3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Bahagia itu Sederhana, tapi Tak Semudah Asa

Chusmeru by Chusmeru
December 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KEBAHAGIAAN suatu negara tercermin dari kebahagiaan yang dirasakan individu dan masyarakatnya. Indonesia memang tidak termasuk kategori negara yang bahagia menurut World Happiness Report (WHR). Meski sesungguhnya sudah sejak dahulu kala banyak ajaran tentang bagaimana meraih kebahagiaan dari para leluhur.

Indonesia memiliki pemikir dan filsuf besar bernama Ki Ageng Suryomentaram. Beliau adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang lahir di Yogyakarta tahun 1892. Salah satu ajaran beliau yang terkenal di masyarakat Jawa adalah Kawruh Begjo atau Ilmu Bahagia.

Inti ajaran Ki Ageng Suryomentaram sesungguhnya sangat sederhana. Jika manusia ingin hidup bahagia, maka hindari sifat Ojo Dumeh atau jangan mentang-mentang. Hidup tak perlu sombong. Jangan mentang-mentang kaya dan berkuasa lantas menjadi sombong. Jangan mentang-mentang menyandang banyak gelar, lalu membodohkan orang lain. Jangan mentang-mentang merasa paling taat beragama, lantas mengkafirkan orang lain.  

Apa yang disampaikan Ki Ageng Suryomentaram memang patut direnungkan. Apalagi masyarakat Jawa juga mempercayai adanya nilai kehidupan jalmo tan keno kiniro. Artinya, pendapat, sikap, perilaku, dan nasib seseorang tidak ada yang dapat diperkirakan. Manusia tidak berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak dan berkomunikasi dengan orang lain.

Hari ini orang setuju, besok bisa berubah menolak. Hari ini orang kaya dan berkuasa, esok bisa menjadi miskin dan tak lagi punya kuasa. Kemarin membenci seseorang, kini begitu mencintainya. Hari ini menjadi sahabat, besok berubah jadi pengkhianat. Hari kemarin orang merasa paling suci, kini masuk bui lantaran korupsi. Tak pernah ada yang dapat memastikan gambaran perjalanan hidup.

Masyarakat Jawa juga sangat percaya pada konsepsi tentang ngundhuh wohing pakerti. Apa yang dilakukan seseorang pada orang lain akan berdampak pada kehidupan di kemudian hari. Masyarakat Bali menyebutnya karma pala. 

Jika kesombongan yang ditunjukkan, maka ia akan memetik buah kesombongan itu di lain waktu. Bila orang gemar memfitnah orang lain, suatu saat ia akan terjatuh lantaran fitnahnya itu. Namun bila kesederhanaan dan kebaikan dijadikan pedoman hidupnya, maka orang akan memetik kebaikan juga dari orang lain.

Menjadi Bahagia

Menjadi orang bahagia sejatinya tidak begitu sulit. Hidup bahagia adalah hidup yang sewajarnya, tidak berlebih-lebihan, dan tidak berkekurangan. Hidup di dunia memang sangat banyak yang dibutuhkan. Akan tetapi Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan, kebahagiaan akan diperoleh jika manusia hidup sabutuhe, sesuai kebutuhan saja ( Chusmeru, 2024).

Kadangkala sesuatu yang kita butuhkan sesungguhnya tidak kita perlukan. Oleh sebab itulah, penuhi kebutuhan seperlunya saja (saperlune). Hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan juga tidak ada habisnya. Maka, orang yang bahagia adalah mereka yang hidup secukupnya saja (sacukupe); tidak berlebihan, namun juga tidak kekurangan.

Ilmu bahagia juga mengajarkan orang agar hidup sebenarnya (sabenere). Tidak perlu menjadi munafik, tidak juga berpura-pura dalam menjalani kehidupan. Jangan merasa diri berkuasa, jika memang tidak memiliki kekuasaan. Jangan merasa paling pintar di dunia, jika masih banyak hal yang belum diketahui. Jangan menganggap diri paling benar, bila kesalahan masih sering dilakukan. Jangan merasa paling suci jika dosa dilakukan setiap hari. Hidup sesuai dengan jatidiri masing-masing.

Mencapai kebahagiaan tidak boleh dengan menghalalkan segala cara. Kebahagiaan perlu diperoleh dengan jalan yang semestinya (samesthine). Percuma saja menjadi kaya, apabila kekayaan itu didapat dengan jalan yang tidak semestinya, seperti korupsi. Tidak semestinya juga suatu jabatan diperoleh dengan cara kolusi dan nepotisme. Itu semua tidak akan membuat hidup menjadi bahagia.

Kebahagiaan tidak perlu dicari secara berlebihan dengan memaksakan diri. Kebahagiaan itu sepantasnya saja (sakepenake). Jika memang sudah rizki seseorang, maka harta dan kekayaan akan didapat. Jabatan diperoleh dengan menunjukkan prestasi kerja. Tidak akan ada beban bagi orang untuk mengejar jabatan selama melakukannya dengan sepantasnya.

Tak Semudah Asa

Bahagia adalah perasaan yang sangat subjektif. Mudah untuk diucapkan, tak semudah asa untuk dilaksanakan. Itu semua lantaran manusia senantiasa ingin hidup bahagia, namun kadang lupa bagaimana meraih kebahagiaan itu. Apalagi dalam interaksi dan komunikasi antarmanusia banyak tantangan, cobaan, dan godaan yang membuat manusia sulit mendapat kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan seseorang, menurut Ki Ageng Suryomentaram, disebabkan oleh adanya karep, asa, atau keinginan. Manusia akan selalu mengejar tiga asa, yaitu semat, drajat, dan kramat. Keinginan pertama berupa semat, seperti kekayaan, kemakmuran, kesenangan, kecantikan, kegantengan, dan hal lain yang bersifat material. Banyak orang yang lupa pada waktu, tenaga, dan pikiran; hanya untuk mengejar kesenangan dan kekayaan. Tidak sedikit pula orang yang lupa pada usia demi tetap mendapatkan kecantikan dan ketampanan (Chusmeru, 2024).

Asa atau keinginan kedua adalah drajat, berupa keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan status sosial. Banyak orang mengejar drajat hanya agar dihormati dan diakui secara sosial oleh orang lain. Apa pun akan dilakukan demi status sosialnya. Orang merasa bangga jika gelar akademisnya semakin panjang, karena akan dianggap sebagai orang yang mulia di mata orang lain.

Ketiga, asa berupa kramat; yaitu kewibawaan, kekuasaan, kedudukan, maupun pangkat. Keinginan ini sangat mendominasi pada orang yang haus akan kekuasaan dan kedudukan. Cara apa pun akan dilakukan asal bisa berkuasa. Tak peduli pada norma moral dan etika, asal mendapat kekuasaan berbagai cara ditempuh. Kekuasaan memang sangat diidamkan banyak orang. Padahal kekuasaan dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan, sebab orang yang berkuasa selalu akan berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Menjadi bahagia memang tak semudah asa. Alih-alih mendapat kebahagiaan, orang justru merasa hidup dalam neraka dunia yang bersumber dari perasaan dan perilaku manusia. Perasaan iri dapat membuat orang hidup dalam neraka dunia. Manusia akan selalu merasa kurang dibanding orang lain. Perasaan iri merupakan pertanda level seseorang lebih rendah dibandingkan orang lain. Ketika orang merasa iri, maka kehidupan sehari-harinya seperti di neraka.

Neraka dunia bisa bernama pambegan atau sombong. Orang yang sombong akan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang sombong sesungguhnya sedang berada di neraka dunia. Selalu merasa menang dari orang lain. Hanya dirinya yang dianggap lebih baik dan lebih utama, sementara orang lain berada dalam kenistaan.

Menjadi bahagia sejatinya sangat sederhana. Akan tetapi manusia acapkali bersikap pesimis, apatis, dan fatalis dalam menyikapi kehidupan. Apalagi jika kebahagiaan yang diidamkan tak dapat diraih, manusia menjadi pribadi yang selalu menyalahkan pihak lain. Bahkan orang meyalahkan Tuhan, mencaci-maki Tuhan, serta membenturkan ajaran Tuhan.

Padahal sejak dulu masyarakat Indonesia sangat percaya pada filosofi Gusti tan keno kinoyo opo. Tuhan tidak dapat digambarkan seperti apa, dan dibandingkan dengan apa pun. Tuhan bukan tempat yang salah sebagaimana manusia kerap berbuat salah. Filosofi lain juga mengajarkan, bahwa Gusti mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang dilakukan manusia selalu dalam pantauan Tuhan, sehingga tatkala manusia ingin hidup bahagia, Tuhan pun mendengarnya.  

Bahagia itu begitu sederhana, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak dapat merengkuhnya. Begitu banyak asa di sekeliling manusia. Begitu banyak interaksi dan komunikasi sesama manusia. Maka, jalani saja apa adanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kebahagiaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran "Revolusi Setangkai Jerami"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co