24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Bahagia itu Sederhana, tapi Tak Semudah Asa

Chusmeru by Chusmeru
December 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KEBAHAGIAAN suatu negara tercermin dari kebahagiaan yang dirasakan individu dan masyarakatnya. Indonesia memang tidak termasuk kategori negara yang bahagia menurut World Happiness Report (WHR). Meski sesungguhnya sudah sejak dahulu kala banyak ajaran tentang bagaimana meraih kebahagiaan dari para leluhur.

Indonesia memiliki pemikir dan filsuf besar bernama Ki Ageng Suryomentaram. Beliau adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang lahir di Yogyakarta tahun 1892. Salah satu ajaran beliau yang terkenal di masyarakat Jawa adalah Kawruh Begjo atau Ilmu Bahagia.

Inti ajaran Ki Ageng Suryomentaram sesungguhnya sangat sederhana. Jika manusia ingin hidup bahagia, maka hindari sifat Ojo Dumeh atau jangan mentang-mentang. Hidup tak perlu sombong. Jangan mentang-mentang kaya dan berkuasa lantas menjadi sombong. Jangan mentang-mentang menyandang banyak gelar, lalu membodohkan orang lain. Jangan mentang-mentang merasa paling taat beragama, lantas mengkafirkan orang lain.  

Apa yang disampaikan Ki Ageng Suryomentaram memang patut direnungkan. Apalagi masyarakat Jawa juga mempercayai adanya nilai kehidupan jalmo tan keno kiniro. Artinya, pendapat, sikap, perilaku, dan nasib seseorang tidak ada yang dapat diperkirakan. Manusia tidak berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak dan berkomunikasi dengan orang lain.

Hari ini orang setuju, besok bisa berubah menolak. Hari ini orang kaya dan berkuasa, esok bisa menjadi miskin dan tak lagi punya kuasa. Kemarin membenci seseorang, kini begitu mencintainya. Hari ini menjadi sahabat, besok berubah jadi pengkhianat. Hari kemarin orang merasa paling suci, kini masuk bui lantaran korupsi. Tak pernah ada yang dapat memastikan gambaran perjalanan hidup.

Masyarakat Jawa juga sangat percaya pada konsepsi tentang ngundhuh wohing pakerti. Apa yang dilakukan seseorang pada orang lain akan berdampak pada kehidupan di kemudian hari. Masyarakat Bali menyebutnya karma pala. 

Jika kesombongan yang ditunjukkan, maka ia akan memetik buah kesombongan itu di lain waktu. Bila orang gemar memfitnah orang lain, suatu saat ia akan terjatuh lantaran fitnahnya itu. Namun bila kesederhanaan dan kebaikan dijadikan pedoman hidupnya, maka orang akan memetik kebaikan juga dari orang lain.

Menjadi Bahagia

Menjadi orang bahagia sejatinya tidak begitu sulit. Hidup bahagia adalah hidup yang sewajarnya, tidak berlebih-lebihan, dan tidak berkekurangan. Hidup di dunia memang sangat banyak yang dibutuhkan. Akan tetapi Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan, kebahagiaan akan diperoleh jika manusia hidup sabutuhe, sesuai kebutuhan saja ( Chusmeru, 2024).

Kadangkala sesuatu yang kita butuhkan sesungguhnya tidak kita perlukan. Oleh sebab itulah, penuhi kebutuhan seperlunya saja (saperlune). Hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan juga tidak ada habisnya. Maka, orang yang bahagia adalah mereka yang hidup secukupnya saja (sacukupe); tidak berlebihan, namun juga tidak kekurangan.

Ilmu bahagia juga mengajarkan orang agar hidup sebenarnya (sabenere). Tidak perlu menjadi munafik, tidak juga berpura-pura dalam menjalani kehidupan. Jangan merasa diri berkuasa, jika memang tidak memiliki kekuasaan. Jangan merasa paling pintar di dunia, jika masih banyak hal yang belum diketahui. Jangan menganggap diri paling benar, bila kesalahan masih sering dilakukan. Jangan merasa paling suci jika dosa dilakukan setiap hari. Hidup sesuai dengan jatidiri masing-masing.

Mencapai kebahagiaan tidak boleh dengan menghalalkan segala cara. Kebahagiaan perlu diperoleh dengan jalan yang semestinya (samesthine). Percuma saja menjadi kaya, apabila kekayaan itu didapat dengan jalan yang tidak semestinya, seperti korupsi. Tidak semestinya juga suatu jabatan diperoleh dengan cara kolusi dan nepotisme. Itu semua tidak akan membuat hidup menjadi bahagia.

Kebahagiaan tidak perlu dicari secara berlebihan dengan memaksakan diri. Kebahagiaan itu sepantasnya saja (sakepenake). Jika memang sudah rizki seseorang, maka harta dan kekayaan akan didapat. Jabatan diperoleh dengan menunjukkan prestasi kerja. Tidak akan ada beban bagi orang untuk mengejar jabatan selama melakukannya dengan sepantasnya.

Tak Semudah Asa

Bahagia adalah perasaan yang sangat subjektif. Mudah untuk diucapkan, tak semudah asa untuk dilaksanakan. Itu semua lantaran manusia senantiasa ingin hidup bahagia, namun kadang lupa bagaimana meraih kebahagiaan itu. Apalagi dalam interaksi dan komunikasi antarmanusia banyak tantangan, cobaan, dan godaan yang membuat manusia sulit mendapat kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan seseorang, menurut Ki Ageng Suryomentaram, disebabkan oleh adanya karep, asa, atau keinginan. Manusia akan selalu mengejar tiga asa, yaitu semat, drajat, dan kramat. Keinginan pertama berupa semat, seperti kekayaan, kemakmuran, kesenangan, kecantikan, kegantengan, dan hal lain yang bersifat material. Banyak orang yang lupa pada waktu, tenaga, dan pikiran; hanya untuk mengejar kesenangan dan kekayaan. Tidak sedikit pula orang yang lupa pada usia demi tetap mendapatkan kecantikan dan ketampanan (Chusmeru, 2024).

Asa atau keinginan kedua adalah drajat, berupa keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan status sosial. Banyak orang mengejar drajat hanya agar dihormati dan diakui secara sosial oleh orang lain. Apa pun akan dilakukan demi status sosialnya. Orang merasa bangga jika gelar akademisnya semakin panjang, karena akan dianggap sebagai orang yang mulia di mata orang lain.

Ketiga, asa berupa kramat; yaitu kewibawaan, kekuasaan, kedudukan, maupun pangkat. Keinginan ini sangat mendominasi pada orang yang haus akan kekuasaan dan kedudukan. Cara apa pun akan dilakukan asal bisa berkuasa. Tak peduli pada norma moral dan etika, asal mendapat kekuasaan berbagai cara ditempuh. Kekuasaan memang sangat diidamkan banyak orang. Padahal kekuasaan dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan, sebab orang yang berkuasa selalu akan berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Menjadi bahagia memang tak semudah asa. Alih-alih mendapat kebahagiaan, orang justru merasa hidup dalam neraka dunia yang bersumber dari perasaan dan perilaku manusia. Perasaan iri dapat membuat orang hidup dalam neraka dunia. Manusia akan selalu merasa kurang dibanding orang lain. Perasaan iri merupakan pertanda level seseorang lebih rendah dibandingkan orang lain. Ketika orang merasa iri, maka kehidupan sehari-harinya seperti di neraka.

Neraka dunia bisa bernama pambegan atau sombong. Orang yang sombong akan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang sombong sesungguhnya sedang berada di neraka dunia. Selalu merasa menang dari orang lain. Hanya dirinya yang dianggap lebih baik dan lebih utama, sementara orang lain berada dalam kenistaan.

Menjadi bahagia sejatinya sangat sederhana. Akan tetapi manusia acapkali bersikap pesimis, apatis, dan fatalis dalam menyikapi kehidupan. Apalagi jika kebahagiaan yang diidamkan tak dapat diraih, manusia menjadi pribadi yang selalu menyalahkan pihak lain. Bahkan orang meyalahkan Tuhan, mencaci-maki Tuhan, serta membenturkan ajaran Tuhan.

Padahal sejak dulu masyarakat Indonesia sangat percaya pada filosofi Gusti tan keno kinoyo opo. Tuhan tidak dapat digambarkan seperti apa, dan dibandingkan dengan apa pun. Tuhan bukan tempat yang salah sebagaimana manusia kerap berbuat salah. Filosofi lain juga mengajarkan, bahwa Gusti mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang dilakukan manusia selalu dalam pantauan Tuhan, sehingga tatkala manusia ingin hidup bahagia, Tuhan pun mendengarnya.  

Bahagia itu begitu sederhana, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak dapat merengkuhnya. Begitu banyak asa di sekeliling manusia. Begitu banyak interaksi dan komunikasi sesama manusia. Maka, jalani saja apa adanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kebahagiaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran "Revolusi Setangkai Jerami"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co