SUARA BERGEMA DARI KETINGGIAN BUKIT
ada suara bergema dari ketinggian bukit, memantul ke
lembah ke pohon-pohon menjulang: “aku hanya ingin
berbagi intuisi; bahwa tak mudah menjadi penyair…
sampai sekarang aku masih bertarung… aku terus
berguru kepadanya; ruang dan waktu…”
Cirebah, 16 Juni 2025
DARI PINGGIR JEMBATAN
dari pinggir jembatan yang di bawahnya air kali mengalir keruh
aku hanya ingin mengabarkan: gerimis pagi turun serupa rindu
kesukaanku pada peluk kedamaian, dan burung-burung di pohon
akasia, mahoni serta pucuk bambu yang menjulang
masih terus berkicau, menyanyikan ketulusan dan harapan
: “au, hidup alangkah menyenangkan!”
Cirebah, 11 Juni 2025
SEMUT YANG TERUS MERAYAP
kalau engkau tak mampu menjadi gajah
jadilah semut yang terus merayap
di tabir kebaikan.
Cirebah, 10 Juni 2025
PERAHU DIAYUN ALUN GELOMBANG
teluk ini – dan gemuruh laut, perahu diayun alun gelombang
berlindunglah dari sengat matahari, meluncurlah ke pasir putih
catat sejarah kecil, au, sajak-sajak yang asin kelat menyatu tubuh
jiwa yang luas menyala, menyala serupa cita-cita dan cinta.
di teluk ini– semula ingin kubelah selat; melarung seluruh
dendam-rindu tetapi matahari terik, kupilih berlindung
di bawah rimbun waru, nikmati kelapa muda + tempe mendoan;
mengingat puisimu : “seberapa perih luka dada, setajam apa
sembilu dua mata? jangan kautanya sengilu apa cinta, kau rengkuh
hati cahaya!”
teluk ini berpasir sejarah jingga, berlangit kesetiaan purba.
Cirebah, 1 Juni 2025
BILIK RAHASIA PALING MENYENANGKAN
langit di atas bukit mulai mendung, suara nyanyimu
serupa bisik masa lalu, semula aku mengira yang
kaudendangkan puisi ebied. g. ade, tetapi bukan
ternyata dangdut lama dari beberapa penyanyi;
aku sih suka-suka saja, mungkin suasan hatimu
sedang sangat bahagia, atau bertanya-tanya
: apakah cinta bisa seutuhnya? tak cemburu, tak
ada benci, lalu seseorang bisa menjelma malaikat?
menyelamatkanmu dari jurang perih, menyeretmu
ke bilik rahasia paling menyenangkan, paling purba.
Cirebah, 24 Mei 2025
SELUKA WAKTU
yang ngilu selain cemburu dan rindu– usia menakar cinta
: “aku ingin terus bersamamu,” bisik mawar pada duri
seluka waktu; lorong rahasia kaubangun
dengan hati dan air mata; “ketuklah pintu jiwa kaca,
sepenuh imaji, serengkah janji!” au, yang sembilu selain
sakit hati dan cinta– kesetiaan mengukur cahaya
: “sedalam apa lautmu, setajam karang-karangmu, aku
tak peduli!” seluka-luka waktu; ruang rahasia,
setajam duri, serengkah puisi.
Cirebah, 12 Mei 2025
BUNGA BERMEKARAN DITERPA PUCAT REMBULAN
seandainya benar aku berkunjung dan menginap ke rumahmu
aku ingin tidak kautempatkan di kamar belakang
aku mau di kamar depan, agar bisa melihat bunga-
bunga bermekaran diterpa pucat rembulan
dan keesokan, dari balik gorden jendela– aku juga bisa leluasa
melihat siapa saja tamu yang datang sebelum lewat pintu gerbang,
aku bisa menerka tabiat orang dari cara berjalan
dari langkahnya yang tergesa atau ragu-ragu, atau yang pelan
tapi pasti, bisa saja yang datang itu manusia yang suka membangga-
banggakan harta, atau yang mengorbankan diri demi ambisi,
pamer kecantikan palsu dengan topeng mulut manis, o,
suka memaksa dan berburuk laku dan yang harus sangat waspada
adalah manusia ular berkepala dua, ciah! tetapi seberapa sungguh
engkau bisa menerima kedatanganku? perempuan embun; di tengah
hiruk-pikuk hidupmu, beri aku waktu jingga mawar!
Cirebah, 10 Mei 2025
AKU MENJELMA DEBUR OMBAK
aku menjelma debur ombak di antara selat; merasakan perih
begitu terhempas di pasir pantai; aku buih
zikir sepanjang waktu, nyaris tanpa cinta: dan runcing karang
berbisik: “aku tak ingin engkau pergi hanya karena mawar,
bunga pinus, atau sebait puisi!”
Cirebah, 10 Mei 2025
RUMAH KAYU DI ATAS BUKIT
Kau tahu setelah berkali-kali kunikmati sayat sembilu? Aku
menjelma tebing karang. Dan laut memelukku penuh duka.
Aku ingin tidak jatuh cinta lagi. Berperahu sendiri. Melewati
ombak. Membelah-belah selat. Dengan ikhlas. Jika malam,
aku berpeluk cahaya mercusuar. Saling bisik tentang kesetiaan.
Entah suara siapa bergetar-getar di antara deru angin. Atau
hanya halusinasi.
: “Dan bagaimana jika aku membayangkan di rumah kayu di
atas bukit, aku menemanimu menulis puisi, memeluk dari
belakang sambil melihat ke luar, ke arah balkon dengan
pemandangan pohon-pohon berbalut kabut?”
Akh, rumah kayu atas bukit. Di halaman ingin tanam mawar.
Bukan edelweis. Karena apa? Sorot matamu berbinar-binar.
: “Edelweis sangatlah klise. Aku mau mawar yang tumbuh dan
setiap kelopak gugur, segera muncul kuncup-kuncup. Lalu
mekar. Bukankah ini lebih realistis? Lebih serupa cinta kita?”
Seberapa lama engkau mengendus tebing karang? Yang berdiri
di selat laut-sunyiku. Kukira ruang dan waktu tidak perlu
dipertengkarkan. Bukankah cinta dan hidup ini anugrah?
Serupa puisi…
: “Tapi aku mau tidak dibanding-,bandingkan. Setiap makhluk
punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini sekerat hati,
sekerat jantung belum sempurna kering luka!”
Mawar. Rumah kayu. Halaman. Tebing karang. Laut. Sembilu. Puisi!
Cirebah, 4 Maret 2025
SELASAR DALAM DIRI
aku ingin menjelma pengembara yang diam-diam menyingkirkan
duri di tengah jalan kecil di sebuah kampung yang diam-diam
membantu kesulitan orang lain seraya menyembunyikan sebelah
tangan dan serta-merta mengulurkan hati kepada kondisi pahit getir
di sekitar: “ini hidup hanya serupa meneguk air di warung kopi
pinggir jalan– sangat sementara; aku mau sekecil apa pun adalah
hal-hal baik yang menyenangkan orang lain, yang membuat cahaya
surga!” aku ingin menghabiskan waktu untuk zikir; Allah, Allah,
Allah…
aku ingin menembus langit ketujuh; bermuka-muka dengan-Mu
bahwa puisi-puisiku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu
: “karena aku hanya sebutir debu, ampun aku, atas segala salah-dosa
izinkan aku meniti jalan ke surga, jalan lurus di atas harum cahaya
subhanallah…” tetapi aku tak sampai-sampai ke langit ketujuh
aku masih di sini di atas selembar sajadah dengan tubuh gemetar
dan berlinang air mata, au…
atas nama pagi yang gerimis; beri aku kekuatan, keindahan dan
kebahagiaan– sebentar lagi kutempuh ratusan kilometer menuju
rumah kecil pinggir kali: “bismillah, jalan lurus, jalan menikung
menjadi penuh rahmat-Mu, zikir ini, zikir musafir fakir…”
au, aku milik-Mu!
sumur dalam diri: gali, gali, hingga dasar paling nyeri: “di dasar
diri; aku mencari-Mu sungguh berlinang air mata, au, beri aku
rahmat-Mu paling sederhana: cinta!” sumur dalam diri; nyeri,
nyeri, hingga ruang paling sunyi: cahaya!
Jaspinka, 2024
.
Penulis: Eddy Pranata PNP
Editor: Adnyana Ole



























