6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Bahagia itu Sederhana, tapi Tak Semudah Asa

Chusmeru by Chusmeru
December 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KEBAHAGIAAN suatu negara tercermin dari kebahagiaan yang dirasakan individu dan masyarakatnya. Indonesia memang tidak termasuk kategori negara yang bahagia menurut World Happiness Report (WHR). Meski sesungguhnya sudah sejak dahulu kala banyak ajaran tentang bagaimana meraih kebahagiaan dari para leluhur.

Indonesia memiliki pemikir dan filsuf besar bernama Ki Ageng Suryomentaram. Beliau adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang lahir di Yogyakarta tahun 1892. Salah satu ajaran beliau yang terkenal di masyarakat Jawa adalah Kawruh Begjo atau Ilmu Bahagia.

Inti ajaran Ki Ageng Suryomentaram sesungguhnya sangat sederhana. Jika manusia ingin hidup bahagia, maka hindari sifat Ojo Dumeh atau jangan mentang-mentang. Hidup tak perlu sombong. Jangan mentang-mentang kaya dan berkuasa lantas menjadi sombong. Jangan mentang-mentang menyandang banyak gelar, lalu membodohkan orang lain. Jangan mentang-mentang merasa paling taat beragama, lantas mengkafirkan orang lain.  

Apa yang disampaikan Ki Ageng Suryomentaram memang patut direnungkan. Apalagi masyarakat Jawa juga mempercayai adanya nilai kehidupan jalmo tan keno kiniro. Artinya, pendapat, sikap, perilaku, dan nasib seseorang tidak ada yang dapat diperkirakan. Manusia tidak berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak dan berkomunikasi dengan orang lain.

Hari ini orang setuju, besok bisa berubah menolak. Hari ini orang kaya dan berkuasa, esok bisa menjadi miskin dan tak lagi punya kuasa. Kemarin membenci seseorang, kini begitu mencintainya. Hari ini menjadi sahabat, besok berubah jadi pengkhianat. Hari kemarin orang merasa paling suci, kini masuk bui lantaran korupsi. Tak pernah ada yang dapat memastikan gambaran perjalanan hidup.

Masyarakat Jawa juga sangat percaya pada konsepsi tentang ngundhuh wohing pakerti. Apa yang dilakukan seseorang pada orang lain akan berdampak pada kehidupan di kemudian hari. Masyarakat Bali menyebutnya karma pala. 

Jika kesombongan yang ditunjukkan, maka ia akan memetik buah kesombongan itu di lain waktu. Bila orang gemar memfitnah orang lain, suatu saat ia akan terjatuh lantaran fitnahnya itu. Namun bila kesederhanaan dan kebaikan dijadikan pedoman hidupnya, maka orang akan memetik kebaikan juga dari orang lain.

Menjadi Bahagia

Menjadi orang bahagia sejatinya tidak begitu sulit. Hidup bahagia adalah hidup yang sewajarnya, tidak berlebih-lebihan, dan tidak berkekurangan. Hidup di dunia memang sangat banyak yang dibutuhkan. Akan tetapi Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan, kebahagiaan akan diperoleh jika manusia hidup sabutuhe, sesuai kebutuhan saja ( Chusmeru, 2024).

Kadangkala sesuatu yang kita butuhkan sesungguhnya tidak kita perlukan. Oleh sebab itulah, penuhi kebutuhan seperlunya saja (saperlune). Hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan juga tidak ada habisnya. Maka, orang yang bahagia adalah mereka yang hidup secukupnya saja (sacukupe); tidak berlebihan, namun juga tidak kekurangan.

Ilmu bahagia juga mengajarkan orang agar hidup sebenarnya (sabenere). Tidak perlu menjadi munafik, tidak juga berpura-pura dalam menjalani kehidupan. Jangan merasa diri berkuasa, jika memang tidak memiliki kekuasaan. Jangan merasa paling pintar di dunia, jika masih banyak hal yang belum diketahui. Jangan menganggap diri paling benar, bila kesalahan masih sering dilakukan. Jangan merasa paling suci jika dosa dilakukan setiap hari. Hidup sesuai dengan jatidiri masing-masing.

Mencapai kebahagiaan tidak boleh dengan menghalalkan segala cara. Kebahagiaan perlu diperoleh dengan jalan yang semestinya (samesthine). Percuma saja menjadi kaya, apabila kekayaan itu didapat dengan jalan yang tidak semestinya, seperti korupsi. Tidak semestinya juga suatu jabatan diperoleh dengan cara kolusi dan nepotisme. Itu semua tidak akan membuat hidup menjadi bahagia.

Kebahagiaan tidak perlu dicari secara berlebihan dengan memaksakan diri. Kebahagiaan itu sepantasnya saja (sakepenake). Jika memang sudah rizki seseorang, maka harta dan kekayaan akan didapat. Jabatan diperoleh dengan menunjukkan prestasi kerja. Tidak akan ada beban bagi orang untuk mengejar jabatan selama melakukannya dengan sepantasnya.

Tak Semudah Asa

Bahagia adalah perasaan yang sangat subjektif. Mudah untuk diucapkan, tak semudah asa untuk dilaksanakan. Itu semua lantaran manusia senantiasa ingin hidup bahagia, namun kadang lupa bagaimana meraih kebahagiaan itu. Apalagi dalam interaksi dan komunikasi antarmanusia banyak tantangan, cobaan, dan godaan yang membuat manusia sulit mendapat kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan seseorang, menurut Ki Ageng Suryomentaram, disebabkan oleh adanya karep, asa, atau keinginan. Manusia akan selalu mengejar tiga asa, yaitu semat, drajat, dan kramat. Keinginan pertama berupa semat, seperti kekayaan, kemakmuran, kesenangan, kecantikan, kegantengan, dan hal lain yang bersifat material. Banyak orang yang lupa pada waktu, tenaga, dan pikiran; hanya untuk mengejar kesenangan dan kekayaan. Tidak sedikit pula orang yang lupa pada usia demi tetap mendapatkan kecantikan dan ketampanan (Chusmeru, 2024).

Asa atau keinginan kedua adalah drajat, berupa keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan status sosial. Banyak orang mengejar drajat hanya agar dihormati dan diakui secara sosial oleh orang lain. Apa pun akan dilakukan demi status sosialnya. Orang merasa bangga jika gelar akademisnya semakin panjang, karena akan dianggap sebagai orang yang mulia di mata orang lain.

Ketiga, asa berupa kramat; yaitu kewibawaan, kekuasaan, kedudukan, maupun pangkat. Keinginan ini sangat mendominasi pada orang yang haus akan kekuasaan dan kedudukan. Cara apa pun akan dilakukan asal bisa berkuasa. Tak peduli pada norma moral dan etika, asal mendapat kekuasaan berbagai cara ditempuh. Kekuasaan memang sangat diidamkan banyak orang. Padahal kekuasaan dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan, sebab orang yang berkuasa selalu akan berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Menjadi bahagia memang tak semudah asa. Alih-alih mendapat kebahagiaan, orang justru merasa hidup dalam neraka dunia yang bersumber dari perasaan dan perilaku manusia. Perasaan iri dapat membuat orang hidup dalam neraka dunia. Manusia akan selalu merasa kurang dibanding orang lain. Perasaan iri merupakan pertanda level seseorang lebih rendah dibandingkan orang lain. Ketika orang merasa iri, maka kehidupan sehari-harinya seperti di neraka.

Neraka dunia bisa bernama pambegan atau sombong. Orang yang sombong akan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang sombong sesungguhnya sedang berada di neraka dunia. Selalu merasa menang dari orang lain. Hanya dirinya yang dianggap lebih baik dan lebih utama, sementara orang lain berada dalam kenistaan.

Menjadi bahagia sejatinya sangat sederhana. Akan tetapi manusia acapkali bersikap pesimis, apatis, dan fatalis dalam menyikapi kehidupan. Apalagi jika kebahagiaan yang diidamkan tak dapat diraih, manusia menjadi pribadi yang selalu menyalahkan pihak lain. Bahkan orang meyalahkan Tuhan, mencaci-maki Tuhan, serta membenturkan ajaran Tuhan.

Padahal sejak dulu masyarakat Indonesia sangat percaya pada filosofi Gusti tan keno kinoyo opo. Tuhan tidak dapat digambarkan seperti apa, dan dibandingkan dengan apa pun. Tuhan bukan tempat yang salah sebagaimana manusia kerap berbuat salah. Filosofi lain juga mengajarkan, bahwa Gusti mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang dilakukan manusia selalu dalam pantauan Tuhan, sehingga tatkala manusia ingin hidup bahagia, Tuhan pun mendengarnya.  

Bahagia itu begitu sederhana, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak dapat merengkuhnya. Begitu banyak asa di sekeliling manusia. Begitu banyak interaksi dan komunikasi sesama manusia. Maka, jalani saja apa adanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kebahagiaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran "Revolusi Setangkai Jerami"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co