“Isn’t It a Pity,” salah satu lagu paling menyentuh dari George Harrison, diliputi emosi yang dalam dan spiritualitas yang lembut. Mendengarkannya serasa memasuki lanskap eterik, ruang sunyi di antara nada-nada, tempat pertanyaan tentang cinta, kehilangan, dan kemanusiaan bergema, mengajak kita merenung sekaligus merasakan maknanya.
George Harrison, selain dikenal sebagai gitaris dan penulis lagu The Beatles, juga menapaki jalan artistik melalui karya-karya solonya. Sepanjang hidupnya, ia merilis sekitar dua belas album solo, dari Wonderwall Music (1968) hingga Brainwashed (2002), yang terbit secara anumerta. Karya-karya ini menandai pencarian musikal dan spiritualnya yang personal.
Lagu “Isn’t It a Pity” termuat dalam album monumental All Things Must Pass (1970), yang dirilis tak lama setelah The Beatles bubar. Album ini kerap dianggap sebagai pernyataan kemerdekaan artistik George Harrison, sebuah ruang di mana ia akhirnya dapat mengekspresikan sepenuhnya bakat, gagasan, dan kedalaman batinnya setelah bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang grup legendaris itu.
George Harrison wafat pada 29 November 2001, di usia 58 tahun. Ia meninggalkan warisan lagu-lagu yang abadi dan terus hidup dalam ingatan banyak orang, seperti “My Sweet Lord,” “Dark Sweet Lady,” “Something,” “While My Guitar Gently Weeps,” dan “Here Comes the Sun.”
Dalam “Isn’t It a Pity,” kita merasakan karakter khas George Harrison melalui permainan gitar slide yang lirih dan mengalir, melodi yang menghanyutkan, serta aransemen yang kaya. Perpaduan folk, rock, dan pop itu menghadirkan emosi yang mendalam, bahkan ritmenya terasa primitif, seakan memancarkan semacam “jungle rock” yang liar namun jujur.
Liriknya reflektif, sederhana di permukaan, tetapi sarat bayangan puitik. “Isn’t It a Pity” terdengar seperti pertanyaan yang tertahan lama, menggores kesadaran kita tentang hakikat cinta dan kegagalan manusia memaknainya.
Now isn’t it a shame/
How we break each other’s hearts/
And cause each other pain?
Kehebatan George Harrison dalam lagu ini terletak pada ratapan spiritualnya yang tulus akan cinta dan harmoni universal. Aransemen musiknya yang luas dan berlapis memperdalam kesan duka, sekaligus menjadi refleksi matang tentang kerapuhan hidup dan kehilangan empati. Di sinilah “Isn’t It a Pity” menjelma menjadi karya yang epik sekaligus intim.
George menulis lirik dan melodi yang tampak sederhana, namun digerakkan oleh visi batin yang mendalam. Ia berbicara tentang pengkhianatan, tentang menerima cinta tetapi lupa membalasnya, tentang bagaimana manusia tanpa sadar saling melukai. Dalam pandangannya, cinta kerap dipahami secara sepihak: ingin memiliki, tetapi enggan memberi.
And because of all their tears/
Their eyes can’t hope to see/
The beauty that surrounds them/
Isn’t it a pity?
Pandangan George Harrison tentang cinta tak terpisahkan dari perjalanan spiritualnya. Ia melihat cinta sebagai relasi universal yang melampaui batas romantis semata. Cinta sejati, baginya, adalah pertemuan antara kasih personal dan pencarian spiritual akan makna hidup, kedamaian, dan tujuan yang lebih luas. Namun, kenyataan yang ia saksikan justru kerap berlawanan dengan ideal itu. Apakah “pity” (kasihan) ini adalah belas kasihan (karuna) dalam Buddhisme yang dipelajarinya? Apakah lagu ini adalah bentuk kesadaran akan dukkha (penderitaan) yang timbul dari keterikatan dan ego?
“Ia menginspirasi cinta dan memiliki kekuatan seratus orang. Ia seperti matahari, bunga, dan bulan; kami akan sangat merindukannya. Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih kosong tanpanya,” ujar Bob Dylan, suatu kali menggambarkan sosok George Harrison.
Para penggemar selalu merasakan kedekatan emosional dan kerentanan dalam musiknya. Dijuluki sebagai “Beatle yang pendiam,” George justru berbicara paling jujur melalui lagu-lagunya, suara batin yang terus beresonansi lintas generasi.
“Isn’t It a Pity” adalah balada yang mengungkap kegagalan universal manusia dalam memaknai cinta dan empati. Melalui lirik melankolis, orkestrasi yang menggema bagai katedral batin, dan envoi lirih bagai suara doa yang putus asa, lagu ini seakan ekspresi cinta George Harrison yang tragis. Bagaimana pesan “Isn’t It a Pity” justru semakin relevan di dunia yang terpolarisasi saat ini, menjadikan ratapan Harrison setengah abad silam terasa bukan sekadar lagu, melainkan nubuat tentang manusia yang terus gagal belajar mencintai. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























