12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 6, 2025
in Esai
Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Ilustrasi tatkala.co

KALAU saja kuburan Badung yang dulu dikenal dengan sebutan Setra Gandamayu bukanlah sebuah kuburan, bisa dipastikan tempat itu sudah lama berubah menjadi deretan ruko, perumahan, atau kegiatan bertanam beton lainnya. Di tengah derasnya arus komersialisasi dan alih fungsi lahan di Bali, keberadaan Setra Gandamayu sesungguhnya adalah anugerah ekologis, kultural, sekaligus spiritual. Tanah lapang itu menyimpan jejak masa kecil: ada pohon trembesi—atau di Bali disebut suar—yang merupakan produsen oksigen terbesar, menaungi area yang dulu menjadi tempat bermain bola. Kadang bola kami masuk ke lubang galian makam, dan itu dianggap biasa saja; kami tinggal mengambilnya, dan permainan berlanjut. Di tempat itu pula kami mencari buah celagi atau asam, menikmati rasa masamnya di antara canda tawa kanak-kanak.

Namun Setra Gandamayu bukan hanya ruang kenangan. Ia adalah contoh nyata bagaimana sebuah tradisi mampu berfungsi sekaligus sebagai mekanisme ekologis. Pembakaran mayat—ngaben—membuat setra tidak pernah penuh, sehingga tidak boros lahan untuk kuburan. Ketika banyak daerah di luar Bali kehabisan ruang pemakaman, masyarakat Bali sejak lama telah menghidupi cara pandang yang selaras dengan alam: tubuh kembali ke unsur-unsurnya secara cepat, tanpa menuntut ruang permanen.

Perbandingan ini tampak jelas saat masa pandemi COVID-19. Ketika banyak wilayah di Indonesia terpaksa membuka kuburan baru karena lonjakan kematian, Bali relatif tidak mengalami tekanan serupa. Ngaben, baik yang besar maupun sederhana, menjadi solusi ekologis sekaligus spiritual. Sementara ribuan hektar lahan di berbagai kota ditelan menjadi tempat pemakaman, Setra Gandamayu tetap seperti sediakala—lapang, teduh, dan hijau. Tradisi leluhur ternyata jauh lebih adaptif dibanding berbagai sistem modern yang belum tentu ramah lingkungan.

Sebenarnya, ide kremasi sendiri pernah disuarakan oleh seorang tokoh besar Indonesia: Ali Sadikin. Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia menyadari betapa borosnya ruang pemakaman. Ia bukan hanya mengusulkan, tetapi memberikan contoh: beliau dan istri tercinta ditempatkan dalam satu liang lahat. Ini adalah langkah visioner, yang hingga kini sering dilupakan. Padahal, apa yang diperjuangkan Bang Ali sejalan dengan apa yang telah dihayati masyarakat Bali berabad-abad lamanya.

Pembakaran jenazah—baik dalam bentuk ngaben maupun kremasi modern—adalah warisan Sanatana Dharma yang terbukti dan teruji oleh waktu sangat bermanfaat. Bukan saja dari sisi efisiensi lahan, tetapi juga dari sisi kesadaran. Ketika tubuh menjadi abu, sang jiwa—atau jivamtan—seolah berbisik, “Ah, ternyata aku bukan badan.” Inilah kesadaran awal yang semestinya kita capai saat masih berbadan. Tubuh hanya kendaraan sementara; keberadaan sejati tidak melekat pada materi yang fana.

Namun bagi banyak orang, kesadaran itu sering datang terlambat. Walau demikian, seperti kata seorang sahabat saya, Made Wiranata—seorang guide Korea, filsuf jalanan, dan penggemar berat Osho atau Bhagavan Shri Rajneesh—“Better late than never.” Lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sama sekali. Ngaben, dalam kedalaman simboliknya, menjadi pengingat keras bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengenali diri sejati; bukan sekadar rutinitas mengejar dunia.

Karena itu, cerita Setra Gandamayu bukanlah sekadar kisah penghijauan, atau lapangan bola masa kecil, atau deretan pohon trembesi yang memproduksi oksigen. Ia adalah cermin kesadaran para leluhur dalam tradisi Sanatana Dharma—kesadaran yang tidak hanya spiritual, tetapi juga ekologis. Leluhur kita tahu bahwa tanah harus dikembalikan kepada alam, bukan dipenuhi tumpukan beton menjuang tinggi. Mereka memahami bahwa ruang publik adalah ruang bersama, bukan komoditas.

Kesadaran ekologis para leluhur itu relevan kembali setelah bencana banjir besar yang melanda Bali pada September lalu. Banjir bukan hanya peristiwa alam; ia adalah sinyal keras bahwa kita telah melampaui batas. Alih fungsi lahan, penebangan pohon, dan pembangunan tak terkendali telah menghilangkan banyak “Setra Gandamayu” versi lain: ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi paru-paru wilayah. Ketika sawah berubah menjadi villa, kebun berubah menjadi ruko, dan tebing berubah menjadi hotel, jangan heran jika air tidak lagi punya tempat untuk meresap. Alam hanya menagih haknya yang kita cabik-cabik. Dalam konteks itu, Setra Gandamayu adalah anomali yang indah—sebuah ruang yang selamat karena tradisi melindunginya.

Ironisnya, banyak orang modern yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kolot. Padahal tradisi tertentu justru lebih maju dalam melihat relasi manusia dengan alam. Apa yang dianggap “kuno” ternyata menyimpan kebijaksanaan ekologis yang tidak dimiliki pendekatan pembangunan kontemporer. Ngaben adalah salah satu contohnya.

Dalam waktu dekat, seorang teman dari Surabaya meminta saya memfasilitasi Sudi Wadani, karena kepercayaan lamanya tidak membenarkan tindakan kremasi atau ngaben. Ia merasa tergerak kembali pada akar tradisi Nusantara yang lebih tua. Saya membuka kedua belah tangan dan mendekapnya erat sembari berkata: “Selamat kawanku, kau telah kembali ke dalam pangkuan Bunda Ilahi, Sanatana Dharma.” Ada getaran haru saat ia mengaku merasa “pulang.” Kembali ke keyakinan yang menghormati alam, menghormati kesadaran, dan menghormati perjalanan jiwa.

Di tengah dunia yang semakin sesak oleh beton, semakin panas oleh polusi, semakin bising oleh ambisi manusia, kita perlu kembali merenungi pesan sederhana dari para leluhur: tanah tidak untuk dikuasai, tetapi untuk diselarasi. Setra Gandamayu, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan hal itu.

Dan jika suatu hari kita kembali ke sana—melihat pohon trembesi tua yang masih meneduhkan, mendengar desir angin yang seakan mengenang doa-doa ngaben yang pernah bergema—kita mungkin akan mengerti bahwa penghijauan bukan hanya program lingkungan. Ia adalah wujud konkret kesadaran spiritual: kesadaran bahwa kita datang dari alam, hidup bersama alam, dan pada akhirnya kembali ke alam.

Mungkin, itu sebabnya para leluhur berkata: “Bumi bukan warisan untuk dimiliki, tetapi titipan untuk dijaga.” [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alambaliHindu Balisetra gandamayu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Next Post

‘Game’ dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

'Game' dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co