3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 4, 2025
in Esai
Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Dalam perjalanan sejarah manusia, negara selalu lahir dari satu sumber yang sama: manusia itu sendiri. Rakyat. Mereka yang berbagi ruang hidup, yang menempati wilayah, yang membangun rumah, menabur benih, dan menciptakan budaya. Negara bukanlah entitas gaib yang turun dari langit, ia tumbuh dari perjumpaan manusia yang kemudian menyepakati cara hidup bersama. Karena itu, rakyat adalah pemilik pertama dan terakhir dari apa yang kita sebut kedaulatan. Kita lupa, atau sengaja dilupakan.

Di banyak tempat, kekuasaan sering mengambil rupa yang berbeda dari amanah awalnya. Ia menjelma menjadi dominasi, bukan pelayanan; menjadi kepentingan pribadi, bukan kepentingan publik. Di titik inilah refleksi menjadi penting—baik bagi para pemimpin yang culas, maupun bagi rakyat yang sering lupa bahwa mereka bukan bawahan, melainkan pemilik perusahaan bernama negara.

Kewenangan yang Terbalik Arah

Seorang pemimpin, menurut teori politik modern, adalah public servant. Pelayan publik. Ia bekerja menggunakan uang rakyat, fasilitas rakyat, dan mandat rakyat. Gajinya bukan hadiah, tapi upah untuk melayani. Kekuasaan bukan hak milik, tetapi pinjaman yang harus dikembalikan dalam keadaan baik.

Namun realitas politik menunjukkan sesuatu yang sering kali terbalik. Pemimpin yang seharusnya melayani, justru minta dilayani. Yang seharusnya mewakili bangsa, malah mewakili kelompoknya. Yang seharusnya menjaga amanah, malah memperkaya diri. Di sinilah culas itu tumbuh: ketika kekuasaan tidak lagi tampak sebagai tugas, melainkan sebagai hak istimewa.

Para penguasa culas lupa satu hal: kursi kekuasaan hanyalah singgasana sementara. Setiap pemimpin, betapapun kuatnya, akan tumbang oleh waktu, oleh pemilu, atau oleh sejarah. Sejarah manusia selalu mencatat pemimpin culas dengan tinta gelap—mulai dari tirani kecil yang memanipulasi anggaran sampai para diktator besar yang menindas bangsanya sendiri. Tak seorang pun berkahir baik ketika kekuasaan dipeluk sebagai milik pribadi.

Rakyat: Pemilik Negara yang Sering Terlupa

Sebaliknya, rakyat sering terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu tunduk atau terlalu arogan. Terlalu tunduk menyebabkan mereka pasrah; terlalu arogan menjadikan mereka ingin menggantikan tirani dengan tirani baru.

Kedaulatan rakyat bukan tentang berteriak “kami yang berkuasa”. Kedaulatan rakyat adalah kesadaran tenang bahwa negara ini berjalan dengan mandat kita. Kita bukan penguasa, bukan pejabat, tapi pemilik yang menata arah. Dengan kesadaran itu, kita tidak perlu arogan. Tidak perlu menjadi kasar, tidak perlu merasa superior. Kita cukup sadar bahwa suara kita menentukan arah bangsa.

Menjadi pemilik negara bukan berarti merasa lebih hebat dari aparat atau pemimpin. Bukan pula memandang pemerintah sebagai musuh. Justru sebaliknya: rakyat adalah komisaris utama, dan pemerintah adalah direksi. Hubungan yang sehat terjadi ketika keduanya saling menghormati, menjalankan fungsi, dan mengingat tanggung jawabnya masing-masing.

Cermin bagi Para Pemimpin Culas

Untuk para pemimpin yang lupa diri, ada beberapa cermin yang perlu dilihat:

1. Kekuasaan adalah mandat, bukan warisan

Tak ada satu pun pemimpin di negeri ini yang duduk di kursi tanpa dipilih, ditunjuk, atau diangkat oleh proses yang lahir dari rakyat. Sebesar apa pun kekuasaan itu, ia tidak berasal dari diri sendiri.

2. Rakyat tidak bodoh

Sejarah membuktikan bahwa rakyat selalu menemukan caranya sendiri. Pemimpin culas mungkin menang pada satu atau dua pemilu, mungkin memperdaya publik dalam beberapa tahun, tetapi pada akhirnya, rakyat selalu menemukan momentum untuk menegakkan etika politik.

3. Keberhasilan seorang pemimpin terletak pada kesejahteraan rakyat

Bukan pada panjangnya masa jabatan. Bukan pada kemegahan proyek. Bukan pada pencitraan di media sosial. Tetapi pada kemampuan membuat hidup orang banyak menjadi lebih mudah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.

4. Namamu akan dikenang, baik atau buruk

Pemimpin mesti mengingat satu hal sederhana: bangunan, jalan, tugu, dapat roboh; tetapi ingatan rakyat tidak. Dan sejarah tidak pernah tidur.

Cermin bagi Rakyat yang Memegang Kedaulatan

Kita pun sebagai rakyat perlu berkaca:

1. Kedaulatan tidak berarti kesombongan

Menjadi pemilik negara bukan berarti bebas menghina aparat, mencaci pemimpin, atau memecah masyarakat. Kedaulatan berarti tanggung jawab moral untuk tetap beradab.

2. Demokrasi membutuhkan literasi

Jika rakyat tidak memahami politik, maka suara mereka mudah dimanipulasi. Literasi politik atau lebih tepatnya political amareness adalah dasar kedaulatan yang sesungguhnya.

3. Jangan hanya menuntut, tetapi juga terlibat

Negara tidak bisa berjalan hanya dengan kritikan. Keterlibatan diperlukan—mulai dari menjaga fasilitas umum, membayar pajak dengan benar, hingga aktif dalam organisasi masyarakat yang kritis, tanpa alunan lagu maju tak gentar membela yang bayar.

4. Rakyat yang kuat melahirkan pemimpin yang baik

Pemimpin culas tumbuh subur dalam masyarakat yang mudah dibohongi, mudah dipecah, atau mudah disogok. Membangun masyarakat yang kuat adalah cara paling efektif mencegah tumbuhnya tirani.

Negara Adalah Cermin Kita

Pada akhirnya, negara adalah cermin besar. Ia memantulkan wajah rakyat maupun pemimpin. Jika cermin itu keruh, kita semua ikut kusam. Jika cermin itu jernih, kita semua tampak lebih baik.

Pemimpin culas harus sadar bahwa kekuasaan adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban, bukan panggung untuk memamerkan kekuasaan dan timbunan harta. Rakyat pun harus sadar bahwa kedaulatan bukan alasan untuk arogan. Kedaulatan justru menuntut kedewasaan.

Negara yang sehat lahir dari pemimpin yang melayani dan rakyat yang sadar diri. Keduanya berjalan berdampingan, bukan saling merendahkan. Di tengah kebisingan politik hari ini, mungkin inilah waktu terbaik untuk kembali melihat cermin itu. Merenung sejenak. Menata ulang. Mengingat kembali siapa kita, dari mana negara ini lahir, dan untuk apa ia kita bangun bersama. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankepemimpinannegararakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [43]: Ruang Kuliah Anti Kebohongan

Next Post

Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Pameran 'BUMI' di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co