23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bermain di Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP menjelang tahun baru, manusia di seluruh dunia melakukan satu hal yang sama yaitu  berpura-pura optimis. Kita tahu sama tahu lah,  dunia tidak otomatis membaik hanya karena kalender berganti, tapi saya, anda, dan kita semua tetap menuliskan resolusi. Kita tahu krisis iklim belum selesai, perang belum reda, bencana datang silih berganti, tapi kita tetap berkata dengan yakin, “Semoga tahun depan lebih baik.” Menjadi semacam ritual. Apakah itu aneh? Tentu tidak, para pembaca yang budiman.  Dalam hemat saya justru di situlah letak kemanusiaan kita.

Secara psikologis, tahun baru adalah ritual kolektif untuk berdamai dengan ketidakpastian. Tahun baru sebenarnya bukan titik awal yang objektif, melainkan suatu jeda simbolik yang disepakati bersama. Karena begini, waktu, seperti kata sosiolog Norbert Elias, tidaklah pernah netral. Waktu  adalah konstruksi sosial yang membantu manusia mengatur harapan dan juga sekaligus kecemasannya. Tahun baru, dengan segala resolusinya yang diam-diam harus kita akui akhirnya sering gagal, adalah cara manusia berkata bahwa  hidup boleh berantakan, tapi kami belum menyerah.

Di Indonesia kita tercinta, makna tahun baru bahkan lebih kompleks. Tahun baru jarang dimaknai sebagai pesta individual semata, karena lebih sering dirayakan dengan kumpul keluarga dan kolega. Bakar jagung, kumpul di pusat keramaian, dan obrolan ringan yang ujungnya wajib tidur setelah lewat jam dua belas. Memang tidak selalu meriah, tidak selalu spektakuler,  tapi hangat dan intim.

Dan tahun ini, ada pergeseran simbolik yang menarik.  Karena sudah ada larangan dari Kapolri maka  pesta kembang api tidak diperbolehkan. Salutnya di banyak daerah kemudian diganti dengan  penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatra yang terdampak bencana. Jadi untuk tahun baru kali ini bukan sekadar soal teknis acara, tapi  perubahan cara kita memahami perayaan karena situasi. 

Ketika Hidup Disadari sebagai Permainan Serius

Kembang api adalah simbol modernitas yang klasik, ada cahaya terang, suara keras, indah sebentar, lalu lenyap. Memang memuaskan mata, tapi jarang menyentuh nurani. Apalagi kalau pas ledakan kembang apinya kita lebih sibuk bikin video daripada melihatnya langsung. Nah, penggalangan dana, sebaliknya, tidak menawarkan tontonan. Ia sunyi dan senyap saja, tidak instagramable, tapi sarat makna. Dalam psikologi sosial, tindakan seperti ini disebut prosocial behavior, perilaku yang mengarah pada kepedulian terhadap orang lain.

Riset menunjukkan bahwa membantu sesama justru meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi kecemasan eksistensial, dan memberi rasa makna yang lebih tahan lama dibanding kesenangan instan.  Dengan kata lain, empati adalah perayaan yang lebih tahan lama daripada euforia.  Dan di sinilah kemudian perayaan tahun baru kali ini mulai menarik dibaca dari perspektif yang jarang dibicarakan, yaitu Homo Ludens.

Johan Huizinga, sejarawan dan filsuf budaya, menyebut manusia sebagai Homo Ludens, makhluk yang bermain. Tapi bermain di sini bukan main-main. Main-main artinya tidak serius, sebaliknya bermain adalah aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran, aturan, dan keterlibatan penuh, meskipun hasilnya tidak pasti. Dalam bermain, manusia menyadari bahwa ada kemungkinan kalah, ada aturan yang membatasi, ada risiko gagal, namun bagaimanapun juga tetap bermain dengan sungguh-sungguh.

Tahun baru, jika dilihat dari kacamata ini, adalah arena bermain sosial. Dengan serius, penuh kesadaran dan tidak main-main. Kita tahu resolusi sering tidak tercapai. Kita tahu nasib tidak langsung membaik. Kita juga tahu krisis tidak berhenti di tanggal 31 Desember. Namun kita tetap ikut “bermain” dengan menyusun harapan, membuat janji, berkumpul, berbagi, dan berdoa. Mengapa demikian? Karena saya yakin bahwa manusia dewasa bukan yang menolak absurditas hidup, tapi yang mampu hidup di dalamnya, seperti kata Albert Camus, “perlawanan terhadap absurditas bukan dengan menyerah, tapi dengan hidup sepenuhnya.”

Kita semua musti sanggup melakukan itu semua demi masa depan yang lebih manusiawi. Perlu kita yakinkan bahwa itu semua bukan ilusi. Itu pilihan etis kita sebagai manusia. Seperti dikatakan psikolog Viktor Frankl, manusia akan bisa bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun jika ia menemukan makna. Dan sang makna itu sering kali kita temukan bukan dari adanya kepastian, tapi dari sikap kita terhadap ketidakpastian.

Bermain dan Kekuatan Anti-Linear

Satu hal penting dari bermain adalah sifatnya yang tidak linear. Dalam bermain, tidak ada satu jalan pasti menuju kemenangan. Ada improvisasi, percobaan, bahkan kegagalan yang justru membuka kemungkinan baru. Kesadaran ini penting, karena krisis modern yang kita alami sekarang seperti bencana iklim, pandemi, konflik sosial, semua itu adalah masalah non-linear. Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi tunggal atau logika sebab-akibat yang rapi. Teori kompleksitas dalam ilmu sosial menunjukkan bahwa dunia bekerja melalui jejaring hubungan yang rumit, sering tak terduga.

Manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas kaku saya yakin seringkali akan gagap menghadapi dunia semacam ini. Sebaliknya, manusia yang mampu “bermain”, akan lebihadaptif. Ia akan berani mencoba, tidak lumpuh oleh perasaan takut gagal, dan terbuka pada solusi dari arah yang tak disangka-sangka seperti misal percaya pada surprise semesta atau butterfly effect, mungkin.  Semua kemampuan ini terkait dengan yang dalam psikologi disebut divergent thinking,  suatu kemampuan untuk menghasilkan banyak kemungkinan, dan bukan hanya satu jawaban benar. Terkait dengan ini, bermain merupakan lahan yang subur bagi cara berpikir semacam ini.

Bermain Bukan Lari dari Realitas

Di titik ini, perlu diluruskan satu kesalahpahaman yang mungkin muncul bahwa  bermain bukan berarti lari dari kenyataan. Bermain justru mengakui realitas apa adanya bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.  Dalam bermain, manusia tidak menuntut kepastian absolut. Ia menerima batasan-batasan yang ada, tapi tetap mencari ruang kebebasan di dalamnya. Seperti anak-anak yang bisa bermain di tengah keterbatasan, masyarakat yang mampu bermain di tengah krisis sering kali justru lebih tahan banting. Nah, logikanya jadi nyambung kan, saudara?

Jadi tindakan-tindakan semacam penggalangan dana di tengah bencana, solidaritas spontan, kreativitas warga ketika negara lambat, semua itu adalah bentuk bermain sosial. Dan secara psikologis, ini adalah tanda resiliensi. Masyarakat yang kehilangan kemampuan bermain biasanya menunjukkan gejala sebaliknya,  suka mengeluh, gampang putus asa, cepat marah, dan alergi pada ketidakpastian.

Bermain, Serius, Optimis, dan Beradab

Jadi penting untuk memahami bahwa menghadapi tahun baru dengan bermain, justru menjadikannya serius, optimis, dan beradab.  Disebut serius karena dalam bermain menuntut keterlibatan penuh, bukan sikap asal-asalan.  Optimis bukan karena yakin menang, tapi karena berani terus bermain sesuai peran masing-masing.  Disebut beradab karena bermain mengajarkan aturan, empati, dan penghormatan pada sesama pemain.  Di dunia yang terlalu tegang, terlalu sinis, dan terlalu yakin pada satu kebenaran, kemampuan bermain justru menjadi tindakan  yang radikal dan bentuk kemampuan yang paling mendasar.

Tahun baru kali ini, pada akhirnya, bukan soal angka yang berganti. Ia adalah cermin cara kita memaknai hidup. Apakah kita memilih menyerah pada krisis, atau tetap bermain dengan harapan, etika, dan kepedulian.  Dan mungkin, di zaman kita yang serba tidak pasti ini, manusia yang paling waras bukan yang paling yakin dirinya benar, tapi yang masih mampu bermain sesuai perannya secara bersama-sama.

Kita semua musti menyadari kita punya peran masing-masing, harus menjalankannya dengan amanah dan sungguh-sungguh, seraya menyadari bahwa kita punya tanggung jawab memelihara kehidupan. Mari bergotong-royong sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing, dan semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana bisa segera membaik kondisinya. Selamat menyongsong tahun baru 2026. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kembang apitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bikin Resolusi Kok Nunggu Tahun Baru?

Next Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? ---Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co