25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 6, 2025
in Esai
Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Ilustrasi tatkala.co

KALAU saja kuburan Badung yang dulu dikenal dengan sebutan Setra Gandamayu bukanlah sebuah kuburan, bisa dipastikan tempat itu sudah lama berubah menjadi deretan ruko, perumahan, atau kegiatan bertanam beton lainnya. Di tengah derasnya arus komersialisasi dan alih fungsi lahan di Bali, keberadaan Setra Gandamayu sesungguhnya adalah anugerah ekologis, kultural, sekaligus spiritual. Tanah lapang itu menyimpan jejak masa kecil: ada pohon trembesi—atau di Bali disebut suar—yang merupakan produsen oksigen terbesar, menaungi area yang dulu menjadi tempat bermain bola. Kadang bola kami masuk ke lubang galian makam, dan itu dianggap biasa saja; kami tinggal mengambilnya, dan permainan berlanjut. Di tempat itu pula kami mencari buah celagi atau asam, menikmati rasa masamnya di antara canda tawa kanak-kanak.

Namun Setra Gandamayu bukan hanya ruang kenangan. Ia adalah contoh nyata bagaimana sebuah tradisi mampu berfungsi sekaligus sebagai mekanisme ekologis. Pembakaran mayat—ngaben—membuat setra tidak pernah penuh, sehingga tidak boros lahan untuk kuburan. Ketika banyak daerah di luar Bali kehabisan ruang pemakaman, masyarakat Bali sejak lama telah menghidupi cara pandang yang selaras dengan alam: tubuh kembali ke unsur-unsurnya secara cepat, tanpa menuntut ruang permanen.

Perbandingan ini tampak jelas saat masa pandemi COVID-19. Ketika banyak wilayah di Indonesia terpaksa membuka kuburan baru karena lonjakan kematian, Bali relatif tidak mengalami tekanan serupa. Ngaben, baik yang besar maupun sederhana, menjadi solusi ekologis sekaligus spiritual. Sementara ribuan hektar lahan di berbagai kota ditelan menjadi tempat pemakaman, Setra Gandamayu tetap seperti sediakala—lapang, teduh, dan hijau. Tradisi leluhur ternyata jauh lebih adaptif dibanding berbagai sistem modern yang belum tentu ramah lingkungan.

Sebenarnya, ide kremasi sendiri pernah disuarakan oleh seorang tokoh besar Indonesia: Ali Sadikin. Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia menyadari betapa borosnya ruang pemakaman. Ia bukan hanya mengusulkan, tetapi memberikan contoh: beliau dan istri tercinta ditempatkan dalam satu liang lahat. Ini adalah langkah visioner, yang hingga kini sering dilupakan. Padahal, apa yang diperjuangkan Bang Ali sejalan dengan apa yang telah dihayati masyarakat Bali berabad-abad lamanya.

Pembakaran jenazah—baik dalam bentuk ngaben maupun kremasi modern—adalah warisan Sanatana Dharma yang terbukti dan teruji oleh waktu sangat bermanfaat. Bukan saja dari sisi efisiensi lahan, tetapi juga dari sisi kesadaran. Ketika tubuh menjadi abu, sang jiwa—atau jivamtan—seolah berbisik, “Ah, ternyata aku bukan badan.” Inilah kesadaran awal yang semestinya kita capai saat masih berbadan. Tubuh hanya kendaraan sementara; keberadaan sejati tidak melekat pada materi yang fana.

Namun bagi banyak orang, kesadaran itu sering datang terlambat. Walau demikian, seperti kata seorang sahabat saya, Made Wiranata—seorang guide Korea, filsuf jalanan, dan penggemar berat Osho atau Bhagavan Shri Rajneesh—“Better late than never.” Lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sama sekali. Ngaben, dalam kedalaman simboliknya, menjadi pengingat keras bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengenali diri sejati; bukan sekadar rutinitas mengejar dunia.

Karena itu, cerita Setra Gandamayu bukanlah sekadar kisah penghijauan, atau lapangan bola masa kecil, atau deretan pohon trembesi yang memproduksi oksigen. Ia adalah cermin kesadaran para leluhur dalam tradisi Sanatana Dharma—kesadaran yang tidak hanya spiritual, tetapi juga ekologis. Leluhur kita tahu bahwa tanah harus dikembalikan kepada alam, bukan dipenuhi tumpukan beton menjuang tinggi. Mereka memahami bahwa ruang publik adalah ruang bersama, bukan komoditas.

Kesadaran ekologis para leluhur itu relevan kembali setelah bencana banjir besar yang melanda Bali pada September lalu. Banjir bukan hanya peristiwa alam; ia adalah sinyal keras bahwa kita telah melampaui batas. Alih fungsi lahan, penebangan pohon, dan pembangunan tak terkendali telah menghilangkan banyak “Setra Gandamayu” versi lain: ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi paru-paru wilayah. Ketika sawah berubah menjadi villa, kebun berubah menjadi ruko, dan tebing berubah menjadi hotel, jangan heran jika air tidak lagi punya tempat untuk meresap. Alam hanya menagih haknya yang kita cabik-cabik. Dalam konteks itu, Setra Gandamayu adalah anomali yang indah—sebuah ruang yang selamat karena tradisi melindunginya.

Ironisnya, banyak orang modern yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kolot. Padahal tradisi tertentu justru lebih maju dalam melihat relasi manusia dengan alam. Apa yang dianggap “kuno” ternyata menyimpan kebijaksanaan ekologis yang tidak dimiliki pendekatan pembangunan kontemporer. Ngaben adalah salah satu contohnya.

Dalam waktu dekat, seorang teman dari Surabaya meminta saya memfasilitasi Sudi Wadani, karena kepercayaan lamanya tidak membenarkan tindakan kremasi atau ngaben. Ia merasa tergerak kembali pada akar tradisi Nusantara yang lebih tua. Saya membuka kedua belah tangan dan mendekapnya erat sembari berkata: “Selamat kawanku, kau telah kembali ke dalam pangkuan Bunda Ilahi, Sanatana Dharma.” Ada getaran haru saat ia mengaku merasa “pulang.” Kembali ke keyakinan yang menghormati alam, menghormati kesadaran, dan menghormati perjalanan jiwa.

Di tengah dunia yang semakin sesak oleh beton, semakin panas oleh polusi, semakin bising oleh ambisi manusia, kita perlu kembali merenungi pesan sederhana dari para leluhur: tanah tidak untuk dikuasai, tetapi untuk diselarasi. Setra Gandamayu, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan hal itu.

Dan jika suatu hari kita kembali ke sana—melihat pohon trembesi tua yang masih meneduhkan, mendengar desir angin yang seakan mengenang doa-doa ngaben yang pernah bergema—kita mungkin akan mengerti bahwa penghijauan bukan hanya program lingkungan. Ia adalah wujud konkret kesadaran spiritual: kesadaran bahwa kita datang dari alam, hidup bersama alam, dan pada akhirnya kembali ke alam.

Mungkin, itu sebabnya para leluhur berkata: “Bumi bukan warisan untuk dimiliki, tetapi titipan untuk dijaga.” [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alambaliHindu Balisetra gandamayu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Next Post

‘Game’ dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

'Game' dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co