22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 4, 2025
in Esai
Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Dalam perjalanan sejarah manusia, negara selalu lahir dari satu sumber yang sama: manusia itu sendiri. Rakyat. Mereka yang berbagi ruang hidup, yang menempati wilayah, yang membangun rumah, menabur benih, dan menciptakan budaya. Negara bukanlah entitas gaib yang turun dari langit, ia tumbuh dari perjumpaan manusia yang kemudian menyepakati cara hidup bersama. Karena itu, rakyat adalah pemilik pertama dan terakhir dari apa yang kita sebut kedaulatan. Kita lupa, atau sengaja dilupakan.

Di banyak tempat, kekuasaan sering mengambil rupa yang berbeda dari amanah awalnya. Ia menjelma menjadi dominasi, bukan pelayanan; menjadi kepentingan pribadi, bukan kepentingan publik. Di titik inilah refleksi menjadi penting—baik bagi para pemimpin yang culas, maupun bagi rakyat yang sering lupa bahwa mereka bukan bawahan, melainkan pemilik perusahaan bernama negara.

Kewenangan yang Terbalik Arah

Seorang pemimpin, menurut teori politik modern, adalah public servant. Pelayan publik. Ia bekerja menggunakan uang rakyat, fasilitas rakyat, dan mandat rakyat. Gajinya bukan hadiah, tapi upah untuk melayani. Kekuasaan bukan hak milik, tetapi pinjaman yang harus dikembalikan dalam keadaan baik.

Namun realitas politik menunjukkan sesuatu yang sering kali terbalik. Pemimpin yang seharusnya melayani, justru minta dilayani. Yang seharusnya mewakili bangsa, malah mewakili kelompoknya. Yang seharusnya menjaga amanah, malah memperkaya diri. Di sinilah culas itu tumbuh: ketika kekuasaan tidak lagi tampak sebagai tugas, melainkan sebagai hak istimewa.

Para penguasa culas lupa satu hal: kursi kekuasaan hanyalah singgasana sementara. Setiap pemimpin, betapapun kuatnya, akan tumbang oleh waktu, oleh pemilu, atau oleh sejarah. Sejarah manusia selalu mencatat pemimpin culas dengan tinta gelap—mulai dari tirani kecil yang memanipulasi anggaran sampai para diktator besar yang menindas bangsanya sendiri. Tak seorang pun berkahir baik ketika kekuasaan dipeluk sebagai milik pribadi.

Rakyat: Pemilik Negara yang Sering Terlupa

Sebaliknya, rakyat sering terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu tunduk atau terlalu arogan. Terlalu tunduk menyebabkan mereka pasrah; terlalu arogan menjadikan mereka ingin menggantikan tirani dengan tirani baru.

Kedaulatan rakyat bukan tentang berteriak “kami yang berkuasa”. Kedaulatan rakyat adalah kesadaran tenang bahwa negara ini berjalan dengan mandat kita. Kita bukan penguasa, bukan pejabat, tapi pemilik yang menata arah. Dengan kesadaran itu, kita tidak perlu arogan. Tidak perlu menjadi kasar, tidak perlu merasa superior. Kita cukup sadar bahwa suara kita menentukan arah bangsa.

Menjadi pemilik negara bukan berarti merasa lebih hebat dari aparat atau pemimpin. Bukan pula memandang pemerintah sebagai musuh. Justru sebaliknya: rakyat adalah komisaris utama, dan pemerintah adalah direksi. Hubungan yang sehat terjadi ketika keduanya saling menghormati, menjalankan fungsi, dan mengingat tanggung jawabnya masing-masing.

Cermin bagi Para Pemimpin Culas

Untuk para pemimpin yang lupa diri, ada beberapa cermin yang perlu dilihat:

1. Kekuasaan adalah mandat, bukan warisan

Tak ada satu pun pemimpin di negeri ini yang duduk di kursi tanpa dipilih, ditunjuk, atau diangkat oleh proses yang lahir dari rakyat. Sebesar apa pun kekuasaan itu, ia tidak berasal dari diri sendiri.

2. Rakyat tidak bodoh

Sejarah membuktikan bahwa rakyat selalu menemukan caranya sendiri. Pemimpin culas mungkin menang pada satu atau dua pemilu, mungkin memperdaya publik dalam beberapa tahun, tetapi pada akhirnya, rakyat selalu menemukan momentum untuk menegakkan etika politik.

3. Keberhasilan seorang pemimpin terletak pada kesejahteraan rakyat

Bukan pada panjangnya masa jabatan. Bukan pada kemegahan proyek. Bukan pada pencitraan di media sosial. Tetapi pada kemampuan membuat hidup orang banyak menjadi lebih mudah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.

4. Namamu akan dikenang, baik atau buruk

Pemimpin mesti mengingat satu hal sederhana: bangunan, jalan, tugu, dapat roboh; tetapi ingatan rakyat tidak. Dan sejarah tidak pernah tidur.

Cermin bagi Rakyat yang Memegang Kedaulatan

Kita pun sebagai rakyat perlu berkaca:

1. Kedaulatan tidak berarti kesombongan

Menjadi pemilik negara bukan berarti bebas menghina aparat, mencaci pemimpin, atau memecah masyarakat. Kedaulatan berarti tanggung jawab moral untuk tetap beradab.

2. Demokrasi membutuhkan literasi

Jika rakyat tidak memahami politik, maka suara mereka mudah dimanipulasi. Literasi politik atau lebih tepatnya political amareness adalah dasar kedaulatan yang sesungguhnya.

3. Jangan hanya menuntut, tetapi juga terlibat

Negara tidak bisa berjalan hanya dengan kritikan. Keterlibatan diperlukan—mulai dari menjaga fasilitas umum, membayar pajak dengan benar, hingga aktif dalam organisasi masyarakat yang kritis, tanpa alunan lagu maju tak gentar membela yang bayar.

4. Rakyat yang kuat melahirkan pemimpin yang baik

Pemimpin culas tumbuh subur dalam masyarakat yang mudah dibohongi, mudah dipecah, atau mudah disogok. Membangun masyarakat yang kuat adalah cara paling efektif mencegah tumbuhnya tirani.

Negara Adalah Cermin Kita

Pada akhirnya, negara adalah cermin besar. Ia memantulkan wajah rakyat maupun pemimpin. Jika cermin itu keruh, kita semua ikut kusam. Jika cermin itu jernih, kita semua tampak lebih baik.

Pemimpin culas harus sadar bahwa kekuasaan adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban, bukan panggung untuk memamerkan kekuasaan dan timbunan harta. Rakyat pun harus sadar bahwa kedaulatan bukan alasan untuk arogan. Kedaulatan justru menuntut kedewasaan.

Negara yang sehat lahir dari pemimpin yang melayani dan rakyat yang sadar diri. Keduanya berjalan berdampingan, bukan saling merendahkan. Di tengah kebisingan politik hari ini, mungkin inilah waktu terbaik untuk kembali melihat cermin itu. Merenung sejenak. Menata ulang. Mengingat kembali siapa kita, dari mana negara ini lahir, dan untuk apa ia kita bangun bersama. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankepemimpinannegararakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [43]: Ruang Kuliah Anti Kebohongan

Next Post

Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Pameran 'BUMI' di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co