24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bermain di Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP menjelang tahun baru, manusia di seluruh dunia melakukan satu hal yang sama yaitu  berpura-pura optimis. Kita tahu sama tahu lah,  dunia tidak otomatis membaik hanya karena kalender berganti, tapi saya, anda, dan kita semua tetap menuliskan resolusi. Kita tahu krisis iklim belum selesai, perang belum reda, bencana datang silih berganti, tapi kita tetap berkata dengan yakin, “Semoga tahun depan lebih baik.” Menjadi semacam ritual. Apakah itu aneh? Tentu tidak, para pembaca yang budiman.  Dalam hemat saya justru di situlah letak kemanusiaan kita.

Secara psikologis, tahun baru adalah ritual kolektif untuk berdamai dengan ketidakpastian. Tahun baru sebenarnya bukan titik awal yang objektif, melainkan suatu jeda simbolik yang disepakati bersama. Karena begini, waktu, seperti kata sosiolog Norbert Elias, tidaklah pernah netral. Waktu  adalah konstruksi sosial yang membantu manusia mengatur harapan dan juga sekaligus kecemasannya. Tahun baru, dengan segala resolusinya yang diam-diam harus kita akui akhirnya sering gagal, adalah cara manusia berkata bahwa  hidup boleh berantakan, tapi kami belum menyerah.

Di Indonesia kita tercinta, makna tahun baru bahkan lebih kompleks. Tahun baru jarang dimaknai sebagai pesta individual semata, karena lebih sering dirayakan dengan kumpul keluarga dan kolega. Bakar jagung, kumpul di pusat keramaian, dan obrolan ringan yang ujungnya wajib tidur setelah lewat jam dua belas. Memang tidak selalu meriah, tidak selalu spektakuler,  tapi hangat dan intim.

Dan tahun ini, ada pergeseran simbolik yang menarik.  Karena sudah ada larangan dari Kapolri maka  pesta kembang api tidak diperbolehkan. Salutnya di banyak daerah kemudian diganti dengan  penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatra yang terdampak bencana. Jadi untuk tahun baru kali ini bukan sekadar soal teknis acara, tapi  perubahan cara kita memahami perayaan karena situasi. 

Ketika Hidup Disadari sebagai Permainan Serius

Kembang api adalah simbol modernitas yang klasik, ada cahaya terang, suara keras, indah sebentar, lalu lenyap. Memang memuaskan mata, tapi jarang menyentuh nurani. Apalagi kalau pas ledakan kembang apinya kita lebih sibuk bikin video daripada melihatnya langsung. Nah, penggalangan dana, sebaliknya, tidak menawarkan tontonan. Ia sunyi dan senyap saja, tidak instagramable, tapi sarat makna. Dalam psikologi sosial, tindakan seperti ini disebut prosocial behavior, perilaku yang mengarah pada kepedulian terhadap orang lain.

Riset menunjukkan bahwa membantu sesama justru meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi kecemasan eksistensial, dan memberi rasa makna yang lebih tahan lama dibanding kesenangan instan.  Dengan kata lain, empati adalah perayaan yang lebih tahan lama daripada euforia.  Dan di sinilah kemudian perayaan tahun baru kali ini mulai menarik dibaca dari perspektif yang jarang dibicarakan, yaitu Homo Ludens.

Johan Huizinga, sejarawan dan filsuf budaya, menyebut manusia sebagai Homo Ludens, makhluk yang bermain. Tapi bermain di sini bukan main-main. Main-main artinya tidak serius, sebaliknya bermain adalah aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran, aturan, dan keterlibatan penuh, meskipun hasilnya tidak pasti. Dalam bermain, manusia menyadari bahwa ada kemungkinan kalah, ada aturan yang membatasi, ada risiko gagal, namun bagaimanapun juga tetap bermain dengan sungguh-sungguh.

Tahun baru, jika dilihat dari kacamata ini, adalah arena bermain sosial. Dengan serius, penuh kesadaran dan tidak main-main. Kita tahu resolusi sering tidak tercapai. Kita tahu nasib tidak langsung membaik. Kita juga tahu krisis tidak berhenti di tanggal 31 Desember. Namun kita tetap ikut “bermain” dengan menyusun harapan, membuat janji, berkumpul, berbagi, dan berdoa. Mengapa demikian? Karena saya yakin bahwa manusia dewasa bukan yang menolak absurditas hidup, tapi yang mampu hidup di dalamnya, seperti kata Albert Camus, “perlawanan terhadap absurditas bukan dengan menyerah, tapi dengan hidup sepenuhnya.”

Kita semua musti sanggup melakukan itu semua demi masa depan yang lebih manusiawi. Perlu kita yakinkan bahwa itu semua bukan ilusi. Itu pilihan etis kita sebagai manusia. Seperti dikatakan psikolog Viktor Frankl, manusia akan bisa bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun jika ia menemukan makna. Dan sang makna itu sering kali kita temukan bukan dari adanya kepastian, tapi dari sikap kita terhadap ketidakpastian.

Bermain dan Kekuatan Anti-Linear

Satu hal penting dari bermain adalah sifatnya yang tidak linear. Dalam bermain, tidak ada satu jalan pasti menuju kemenangan. Ada improvisasi, percobaan, bahkan kegagalan yang justru membuka kemungkinan baru. Kesadaran ini penting, karena krisis modern yang kita alami sekarang seperti bencana iklim, pandemi, konflik sosial, semua itu adalah masalah non-linear. Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi tunggal atau logika sebab-akibat yang rapi. Teori kompleksitas dalam ilmu sosial menunjukkan bahwa dunia bekerja melalui jejaring hubungan yang rumit, sering tak terduga.

Manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas kaku saya yakin seringkali akan gagap menghadapi dunia semacam ini. Sebaliknya, manusia yang mampu “bermain”, akan lebihadaptif. Ia akan berani mencoba, tidak lumpuh oleh perasaan takut gagal, dan terbuka pada solusi dari arah yang tak disangka-sangka seperti misal percaya pada surprise semesta atau butterfly effect, mungkin.  Semua kemampuan ini terkait dengan yang dalam psikologi disebut divergent thinking,  suatu kemampuan untuk menghasilkan banyak kemungkinan, dan bukan hanya satu jawaban benar. Terkait dengan ini, bermain merupakan lahan yang subur bagi cara berpikir semacam ini.

Bermain Bukan Lari dari Realitas

Di titik ini, perlu diluruskan satu kesalahpahaman yang mungkin muncul bahwa  bermain bukan berarti lari dari kenyataan. Bermain justru mengakui realitas apa adanya bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.  Dalam bermain, manusia tidak menuntut kepastian absolut. Ia menerima batasan-batasan yang ada, tapi tetap mencari ruang kebebasan di dalamnya. Seperti anak-anak yang bisa bermain di tengah keterbatasan, masyarakat yang mampu bermain di tengah krisis sering kali justru lebih tahan banting. Nah, logikanya jadi nyambung kan, saudara?

Jadi tindakan-tindakan semacam penggalangan dana di tengah bencana, solidaritas spontan, kreativitas warga ketika negara lambat, semua itu adalah bentuk bermain sosial. Dan secara psikologis, ini adalah tanda resiliensi. Masyarakat yang kehilangan kemampuan bermain biasanya menunjukkan gejala sebaliknya,  suka mengeluh, gampang putus asa, cepat marah, dan alergi pada ketidakpastian.

Bermain, Serius, Optimis, dan Beradab

Jadi penting untuk memahami bahwa menghadapi tahun baru dengan bermain, justru menjadikannya serius, optimis, dan beradab.  Disebut serius karena dalam bermain menuntut keterlibatan penuh, bukan sikap asal-asalan.  Optimis bukan karena yakin menang, tapi karena berani terus bermain sesuai peran masing-masing.  Disebut beradab karena bermain mengajarkan aturan, empati, dan penghormatan pada sesama pemain.  Di dunia yang terlalu tegang, terlalu sinis, dan terlalu yakin pada satu kebenaran, kemampuan bermain justru menjadi tindakan  yang radikal dan bentuk kemampuan yang paling mendasar.

Tahun baru kali ini, pada akhirnya, bukan soal angka yang berganti. Ia adalah cermin cara kita memaknai hidup. Apakah kita memilih menyerah pada krisis, atau tetap bermain dengan harapan, etika, dan kepedulian.  Dan mungkin, di zaman kita yang serba tidak pasti ini, manusia yang paling waras bukan yang paling yakin dirinya benar, tapi yang masih mampu bermain sesuai perannya secara bersama-sama.

Kita semua musti menyadari kita punya peran masing-masing, harus menjalankannya dengan amanah dan sungguh-sungguh, seraya menyadari bahwa kita punya tanggung jawab memelihara kehidupan. Mari bergotong-royong sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing, dan semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana bisa segera membaik kondisinya. Selamat menyongsong tahun baru 2026. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kembang apitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bikin Resolusi Kok Nunggu Tahun Baru?

Next Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? ---Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co