12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [43]: Ruang Kuliah Anti Kebohongan

Chusmeru by Chusmeru
December 4, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

RUANGAN atau gedung yang angker hampir ada di setiap tempat. Cerita tentang tempat-tempat angker bukan hanya ada di bangunan tua. Rumah maupun perkantoran yang baru dan modern pun kadang diwarnai dengan cerita mistis. Bukan hanya di Indonesia, cerita menyeramkan tentang ruangan tertentu juga ada di beberapa negara.

Kampus  menjadi tempat yang sering dianggap angker. Apalagi kampus yang sudah berdiri sejak lama. Salah satu kampus di lereng Gunung Slamet ini juga banyak menyimpan cerita misteri. Ada saja kejadian aneh maupun peristiwa menyeramkan di kampus ini.

Ruang kuliah 13 pernah menimbulkan suasana mencekam. Ketika dosen Kusmedi memberikan kuliah, mendadak muncul makhluk gaib yang hadir dalam perkuliahan. Sosok hantu yang ikut kuliah sempat diabadikan dalam ponsel mahasiswa.

Dosen wanita Mita Setiani yang mengajar di ruang 7 menjumpai kejadian yang menakutkan. Muncul dosen tak kasat mata yang mengotak-atik materi kuliahnya di laptop. Mahasiswa sempat histeris dengan munculnya sosok hantu none Belanda di ruang kuliah.

Mahasiswa kesurupan terjadi di ruang 3 saat kuliah Ageng Semesta. Kuliah yang menghadirkan dukun kesenian Ebeg itu diwarnai dengan kesurupan seorang mahasiswa. Ruang kuliah 3 dianggap memiliki aura mistis.

Bukan hanya ruang kuliah, gudang tua di kampus juga menyimpan misteri. Kuliah Dewi Pangesti terhenti saat itu gara-gara terdengar tangisan dari gudang tua. Ternyata di dalam gudang terdapat boneka milik mahasiswa yang meninggal karena kecelakaan di jalanan dekat kampus.

Dosen muda dan cantik Dina Bestiari pernah dibuat gugup dan merinding ketika melintas di sungai kecil dekat ruang kuliah. Ia melihat anak-anak yang bermain di sungai. Wajahnya sangat menyeramkan. Belakangan diketahui, anak-anak itu adalah jelmaan siluman ular yang hidup di sungai kecil itu.

Taman di kampus memiliki cerita misterius bagi mahasiswa yang baru saja diwisuda. Taman itu sering digunakan oleh mahasiswa untuk berfoto selepas wisuda. Namun ternyata taman kampus juga merupakan taman hantu, yaitu hantu ganjil.

Bukan hanya dosen dan mahasiswa yang menjumpai kejadian misterius. Satpam kampus juga pernah melihat hantu perempuan di ruang penyimpanan generator listrik. Anehnya, hantu perempuan itu hanya muncul setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon jika turun gerimis di sekitar kampus.

Dapur danpantry fakultas menjadi tempat yang angker pula. Beberapa pegawai sering mencium bau gosong dari arah dapur, padahal tidak ada seorang pun yang sedang memasak. Ketika didekati, tampak hantu perempuan yang menyeramkan sedang memasak di dapur.

                                                                        ***

Terpetik kabar, ruang kuliah 9 juga dianggap keramat oleh dosen dan pegawai. Namun belum pernah ada yang membuktikan kekeramatannya. Hanya saja, banyak dosen dan pegawai yang merasakan hawa kurang nyaman ketika berada di dalam ruangan itu.

Kristoper Heri sudah berada di kelas untuk mengajar Komunikasi Lingkungan. Minggu sebelumnya, ia sudah memberi tugas terstruktur kepada mahasiswa. Bentuk tugas berupa makalah tentang kampanye pelestarian lingkungan akibat ulah manusia yang tak lagi peduli pada lingkungan. Kerusakan lingkungan bukan hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga sudah merambah ke pedesaan.

Tugas makalah dikumpulkan di meja dosen. Satu per satu makalah mahasiswa diperiksa dan dibaca Kristoper Heri. Bagus-bagus makalahnya. Mahasiswa sangat kritis memandang kerusakan lingkungan yang masif terjadi. Kristoper Heri senang, itu berarti materi kuliah yang selama ini ia berikan dapat dipahami mahasiswa.

Satu makalah menarik perhatian Kristoper Heri. Makalah milik mahasiswa Riantono Hendarman. Ada yang meragukan dari makalah itu. Gaya bahasa Riantono Hendarman agak berbeda dari kebiasaannya menulis pada tugas yang lain. Kristoper Heri mencurigai Riantono Hendarman mengerjakan tugas makalah dengan bantuan AI atau ChatGPT.

“Ini makalah kamu buat sendiri?” tanya Kristoper Heri yang ragu.

“Iya pak,” jawab Riantono dengan yakin.

Jawaban Riantono Hendarman tidak membuat Kristoper Heri percaya begitu saja. Wajah Riantono tampak seperti menyembunyikan kebohongan. Kristoper Heri tahu persis itu, karena ia juga mengajar Komunikasi Interpersonal yang mempelajari ekspresi nonverbal seseorang. Ekspresi wajah Riantono tidak menunjukkan kesungguhan tentang apa yang dikatakannya.

“Kamu tidak minta bantuan AI ?” tanya Kristoper Heri lagi dengan memperhatikan raut muka Riantono Hendarman.

“Tidak pak..,” jawab Riantono Hendarman yang mulai sedikit grogi karena dicecar pertanyaan.

Kristoper Heri tidak bertanya lagi. Ia tetap ragu dengan makalah yang dibuat Riantono Hendarman. Masih banyak tugas makalah lain yang harus ia baca. Andai pun Riantono berbohong, biarlah dia sendiri yang akan menanggung risikonya.

Riantono Hendarman merasa lega lantaran dosennya tidak lagi mencecar pertanyaan terkait makalah yang dibuatnya. Padahal ia memang berbohong. Kemarin waktunya banyak digunakan untuk bermain game bersama teman kosnya. Malam hari ia baru mengerjakan tugas itu. Dengan terpaksa ia minta bantuan AI untuk menggarap tugas itu. Namun ia malu mengakuinya di hadapan Kristoper Heri. Jika ia mengaku, tentu akan diberikan nilai yang jelek.

Hingga malam hari Riantono Hendarman terus kepikiran tentang pertanyaan dari Kristoper Heri. Semestinya tadi ia tak perlu berbohong. Ia bisa minta maaf kepada dosennya. Mendadak perut Riantono melilit. Ia bergegas ke toilet. Riantono diare. Badannya tiba-tiba demam. Mungkin karena ia terlalu memikirkan kebohongannya.

Bukan hanya sekali Riantono Hendarman ke toilet. Ia mengalami diare hebat dan demam. Tubuhnya lemas. Ia mencoba mengingat apa saja yang ia konsumsi seharian. Riantono tidak mengkonsumsi makanan pedas maupun asam dari pagi hingga sore. Tapi ia diare terus-menerus.

Riantono Hendarman berbaring di tempat tidur. Saat ia memegangi perutnya yang melilit, tiba-tiba muncul sosok makhluk menyeramkan berdiri di sisi ranjang. Perutnya buncit. Matanya lebar. Tampak taring yang panjang dari makhluk itu. Riantono  terkejut bukan kepalang. Demam tubuhnya kini dibarengi dengan menggigil ketakutan.

“Kamu jangan suka bohong di kampus…!!!” bentak makhluk misterius itu.

Riantono Hendarman tidak punya kekuatan untuk menjawab. Ia hanya menganggukan kepala. Makhluk itu masih memandangi dengan sorot mata melotot. Riantono menutupi wajahnya dengan selimut. Makhluk itu sungguh menyeramkan.

                                                                        ***

Kuliah Komunikasi Gender di ruang 9 akan dimulai. Widya Novianti sudah membuka laptopnya. Dosen cantik ini dikenal ceria. Banyak mahasiswa yang menyukainya. Apalagi Widya Novianti juga kerap menceritakan pengalamannya traveling ke berbagai daerah di Indonesia.

Lima belas menit kuliah sudah berlangsung. Mahasiswa memperhatikan dengan serius materi kuliah. Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Murtiwati, mahasiswa semester empat datang terlambat. Widya Novianti menghentikan paparan materi kuliah. Ia tidak marah ketika Murtiwati datang terlambat kuliah.

“Kenapa kamu terlambat?” tanya Widya Novianti kepada Murtiwati.

“Maaf, Bu. Tadi jalanan macet,” ujar Murtiwati berbohong.

Widya Novianti hanya tersenyum. Ia tahu Murtiwati berbohong. Kampus tempatnya mengajar berada di kota yang jarang sekali terjadi kemacetan lalu lintas. Kecuali pada pagi hari di jam anak-anak berangkat sekolah. Itu pun hanya terjadi pada perempatan jalan tertentu saja.

Murtiwati memang berbohong. Ia tidak terjebak dalam kemacetan. Apalagi ia mengendarai sepeda motor ke kampus. Murtiwati  memang terlambat bangun tidur. Semalaman ia menonton drama Korea di laptop hingga larut. Ia malu untuk mengakui hal itu. Meski demikian sebenarnya ia juga menyesal harus berbohong kepada dosen yang baik hati itu.

Sepulang kuliah Murtiwati mengalami kejadian aneh. Seluruh tubuhnya terasa gatal. Semakin ia garuk, gatalnya semakin terasa. Padahal selama ini ia tidak pernah menderita penyakit kulit. Bukan hanya gatal di sekujur tubuh, Murtiwati juga terserang demam tinggi. Ia menggigil sambil menahan rasa gatal.

Malam harinya, Murtiwati diserang batuk. Tenggorokannya terasa sakit. Ia minum obat batuk sirup yang dibeli di supermarket dekat tempat kosnya. Namun bukannya sembuh, batuk itu semakin menjadi. Tubuh Murtiwati tak keruan. Gatal, demam, dan batuk.

Lemas dirasakan Murtiwati. Ia mencoba berbaring di ranjang sambil menggaruk-garuk tangan, leher, punggung, perut, dan kakinya yang gatal. Ia tak menyadari saat di sisi ranjang muncul beberapa anak kecil bertelanjang dada. Murtiwati terkejut. Ia bangun dari ranjang.

“Dari mana anak-anak ini muncul?” tanya Murtiwati dalam hati.

Anak-anak kecil itu mengerubuti Murtiwati. Wajah mereka aneh dan menyeramkan. Kulit anak-anak itu merah seperti mengelupas. Murtiwati merasa ngeri dan seram melihat mereka.  Bukan manusia, pasti hantu; pikir Murtiwati. Di tengah rasa sakit dan ketakutannya, salah satu anak kecil itu mendekati Murtiwati.

“Kamu jangan berbohong di ruang kuliah..!!!” bentak makhluk kecil menyeramkan itu.

Murtiwati hanya mampu mengangguk. Tubuhnya tak berdaya menghadapi rasa gatal, batuk, dan hantu anak-anak kecil yang mengerubutinya. Ia merasa heran, mengapa hantu anak kecil itu marah karena ia berbohong kepada dosen saat terlambat datang kuliah. Apakah hantu anak-anak itu penghuni ruang kuliah 9 itu?

Teman-teman kuliah Murtiwati terkejut mendengar cerita tentang penyakit yang diderita dan hantu anak kecil yang mengerubutinya. Mereka menganggap ruang kuliah 9 memang keramat. Orang tidak boleh berbohong di ruangan itu. Kejadian serupa juga menimpa Riantono Hendarman yang menderita diare dan demam tinggi setelah berbohong kepada dosen di ruang 9.

“Makhluk halus penghuni ruang 9 marah karena kamu berbohong kepada dosen. Ruang itu keramat,” ujar Agatha teman kuliah Murtiwati.

Agatha lantas menyarankan Murtiwati agar ia meminta maaf kepada dosen dan teman-teman mahasiswa di depan kelas. Bukan hanya meminta maaf, ia juga diminta untuk tidak berbohong lagi. Jika tidak mau, dikhawatirkan sakit gatal dan batuknya tidak akan cepat sembuh.

Kuliah minggu berikutnya, Murtiwati meminta izin kepada dosen untuk menyampaikan permohonan maaf. Sakit gatal dan batuknya belum sembuh betul. Ia berdiri di depan kelas. Sambil menengadah ke atas ia mengucapkan maaf karena telah berbohong. Seketika ruang kuliah 9 bergetar. Pintu dan jendela ruang kuliah mengeluarkan bunyi keras, seolah penghuni ruangan itu merespons permintaan maaf Murtiwati. Semua merinding. Kuliah dosen Widya Novianti menjadi mencekam.

Hal yang sama dilakukan oleh Riantono Hendarman di ruang 9. Ia memohon izin saat kuliah dosen Kristoper Heri untuk meminta maaf di depan kelas. Riantono memandangi sekeliling kelas dan menengadah ke atas. Ia mengucapkan permintaan maaf dan berjanji tidak akan berbohong lagi. Keanehan yang menyeramkan terjadi.

Terdengar suara gemuruh di atas plafon ruang kuliah. Kristoper Heri dan semua mahasiswa terkejut. Mereka takut plafon ruang kuliah akan runtuh. Namun ketika Riantono selesai mengucapkan permintaan maaf, suara gemuruh itu berhenti. Semua merasa lega. Kristoper Heri selaku dosen mengingatkan kepada mahasiswa untuk selalu berkata jujur. Jangan sekali-kali berbohong kepada dosen dan kepada siapa pun.

Sejak peristiwa aneh dan menyeramkan yang dialami Riantono Hendarman dan Murtiwati, semua dosen, pegawai, dan mahasiswa sepakat memberi nama baru ruang kuliah 9 menjadi “Ruang Anti Kebohongan”. Diharapkan siapa saja tidak berbohong di ruang itu; dan tentunya juga di ruang kuliah lain, dan di seluruh ruangan yang ada di kampus. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita bersambungcerita misterimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Surat Terbuka kepada Presiden, dan Yang Mewakili Rakyat —Tentang Transmigrasi dan Lain-lain

Next Post

Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Rakyat, Negara, dan Cermin Kekuasaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co