24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Jaswanto by Jaswanto
December 6, 2025
in Esai
Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Ramon Tanque (depan) setelah mencetak gol penyama kedudukan | Foto: tangkapan layar

ADA malam-malam tertentu dalam sepak bola Indonesia yang terasa seperti cermin—ia memantulkan lebih banyak dari sekadar skor pertandingan. Laga Persib Bandung melawan Borneo FC pada 5 Desember 2025 adalah salah satunya. Di atas kertas, hasil akhirnya tercatat rapi: Persib menang 3–1 setelah sempat tertinggal oleh gol Joel Vinicius di menit ke-18, lalu membalik keadaan lewat Ramon Tanque, Federico Barba, dan Saddil Ramdani.

Namun, di luar angka dan nama pencetak gol itu, pertandingan ini bekerja seperti cerita pendek yang ditulis dengan ritme getir dan pulih, dan kita yang menonton menjadi pembaca yang perlahan menyadari pesan moral terselip di antara duel lini tengah dan gesekan sepatu di rumput.

Borneo datang dengan status pemuncak klasemen. Mereka tengah berada di fase percaya diri, sebuah posisi yang dalam dunia sepak bola mungkin digambarkan sebagai “masa ketika tim merasa dunia telah berpihak, padahal dunia sejatinya tak pernah benar-benar punya keberpihakan”. Gol cepat Vinicius—yang berawal dari kelengahan lini belekang Persib membaca pergerakan dan koordinasi bertahan yang terlambat sepersekian detik—seakan menegaskan bahwa tim tamu datang bukan untuk bertahan. Ada ketenangan pada cara Borneo bermain setelah unggul, seolah-olah mereka tahu benar bahwa Liga 1 musim ini sedang mengikuti garis besar naskah mereka.

Tapi sepak bola tidak membaca naskah. Ia hidup dari gangguan, dari ketidakterdugaan, dari arus liar yang membuat tim unggul harus memilih antara menggenggam keunggulan terlalu kuat atau membiarkannya lepas begitu saja. Persib berada dalam situasi itu—sebuah titik di mana sebuah tim besar diuji, bukan oleh lawan, melainkan oleh dirinya sendiri. Ketertinggalan di kandang sendiri mudah berubah menjadi kepanikan. Dan kepanikan bisa menular, seperti kabut yang turun perlahan tapi berkelanjutan.

Justru di area abu-abu itulah Persib menemukan kembali dirinya. Ramon Tanque menyamakan kedudukan di menit ke-40, gol yang tampak seperti pukulan kecil ke pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Gol itu tidak hanya menyelamatkan skor; ia menyelamatkan moral. Ia mengendurkan tegangnya syaraf para pemain, mengembalikan ritme, sekaligus mengganti suasana stadion: desah cemas berubah jadi sorak yang menggelegak.

Dalam narasi kesadaran diri, saat-saat seperti itu sering diterjemahkan sebagai momen ketika manusia menyadari batas kekuatannya, lalu memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Persib seakan berkata pada dirinya sendiri: “Kami belum selesai.”

***

Babak kedua menjadi demonstrasi paling telanjang tentang bagaimana momentum bekerja. Federico Barba mencetak gol kedua Persib di menit ke-50—awal yang ideal, penanda bahwa pertandingan kini telah berpindah tangan. Gol itu lahir dari kombinasi antara ketepatan posisi, konsistensi tekanan, serta keberuntungan kecil yang selalu diperlukan dalam sepak bola.

Pada saat itu, menjadi jelas bahwa Borneo tidak lagi berada dalam ruang bermain yang nyaman. Mereka sedikit terlambat menutup ruang, sedikit terlalu lambat dalam mengalirkan bola. Perubahan kecil semacam itu bisa berlipat ganda efeknya, seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau dan memicu gelombang yang membesar.

Jika ada satu momen yang merangkum seluruh pertandingan, barangkali itu adalah gol Saddil Ramdani di masa injury time. Ia datang sebagai penutup cerita, semacam kalimat terakhir yang membuat pembaca menutup buku dengan rasa puas. Gol itu bukan hanya memastikan kemenangan, melainkan mengukuhkan bahwa perjuangan pantang menyerah yang dibangun sejak tertinggal di menit ke-18 bukan sekadar ledakan sesaat. Ia konsisten, stabil, dan berpuncak dengan cantik. Saddil mencatatkan gol ke gawang Borneo, menyelipkan lapisan emosional yang tak bisa dibaca hanya dari papan skor.

Namun, esai ini bukan hendak memuja Persib sebagai pahlawan tunggal. Justru pertandingan semacam ini menarik karena memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, pihak yang kalah pun menyumbang makna yang sama pentingnya. Borneo datang sebagai pemuncak klasemen yang sedang mencari jarak aman. Dua kekalahan beruntun sekarang memaksa mereka berkaca. Di titik ini, sepak bola menunjukkan wataknya yang egaliter: bahkan yang di puncak bisa mengalami kerentanan.

Dan kerentanan bukanlah musuh, ia adalah pengingat bahwa tidak ada posisi yang aman jika kita berhenti berkembang. Pelatih Borneo memberi selamat kepada Persib dalam konferensi pers setelah pertandingan, sebuah gestur yang terdengar sederhana, tapi di sepak bola Indonesia—yang kerap terjebak dalam antagonisme—gestur seperti itu justru menjadi contoh sportifitas yang patut diapresiasi.

Liga 1 musim ini, dengan segala kejutannya, tampak seperti arena tempat tim-tim belajar menjadi dewasa. Persib yang membayang-bayangi, Borneo yang terpeleset, tim-tim lain yang menunggu peluang, semuanya bergerak dalam perjalanan kompetisi yang sehat. Sepak bola, jika dikelola dengan etika, bisa menjadi ruang belajar yang paling egaliter: pemain dari latar manapun bisa bersinar, suporter dari berbagai kelas sosial bisa duduk berdekatan, dan kemenangan selalu lahir dari kerja kolektif, bukan satu nama saja.

Malam itu, Persib memberi gambaran tentang bagaimana sebuah tim bisa berubah ketika bertemu keadaan yang tidak menguntungkan. Mereka memilih jalan yang tidak selalu dipilih. Alih-alih membiarkan tekanan memecah mereka, mereka menggunakannya sebagai alasan untuk menyusun ulang keberanian. Pertandingan itu menjadi metafora bagi hal-hal yang lebih luas, bahwa hidup pun sering menempatkan kita dalam posisi tertinggal, nyaris kalah, dan digempur keadaan.

Namun, seperti gol Ramon Tanque di menit ke-40, kadang kemenangan dimulai dari satu upaya kecil yang tidak terlihat heroik, tapi cukup untuk mengubah arah.

Sepak bola sering kali dijadikan alasan untuk ribut—suporter berselisih, klub saling sindir, media sosial menjadi arena panas. Tapi pertandingan seperti Persib vs Borneo ini menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi pembelajaran sosial, tentang bangkit, tentang merelakan, tentang menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan tentang merayakan kemenangan tanpa menginjak lawan.

Dan saat para pemain berjalan ke ruang ganti setelah peluit panjang, kita tahu bahwa apa yang tersisa bukan hanya angka. Yang tersisa adalah pengingat sederhana bahwa dalam hidup maupun sepak bola, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kesabaran, tidak ada kekalahan yang layak disesali berlebihan, dan tidak ada kompetisi yang benar-benar bermakna tanpa rasa saling menghormati.

Malam itu, Persib menang. Tapi lebih dari itu, sepak bola Indonesia—setidaknya untuk satu malam—menjadi tempat di mana kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik. Selamat, Sib.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: olahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Rush to Paradise”: Menuju Surga Kehancuran?

Next Post

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca 'Trocoh'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co