23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GUS — Memperingati 16 Tahun Wafat Gus Dur

Hartanto by Hartanto
December 24, 2025
in Esai
GUS — Memperingati 16 Tahun Wafat Gus Dur

Gus Dur mengenakan pakaian Tionghoa | Foto dari Instagram Yenny Wahid

 JIKA kali ini langit warna kelabu, dan gerimis menepis tepi daun – bau tanah basah jadi penanda. Ada duka tak terkata. Duka itu milik kita semua. Milik setiap insan yang cinta akan kebersamaan dalam aneka perbedaan.

Milik para pecinta kedamaian. Ya, Gus Dur telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Beliau berpulang, untuk duduk disisiNYA pada 30 Desember 2009.

Gus Dur adalah  ‘samudra tanpa dasar’. Ia, senantiasa memberi ‘setetes rasa damai’ bagi yang terpinggirkan, tersisih, teraniaya, dan segala ‘ter’ yang berkonotasi tekanan.

Karena ia adalah samudra yang tak terukur kedalamannya, maka ‘tetesan rasa damai’ itu tak pernah habis sampai akhir hayatnya. Pemikiran-pemikirannya yang genial dan visioner, masih tetap bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, hingga kini.

Gus, meski kepercayaan kita berbeda, tapi saya senantiasa menganggap bahwa anda adalah ‘kyai’ saya. Anda adalah ‘maha guru’ saya dalam soal pemikiran. Karena anda adalah cendikiawan sejati, yang selalu terlibat dalam masalah-masalah aktual di masyarakat, dan tidak hanya menyuarakan kebenaran dari ketinggian menara. Meski engkau sedang duduk di singgasana istana sekalipun.

Ketika itu, seluruh isi alam semesta pasti berduka dengan kepergianmu. Ini, kubaca dari airmata sekawanan burung camar yang melintas di atas laut Sanur. Cericitnya, adalah ‘nyanyian duka’ yang mewakili jerit hati setiap insan pecinta kedamaian.

Aku juga ‘terguncang’ menatap garis pantai yang nun di Timur pantai Sanur. Sekawanan burung camar itu, menuju arah Karangasem. Mungkin, ia ingin mengabarkan kepergianmu pada seorang ’sahabat baikmu’ Gus.

Disana, di Karangasem, telah beberapa lama seorang sahabat baikmu ‘istirah’. Ibu Gedong Oka ‘batu karang dari Karangasem’. Hanya dia Gus, satu orang yang tetap berdiri di gedung DPR RI untuk tetap loyal padamu. Ketika semua orang yang ada di gedung itu meninggalkanmu.

Sejak saat itu, saya jadi lebih menghormati beliau Gus, meski dalam beberapa pemikiran kami acap berbeda. Dengan memahami sahabat sahabatmu, aku jadi semakin paham akan dirimu Gus.

Kepergianmu, mengingatkanku pada proses awal demokrasi yang sebenarnya di negeri ini. Ketika engkau memilih mendirikan *Forum Demokrasi* di tahun 91, manakala ‘kekuasaan’ menciptakan ‘homogenitas’ kaum cendikiawan.

Yang sebenarnya justru merupakan pengingkaran pada prinsip kaum cendikiawan. Disinilah Gus, engkau dan teman-temanmu, 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan social, telah merintis reformasi pemikiran yang sebenarnya. Paling tidak, tentang demokrasi dan jiwa merdeka.

Lewat seorang sahabat, selaku bendahara Forum Demokrasi, yang juga atasanku — redaktur pelaksana  di majalah Matra –  Kemala Atmodjo,  aku bisa bersentuhan dengan  makna demokrasi yang sesungguhnya. Aku kian bisa mengenal pemikiran pemikiran mu dan juga teman-temanmu, para cendikiawan terbaik di negeri ini.

Aku cukup beruntung Gus, sebab ketika aku acap bermalam di Wisma Seni Taman Ismail Marzuki, aku bisa berkesempatan menghadiri diskusi diskusi Forum Demokrasi, Sebab, TIM  tidak jauh dari Jl. Gondangdia, tempat Fordem acap menyelenggarakan diskusi.

Semula Gus, aku tetaplah penakut. Manakala hadir dalam diskusi-diskusi Fordem, aku selalu memilih tempat dekat pintu. Alasannya Gus, agar aku bisa cepat mangkir ketika polisi datang. ‘Tekanan kekuasaan’ pada minoritas berpuluh-puluh tahun, membuatku jadi kerdil dan penakut. Itu realita Gus.

Demikian juga saat acara halal-bihalal FORDEM di TIM tahun 1992. Saat itu, Kemala Atmodjo jadi ketua panitia acara tersebut. Aku tetap menepi di pintu keluar saat Kemala di interograsi polisi yang membubarkan acara itu.

Aku tetap penakut. Aku tak seberani Putu Wirata sahabatku. Ia, berani sendirian bersikukuh mendirikan A;iansi Jurnalis Independen di Bali ketika kekuasaan begitu kuat menekannya.

Tapi, lama kelamaan mengikuti diskusi diskusimu, aku kian sadar Gus. Rasa takut, bukan anasir yang mesti dipelihara oleh setiap mahluk di bumi ini.

Aku juga kian paham Gus, kaum cendekiawan tak berada di kelas tersendiri, tetapi berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan demokrasi.

Gus, aku mulai berani duduk di depan dan tak lagi di dekat pintu keluar ketika acara diskusimu di LBH Jakarta tahun 1993. Saat itu, engkau bersama Adnan Buyung dan Franz Magnis Suseno sebagai pembicara.

Itu lah Gus, betapa banyak pelajaran yang saya timba dari dirimu. Yang paling penting dari seluruh proses itu Gus, adalah aku dapat belajar banyak mengatasi rasa takut dalam memperjuangkan kebenaran.

Gus, gerimis kali ini,  mungkin merupakan tangis dari alam semesta atas kepergianmu. Kami, senantiasa merindukanmu. Juga merindukan sosok sepertimu yang mampu menebarkan ‘kabar baik’ bahwa kepercayaan yang kau peluk, adalah pemberi damai bagi setiap mahluk yang hidup di jagat raya ini.

Gus, bagiku, anda adalah ‘maha kyai’ bagi seluruh umat yang hidup di jagat raya ini. Akhir kata Gus, aku ingin memetik kata-kata penyair Umbu Landu Paranggi, sebagai tanda hormatku pada mu ;_”Selamat Jalan Gus, sampai ketemu di Kemah Ibrahim”. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus Dur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Next Post

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co