3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Asu Gede Menang Kerahé’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 17, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA pepatah Jawa yang tidak pernah dikenalkan di kelas hubungan internasional, tapi mungkin harus diperkenalkan sebagai “teori baru” politik internasional, karena berkali-kali terbukti kebenarannya, yaitu pepatah yang berbunyi asu gede menang kerahé. Asu artinya anjing, gede artinya besar, menang ya menang, kerah artinya berkelahi tapi khusus untuk hewan, akhiran e  adalah akhiran nya.

Jadi pepatah itu artinya, anjing yang badannya besar hampir pasti menang kalau berkelahi. Dalam dunia peranjingan, memang tidak perlu alasan moral, tidak perlu legitimasi etis. Yang pokok cukup kuat, cukup besar, cukup menakutkan. Nah, kasus Venezuela versus Amerika Serikat adalah edisi terbaru dari pepatah tua itu, dengan kemasan modern bertajuk geopolitik energi.

Jadi, negara Amerika tidak datang ke Venezuela dengan diplomasi setara, tidak pula dengan kerja sama ekonomi yang fair. Ia datang dengan tekanan, pengambilalihan, dan narasi penyelamatan. Saat minyak Venezuela menjadi target, kedaulatan menjadi nonsense. Dunia menyaksikan dengan terpana, PBB dehem-dehem kecil, lalu senyap. Seolah dunia terhenyak dan sadar bahwa Ini bukan penyimpangan sistem. Ya inilah cara kerja sistem.

Ketika Dominasi Menyamar sebagai Akal Sehat

Saat masih mahasiswa saya berkenalan dengan pemikiran Antonio Gramsci.  Dia  menyebut dominasi semacam ini sebagai hegemoni, yaitu kekuasaan yang tidak selalu memaksa dengan senjata meski kalau perlu bisa saja, tapi utamanya adalah membentuk cara berpikir. Yang kuat tidak hanya menguasai sumber daya, tapi juga menguasaimakna.

Relevansinya di sini,Amerikatidak berkata, “Ven, kami ambil minyakmu ya,  karena kami kuat .” Itu terlalu blak-blakan dan naif. Tapi yang dikatakan adalah ini semua demi demokrasi, demi stabilitas, dan tentu demi rakyat Venezuela sendiri.

Narasi ini semacam ini penting. Dan soal begini sepertinya Amerika adalah jagonya. Sebab hegemoni segera bekerja ketika dunia mengangguk setuju dan merasa bahwa, ini masuk akal juga. Pada titik itu, perampasan tidak lagi terasa seperti perampasan, melainkan seperti kebijakan yang baik untuk semua.  Dan di sinilah Venezuela kalah bukan hanya dalam kerah fisik, tapi juga dalam kerah wacana.  Meski tidak di konteks peranjingan tapi toh, anjing!, juga akhirnya.

Bicara tentang anjing yang berbaku hantam, tentu bicara tentang power dan violence, dan Hannah Arendt membedakan antara power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama, namun violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Negara yang benar-benar sah sebenarnya tidak perlu terus-menerus memamerkan otot. Dalam kasus Venezuela di sini menunjukkan adanya paradoks.

Alih-alih memperkuat tatanan hukum internasional,mengingat dia kuat, malah tindakan sepihak Amerika ini justru mengonfirmasi satu hal pasti bahwa hukum hanya berlaku jika tidak mengganggu kepentingan yang kuat. Pelan-pelan kita tengok ke PBB. Dia kini menjadi  menjadi simbol tragis dari dilema Arendtia.

Institusi hukum global memang ada, tapi kekuasaannya timpang. Ketika negara besar bertindak semau dia, hukum internasional kontan berubah menjadi arsip, bukan lagi rambu. Jadi teringat dengan Banwaslu kita saya kira, sewaktu ada pemilihan sesuatu atau seseorang di beberapa saat lalu.

Jangan-Jangan Kita Sedang Antre?

Kwame Nkrumah sang pemimpin perjuangan Ghana melawan kolonialisme Inggris, yang menjadikan Ghana negara Afrika pertama yang merdeka di era modern,  sudah lama mengingatkan dunia Global South, bahwa kolonialisme tidak mati, melainkan cuma berganti baju. Neo-kolonialisme bekerja bukan lewat pendudukan, tapi lewat kontrol ekonomi, energi, dan kebijakan strategis.

Venezuela adalah contoh jelas di depan mata, suatu negara berdaulat secara formal, tapi rapuh secara struktural. Makanya, ketika minyak yang jadi urat nadi ekonomi Venezuela tidak lagi sepenuhnya berada di tangannya sendiri, maka kedaulatan tinggal slogan. Dan dalam nuansa deg-degan, di sinilah refleksi itu mulai mendekat ke rumah kita sendiri, Indonesia Tanah Air Beta. Ngeri-ngeri sedap ini.

Jadi begini para pembaca yang budiman, kita di Indonesia ini sering merasa aman karena tidak sedang disanksi. Tapi justru di situlah bahayanya. Neo-kolonialisme modern tidak selalu datang dengan konflik terbuka. Ia datang lewat ketergantungan energi, impor BBM yang kronis, kebijakan yang rasional secara pasar tapi timpang secara kedaulatan. Nah, sudah terjadi atau belum?

Kita punya sumber daya, banyak dan macam-macam. Tapi pertanyaannya bukan punya atau tidak, melainkan siapa yang mengendalikan, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang menikmati nilai tambahnya?Jika energi masih mudah ditekan lewat pasar global, jika kebijakan energi lebih takut pada reaksi investor daripada kebutuhan rakyat, jika hilirisasi berhenti di pidato, maka Indonesia tidak perlu diinvasi untuk dikendalikan.  Cukup ditekan pelan. 

Inilah pelajaran yang keras dari Venezuela. Secara terang-terangan dia diinvasi. Di tempat lain, negara besar tidak selalu perlu kekerasan terbuka. Ancaman, sinyal pasar, atau tekanan diplomatik seringkali sudah cukup. Yang kecil akan menyesuaikan diri, lalu menyebutnya sebagai tindakan realistis. Filsafat Jawa sudah membaca ini jauh sebelum teori kritis lahir.  Sasmita narendra, bahwa kekuasaan tidak perlu bicara keras. Yang kecil harus peka membaca tanda, bahwaancaman tak perlu diucapkan.

Kewaspadaan Bukan Paranoia

Refleksi ini bukan ajakan anti Amerika, dan juga bukan glorifikasi kekerasan. Ini ajakan untuk kita agar melek struktur. Perlu disadari penuh bahwa, dunia tidak bergerak oleh niat baik semata atau silat lidah main logika. Dunia digerakkan oleh relasi kuasa.

Indonesia tidak harus menjadi asu gede yang menggigit ke sana-sini.  Tapi Indonesia harus cukup besar, cukup mandiri, dan cukup cerdas agar tidak diajak kerah seenaknya, lalu kalah. Karena jika kita tidak mengusahakan hal-hal itu, yang setahu saya tercantum di Pembukaan UUD kita, hampir pasti kita hanya akan dijarah halus-halus.

Sejarah tidak akan bertanya siapakah yang bermoral . Ia hanya akan mencatat,  siapa yang kuat, dan siapa yang bisa ditekan. Dan sekali lagi, pepatah Jawa itu akan tertawa kecil dari pinggir sejarah.Asu gede menang kerahé. Atau saya tulis saja, AS-u gede menang kerahé. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Amerika Serikathubungan internasionalIndonesiapolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Berhenti, Nada-Nada Bernyanyi, Ketika 70 Penabuh Gender Wayang Ngayah di Pura Dalem Gede Sukawati

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Hujan Belum Berakhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co