27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
December 6, 2025
in Pameran
Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud

Sad Rasa yang terdiri dari enam perupa Bali menggelar pameran bersama di Museum Agung Rai (ARMA) Ubud. Pameran bertajuk “Paradiso” itu menampilkan lebih dari 20 karya seni yang mengutamakan kebebasan dalam berkreativitas, tanpa terbelenggu pada salah satu aliran yang ada. Pameran dibuka Sabtu 6 Desember 2025 yang akan berlangsung sekitar dua minggu, hingga 21 Desember 2025.

“Pameran Paradiso ini lahir dari proses panjang—bermula dari mengenal karya para seniman, berdiskusi, hingga membaca realitas kekinian Bali yang digerus dinamika pariwisata dan kemajuan jaman. Ini merupakan ruang kreatif yang harus diisi orang-orang kreatif, dan mereka sanggup,” kata Direktur Museum ARMA, Agung Gede Yudi Sadona bersama perupa saat konferensi pers di Arma Ubud, Jumat 5 Desember 2025.

Keenam perupa Sad Rasa itu terdiri dari I Made Gunawan, I Wayan Santrayana, I Ketut Suasana Kabul, I Made Sutarjaya, I Ketut Suwidiarta dan I Wayan Gede Budayana. Mereka lebih banyak membawa medium Bali, tetapi menyampaikan secara global. Semua itu lahir dari pengamatan mereka yang melihat pergeseran surga, sehingga berkontemplasi, melakukan perenungan untuk melihat Bali sebagai sudat terakhir melalui karya mereka.

Sejumlah perupa dan pengunjung dalam pameran Paradiso di ARMA Ubud

Pada saat itu, karya seni para perupa sudah dipasang dengan rapi di dinding area lobby Arma, namun belum lengkap dengan label karya seni atau keterangan karya mereka. Jika dilihat sepintas, seluruh karya seni tampak indah dan menginspirasi. Namun, karya dari enam perupa itu hamper semuanya menyuarakan kegelisahan terhadap pergeseran citra Bali sebagai “Pulau Surga” yang kini dinilai kian memudar. Pesannya hampir sama, namun masing-masing perupa menampilkan bentuk dan objek yang berbeda-beda.

Ari Suhaja yang mengkurasi pameran Paradiso ini mengungkapkan, perjalanan seniman Sad Rasa ini adalah proses “terlahir dua kali”—melalui pendidikan seni dan penempatan diri dalam sejarah. Karena itu, karya-karya dalam “Paradiso” tidak lagi sekadar memproduksi keindahan, melainkan membongkar realitas yang selama ini disembunyikan di balik citra Bali sebagai surga.

“Memaknai “Paradiso” bukan dari khazanah Bali, melainkan dari paradigma lama abad ke-18—tentang surga dan neraka berlapis, tentang dunia bawah dan atas sebagai tujuan manusia. Namun dalam konteks kini, tema itu justru memantulkan keadaan Bali yang menurutnya compang-camping,” paparnya.

I Ketut Sudiarta menampilkan tiga karya yang menonjolkan symbol-simbol yang bisa diartikan atau ditapsirkan secara bebas. Karya dengan nuansa hitam itu lebih banyak memberikan ruang tapsir kepada penikmat. Karyanya itu lebih pada merefleksikan situasi Bali hari ini lewat simbol-simbol multitafsir. “Tema surga muncul dari hasil diskusi dengan kurator dan menjadi cara membaca fenomena Bali dalam perspektif seniman,” ucapnya.

Sutarjaya dengan karya dengan tema penari Bali

Wayan Santrayana menampilkan tiga karya bertema pornografi. Senggama itu adalah surga yang diberikan sesaat atau beberapa menit. Senggama sebagai “surga sesaat” bagi manusia. Namun, sekarang terjadi pergeseran nilai dari unsur “ang–ah” yang sebelumnya disucikan, kini tereduksi menjadi sekadar bahasa tubuh. Simbol “surga di telapak kaki ibu” kini semakin diremehkan, menggambarkan Bali yang lelah oleh eksploitasi. “Senggama itu suci, namun sekarang melenceng. Itu dilakukan untuk kreasi bukan regenerasi,” sebutnya.

Perupa Kabul dalam karyanya mengangkat imajinasi dari lebah, binatang munggil, tetapi menarik. Lebah satu-satunya memikiki perbedaan dari jutaan binatang, yakni meliki madu dan racun yang kalau disimbolkan dalam kehidupan maka tidak akan terlepas dari plus dan minus. Perbedan itu memang harus ada agar tercipta harmonis. “Lebah sebagai metafora Bali—makhluk kecil yang membawa madu sekaligus racun. Dualitas ini, mencerminkan kondisi Bali dan dunia yang dipenuhi campur tangan manusia berlebihan hingga menimbulkan ketimpangan,” sebutnya.

Karya-karya yang dipemarkan dalam pameran Paradiso di ARMA Ubud

I Made Gunawan dalam karyanya kali ini lebih pada membawa tema alam dan keharmonisan. Lewat karyanya itu, seakan menegaskan, kerusakan lingkungan yang terus terjadi menunjukkan ketidakmampuan manusia menjaga Bali. Alam itu mestinya tetap dijaga agar menjadi harmoni. Namun, tipu daya pada alam yang sering terjadi, mengakibatkan hancurnya Bali sebagai pulau surga.

Budayana menyajikan karya yang lebih memilih pada pendekatan penuh warna untuk menggambarkan sisi gelap Bali. Surga yang dijual selama ini sedang tidak baik-baik saja, dan kondisi itu makin diperburuk oleh kerusakan alam dan dinamika sosial yang tidak menemukan solusi. “Kami berharap pameran ini untuk mengingatkan, bahwa di balik baliho pariwisata yang megah, ada kegelisahan yang tak lagi bisa ditutup-tutupi,” ungkapnya.

Sutarjaya menghadirkan karya seni lebih mangangkat objek penari Bali dalam berbagai pose. Karya itu lahir dari inspirasi masa kecil, khususnya tarian Bali yang dulu dikagumi namun kini dianggap tak lagi menarik bagi generasi muda. “Melalui goresan spontan ini, saya mencoba merekam keanggunan penari yang kini sinarnya mulai redup,” bebernya.

Kabul dengan karya terinspirasi dari lebah

Dalam goresannya itu, Sutarjaya menggmbarkan penari yang dibuat menarik secara visual. Karena penari itu menampilkan gerak penari yang lebih terlihat. Geraknya gemulai dan bergerak sangat luwes. Tari Bali itu sesungguhnya terkait dengan alam, karena konsep tari di Bali lebih banyak terinspirasi dari alam. “Dalam karya ini, saya bawakan Tari Oleg yang sudah dikombinasi, sehingga ada awan, bunga dan simbol matahari,” ucapnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Museum Arma UbudPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbang Kembali Arah Bali

Next Post

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co