13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Asu Gede Menang Kerahé’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 17, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah Jawa yang tidak pernah dikenalkan di kelas hubungan internasional, tapi mungkin harus diperkenalkan sebagai “teori baru” politik internasional, karena berkali-kali terbukti kebenarannya, yaitu pepatah yang berbunyi asu gede menang kerahé. Asu artinya anjing, gede artinya besar, menang ya menang, kerah artinya berkelahi tapi khusus untuk hewan, akhiran e  adalah akhiran nya.

Jadi pepatah itu artinya, anjing yang badannya besar hampir pasti menang kalau berkelahi. Dalam dunia peranjingan, memang tidak perlu alasan moral, tidak perlu legitimasi etis. Yang pokok cukup kuat, cukup besar, cukup menakutkan. Nah, kasus Venezuela versus Amerika Serikat adalah edisi terbaru dari pepatah tua itu, dengan kemasan modern bertajuk geopolitik energi.

Jadi, negara Amerika tidak datang ke Venezuela dengan diplomasi setara, tidak pula dengan kerja sama ekonomi yang fair. Ia datang dengan tekanan, pengambilalihan, dan narasi penyelamatan. Saat minyak Venezuela menjadi target, kedaulatan menjadi nonsense. Dunia menyaksikan dengan terpana, PBB dehem-dehem kecil, lalu senyap. Seolah dunia terhenyak dan sadar bahwa Ini bukan penyimpangan sistem. Ya inilah cara kerja sistem.

Ketika Dominasi Menyamar sebagai Akal Sehat

Saat masih mahasiswa saya berkenalan dengan pemikiran Antonio Gramsci.  Dia  menyebut dominasi semacam ini sebagai hegemoni, yaitu kekuasaan yang tidak selalu memaksa dengan senjata meski kalau perlu bisa saja, tapi utamanya adalah membentuk cara berpikir. Yang kuat tidak hanya menguasai sumber daya, tapi juga menguasaimakna.

Relevansinya di sini,Amerikatidak berkata, “Ven, kami ambil minyakmu ya,  karena kami kuat .” Itu terlalu blak-blakan dan naif. Tapi yang dikatakan adalah ini semua demi demokrasi, demi stabilitas, dan tentu demi rakyat Venezuela sendiri.

Narasi ini semacam ini penting. Dan soal begini sepertinya Amerika adalah jagonya. Sebab hegemoni segera bekerja ketika dunia mengangguk setuju dan merasa bahwa, ini masuk akal juga. Pada titik itu, perampasan tidak lagi terasa seperti perampasan, melainkan seperti kebijakan yang baik untuk semua.  Dan di sinilah Venezuela kalah bukan hanya dalam kerah fisik, tapi juga dalam kerah wacana.  Meski tidak di konteks peranjingan tapi toh, anjing!, juga akhirnya.

Bicara tentang anjing yang berbaku hantam, tentu bicara tentang power dan violence, dan Hannah Arendt membedakan antara power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama, namun violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Negara yang benar-benar sah sebenarnya tidak perlu terus-menerus memamerkan otot. Dalam kasus Venezuela di sini menunjukkan adanya paradoks.

Alih-alih memperkuat tatanan hukum internasional,mengingat dia kuat, malah tindakan sepihak Amerika ini justru mengonfirmasi satu hal pasti bahwa hukum hanya berlaku jika tidak mengganggu kepentingan yang kuat. Pelan-pelan kita tengok ke PBB. Dia kini menjadi  menjadi simbol tragis dari dilema Arendtia.

Institusi hukum global memang ada, tapi kekuasaannya timpang. Ketika negara besar bertindak semau dia, hukum internasional kontan berubah menjadi arsip, bukan lagi rambu. Jadi teringat dengan Banwaslu kita saya kira, sewaktu ada pemilihan sesuatu atau seseorang di beberapa saat lalu.

Jangan-Jangan Kita Sedang Antre?

Kwame Nkrumah sang pemimpin perjuangan Ghana melawan kolonialisme Inggris, yang menjadikan Ghana negara Afrika pertama yang merdeka di era modern,  sudah lama mengingatkan dunia Global South, bahwa kolonialisme tidak mati, melainkan cuma berganti baju. Neo-kolonialisme bekerja bukan lewat pendudukan, tapi lewat kontrol ekonomi, energi, dan kebijakan strategis.

Venezuela adalah contoh jelas di depan mata, suatu negara berdaulat secara formal, tapi rapuh secara struktural. Makanya, ketika minyak yang jadi urat nadi ekonomi Venezuela tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya sendiri, maka kedaulatan tinggal slogan. Dan dalam nuansa deg-degan, di sinilah refleksi itu mulai mendekat ke rumah kita sendiri, Indonesia Tanah Air Beta. Ngeri-ngeri sedap ini.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita di Indonesia ini sering merasa aman karena tidak sedang disanksi. Tapi justru di situlah bahayanya. Neo-kolonialisme modern tidak selalu datang dengan konflik terbuka. Ia datang lewat ketergantungan energi, impor BBM yang kronis, kebijakan yang rasional secara pasar tapi timpang secara kedaulatan. Nah, sudah terjadi atau belum?

Kita punya sumber daya, banyak dan macam-macam. Tapi pertanyaannya bukan punya atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang menikmati nilai tambahnya?Jika energi masih mudah ditekan lewat pasar global, jika kebijakan energi lebih takut pada reaksi investor daripada kebutuhan rakyat, jika hilirisasi berhenti di pidato, maka Indonesia tidak perlu diinvasi untuk dikendalikan.  Cukup ditekan pelan. 

Inilah pelajaran yang keras dari Venezuela. Secara terang-terangan dia diinvasi. Di tempat lain, negara besar tidak selalu perlu kekerasan terbuka. Ancaman, sinyal pasar, atau tekanan diplomatik seringkali sudah cukup. Yang kecil akan menyesuaikan diri, lalu menyebutnya sebagai tindakan realistis. Filsafat Jawa sudah membaca ini jauh sebelum teori kritis lahir.  Sasmita narendra, bahwa kekuasaan tidak perlu bicara keras. Yang kecil harus peka membaca tanda, bahwaancaman tak perlu diucapkan.

Kewaspadaan Bukan Paranoia

Refleksi ini bukan ajakan anti Amerika, dan juga bukan glorifikasi kekerasan. Ini ajakan untuk kita agar melek struktur. Perlu disadari penuh bahwa, dunia tidak bergerak oleh niat baik semata atau silat lidah main logika. Dunia digerakkan oleh relasi kuasa.

Indonesia tidak harus menjadi asu gede yang menggigit ke sana-sini.  Tapi Indonesia harus cukup besar, cukup mandiri, dan cukup cerdas agar tidak diajak kerah seenaknya, lalu kalah. Karena jika kita tidak mengusahakan hal-hal itu, yang setahu saya tercantum di Pembukaan UUD kita, hampir pasti kita hanya akan dijarah halus-halus.

Sejarah tidak akan bertanya siapakah yang bermoral . Ia hanya akan mencatat,  siapa yang kuat, dan siapa yang bisa ditekan. Dan sekali lagi, pepatah Jawa itu akan tertawa kecil dari pinggir sejarah.Asu gede menang kerahé. Atau saya tulis saja, AS-u gede menang kerahé. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika Serikathubungan internasionalIndonesiapolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Berhenti, Nada-Nada Bernyanyi, Ketika 70 Penabuh Gender Wayang Ngayah di Pura Dalem Gede Sukawati

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co