3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Bahagia itu Sederhana, tapi Tak Semudah Asa

Chusmeru by Chusmeru
December 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

KEBAHAGIAAN suatu negara tercermin dari kebahagiaan yang dirasakan individu dan masyarakatnya. Indonesia memang tidak termasuk kategori negara yang bahagia menurut World Happiness Report (WHR). Meski sesungguhnya sudah sejak dahulu kala banyak ajaran tentang bagaimana meraih kebahagiaan dari para leluhur.

Indonesia memiliki pemikir dan filsuf besar bernama Ki Ageng Suryomentaram. Beliau adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang lahir di Yogyakarta tahun 1892. Salah satu ajaran beliau yang terkenal di masyarakat Jawa adalah Kawruh Begjo atau Ilmu Bahagia.

Inti ajaran Ki Ageng Suryomentaram sesungguhnya sangat sederhana. Jika manusia ingin hidup bahagia, maka hindari sifat Ojo Dumeh atau jangan mentang-mentang. Hidup tak perlu sombong. Jangan mentang-mentang kaya dan berkuasa lantas menjadi sombong. Jangan mentang-mentang menyandang banyak gelar, lalu membodohkan orang lain. Jangan mentang-mentang merasa paling taat beragama, lantas mengkafirkan orang lain.  

Apa yang disampaikan Ki Ageng Suryomentaram memang patut direnungkan. Apalagi masyarakat Jawa juga mempercayai adanya nilai kehidupan jalmo tan keno kiniro. Artinya, pendapat, sikap, perilaku, dan nasib seseorang tidak ada yang dapat diperkirakan. Manusia tidak berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak dan berkomunikasi dengan orang lain.

Hari ini orang setuju, besok bisa berubah menolak. Hari ini orang kaya dan berkuasa, esok bisa menjadi miskin dan tak lagi punya kuasa. Kemarin membenci seseorang, kini begitu mencintainya. Hari ini menjadi sahabat, besok berubah jadi pengkhianat. Hari kemarin orang merasa paling suci, kini masuk bui lantaran korupsi. Tak pernah ada yang dapat memastikan gambaran perjalanan hidup.

Masyarakat Jawa juga sangat percaya pada konsepsi tentang ngundhuh wohing pakerti. Apa yang dilakukan seseorang pada orang lain akan berdampak pada kehidupan di kemudian hari. Masyarakat Bali menyebutnya karma pala. 

Jika kesombongan yang ditunjukkan, maka ia akan memetik buah kesombongan itu di lain waktu. Bila orang gemar memfitnah orang lain, suatu saat ia akan terjatuh lantaran fitnahnya itu. Namun bila kesederhanaan dan kebaikan dijadikan pedoman hidupnya, maka orang akan memetik kebaikan juga dari orang lain.

Menjadi Bahagia

Menjadi orang bahagia sejatinya tidak begitu sulit. Hidup bahagia adalah hidup yang sewajarnya, tidak berlebih-lebihan, dan tidak berkekurangan. Hidup di dunia memang sangat banyak yang dibutuhkan. Akan tetapi Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan, kebahagiaan akan diperoleh jika manusia hidup sabutuhe, sesuai kebutuhan saja ( Chusmeru, 2024).

Kadangkala sesuatu yang kita butuhkan sesungguhnya tidak kita perlukan. Oleh sebab itulah, penuhi kebutuhan seperlunya saja (saperlune). Hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan juga tidak ada habisnya. Maka, orang yang bahagia adalah mereka yang hidup secukupnya saja (sacukupe); tidak berlebihan, namun juga tidak kekurangan.

Ilmu bahagia juga mengajarkan orang agar hidup sebenarnya (sabenere). Tidak perlu menjadi munafik, tidak juga berpura-pura dalam menjalani kehidupan. Jangan merasa diri berkuasa, jika memang tidak memiliki kekuasaan. Jangan merasa paling pintar di dunia, jika masih banyak hal yang belum diketahui. Jangan menganggap diri paling benar, bila kesalahan masih sering dilakukan. Jangan merasa paling suci jika dosa dilakukan setiap hari. Hidup sesuai dengan jatidiri masing-masing.

Mencapai kebahagiaan tidak boleh dengan menghalalkan segala cara. Kebahagiaan perlu diperoleh dengan jalan yang semestinya (samesthine). Percuma saja menjadi kaya, apabila kekayaan itu didapat dengan jalan yang tidak semestinya, seperti korupsi. Tidak semestinya juga suatu jabatan diperoleh dengan cara kolusi dan nepotisme. Itu semua tidak akan membuat hidup menjadi bahagia.

Kebahagiaan tidak perlu dicari secara berlebihan dengan memaksakan diri. Kebahagiaan itu sepantasnya saja (sakepenake). Jika memang sudah rizki seseorang, maka harta dan kekayaan akan didapat. Jabatan diperoleh dengan menunjukkan prestasi kerja. Tidak akan ada beban bagi orang untuk mengejar jabatan selama melakukannya dengan sepantasnya.

Tak Semudah Asa

Bahagia adalah perasaan yang sangat subjektif. Mudah untuk diucapkan, tak semudah asa untuk dilaksanakan. Itu semua lantaran manusia senantiasa ingin hidup bahagia, namun kadang lupa bagaimana meraih kebahagiaan itu. Apalagi dalam interaksi dan komunikasi antarmanusia banyak tantangan, cobaan, dan godaan yang membuat manusia sulit mendapat kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan seseorang, menurut Ki Ageng Suryomentaram, disebabkan oleh adanya karep, asa, atau keinginan. Manusia akan selalu mengejar tiga asa, yaitu semat, drajat, dan kramat. Keinginan pertama berupa semat, seperti kekayaan, kemakmuran, kesenangan, kecantikan, kegantengan, dan hal lain yang bersifat material. Banyak orang yang lupa pada waktu, tenaga, dan pikiran; hanya untuk mengejar kesenangan dan kekayaan. Tidak sedikit pula orang yang lupa pada usia demi tetap mendapatkan kecantikan dan ketampanan (Chusmeru, 2024).

Asa atau keinginan kedua adalah drajat, berupa keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan status sosial. Banyak orang mengejar drajat hanya agar dihormati dan diakui secara sosial oleh orang lain. Apa pun akan dilakukan demi status sosialnya. Orang merasa bangga jika gelar akademisnya semakin panjang, karena akan dianggap sebagai orang yang mulia di mata orang lain.

Ketiga, asa berupa kramat; yaitu kewibawaan, kekuasaan, kedudukan, maupun pangkat. Keinginan ini sangat mendominasi pada orang yang haus akan kekuasaan dan kedudukan. Cara apa pun akan dilakukan asal bisa berkuasa. Tak peduli pada norma moral dan etika, asal mendapat kekuasaan berbagai cara ditempuh. Kekuasaan memang sangat diidamkan banyak orang. Padahal kekuasaan dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan, sebab orang yang berkuasa selalu akan berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Menjadi bahagia memang tak semudah asa. Alih-alih mendapat kebahagiaan, orang justru merasa hidup dalam neraka dunia yang bersumber dari perasaan dan perilaku manusia. Perasaan iri dapat membuat orang hidup dalam neraka dunia. Manusia akan selalu merasa kurang dibanding orang lain. Perasaan iri merupakan pertanda level seseorang lebih rendah dibandingkan orang lain. Ketika orang merasa iri, maka kehidupan sehari-harinya seperti di neraka.

Neraka dunia bisa bernama pambegan atau sombong. Orang yang sombong akan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang sombong sesungguhnya sedang berada di neraka dunia. Selalu merasa menang dari orang lain. Hanya dirinya yang dianggap lebih baik dan lebih utama, sementara orang lain berada dalam kenistaan.

Menjadi bahagia sejatinya sangat sederhana. Akan tetapi manusia acapkali bersikap pesimis, apatis, dan fatalis dalam menyikapi kehidupan. Apalagi jika kebahagiaan yang diidamkan tak dapat diraih, manusia menjadi pribadi yang selalu menyalahkan pihak lain. Bahkan orang meyalahkan Tuhan, mencaci-maki Tuhan, serta membenturkan ajaran Tuhan.

Padahal sejak dulu masyarakat Indonesia sangat percaya pada filosofi Gusti tan keno kinoyo opo. Tuhan tidak dapat digambarkan seperti apa, dan dibandingkan dengan apa pun. Tuhan bukan tempat yang salah sebagaimana manusia kerap berbuat salah. Filosofi lain juga mengajarkan, bahwa Gusti mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur. Apa pun yang dilakukan manusia selalu dalam pantauan Tuhan, sehingga tatkala manusia ingin hidup bahagia, Tuhan pun mendengarnya.  

Bahagia itu begitu sederhana, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak dapat merengkuhnya. Begitu banyak asa di sekeliling manusia. Begitu banyak interaksi dan komunikasi sesama manusia. Maka, jalani saja apa adanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kebahagiaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran “Revolusi Setangkai Jerami”

Menelisik Ketimpangan dan Ketergantungan Melalui Pameran "Revolusi Setangkai Jerami"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co