SAYA tidak sedang mencari selawat ketika Gambus Hasyimi tiba-tiba muncul di Reels Instagram. Video itu lewat begitu saja, tanpa permisi. Terlihat sekelompok pemuda bersarung, berkopyah, duduk bersilah rapi, memainkan melodi Always With Me, Always With You. Lagu Joe Satriani yang biasanya saya dengarkan sambil merasa sok paling paham gitar sedunia.
Saya kira ini cuma konten iseng. Sampai di tengah lagu, tiba-tiba masuk suara selawat Burdah yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan berkerudung, dengan sikap yang sangat sopan. Di titik ini, saya berhenti menggulirkan jempol. Bukan karena khusyuk, tapi karena bingung, ini konser apa pengajian sebenarnya?
Kebingungan itu berlanjut ketika saya tergoda untuk lanjut menelusuri penampilan-penampilan mereka yang lain di kanal youtubenya. Secara visual, panggung Gambus Hasyimi tampak seperti konser rock betulan. Lampu menyala-nyala, warna merah biru hijau berkejaran, drum menghantam, gitar listrik meraung dengan distorsinya. Semua elemen visualnya sudah benar. Ini panggung yang secara tradisi seharusnya memicu euforia, teriakan, dan setidaknya satu-dua orang yang oleng kehilangan keseimbangan.
Tapi tidak ada tanda-tanda kekacauan. Tidak ada gestur liar. Tidak ada ajakan lepas kendali.

Rock di sini terdengar serius, tapi bersikap rapi. Distorsinya tebal, tapi tingkah lakunya sopan. Seolah-olah musik keras itu datang sambil mengetuk pintu, lalu duduk manis setelah dipersilakan masuk. Ini rock yang tahu diri.
Kebingungan saya bertambah ketika telinga mulai menangkap motif-motif yang terlalu akrab untuk diabaikan. Suara petikan gitar yang membuat saya refleks berpikir, iniSatriani. Dan rupanya, netizen juga merasakan hal yang sama, lalu dengan santai memberi julukan di kolom komentar: Gus Satriani.
Sebuah istilah yang terdengar main-main, tapi entah kenapa terasa sahih. Karena memang ada sesuatu yang “kesantrian” di sana, skill tinggi tapi ditampilkan dengan penuh pengendalian diri.
Belum sempat mencerna itu, datang kejutan di lagu berikutnya. Tema Home dari Dream Theater, lagu yang biasanya diasosiasikan dengan progresi rumit dan durasi panjang, dipinjam untuk mengantar Selawat Asyghil. Musik yang dulu bikin dahi berkerut karena terlalu banyak hitungan ganjil, kini justru mengiringi doa dengan tenang. Seolah-olah musik yang biasanya mengajak berpikir keras, kini diminta ikut menunduk.

Lalu puncaknya: Enter Sandman dari Metallica bertemu Syaikhona. Di sini, logika benar-benar libur. Ini bukan soal cocok atau tidak cocok. Ini soal bagaimana tubuh seharusnya bereaksi. Rock biasanya meminta respons. Selawat biasanya meminta ketenangan. Di Gambus Hasyimi, keduanya datang bersamaan, tanpa sempat bermusyawarah dulu.
Yang menarik, Gambus Hasyimi tidak pernah tampak ingin pamer kecerdikan musikal. Tidak ada kesan ingin melabrak batas atau membuat sensasi berlebihan. Justru sebaliknya, mereka seperti sangat berhati-hati. Rock diizinkan masuk, asal tidak mengajak rusuh. Dentuman boleh keras, asal tidak memancing kekacauan.
Ini musik yang keras tapi tidak galak. Religius tapi tidak khidmat berlebihan. Semuanya berada di zona aman dan justru itulah yang membuatnya aneh.
Karena biasanya, yang aman itu tidak membingungkan. Tapi di sini, semuanya aman, dan kita tetap tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada larangan, tapi juga tidak ada izin eksplisit untuk lepas kendali.
Kebingungan itu makin terasa ketika saya sadar pada satu hal lain yang tidak kalah lucu, mereka menyebut diri mereka Gambus Hasyimi. Grup gambus. Padahal, sejauh yang bisa saya tangkap, tidak ada gambus-gambusnya sama sekali. Tidak ada instrumen gambus yang khas itu. Yang ada justru gitar listrik, bass, drum, keyboard dan tata cahaya ala konser besar.
Nama “gambus” di sini seperti janji yang sengaja tidak ditepati, tapi dengan sangat percaya diri. Mungkin gambusnya sudah menjelma jadi distorsi. Atau mungkin gambusnya hadir secara spiritual, tidak perlu diwujudkan secara fisik. Siapa tahu. Dalam banyak hal, kita memang sering percaya pada sesuatu yang goib.

Di titik ini saya mulai merasa bahwa Gambus Hasyimi bukan sedang mencampuradukkan genre, melainkan meminjam bahasa. Rock tidak dipakai untuk memberontak, tapi untuk mengantar. Ia bekerja seperti kendaraan. Selawat adalah tujuannya. Setelah sampai, rock pamit tanpa klakson, tanpa encore, tanpa drama.
Atau bisa jadi, yang sebenarnya sedang diuji bukan musiknya, melainkan kebiasaan kita sendiri. Kita sudah terlalu lama terbiasa dengan klasifikasi genre yang rapi, musik keras di satu sisi, musik religius di sisi lain. Ketika keduanya bertemu tanpa konflik, tanpa drama, tanpa teriakan “ini salah”, yang terguncang justru refleks kita sendiri.
Mungkin itu sebabnya menonton Gambus Hasyimi terasa lucu sekaligus canggung. Imajinasi kita dibawa ke konser rock, tapi perilaku kita diminta tetap tertib. Kita diajak masuk ke ruang di mana dentuman distorsi dan doa berjalan berdampingan, tanpa perlu saling mengalahkan.
Gambus Hasyimi tidak membuat rock jadi religius, dan tidak membuat selawat jadi liar. Mereka hanya memperlihatkan satu hal sederhana, bahwa kita bisa sangat serius, sangat sopan, dan tetap kebingungan dalam waktu yang bersamaan.

Dan mungkin, di zaman ketika segalanya harus jelas dan terklasifikasi, kebingungan yang aman seperti ini justru terasa menyenangkan. Apalagi jika kebingungan itu datang dari grup gambus yang tidak membawa gambus, tapi membawa distorsi dengan penuh adab. [T]
Penulis: Panakajaya Hidayatullah
Editor: Adnyana Ole



























