23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 6, 2025
in Esai
Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Ilustrasi tatkala.co

KALAU saja kuburan Badung yang dulu dikenal dengan sebutan Setra Gandamayu bukanlah sebuah kuburan, bisa dipastikan tempat itu sudah lama berubah menjadi deretan ruko, perumahan, atau kegiatan bertanam beton lainnya. Di tengah derasnya arus komersialisasi dan alih fungsi lahan di Bali, keberadaan Setra Gandamayu sesungguhnya adalah anugerah ekologis, kultural, sekaligus spiritual. Tanah lapang itu menyimpan jejak masa kecil: ada pohon trembesi—atau di Bali disebut suar—yang merupakan produsen oksigen terbesar, menaungi area yang dulu menjadi tempat bermain bola. Kadang bola kami masuk ke lubang galian makam, dan itu dianggap biasa saja; kami tinggal mengambilnya, dan permainan berlanjut. Di tempat itu pula kami mencari buah celagi atau asam, menikmati rasa masamnya di antara canda tawa kanak-kanak.

Namun Setra Gandamayu bukan hanya ruang kenangan. Ia adalah contoh nyata bagaimana sebuah tradisi mampu berfungsi sekaligus sebagai mekanisme ekologis. Pembakaran mayat—ngaben—membuat setra tidak pernah penuh, sehingga tidak boros lahan untuk kuburan. Ketika banyak daerah di luar Bali kehabisan ruang pemakaman, masyarakat Bali sejak lama telah menghidupi cara pandang yang selaras dengan alam: tubuh kembali ke unsur-unsurnya secara cepat, tanpa menuntut ruang permanen.

Perbandingan ini tampak jelas saat masa pandemi COVID-19. Ketika banyak wilayah di Indonesia terpaksa membuka kuburan baru karena lonjakan kematian, Bali relatif tidak mengalami tekanan serupa. Ngaben, baik yang besar maupun sederhana, menjadi solusi ekologis sekaligus spiritual. Sementara ribuan hektar lahan di berbagai kota ditelan menjadi tempat pemakaman, Setra Gandamayu tetap seperti sediakala—lapang, teduh, dan hijau. Tradisi leluhur ternyata jauh lebih adaptif dibanding berbagai sistem modern yang belum tentu ramah lingkungan.

Sebenarnya, ide kremasi sendiri pernah disuarakan oleh seorang tokoh besar Indonesia: Ali Sadikin. Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia menyadari betapa borosnya ruang pemakaman. Ia bukan hanya mengusulkan, tetapi memberikan contoh: beliau dan istri tercinta ditempatkan dalam satu liang lahat. Ini adalah langkah visioner, yang hingga kini sering dilupakan. Padahal, apa yang diperjuangkan Bang Ali sejalan dengan apa yang telah dihayati masyarakat Bali berabad-abad lamanya.

Pembakaran jenazah—baik dalam bentuk ngaben maupun kremasi modern—adalah warisan Sanatana Dharma yang terbukti dan teruji oleh waktu sangat bermanfaat. Bukan saja dari sisi efisiensi lahan, tetapi juga dari sisi kesadaran. Ketika tubuh menjadi abu, sang jiwa—atau jivamtan—seolah berbisik, “Ah, ternyata aku bukan badan.” Inilah kesadaran awal yang semestinya kita capai saat masih berbadan. Tubuh hanya kendaraan sementara; keberadaan sejati tidak melekat pada materi yang fana.

Namun bagi banyak orang, kesadaran itu sering datang terlambat. Walau demikian, seperti kata seorang sahabat saya, Made Wiranata—seorang guide Korea, filsuf jalanan, dan penggemar berat Osho atau Bhagavan Shri Rajneesh—“Better late than never.” Lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sama sekali. Ngaben, dalam kedalaman simboliknya, menjadi pengingat keras bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengenali diri sejati; bukan sekadar rutinitas mengejar dunia.

Karena itu, cerita Setra Gandamayu bukanlah sekadar kisah penghijauan, atau lapangan bola masa kecil, atau deretan pohon trembesi yang memproduksi oksigen. Ia adalah cermin kesadaran para leluhur dalam tradisi Sanatana Dharma—kesadaran yang tidak hanya spiritual, tetapi juga ekologis. Leluhur kita tahu bahwa tanah harus dikembalikan kepada alam, bukan dipenuhi tumpukan beton menjuang tinggi. Mereka memahami bahwa ruang publik adalah ruang bersama, bukan komoditas.

Kesadaran ekologis para leluhur itu relevan kembali setelah bencana banjir besar yang melanda Bali pada September lalu. Banjir bukan hanya peristiwa alam; ia adalah sinyal keras bahwa kita telah melampaui batas. Alih fungsi lahan, penebangan pohon, dan pembangunan tak terkendali telah menghilangkan banyak “Setra Gandamayu” versi lain: ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi paru-paru wilayah. Ketika sawah berubah menjadi villa, kebun berubah menjadi ruko, dan tebing berubah menjadi hotel, jangan heran jika air tidak lagi punya tempat untuk meresap. Alam hanya menagih haknya yang kita cabik-cabik. Dalam konteks itu, Setra Gandamayu adalah anomali yang indah—sebuah ruang yang selamat karena tradisi melindunginya.

Ironisnya, banyak orang modern yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kolot. Padahal tradisi tertentu justru lebih maju dalam melihat relasi manusia dengan alam. Apa yang dianggap “kuno” ternyata menyimpan kebijaksanaan ekologis yang tidak dimiliki pendekatan pembangunan kontemporer. Ngaben adalah salah satu contohnya.

Dalam waktu dekat, seorang teman dari Surabaya meminta saya memfasilitasi Sudi Wadani, karena kepercayaan lamanya tidak membenarkan tindakan kremasi atau ngaben. Ia merasa tergerak kembali pada akar tradisi Nusantara yang lebih tua. Saya membuka kedua belah tangan dan mendekapnya erat sembari berkata: “Selamat kawanku, kau telah kembali ke dalam pangkuan Bunda Ilahi, Sanatana Dharma.” Ada getaran haru saat ia mengaku merasa “pulang.” Kembali ke keyakinan yang menghormati alam, menghormati kesadaran, dan menghormati perjalanan jiwa.

Di tengah dunia yang semakin sesak oleh beton, semakin panas oleh polusi, semakin bising oleh ambisi manusia, kita perlu kembali merenungi pesan sederhana dari para leluhur: tanah tidak untuk dikuasai, tetapi untuk diselarasi. Setra Gandamayu, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan hal itu.

Dan jika suatu hari kita kembali ke sana—melihat pohon trembesi tua yang masih meneduhkan, mendengar desir angin yang seakan mengenang doa-doa ngaben yang pernah bergema—kita mungkin akan mengerti bahwa penghijauan bukan hanya program lingkungan. Ia adalah wujud konkret kesadaran spiritual: kesadaran bahwa kita datang dari alam, hidup bersama alam, dan pada akhirnya kembali ke alam.

Mungkin, itu sebabnya para leluhur berkata: “Bumi bukan warisan untuk dimiliki, tetapi titipan untuk dijaga.” [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alambaliHindu Balisetra gandamayu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Next Post

‘Game’ dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

'Game' dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co