SETIAP menjelang tahun baru, manusia di seluruh dunia melakukan satu hal yang sama yaitu berpura-pura optimis. Kita tahu sama tahu lah, dunia tidak otomatis membaik hanya karena kalender berganti, tapi saya, anda, dan kita semua tetap menuliskan resolusi. Kita tahu krisis iklim belum selesai, perang belum reda, bencana datang silih berganti, tapi kita tetap berkata dengan yakin, “Semoga tahun depan lebih baik.” Menjadi semacam ritual. Apakah itu aneh? Tentu tidak, para pembaca yang budiman. Dalam hemat saya justru di situlah letak kemanusiaan kita.
Secara psikologis, tahun baru adalah ritual kolektif untuk berdamai dengan ketidakpastian. Tahun baru sebenarnya bukan titik awal yang objektif, melainkan suatu jeda simbolik yang disepakati bersama. Karena begini, waktu, seperti kata sosiolog Norbert Elias, tidaklah pernah netral. Waktu adalah konstruksi sosial yang membantu manusia mengatur harapan dan juga sekaligus kecemasannya. Tahun baru, dengan segala resolusinya yang diam-diam harus kita akui akhirnya sering gagal, adalah cara manusia berkata bahwa hidup boleh berantakan, tapi kami belum menyerah.
Di Indonesia kita tercinta, makna tahun baru bahkan lebih kompleks. Tahun baru jarang dimaknai sebagai pesta individual semata, karena lebih sering dirayakan dengan kumpul keluarga dan kolega. Bakar jagung, kumpul di pusat keramaian, dan obrolan ringan yang ujungnya wajib tidur setelah lewat jam dua belas. Memang tidak selalu meriah, tidak selalu spektakuler, tapi hangat dan intim.
Dan tahun ini, ada pergeseran simbolik yang menarik. Karena sudah ada larangan dari Kapolri maka pesta kembang api tidak diperbolehkan. Salutnya di banyak daerah kemudian diganti dengan penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatra yang terdampak bencana. Jadi untuk tahun baru kali ini bukan sekadar soal teknis acara, tapi perubahan cara kita memahami perayaan karena situasi.
Ketika Hidup Disadari sebagai Permainan Serius
Kembang api adalah simbol modernitas yang klasik, ada cahaya terang, suara keras, indah sebentar, lalu lenyap. Memang memuaskan mata, tapi jarang menyentuh nurani. Apalagi kalau pas ledakan kembang apinya kita lebih sibuk bikin video daripada melihatnya langsung. Nah, penggalangan dana, sebaliknya, tidak menawarkan tontonan. Ia sunyi dan senyap saja, tidak instagramable, tapi sarat makna. Dalam psikologi sosial, tindakan seperti ini disebut prosocial behavior, perilaku yang mengarah pada kepedulian terhadap orang lain.
Riset menunjukkan bahwa membantu sesama justru meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi kecemasan eksistensial, dan memberi rasa makna yang lebih tahan lama dibanding kesenangan instan. Dengan kata lain, empati adalah perayaan yang lebih tahan lama daripada euforia. Dan di sinilah kemudian perayaan tahun baru kali ini mulai menarik dibaca dari perspektif yang jarang dibicarakan, yaitu Homo Ludens.
Johan Huizinga, sejarawan dan filsuf budaya, menyebut manusia sebagai Homo Ludens, makhluk yang bermain. Tapi bermain di sini bukan main-main. Main-main artinya tidak serius, sebaliknya bermain adalah aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran, aturan, dan keterlibatan penuh, meskipun hasilnya tidak pasti. Dalam bermain, manusia menyadari bahwa ada kemungkinan kalah, ada aturan yang membatasi, ada risiko gagal, namun bagaimanapun juga tetap bermain dengan sungguh-sungguh.
Tahun baru, jika dilihat dari kacamata ini, adalah arena bermain sosial. Dengan serius, penuh kesadaran dan tidak main-main. Kita tahu resolusi sering tidak tercapai. Kita tahu nasib tidak langsung membaik. Kita juga tahu krisis tidak berhenti di tanggal 31 Desember. Namun kita tetap ikut “bermain” dengan menyusun harapan, membuat janji, berkumpul, berbagi, dan berdoa. Mengapa demikian? Karena saya yakin bahwa manusia dewasa bukan yang menolak absurditas hidup, tapi yang mampu hidup di dalamnya, seperti kata Albert Camus, “perlawanan terhadap absurditas bukan dengan menyerah, tapi dengan hidup sepenuhnya.”
Kita semua musti sanggup melakukan itu semua demi masa depan yang lebih manusiawi. Perlu kita yakinkan bahwa itu semua bukan ilusi. Itu pilihan etis kita sebagai manusia. Seperti dikatakan psikolog Viktor Frankl, manusia akan bisa bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun jika ia menemukan makna. Dan sang makna itu sering kali kita temukan bukan dari adanya kepastian, tapi dari sikap kita terhadap ketidakpastian.
Bermain dan Kekuatan Anti-Linear
Satu hal penting dari bermain adalah sifatnya yang tidak linear. Dalam bermain, tidak ada satu jalan pasti menuju kemenangan. Ada improvisasi, percobaan, bahkan kegagalan yang justru membuka kemungkinan baru. Kesadaran ini penting, karena krisis modern yang kita alami sekarang seperti bencana iklim, pandemi, konflik sosial, semua itu adalah masalah non-linear. Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi tunggal atau logika sebab-akibat yang rapi. Teori kompleksitas dalam ilmu sosial menunjukkan bahwa dunia bekerja melalui jejaring hubungan yang rumit, sering tak terduga.
Manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas kaku saya yakin seringkali akan gagap menghadapi dunia semacam ini. Sebaliknya, manusia yang mampu “bermain”, akan lebihadaptif. Ia akan berani mencoba, tidak lumpuh oleh perasaan takut gagal, dan terbuka pada solusi dari arah yang tak disangka-sangka seperti misal percaya pada surprise semesta atau butterfly effect, mungkin. Semua kemampuan ini terkait dengan yang dalam psikologi disebut divergent thinking, suatu kemampuan untuk menghasilkan banyak kemungkinan, dan bukan hanya satu jawaban benar. Terkait dengan ini, bermain merupakan lahan yang subur bagi cara berpikir semacam ini.
Bermain Bukan Lari dari Realitas
Di titik ini, perlu diluruskan satu kesalahpahaman yang mungkin muncul bahwa bermain bukan berarti lari dari kenyataan. Bermain justru mengakui realitas apa adanya bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Dalam bermain, manusia tidak menuntut kepastian absolut. Ia menerima batasan-batasan yang ada, tapi tetap mencari ruang kebebasan di dalamnya. Seperti anak-anak yang bisa bermain di tengah keterbatasan, masyarakat yang mampu bermain di tengah krisis sering kali justru lebih tahan banting. Nah, logikanya jadi nyambung kan, saudara?
Jadi tindakan-tindakan semacam penggalangan dana di tengah bencana, solidaritas spontan, kreativitas warga ketika negara lambat, semua itu adalah bentuk bermain sosial. Dan secara psikologis, ini adalah tanda resiliensi. Masyarakat yang kehilangan kemampuan bermain biasanya menunjukkan gejala sebaliknya, suka mengeluh, gampang putus asa, cepat marah, dan alergi pada ketidakpastian.
Bermain, Serius, Optimis, dan Beradab
Jadi penting untuk memahami bahwa menghadapi tahun baru dengan bermain, justru menjadikannya serius, optimis, dan beradab. Disebut serius karena dalam bermain menuntut keterlibatan penuh, bukan sikap asal-asalan. Optimis bukan karena yakin menang, tapi karena berani terus bermain sesuai peran masing-masing. Disebut beradab karena bermain mengajarkan aturan, empati, dan penghormatan pada sesama pemain. Di dunia yang terlalu tegang, terlalu sinis, dan terlalu yakin pada satu kebenaran, kemampuan bermain justru menjadi tindakan yang radikal dan bentuk kemampuan yang paling mendasar.
Tahun baru kali ini, pada akhirnya, bukan soal angka yang berganti. Ia adalah cermin cara kita memaknai hidup. Apakah kita memilih menyerah pada krisis, atau tetap bermain dengan harapan, etika, dan kepedulian. Dan mungkin, di zaman kita yang serba tidak pasti ini, manusia yang paling waras bukan yang paling yakin dirinya benar, tapi yang masih mampu bermain sesuai perannya secara bersama-sama.
Kita semua musti menyadari kita punya peran masing-masing, harus menjalankannya dengan amanah dan sungguh-sungguh, seraya menyadari bahwa kita punya tanggung jawab memelihara kehidupan. Mari bergotong-royong sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing, dan semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana bisa segera membaik kondisinya. Selamat menyongsong tahun baru 2026. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole


























