2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GUS — Memperingati 16 Tahun Wafat Gus Dur

Hartanto by Hartanto
December 24, 2025
in Esai
GUS — Memperingati 16 Tahun Wafat Gus Dur

Gus Dur mengenakan pakaian Tionghoa | Foto dari Instagram Yenny Wahid

 JIKA kali ini langit warna kelabu, dan gerimis menepis tepi daun – bau tanah basah jadi penanda. Ada duka tak terkata. Duka itu milik kita semua. Milik setiap insan yang cinta akan kebersamaan dalam aneka perbedaan.

Milik para pecinta kedamaian. Ya, Gus Dur telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Beliau berpulang, untuk duduk disisiNYA pada 30 Desember 2009.

Gus Dur adalah  ‘samudra tanpa dasar’. Ia, senantiasa memberi ‘setetes rasa damai’ bagi yang terpinggirkan, tersisih, teraniaya, dan segala ‘ter’ yang berkonotasi tekanan.

Karena ia adalah samudra yang tak terukur kedalamannya, maka ‘tetesan rasa damai’ itu tak pernah habis sampai akhir hayatnya. Pemikiran-pemikirannya yang genial dan visioner, masih tetap bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, hingga kini.

Gus, meski kepercayaan kita berbeda, tapi saya senantiasa menganggap bahwa anda adalah ‘kyai’ saya. Anda adalah ‘maha guru’ saya dalam soal pemikiran. Karena anda adalah cendikiawan sejati, yang selalu terlibat dalam masalah-masalah aktual di masyarakat, dan tidak hanya menyuarakan kebenaran dari ketinggian menara. Meski engkau sedang duduk di singgasana istana sekalipun.

Ketika itu, seluruh isi alam semesta pasti berduka dengan kepergianmu. Ini, kubaca dari airmata sekawanan burung camar yang melintas di atas laut Sanur. Cericitnya, adalah ‘nyanyian duka’ yang mewakili jerit hati setiap insan pecinta kedamaian.

Aku juga ‘terguncang’ menatap garis pantai yang nun di Timur pantai Sanur. Sekawanan burung camar itu, menuju arah Karangasem. Mungkin, ia ingin mengabarkan kepergianmu pada seorang ’sahabat baikmu’ Gus.

Disana, di Karangasem, telah beberapa lama seorang sahabat baikmu ‘istirah’. Ibu Gedong Oka ‘batu karang dari Karangasem’. Hanya dia Gus, satu orang yang tetap berdiri di gedung DPR RI untuk tetap loyal padamu. Ketika semua orang yang ada di gedung itu meninggalkanmu.

Sejak saat itu, saya jadi lebih menghormati beliau Gus, meski dalam beberapa pemikiran kami acap berbeda. Dengan memahami sahabat sahabatmu, aku jadi semakin paham akan dirimu Gus.

Kepergianmu, mengingatkanku pada proses awal demokrasi yang sebenarnya di negeri ini. Ketika engkau memilih mendirikan *Forum Demokrasi* di tahun 91, manakala ‘kekuasaan’ menciptakan ‘homogenitas’ kaum cendikiawan.

Yang sebenarnya justru merupakan pengingkaran pada prinsip kaum cendikiawan. Disinilah Gus, engkau dan teman-temanmu, 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan social, telah merintis reformasi pemikiran yang sebenarnya. Paling tidak, tentang demokrasi dan jiwa merdeka.

Lewat seorang sahabat, selaku bendahara Forum Demokrasi, yang juga atasanku — redaktur pelaksana  di majalah Matra –  Kemala Atmodjo,  aku bisa bersentuhan dengan  makna demokrasi yang sesungguhnya. Aku kian bisa mengenal pemikiran pemikiran mu dan juga teman-temanmu, para cendikiawan terbaik di negeri ini.

Aku cukup beruntung Gus, sebab ketika aku acap bermalam di Wisma Seni Taman Ismail Marzuki, aku bisa berkesempatan menghadiri diskusi diskusi Forum Demokrasi, Sebab, TIM  tidak jauh dari Jl. Gondangdia, tempat Fordem acap menyelenggarakan diskusi.

Semula Gus, aku tetaplah penakut. Manakala hadir dalam diskusi-diskusi Fordem, aku selalu memilih tempat dekat pintu. Alasannya Gus, agar aku bisa cepat mangkir ketika polisi datang. ‘Tekanan kekuasaan’ pada minoritas berpuluh-puluh tahun, membuatku jadi kerdil dan penakut. Itu realita Gus.

Demikian juga saat acara halal-bihalal FORDEM di TIM tahun 1992. Saat itu, Kemala Atmodjo jadi ketua panitia acara tersebut. Aku tetap menepi di pintu keluar saat Kemala di interograsi polisi yang membubarkan acara itu.

Aku tetap penakut. Aku tak seberani Putu Wirata sahabatku. Ia, berani sendirian bersikukuh mendirikan A;iansi Jurnalis Independen di Bali ketika kekuasaan begitu kuat menekannya.

Tapi, lama kelamaan mengikuti diskusi diskusimu, aku kian sadar Gus. Rasa takut, bukan anasir yang mesti dipelihara oleh setiap mahluk di bumi ini.

Aku juga kian paham Gus, kaum cendekiawan tak berada di kelas tersendiri, tetapi berlaku bagi siapa saja yang melakukan perjuangan menegakkan kebenaran guna mewujudkan keadilan, kebebasan, dan demokrasi.

Gus, aku mulai berani duduk di depan dan tak lagi di dekat pintu keluar ketika acara diskusimu di LBH Jakarta tahun 1993. Saat itu, engkau bersama Adnan Buyung dan Franz Magnis Suseno sebagai pembicara.

Itu lah Gus, betapa banyak pelajaran yang saya timba dari dirimu. Yang paling penting dari seluruh proses itu Gus, adalah aku dapat belajar banyak mengatasi rasa takut dalam memperjuangkan kebenaran.

Gus, gerimis kali ini,  mungkin merupakan tangis dari alam semesta atas kepergianmu. Kami, senantiasa merindukanmu. Juga merindukan sosok sepertimu yang mampu menebarkan ‘kabar baik’ bahwa kepercayaan yang kau peluk, adalah pemberi damai bagi setiap mahluk yang hidup di jagat raya ini.

Gus, bagiku, anda adalah ‘maha kyai’ bagi seluruh umat yang hidup di jagat raya ini. Akhir kata Gus, aku ingin memetik kata-kata penyair Umbu Landu Paranggi, sebagai tanda hormatku pada mu ;_”Selamat Jalan Gus, sampai ketemu di Kemah Ibrahim”. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus Dur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Next Post

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co