawati

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co