22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang Kembali Arah Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 6, 2025
in Esai
Menimbang Kembali Arah Bali

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BELAKANGAN ini, isu transmigrasi tiba-tiba kembali menyeruak di Bali. Ia datang tanpa mengetuk pintu, lalu menjadi perbincangan publik seperti angin yang meniupkan debu di halaman rumah. Tanggapan publik pun beragam. Seperti biasa, ada yang pro, ada pula yang kontra. Sebagian lagi hanya menghela napas sambil berkata, “Ah, masalah lama berseragam baru.” Bahkan, Gubernur Bali pun angkat berbicara secara pragmatis, yang intinya “Kalau mau, silakan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa.”

Dari sini, muncul sebuah pernyataan sederhana yang justru membuka ruang diskusi lebih dalam. “Benarkah transmigrasi masih relevan bagi Bali?

Jika kita jujur, persoalannya bukan sekadar perpindahan penduduk. Yang paling mendasar adalah apa yang sedang terjadi di tanah Bali sendiri saat ini?

Zaman dulu, satu kelempung (petak) sawah bisa dikerjakan oleh seluruh garis keluarga, baik orang tua, anak, sepupu, bahkan penyanding pun datang membantu dengan suka cita tanpa dipanggil. Semua dikerjakan dengan penuh kebersamaan dan gotong-royong. Suara rindik dan tembang pengangon selalu terdengar lirih dari kejauhan.  Ketika panen tiba, petani bekerja sambil bercanda, dan subak berdiri kokoh bukan hanya sebagai lembaga irigasi, tetapi sebagai roh kebersamaan.

Kini? Sawah menjadi ruang sepi. Bukan semuanya mutlak karena tidak ada air, tetapi karena tidak ada orang. Generasi muda memilih bekerja di kafe, hotel, kantor, atau merantau. Tenaga kerja pertanian menjadi barang mahal, nyaris “barang mewah”. Upah mencangkul seharian terkadang setara dengan sebulan UMK di sektor lain. Petani yang sudah sepuh menyerah dalam sunyi. Lahan dibiarkan tidur, sebelum akhirnya dikontrakkan atau dijual perlahan-lahan oleh anak cucunya. Kadang dengan alasan yang terdengar sederhana, “Sudah tidak sanggup menggarapnya.”

Akibat krisis tenaga kerja, sawah dan ladang menjadi museum hidup. Dari sinilah cerita tentang alih fungsi lahan tumbuh seperti rumput liar. Selain karena keserakahan, juga karena keputusasaan.

Subak selama ini dibanggakan sebagai warisan dunia. Benar. Tetapi status UNESCO tidak cukup menghidupi petani. Pun tidak cukup menahan anak-cucu dari anggota subak kita agar mau tetap bertani. Kita tidak cukup kuat pula menghadang godaan dunia usaha lain yang lebih menjanjikan. Ternyata, Subak tidak roboh dari luar. Sesungguhnya ia rapuh dari dalam. Rapuh karena kehilangan tangan-tangan yang dulu menghidupkannya.

Maka dari itu, ketika pemerintah pusat mengimbau transmigrasi bagi warga Bali, pertanyaan besar pun muncul, “Kalau tenaga kerja pertanian di Bali saja tidak ada, bagaimana kita bisa mengurus lahan pertanian di luar daerah? Dan kalau lahan di Bali sendiri semakin habis, siapa yang sebenarnya butuh transmigrasi? Penduduk atau pemerintah? Lalu, pertanyaan besarnya di sini adalah, “Alih fungsi lahan, siapa salah?

Bali sering dituding kehabisan lahan. Akan tetapi, sebelum menunjuk siapa pun, mari kita lihat cermin. Pajak tanah naik. Harga pupuk naik. Harga tenaga kerja naik. Harga gabah tak pernah naik dengan pantas.

Sementara itu, sektor kuliner, pariwisata, dan jasa menawarkan pendapatan lebih cepat, lebih pasti, dan lebih “modern”. Maka di sinilah garis finisnya: petani menyerah. Lahan dijual. Sawah berubah jadi vila. Ladang berubah jadi tempat parkir. Pekarangan berubah jadi ruko.

Lalu kita bertanya, “Mengapa alih fungsi kerap terjadi?” Jawabannya jelas, karena sistem membuat bertani menjadi pekerjaan paling tidak dihargai.

Isu transmigrasi seolah menawarkan jalan keluar: pindah saja, cari lahan baru.
Khawatirnya, ini hanya memindahkan masalah, bukan menyembuhkan akar penyakitnya.

Bila tenaga kerja pertanian di Bali saja tidak tersedia, bagaimana mungkin masyarakat Bali mau mengolah ratusan hektar di daerah luar? Bila bertani tidak lagi menarik di Bali, apakah akan menarik di tanah baru?

Dengan demikian, transmigrasi termasuk obat atau hanya plester luka? Jadi, transmigrasi bukan solusi ketika mental, ekonomi, dan sistem pendukung pertanian sendiri melemah.

Di sisi lain terbitnya Instruksi Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2025 tentang larangan alih fungsi lahan pertanian ke sektor lain, patut diacungi jempol. Instruksi ini merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pangan dan pemertahanan eksistensi lahan produktif di seluruh wilayah Bali. Bahwa perlindungan lahan pertanian adalah bagian dari upaya menjaga jati diri Bali sebagai daerah agraris sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

Penguatan Pendidikan Pertanian

Lebih dari semua itu, seyogianya penguatan pendidikan pertanian merupakan solusi yang terlupakan. Jika ada satu solusi yang paling realistis untuk menyelamatkan pertanian Bali, jelas itu adalah mengembalikan kejayaan pendidikan pertanian.

Pemerintah perlu menguatkan SMK pertanian, memperluas praktikum, menjadikan subak sebagai laboratorium hidup, dan memberikan insentif bagi siswa pertanian dan lulusan yang mau bertani. Dunia industri pariwisata pun harus ikut bertanggung jawab. Hotel, restoran, dan kafe harus berani menyerap lulusan SMK pertanian sebagai agro-technician, quality control, atau food-supply specialist.

Pendidikan adalah jalan panjang, memang. Akan tetapi, hanya itu satu-satunya jalan yang tidak menipu.

Jika transmigrasi untuk Bali ingin dibahas, marilah jujur dalam menimbang, “Apakah benar transmigrasi dibutuhkan? Atau kita hanya ingin mengalihkan pandangan dari persoalan pelik pertanian kita sendiri? Apakah kita ingin mengirim warga ke daerah lain, sementara sawah di Bali berubah jadi bangunan tanpa perlawanan?”

Bali tidak membutuhkan keputusan tergesa-gesa. Bali membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang kehilangan akar kita sebagai masyarakat agraris.

Maka, sebelum berbicara tentang transmigrasi, mari kita berbicara tentang rumah kita sendiri—tentang tanah, air, subak, dan pendidikan pertanian sebagai masa depan kita bersama. Kalau akar sudah patah, ke mana pun kita ditransmigrasikan, kita tidak akan pernah tumbuh dengan sehat. Mari menimbang kembali arah Bali! [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang baliPariwisataPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“If You Leave Me Now”: Saat Langit Denpasar Muram

Next Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co