23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Bahagia itu Sederhana, tapi Tak Semudah Asa

Chusmeru by Chusmeru
December 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KEBAHAGIAAN suatu negara tercermin dari kebahagiaan yang dirasakan individu dan masyarakatnya. Indonesia memang tidak termasuk kategori negara yang bahagia menurut World Happiness Report (WHR). Meski sesungguhnya sudah sejak dahulu kala banyak ajaran tentang bagaimana meraih kebahagiaan dari para leluhur.

Indonesia memiliki pemikir dan filsuf besar bernama Ki Ageng Suryomentaram. Beliau adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang lahir di Yogyakarta tahun 1892. Salah satu ajaran beliau yang terkenal di masyarakat Jawa adalah Kawruh Begjo atau Ilmu Bahagia.

Inti ajaran Ki Ageng Suryomentaram sesungguhnya sangat sederhana. Jika manusia ingin hidup bahagia, maka hindari sifat Ojo Dumeh atau jangan mentang-mentang. Hidup tak perlu sombong. Jangan mentang-mentang kaya dan berkuasa lantas menjadi sombong. Jangan mentang-mentang menyandang banyak gelar, lalu membodohkan orang lain. Jangan mentang-mentang merasa paling taat beragama, lantas mengkafirkan orang lain.  

Apa yang disampaikan Ki Ageng Suryomentaram memang patut direnungkan. Apalagi masyarakat Jawa juga mempercayai adanya nilai kehidupan jalmo tan keno kiniro. Artinya, pendapat, sikap, perilaku, dan nasib seseorang tidak ada yang dapat diperkirakan. Manusia tidak berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak dan berkomunikasi dengan orang lain.

Hari ini orang setuju, besok bisa berubah menolak. Hari ini orang kaya dan berkuasa, esok bisa menjadi miskin dan tak lagi punya kuasa. Kemarin membenci seseorang, kini begitu mencintainya. Hari ini menjadi sahabat, besok berubah jadi pengkhianat. Hari kemarin orang merasa paling suci, kini masuk bui lantaran korupsi. Tak pernah ada yang dapat memastikan gambaran perjalanan hidup.

Masyarakat Jawa juga sangat percaya pada konsepsi tentang ngundhuh wohing pakerti. Apa yang dilakukan seseorang pada orang lain akan berdampak pada kehidupan di kemudian hari. Masyarakat Bali menyebutnya karma pala. 

Jika kesombongan yang ditunjukkan, maka ia akan memetik buah kesombongan itu di lain waktu. Bila orang gemar memfitnah orang lain, suatu saat ia akan terjatuh lantaran fitnahnya itu. Namun bila kesederhanaan dan kebaikan dijadikan pedoman hidupnya, maka orang akan memetik kebaikan juga dari orang lain.

Menjadi Bahagia

Menjadi orang bahagia sejatinya tidak begitu sulit. Hidup bahagia adalah hidup yang sewajarnya, tidak berlebih-lebihan, dan tidak berkekurangan. Hidup di dunia memang sangat banyak yang dibutuhkan. Akan tetapi Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan, kebahagiaan akan diperoleh jika manusia hidup sabutuhe, sesuai kebutuhan saja ( Chusmeru, 2024).

Kadangkala sesuatu yang kita butuhkan sesungguhnya tidak kita perlukan. Oleh sebab itulah, penuhi kebutuhan seperlunya saja (saperlune). Hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan juga tidak ada habisnya. Maka, orang yang bahagia adalah mereka yang hidup secukupnya saja (sacukupe); tidak berlebihan, namun juga tidak kekurangan.

Ilmu bahagia juga mengajarkan orang agar hidup sebenarnya (sabenere). Tidak perlu menjadi munafik, tidak juga berpura-pura dalam menjalani kehidupan. Jangan merasa diri berkuasa, jika memang tidak memiliki kekuasaan. Jangan merasa paling pintar di dunia, jika masih banyak hal yang belum diketahui. Jangan menganggap diri paling benar, bila kesalahan masih sering dilakukan. Jangan merasa paling suci jika dosa dilakukan setiap hari. Hidup sesuai dengan jatidiri masing-masing.

Mencapai kebahagiaan tidak boleh dengan menghalalkan segala cara. Kebahagiaan perlu diperoleh dengan jalan yang semestinya (samesthine). Percuma saja menjadi kaya, apabila kekayaan itu didapat dengan jalan yang tidak semestinya, seperti korupsi. Tidak semestinya juga suatu jabatan diperoleh dengan cara kolusi dan nepotisme. Itu semua tidak akan membuat hidup menjadi bahagia.

Kebahagiaan tidak perlu dicari secara berlebihan dengan memaksakan diri. Kebahagiaan itu sepantasnya saja (sakepenake). Jika memang sudah rizki seseorang, maka harta dan kekayaan akan didapat. Jabatan diperoleh dengan menunjukkan prestasi kerja. Tidak akan ada beban bagi orang untuk mengejar jabatan selama melakukannya dengan sepantasnya.

Tak Semudah Asa

Bahagia adalah perasaan yang sangat subjektif. Mudah untuk diucapkan, tak semudah asa untuk dilaksanakan. Itu semua lantaran manusia senantiasa ingin hidup bahagia, namun kadang lupa bagaimana meraih kebahagiaan itu. Apalagi dalam interaksi dan komunikasi antarmanusia banyak tantangan, cobaan, dan godaan yang membuat manusia sulit mendapat kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan seseorang, menurut Ki Ageng Suryomentaram, disebabkan oleh adanya karep, asa, atau keinginan. Manusia akan selalu mengejar tiga asa, yaitu semat, drajat, dan kramat. Keinginan pertama berupa semat, seperti kekayaan, kemakmuran, kesenangan, kecantikan, kegantengan, dan hal lain yang bersifat material. Banyak orang yang lupa pada waktu, tenaga, dan pikiran; hanya untuk mengejar kesenangan dan kekayaan. Tidak sedikit pula orang yang lupa pada usia demi tetap mendapatkan kecantikan dan ketampanan (Chusmeru, 2024).

Asa atau keinginan kedua adalah drajat, berupa keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan status sosial. Banyak orang mengejar drajat hanya agar dihormati dan diakui secara sosial oleh orang lain. Apa pun akan dilakukan demi status sosialnya. Orang merasa bangga jika gelar akademisnya semakin panjang, karena akan dianggap sebagai orang yang mulia di mata orang lain.

Ketiga, asa berupa kramat; yaitu kewibawaan, kekuasaan, kedudukan, maupun pangkat. Keinginan ini sangat mendominasi pada orang yang haus akan kekuasaan dan kedudukan. Cara apa pun akan dilakukan asal bisa berkuasa. Tak peduli pada norma moral dan etika, asal mendapat kekuasaan berbagai cara ditempuh. Kekuasaan memang sangat diidamkan banyak orang. Padahal kekuasaan dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan, sebab orang yang berkuasa selalu akan berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Menjadi bahagia memang tak semudah asa. Alih-alih mendapat kebahagiaan, orang justru merasa hidup dalam neraka dunia yang bersumber dari perasaan dan perilaku manusia. Perasaan iri dapat membuat orang hidup dalam neraka dunia. Manusia akan selalu merasa kurang dibanding orang lain. Perasaan iri merupakan pertanda level seseorang lebih rendah dibandingkan orang lain. Ketika orang merasa iri, maka kehidupan sehari-harinya seperti di neraka.

Neraka dunia bisa bernama pambegan atau sombong. Orang yang sombong akan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang sombong sesungguhnya sedang berada di neraka dunia. Selalu merasa menang dari orang lain. Hanya dirinya yang dianggap lebih baik dan lebih utama, sementara orang lain berada dalam kenistaan.

Menjadi bahagia sejatinya sangat sederhana. Akan tetapi manusia acapkali bersikap pesimis, apatis, dan fatalis dalam menyikapi kehidupan. Apalagi jika kebahagiaan yang diidamkan tak dapat diraih, manusia menjadi pribadi yang selalu menyalahkan pihak lain. Bahkan orang meyalahkan Tuhan, mencaci-maki Tuhan, serta membenturkan ajaran Tuhan.

Padahal sejak dulu masyarakat Indonesia sangat percaya pada filosofi Gusti tan keno kinoyo opo. Tuhan tidak dapat digambarkan seperti apa, dan dibandingkan dengan apa pun. Tuhan bukan tempat yang salah sebagaimana manusia kerap berbuat salah. Filosofi lain juga mengajarkan, bahwa Gusti mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang dilakukan manusia selalu dalam pantauan Tuhan, sehingga tatkala manusia ingin hidup bahagia, Tuhan pun mendengarnya.  

Bahagia itu begitu sederhana, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak dapat merengkuhnya. Begitu banyak asa di sekeliling manusia. Begitu banyak interaksi dan komunikasi sesama manusia. Maka, jalani saja apa adanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kebahagiaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran "Revolusi Setangkai Jerami"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co