12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 4, 2025
in Esai
Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Dalam perjalanan sejarah manusia, negara selalu lahir dari satu sumber yang sama: manusia itu sendiri. Rakyat. Mereka yang berbagi ruang hidup, yang menempati wilayah, yang membangun rumah, menabur benih, dan menciptakan budaya. Negara bukanlah entitas gaib yang turun dari langit, ia tumbuh dari perjumpaan manusia yang kemudian menyepakati cara hidup bersama. Karena itu, rakyat adalah pemilik pertama dan terakhir dari apa yang kita sebut kedaulatan. Kita lupa, atau sengaja dilupakan.

Di banyak tempat, kekuasaan sering mengambil rupa yang berbeda dari amanah awalnya. Ia menjelma menjadi dominasi, bukan pelayanan; menjadi kepentingan pribadi, bukan kepentingan publik. Di titik inilah refleksi menjadi penting—baik bagi para pemimpin yang culas, maupun bagi rakyat yang sering lupa bahwa mereka bukan bawahan, melainkan pemilik perusahaan bernama negara.

Kewenangan yang Terbalik Arah

Seorang pemimpin, menurut teori politik modern, adalah public servant. Pelayan publik. Ia bekerja menggunakan uang rakyat, fasilitas rakyat, dan mandat rakyat. Gajinya bukan hadiah, tapi upah untuk melayani. Kekuasaan bukan hak milik, tetapi pinjaman yang harus dikembalikan dalam keadaan baik.

Namun realitas politik menunjukkan sesuatu yang sering kali terbalik. Pemimpin yang seharusnya melayani, justru minta dilayani. Yang seharusnya mewakili bangsa, malah mewakili kelompoknya. Yang seharusnya menjaga amanah, malah memperkaya diri. Di sinilah culas itu tumbuh: ketika kekuasaan tidak lagi tampak sebagai tugas, melainkan sebagai hak istimewa.

Para penguasa culas lupa satu hal: kursi kekuasaan hanyalah singgasana sementara. Setiap pemimpin, betapapun kuatnya, akan tumbang oleh waktu, oleh pemilu, atau oleh sejarah. Sejarah manusia selalu mencatat pemimpin culas dengan tinta gelap—mulai dari tirani kecil yang memanipulasi anggaran sampai para diktator besar yang menindas bangsanya sendiri. Tak seorang pun berkahir baik ketika kekuasaan dipeluk sebagai milik pribadi.

Rakyat: Pemilik Negara yang Sering Terlupa

Sebaliknya, rakyat sering terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu tunduk atau terlalu arogan. Terlalu tunduk menyebabkan mereka pasrah; terlalu arogan menjadikan mereka ingin menggantikan tirani dengan tirani baru.

Kedaulatan rakyat bukan tentang berteriak “kami yang berkuasa”. Kedaulatan rakyat adalah kesadaran tenang bahwa negara ini berjalan dengan mandat kita. Kita bukan penguasa, bukan pejabat, tapi pemilik yang menata arah. Dengan kesadaran itu, kita tidak perlu arogan. Tidak perlu menjadi kasar, tidak perlu merasa superior. Kita cukup sadar bahwa suara kita menentukan arah bangsa.

Menjadi pemilik negara bukan berarti merasa lebih hebat dari aparat atau pemimpin. Bukan pula memandang pemerintah sebagai musuh. Justru sebaliknya: rakyat adalah komisaris utama, dan pemerintah adalah direksi. Hubungan yang sehat terjadi ketika keduanya saling menghormati, menjalankan fungsi, dan mengingat tanggung jawabnya masing-masing.

Cermin bagi Para Pemimpin Culas

Untuk para pemimpin yang lupa diri, ada beberapa cermin yang perlu dilihat:

1. Kekuasaan adalah mandat, bukan warisan

Tak ada satu pun pemimpin di negeri ini yang duduk di kursi tanpa dipilih, ditunjuk, atau diangkat oleh proses yang lahir dari rakyat. Sebesar apa pun kekuasaan itu, ia tidak berasal dari diri sendiri.

2. Rakyat tidak bodoh

Sejarah membuktikan bahwa rakyat selalu menemukan caranya sendiri. Pemimpin culas mungkin menang pada satu atau dua pemilu, mungkin memperdaya publik dalam beberapa tahun, tetapi pada akhirnya, rakyat selalu menemukan momentum untuk menegakkan etika politik.

3. Keberhasilan seorang pemimpin terletak pada kesejahteraan rakyat

Bukan pada panjangnya masa jabatan. Bukan pada kemegahan proyek. Bukan pada pencitraan di media sosial. Tetapi pada kemampuan membuat hidup orang banyak menjadi lebih mudah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.

4. Namamu akan dikenang, baik atau buruk

Pemimpin mesti mengingat satu hal sederhana: bangunan, jalan, tugu, dapat roboh; tetapi ingatan rakyat tidak. Dan sejarah tidak pernah tidur.

Cermin bagi Rakyat yang Memegang Kedaulatan

Kita pun sebagai rakyat perlu berkaca:

1. Kedaulatan tidak berarti kesombongan

Menjadi pemilik negara bukan berarti bebas menghina aparat, mencaci pemimpin, atau memecah masyarakat. Kedaulatan berarti tanggung jawab moral untuk tetap beradab.

2. Demokrasi membutuhkan literasi

Jika rakyat tidak memahami politik, maka suara mereka mudah dimanipulasi. Literasi politik atau lebih tepatnya political amareness adalah dasar kedaulatan yang sesungguhnya.

3. Jangan hanya menuntut, tetapi juga terlibat

Negara tidak bisa berjalan hanya dengan kritikan. Keterlibatan diperlukan—mulai dari menjaga fasilitas umum, membayar pajak dengan benar, hingga aktif dalam organisasi masyarakat yang kritis, tanpa alunan lagu maju tak gentar membela yang bayar.

4. Rakyat yang kuat melahirkan pemimpin yang baik

Pemimpin culas tumbuh subur dalam masyarakat yang mudah dibohongi, mudah dipecah, atau mudah disogok. Membangun masyarakat yang kuat adalah cara paling efektif mencegah tumbuhnya tirani.

Negara Adalah Cermin Kita

Pada akhirnya, negara adalah cermin besar. Ia memantulkan wajah rakyat maupun pemimpin. Jika cermin itu keruh, kita semua ikut kusam. Jika cermin itu jernih, kita semua tampak lebih baik.

Pemimpin culas harus sadar bahwa kekuasaan adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban, bukan panggung untuk memamerkan kekuasaan dan timbunan harta. Rakyat pun harus sadar bahwa kedaulatan bukan alasan untuk arogan. Kedaulatan justru menuntut kedewasaan.

Negara yang sehat lahir dari pemimpin yang melayani dan rakyat yang sadar diri. Keduanya berjalan berdampingan, bukan saling merendahkan. Di tengah kebisingan politik hari ini, mungkin inilah waktu terbaik untuk kembali melihat cermin itu. Merenung sejenak. Menata ulang. Mengingat kembali siapa kita, dari mana negara ini lahir, dan untuk apa ia kita bangun bersama. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankepemimpinannegararakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [43]: Ruang Kuliah Anti Kebohongan

Next Post

Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Pameran 'BUMI' di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co