2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bermain di Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 31, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP menjelang tahun baru, manusia di seluruh dunia melakukan satu hal yang sama yaitu  berpura-pura optimis. Kita tahu sama tahu lah,  dunia tidak otomatis membaik hanya karena kalender berganti, tapi saya, anda, dan kita semua tetap menuliskan resolusi. Kita tahu krisis iklim belum selesai, perang belum reda, bencana datang silih berganti, tapi kita tetap berkata dengan yakin, “Semoga tahun depan lebih baik.” Menjadi semacam ritual. Apakah itu aneh? Tentu tidak, para pembaca yang budiman.  Dalam hemat saya justru di situlah letak kemanusiaan kita.

Secara psikologis, tahun baru adalah ritual kolektif untuk berdamai dengan ketidakpastian. Tahun baru sebenarnya bukan titik awal yang objektif, melainkan suatu jeda simbolik yang disepakati bersama. Karena begini, waktu, seperti kata sosiolog Norbert Elias, tidaklah pernah netral. Waktu  adalah konstruksi sosial yang membantu manusia mengatur harapan dan juga sekaligus kecemasannya. Tahun baru, dengan segala resolusinya yang diam-diam harus kita akui akhirnya sering gagal, adalah cara manusia berkata bahwa  hidup boleh berantakan, tapi kami belum menyerah.

Di Indonesia kita tercinta, makna tahun baru bahkan lebih kompleks. Tahun baru jarang dimaknai sebagai pesta individual semata, karena lebih sering dirayakan dengan kumpul keluarga dan kolega. Bakar jagung, kumpul di pusat keramaian, dan obrolan ringan yang ujungnya wajib tidur setelah lewat jam dua belas. Memang tidak selalu meriah, tidak selalu spektakuler,  tapi hangat dan intim.

Dan tahun ini, ada pergeseran simbolik yang menarik.  Karena sudah ada larangan dari Kapolri maka  pesta kembang api tidak diperbolehkan. Salutnya di banyak daerah kemudian diganti dengan  penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatra yang terdampak bencana. Jadi untuk tahun baru kali ini bukan sekadar soal teknis acara, tapi  perubahan cara kita memahami perayaan karena situasi. 

Ketika Hidup Disadari sebagai Permainan Serius

Kembang api adalah simbol modernitas yang klasik, ada cahaya terang, suara keras, indah sebentar, lalu lenyap. Memang memuaskan mata, tapi jarang menyentuh nurani. Apalagi kalau pas ledakan kembang apinya kita lebih sibuk bikin video daripada melihatnya langsung. Nah, penggalangan dana, sebaliknya, tidak menawarkan tontonan. Ia sunyi dan senyap saja, tidak instagramable, tapi sarat makna. Dalam psikologi sosial, tindakan seperti ini disebut prosocial behavior, perilaku yang mengarah pada kepedulian terhadap orang lain.

Riset menunjukkan bahwa membantu sesama justru meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi kecemasan eksistensial, dan memberi rasa makna yang lebih tahan lama dibanding kesenangan instan.  Dengan kata lain, empati adalah perayaan yang lebih tahan lama daripada euforia.  Dan di sinilah kemudian perayaan tahun baru kali ini mulai menarik dibaca dari perspektif yang jarang dibicarakan, yaitu Homo Ludens.

Johan Huizinga, sejarawan dan filsuf budaya, menyebut manusia sebagai Homo Ludens, makhluk yang bermain. Tapi bermain di sini bukan main-main. Main-main artinya tidak serius, sebaliknya bermain adalah aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran, aturan, dan keterlibatan penuh, meskipun hasilnya tidak pasti. Dalam bermain, manusia menyadari bahwa ada kemungkinan kalah, ada aturan yang membatasi, ada risiko gagal, namun bagaimanapun juga tetap bermain dengan sungguh-sungguh.

Tahun baru, jika dilihat dari kacamata ini, adalah arena bermain sosial. Dengan serius, penuh kesadaran dan tidak main-main. Kita tahu resolusi sering tidak tercapai. Kita tahu nasib tidak langsung membaik. Kita juga tahu krisis tidak berhenti di tanggal 31 Desember. Namun kita tetap ikut “bermain” dengan menyusun harapan, membuat janji, berkumpul, berbagi, dan berdoa. Mengapa demikian? Karena saya yakin bahwa manusia dewasa bukan yang menolak absurditas hidup, tapi yang mampu hidup di dalamnya, seperti kata Albert Camus, “perlawanan terhadap absurditas bukan dengan menyerah, tapi dengan hidup sepenuhnya.”

Kita semua musti sanggup melakukan itu semua demi masa depan yang lebih manusiawi. Perlu kita yakinkan bahwa itu semua bukan ilusi. Itu pilihan etis kita sebagai manusia. Seperti dikatakan psikolog Viktor Frankl, manusia akan bisa bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun jika ia menemukan makna. Dan sang makna itu sering kali kita temukan bukan dari adanya kepastian, tapi dari sikap kita terhadap ketidakpastian.

Bermain dan Kekuatan Anti-Linear

Satu hal penting dari bermain adalah sifatnya yang tidak linear. Dalam bermain, tidak ada satu jalan pasti menuju kemenangan. Ada improvisasi, percobaan, bahkan kegagalan yang justru membuka kemungkinan baru. Kesadaran ini penting, karena krisis modern yang kita alami sekarang seperti bencana iklim, pandemi, konflik sosial, semua itu adalah masalah non-linear. Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi tunggal atau logika sebab-akibat yang rapi. Teori kompleksitas dalam ilmu sosial menunjukkan bahwa dunia bekerja melalui jejaring hubungan yang rumit, sering tak terduga.

Manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas kaku saya yakin seringkali akan gagap menghadapi dunia semacam ini. Sebaliknya, manusia yang mampu “bermain”, akan lebihadaptif. Ia akan berani mencoba, tidak lumpuh oleh perasaan takut gagal, dan terbuka pada solusi dari arah yang tak disangka-sangka seperti misal percaya pada surprise semesta atau butterfly effect, mungkin.  Semua kemampuan ini terkait dengan yang dalam psikologi disebut divergent thinking,  suatu kemampuan untuk menghasilkan banyak kemungkinan, dan bukan hanya satu jawaban benar. Terkait dengan ini, bermain merupakan lahan yang subur bagi cara berpikir semacam ini.

Bermain Bukan Lari dari Realitas

Di titik ini, perlu diluruskan satu kesalahpahaman yang mungkin muncul bahwa  bermain bukan berarti lari dari kenyataan. Bermain justru mengakui realitas apa adanya bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.  Dalam bermain, manusia tidak menuntut kepastian absolut. Ia menerima batasan-batasan yang ada, tapi tetap mencari ruang kebebasan di dalamnya. Seperti anak-anak yang bisa bermain di tengah keterbatasan, masyarakat yang mampu bermain di tengah krisis sering kali justru lebih tahan banting. Nah, logikanya jadi nyambung kan, saudara?

Jadi tindakan-tindakan semacam penggalangan dana di tengah bencana, solidaritas spontan, kreativitas warga ketika negara lambat, semua itu adalah bentuk bermain sosial. Dan secara psikologis, ini adalah tanda resiliensi. Masyarakat yang kehilangan kemampuan bermain biasanya menunjukkan gejala sebaliknya,  suka mengeluh, gampang putus asa, cepat marah, dan alergi pada ketidakpastian.

Bermain, Serius, Optimis, dan Beradab

Jadi penting untuk memahami bahwa menghadapi tahun baru dengan bermain, justru menjadikannya serius, optimis, dan beradab.  Disebut serius karena dalam bermain menuntut keterlibatan penuh, bukan sikap asal-asalan.  Optimis bukan karena yakin menang, tapi karena berani terus bermain sesuai peran masing-masing.  Disebut beradab karena bermain mengajarkan aturan, empati, dan penghormatan pada sesama pemain.  Di dunia yang terlalu tegang, terlalu sinis, dan terlalu yakin pada satu kebenaran, kemampuan bermain justru menjadi tindakan  yang radikal dan bentuk kemampuan yang paling mendasar.

Tahun baru kali ini, pada akhirnya, bukan soal angka yang berganti. Ia adalah cermin cara kita memaknai hidup. Apakah kita memilih menyerah pada krisis, atau tetap bermain dengan harapan, etika, dan kepedulian.  Dan mungkin, di zaman kita yang serba tidak pasti ini, manusia yang paling waras bukan yang paling yakin dirinya benar, tapi yang masih mampu bermain sesuai perannya secara bersama-sama.

Kita semua musti menyadari kita punya peran masing-masing, harus menjalankannya dengan amanah dan sungguh-sungguh, seraya menyadari bahwa kita punya tanggung jawab memelihara kehidupan. Mari bergotong-royong sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing, dan semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana bisa segera membaik kondisinya. Selamat menyongsong tahun baru 2026. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kembang apitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bikin Resolusi Kok Nunggu Tahun Baru?

Next Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? ---Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co