2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 4, 2025
in Esai
Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Dalam perjalanan sejarah manusia, negara selalu lahir dari satu sumber yang sama: manusia itu sendiri. Rakyat. Mereka yang berbagi ruang hidup, yang menempati wilayah, yang membangun rumah, menabur benih, dan menciptakan budaya. Negara bukanlah entitas gaib yang turun dari langit, ia tumbuh dari perjumpaan manusia yang kemudian menyepakati cara hidup bersama. Karena itu, rakyat adalah pemilik pertama dan terakhir dari apa yang kita sebut kedaulatan. Kita lupa, atau sengaja dilupakan.

Di banyak tempat, kekuasaan sering mengambil rupa yang berbeda dari amanah awalnya. Ia menjelma menjadi dominasi, bukan pelayanan; menjadi kepentingan pribadi, bukan kepentingan publik. Di titik inilah refleksi menjadi penting—baik bagi para pemimpin yang culas, maupun bagi rakyat yang sering lupa bahwa mereka bukan bawahan, melainkan pemilik perusahaan bernama negara.

Kewenangan yang Terbalik Arah

Seorang pemimpin, menurut teori politik modern, adalah public servant. Pelayan publik. Ia bekerja menggunakan uang rakyat, fasilitas rakyat, dan mandat rakyat. Gajinya bukan hadiah, tapi upah untuk melayani. Kekuasaan bukan hak milik, tetapi pinjaman yang harus dikembalikan dalam keadaan baik.

Namun realitas politik menunjukkan sesuatu yang sering kali terbalik. Pemimpin yang seharusnya melayani, justru minta dilayani. Yang seharusnya mewakili bangsa, malah mewakili kelompoknya. Yang seharusnya menjaga amanah, malah memperkaya diri. Di sinilah culas itu tumbuh: ketika kekuasaan tidak lagi tampak sebagai tugas, melainkan sebagai hak istimewa.

Para penguasa culas lupa satu hal: kursi kekuasaan hanyalah singgasana sementara. Setiap pemimpin, betapapun kuatnya, akan tumbang oleh waktu, oleh pemilu, atau oleh sejarah. Sejarah manusia selalu mencatat pemimpin culas dengan tinta gelap—mulai dari tirani kecil yang memanipulasi anggaran sampai para diktator besar yang menindas bangsanya sendiri. Tak seorang pun berkahir baik ketika kekuasaan dipeluk sebagai milik pribadi.

Rakyat: Pemilik Negara yang Sering Terlupa

Sebaliknya, rakyat sering terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu tunduk atau terlalu arogan. Terlalu tunduk menyebabkan mereka pasrah; terlalu arogan menjadikan mereka ingin menggantikan tirani dengan tirani baru.

Kedaulatan rakyat bukan tentang berteriak “kami yang berkuasa”. Kedaulatan rakyat adalah kesadaran tenang bahwa negara ini berjalan dengan mandat kita. Kita bukan penguasa, bukan pejabat, tapi pemilik yang menata arah. Dengan kesadaran itu, kita tidak perlu arogan. Tidak perlu menjadi kasar, tidak perlu merasa superior. Kita cukup sadar bahwa suara kita menentukan arah bangsa.

Menjadi pemilik negara bukan berarti merasa lebih hebat dari aparat atau pemimpin. Bukan pula memandang pemerintah sebagai musuh. Justru sebaliknya: rakyat adalah komisaris utama, dan pemerintah adalah direksi. Hubungan yang sehat terjadi ketika keduanya saling menghormati, menjalankan fungsi, dan mengingat tanggung jawabnya masing-masing.

Cermin bagi Para Pemimpin Culas

Untuk para pemimpin yang lupa diri, ada beberapa cermin yang perlu dilihat:

1. Kekuasaan adalah mandat, bukan warisan

Tak ada satu pun pemimpin di negeri ini yang duduk di kursi tanpa dipilih, ditunjuk, atau diangkat oleh proses yang lahir dari rakyat. Sebesar apa pun kekuasaan itu, ia tidak berasal dari diri sendiri.

2. Rakyat tidak bodoh

Sejarah membuktikan bahwa rakyat selalu menemukan caranya sendiri. Pemimpin culas mungkin menang pada satu atau dua pemilu, mungkin memperdaya publik dalam beberapa tahun, tetapi pada akhirnya, rakyat selalu menemukan momentum untuk menegakkan etika politik.

3. Keberhasilan seorang pemimpin terletak pada kesejahteraan rakyat

Bukan pada panjangnya masa jabatan. Bukan pada kemegahan proyek. Bukan pada pencitraan di media sosial. Tetapi pada kemampuan membuat hidup orang banyak menjadi lebih mudah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.

4. Namamu akan dikenang, baik atau buruk

Pemimpin mesti mengingat satu hal sederhana: bangunan, jalan, tugu, dapat roboh; tetapi ingatan rakyat tidak. Dan sejarah tidak pernah tidur.

Cermin bagi Rakyat yang Memegang Kedaulatan

Kita pun sebagai rakyat perlu berkaca:

1. Kedaulatan tidak berarti kesombongan

Menjadi pemilik negara bukan berarti bebas menghina aparat, mencaci pemimpin, atau memecah masyarakat. Kedaulatan berarti tanggung jawab moral untuk tetap beradab.

2. Demokrasi membutuhkan literasi

Jika rakyat tidak memahami politik, maka suara mereka mudah dimanipulasi. Literasi politik atau lebih tepatnya political amareness adalah dasar kedaulatan yang sesungguhnya.

3. Jangan hanya menuntut, tetapi juga terlibat

Negara tidak bisa berjalan hanya dengan kritikan. Keterlibatan diperlukan—mulai dari menjaga fasilitas umum, membayar pajak dengan benar, hingga aktif dalam organisasi masyarakat yang kritis, tanpa alunan lagu maju tak gentar membela yang bayar.

4. Rakyat yang kuat melahirkan pemimpin yang baik

Pemimpin culas tumbuh subur dalam masyarakat yang mudah dibohongi, mudah dipecah, atau mudah disogok. Membangun masyarakat yang kuat adalah cara paling efektif mencegah tumbuhnya tirani.

Negara Adalah Cermin Kita

Pada akhirnya, negara adalah cermin besar. Ia memantulkan wajah rakyat maupun pemimpin. Jika cermin itu keruh, kita semua ikut kusam. Jika cermin itu jernih, kita semua tampak lebih baik.

Pemimpin culas harus sadar bahwa kekuasaan adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban, bukan panggung untuk memamerkan kekuasaan dan timbunan harta. Rakyat pun harus sadar bahwa kedaulatan bukan alasan untuk arogan. Kedaulatan justru menuntut kedewasaan.

Negara yang sehat lahir dari pemimpin yang melayani dan rakyat yang sadar diri. Keduanya berjalan berdampingan, bukan saling merendahkan. Di tengah kebisingan politik hari ini, mungkin inilah waktu terbaik untuk kembali melihat cermin itu. Merenung sejenak. Menata ulang. Mengingat kembali siapa kita, dari mana negara ini lahir, dan untuk apa ia kita bangun bersama. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankepemimpinannegararakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [43]: Ruang Kuliah Anti Kebohongan

Next Post

Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘BUMI’ di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Pameran 'BUMI' di Surabaya: Ajak Publik Menyentuh Ulang Hubungan Manusia dan Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co