BANJIR dahsyat yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali mengingatkan kita pada satu hal yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan: bahwa bencana bukan semata-mata kiriman langit. Luapan air yang menyeret rumah, jembatan, bahkan nyawa, bukan hanya perkara curah hujan ekstrem, tetapi juga apa yang telah kita lakukan, atau kita biarkan terjadi di hulu sana. Di tempat yang dulu disebut “rimba”.
Dalam beberapa tahun terakhir, peta kehijauan di tiga provinsi itu berubah pelan-pelan, seperti sebuah gambar yang warnanya perlahan diseka. Hutan yang semula rapat mulai berlubang, tebing-tebing yang dulu ditahan akar kini ditinggalkan gundul, air yang semestinya meresap kini menggelontor tanpa jeda. Setelah setiap bencana banjir bandang, pemerintah selalu menyebut “curah hujan tinggi”. Tapi jarang disebut kalau air hujan hanya menjadi bencana ketika tanah kehilangan daya tampungnya ─ ketika yang dulu serapannya dalam, kini tinggal kulit-kulit tipis yang lelah.
Di Sumatera Utara, banjir bandang yang menerjang memperlihatkan bagaimana aliran air membawa lumpur pekat bercampur potongan kayu. Di Sumatera Barat, sungai-sungai yang dulu jinak kini meluap seperti tak lagi mengenali pola lamanya. Sementara Aceh, dengan riwayat bencana yang panjang, kembali harus belajar bertahan dari arus yang menyapu kebun, jalan, dan pemukiman. Polanya sama, jejaknya serupa: hulu yang rusak, hilir yang menanggung sesak.
Dan di setiap wilayah itu, ada saksi-saksi bisu yang jarang kita dengarkan: orang-orang kampung, para petani, pedagang kecil, sampai anak-anak sekolah. Mereka tahu persis bahwa yang hilang bukan hanya rumah, tetapi rasa aman yang pernah mereka percaya. Ketika langit menggelap dan hujan tiba, suara hujan bukan lagi pertanda kesegaran, tetapi isyarat untuk bersiap: mengangkat barang, menoleh ke sungai, berharap debit air tidak naik.
Ada juga saksi lain yang jarang disebut: fauna yang terus terdesak, kehilangan tempat berteduh, kehilangan jalur jelajah. Ketika isi rimba tak ada lagi ruang berpijak, mereka bergerak turun ke ladang, ke jalan, ke kampung ─ dan pada saat itu, konflik baru tercipta. Banjir bandang tidak hanya mengikis tanah, ia mengikis batas antara hutan dan manusia. Dan ketika batas itu hilang, tidak ada yang benar-benar aman.
Bencana-bencana ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak dari kebiasaan mencari kambing hitam. Bukan sekadar menyalahkan cuaca ekstrem atau memarahi industri ekstraktif secara abstrak. Yang diperlukan adalah keberanian melihat hubungan langsung antara pilihan pembangunan, pola perizinan, dan bencana yang terjadi. Antara tiap satu pohon besar yang ditebang, tiap satu bukit yang dikikis, tiap satu sungai yang dialihkan, dan tiap satu rumah yang hanyut.
Namun, tulisan seperti ini juga selalu menghadapi dilema: mudah untuk mengulang retorika bahwa “alam sedang memberi peringatan”, “kita harus menjaga kelestarian”, atau “hutan adalah paru-paru dunia”. Padahal masyarakat di hilir sudah lama menjaga ─ mereka tahu betul kapan harus menanam, kapan harus membuka lahan, kapan sungai harus ‘diistirahatkan’. Yang sering tidak dijaga justru ruang-ruang di atas mereka: hulu yang dibebani izin, dijadikan tambang, dibabat tanpa perhitungan, diawasi dengan jarak.
Kini ketika banjir bandang menyisakan lumpur, serakan kayu, dan air menggenang, pertanyaannya bukan lagi apa penyebabnya. Tetapi, apakah kita benar-benar siap mengubah cara memandang hutan? Apakah kita serius menempatkan keselamatan warga di atas kepentingan jangka pendek?
Karena jika tidak, maka setiap musim hujan akan menjadi pengulangan. Setiap longsor akan menjadi catatan kaki yang sama. Dan setiap tahun, akan ada tempat-tempat lain yang harus mendengar gemuruh air saat curah hujan tinggi, tanpa tahu apakah besok mereka masih punya tempat untuk pulang dan kesempatan hidup.
Pada akhirnya, yang disebut “isi rimba” bukan hanya kekayaan hayati: harimau, burung rangkong, pohon meranti, dan sungai yang berkelok. Ia juga mencakup manusia yang hidup bergantung pada keseimbangan ekologis itu. Ketika isi rimba tak lagi punya tempat berpijak, itu bukan hanya cerita tentang hutan yang hilang, tapi tentang kita yang kehilangan kompas moral untuk menjaga tanah ini tetap utuh.
Dan, selama kompas itu belum kita temukan kembali, banjir bandang hanyalah satu dari sekian banyak cara alam menunjukkan bahwa ia mulai kehabisan ruang untuk memaafkan. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole


























