23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Panakajaya Hidayatullah by Panakajaya Hidayatullah
December 30, 2025
in Ulas Musik
Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

SAYA tidak sedang mencari selawat ketika Gambus Hasyimi tiba-tiba muncul di Reels Instagram. Video itu lewat begitu saja, tanpa permisi. Terlihat sekelompok pemuda bersarung, berkopyah, duduk bersilah rapi, memainkan melodi Always With Me, Always With You. Lagu Joe Satriani yang biasanya saya dengarkan sambil merasa sok paling paham gitar sedunia.

Saya kira ini cuma konten iseng. Sampai di tengah lagu, tiba-tiba masuk suara selawat Burdah yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan berkerudung, dengan sikap yang sangat sopan. Di titik ini, saya berhenti menggulirkan jempol. Bukan karena khusyuk, tapi karena bingung, ini konser apa pengajian sebenarnya?

Kebingungan itu berlanjut ketika saya tergoda untuk lanjut menelusuri penampilan-penampilan mereka yang lain di kanal youtubenya. Secara visual, panggung Gambus Hasyimi tampak seperti konser rock betulan. Lampu menyala-nyala, warna merah biru hijau berkejaran, drum menghantam, gitar listrik meraung dengan distorsinya. Semua elemen visualnya sudah benar. Ini panggung yang secara tradisi seharusnya memicu euforia, teriakan, dan setidaknya satu-dua orang yang oleng kehilangan keseimbangan.

Tapi tidak ada tanda-tanda kekacauan. Tidak ada gestur liar. Tidak ada ajakan lepas kendali.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Rock di sini terdengar serius, tapi bersikap rapi. Distorsinya tebal, tapi tingkah lakunya sopan. Seolah-olah musik keras itu datang sambil mengetuk pintu, lalu duduk manis setelah dipersilakan masuk. Ini rock yang tahu diri.

Kebingungan saya bertambah ketika telinga mulai menangkap motif-motif yang terlalu akrab untuk diabaikan. Suara petikan gitar yang membuat saya refleks berpikir, iniSatriani. Dan rupanya, netizen juga merasakan hal yang sama, lalu dengan santai memberi julukan di kolom komentar: Gus Satriani.


Sebuah istilah yang terdengar main-main, tapi entah kenapa terasa sahih. Karena memang ada sesuatu yang “kesantrian” di sana, skill tinggi tapi ditampilkan dengan penuh pengendalian diri.

Belum sempat mencerna itu, datang kejutan di lagu berikutnya. Tema Home dari Dream Theater, lagu yang biasanya diasosiasikan dengan progresi rumit dan durasi panjang, dipinjam untuk mengantar Selawat Asyghil. Musik yang dulu bikin dahi berkerut karena terlalu banyak hitungan ganjil, kini justru mengiringi doa dengan tenang. Seolah-olah musik yang biasanya mengajak berpikir keras, kini diminta ikut menunduk.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Lalu puncaknya: Enter Sandman dari Metallica bertemu Syaikhona. Di sini, logika benar-benar libur. Ini bukan soal cocok atau tidak cocok. Ini soal bagaimana tubuh seharusnya bereaksi. Rock biasanya meminta respons. Selawat biasanya meminta ketenangan. Di Gambus Hasyimi, keduanya datang bersamaan, tanpa sempat bermusyawarah dulu.

Yang menarik, Gambus Hasyimi tidak pernah tampak ingin pamer kecerdikan musikal. Tidak ada kesan ingin melabrak batas atau membuat sensasi berlebihan. Justru sebaliknya, mereka seperti sangat berhati-hati. Rock diizinkan masuk, asal tidak mengajak rusuh. Dentuman boleh keras, asal tidak memancing kekacauan.

Ini musik yang keras tapi tidak galak. Religius tapi tidak khidmat berlebihan. Semuanya berada di zona aman dan justru itulah yang membuatnya aneh.

Karena biasanya, yang aman itu tidak membingungkan. Tapi di sini, semuanya aman, dan kita tetap tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada larangan, tapi juga tidak ada izin eksplisit untuk lepas kendali.

Kebingungan itu makin terasa ketika saya sadar pada satu hal lain yang tidak kalah lucu, mereka menyebut diri mereka Gambus Hasyimi. Grup gambus. Padahal, sejauh yang bisa saya tangkap, tidak ada gambus-gambusnya sama sekali. Tidak ada instrumen gambus yang khas itu. Yang ada justru gitar listrik, bass, drum, keyboard dan tata cahaya ala konser besar.

Nama “gambus” di sini seperti janji yang sengaja tidak ditepati, tapi dengan sangat percaya diri. Mungkin gambusnya sudah menjelma jadi distorsi. Atau mungkin gambusnya hadir secara spiritual, tidak perlu diwujudkan secara fisik. Siapa tahu. Dalam banyak hal, kita memang sering percaya pada sesuatu yang goib.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Di titik ini saya mulai merasa bahwa Gambus Hasyimi bukan sedang mencampuradukkan genre, melainkan meminjam bahasa. Rock tidak dipakai untuk memberontak, tapi untuk mengantar. Ia bekerja seperti kendaraan. Selawat adalah tujuannya. Setelah sampai, rock pamit tanpa klakson, tanpa encore, tanpa drama.

Atau bisa jadi, yang sebenarnya sedang diuji bukan musiknya, melainkan kebiasaan kita sendiri. Kita sudah terlalu lama terbiasa dengan klasifikasi genre yang rapi, musik keras di satu sisi, musik religius di sisi lain. Ketika keduanya bertemu tanpa konflik, tanpa drama, tanpa teriakan “ini salah”, yang terguncang justru refleks kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya menonton Gambus Hasyimi terasa lucu sekaligus canggung. Imajinasi kita dibawa ke konser rock, tapi perilaku kita diminta tetap tertib. Kita diajak masuk ke ruang di mana dentuman distorsi dan doa berjalan berdampingan, tanpa perlu saling mengalahkan.

Gambus Hasyimi tidak membuat rock jadi religius, dan tidak membuat selawat jadi liar. Mereka hanya memperlihatkan satu hal sederhana, bahwa kita bisa sangat serius, sangat sopan, dan tetap kebingungan dalam waktu yang bersamaan.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Dan mungkin, di zaman ketika segalanya harus jelas dan terklasifikasi, kebingungan yang aman seperti ini justru terasa menyenangkan. Apalagi jika kebingungan itu datang dari grup gambus yang tidak membawa gambus, tapi membawa distorsi dengan penuh adab. [T]

Penulis: Panakajaya Hidayatullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: band rockgambusHasyimimusikmusik rock
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Next Post

Dunia yang Gelisah

Panakajaya Hidayatullah

Panakajaya Hidayatullah

Lahir dan dibesarkan di Situbondo, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan strata satu di Jurusan Musik (Barat), Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta. Setelah lulus, ia melanjutkan studi master dan doktoral dengan minat etnomusikologi di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada. Sejak tahun 2017, ia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Panakajaya Hidayatullah memiliki minat dan ketertarikan khusus pada kajian musik dan seni pertunjukan masyarakat Madura di Tapal Kuda, Jawa Timur. Berbagai publikasinya tentang kajian seni pertunjukan masyarakat Madura telah dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah, prosiding, bunga rampai, dan buletin. Instagram: @panakajaya

Related Posts

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails
Next Post
Dunia yang Gelisah

Dunia yang Gelisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co