26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhala Terakhir | Cerpen Agung Sudarsa

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 29, 2025
in Cerpen
Berhala Terakhir | Cerpen Agung Sudarsa

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Namaku Kafir.

Begitulah orang-orang memanggilku sejak kecil. Tak ada yang tahu siapa orang tuaku. Tidak ada yang pernah mengaku melahirkanku. Konon, mereka penyembah berhala: memuja gunung, sungai, pohon, batu, burung gagak, bahkan Mister Semal alias tupai yang sering lewat di halaman rumah, bermain di antara pepohonan, meminta sejumput nasi, karena pohon kelapa dan tanaman berbuah banyak yang ditebang digantikan beton. Rumor berkembang seperti benalu: bahwa aku dibuang karena dianggap membawa sial. Bahwa aku lahir dari persetubuhan terlarang. Bahwa aku anak iblis. Semua orang bebas memilih versi dan narasi yang paling seksi.

Aku sendiri tidak peduli. Karena sejak ingatanku yang paling awal, yang memeliharaku hanyalah alam. Hutan menjadi dinding rumahku. Sungai adalah tempatku mandi dan minum. Angin mengusap tubuh kecilku ketika demam. Matahari menghangatkanku saat kedinginan. Jika orang-orang menyebut kedua orang tuaku penyembah berhala, mungkin mereka benar. Tapi bagiku, alamlah yang membesarkanku. Aku adalah anak pohon, anak air, anak cahaya.

Kadang aku bertanya: pantaskah aku membandingkan diriku dengan Hanuman, yang konon beribu Dewi Anjani? Tentu saja tidak. Tetapi siapa lagi yang bisa kupakai sebagai pembanding? Hanuman memiliki wujud ilahi, setengah dewa. Aku hanya bocah dekil yang hidup dari “sela metunu” (ubi jalar yang dibakar di atas bara) yang menjadi makanan utamaku. Tapi ada satu kesamaan: kami sama-sama dibesarkan oleh alam. Itu kutahu dari buku Sindhunata: Anak Bajang Menggiring Angin.

Sejak kecil pula, aku merasa rumah Tuhan ada di mana-mana. Aku bisa sembahyang di pura di bawah pohon beringin, ikut jamaah subuh di masjid tua dekat pasar, berlutut di gereja kecil tempat para gadis kecil bernyanyi riang, duduk hening di vihara sambil mendengar suara lonceng yang menenangkan, atau sekadar membakar hio di klenteng sambil menatap patung-patung yang menurut orang berhala.

Bagiku, semua itu rumah Dia. Yang satu adanya.

Dari buku Suara Kebangkitan yang kubaca, Vivekananda juga mengajarkan hal serupa. Bahwa semua jalan menuju Tuhan adalah sama. Bahwa kebenaran adalah satu, meski disebut dengan banyak nama. Aku sempat bangga—bahkan pongah. Pantaskah aku membandingkan diri dengan sosok yang menggemparkan Parlemen Agama Sedunia di Chicago? Tentu saja tidak. Namun, bisakah aku menolak rasa keakraban itu? Seolah aku mengenal semangatnya sejak lama.

Barangkali itu awal mula dosa terbesarku: merasa dekat dengan mereka yang agung.

Pengalaman spiritual pertamaku terjadi di tempat yang paling tidak suci menurut kebanyakan orang: kamar mandi. Pagi-pagi sekali, saat perutku mulas karena semalam salah makan begul—alias BE GULing—aku duduk jongkok, berkeringat, dan merintih pelan.

Di tengah perjuangan itu, tiba-tiba aku merasakan kehadiran-Nya.

Sunyi.

Dalam.

Tanpa wujud.

Tanpa nama.

Tanpa ritual.

Aku hanya duduk, napas teratur, tubuh melepas segala beban—secara harfiah.

Saat itulah aku merasakan kebahagiaan paling jujur dalam hidupku. Tidak ada doa panjang. Tidak ada dupa. Tidak ada kitab suci. Hanya tubuh yang telanjang adanya, tanpa topeng, tanpa kemunafikan. Dan aku tertawa. Tawa yang keluar begitu saja, tulus seperti bayi menemukan dunia.

Sejak itu, aku yakin: Tuhan hadir bahkan di tempat paling bau. Barangkali di situ letak keadilan-Nya. Tak ada yang mampu berpura-pura suci di kamar mandi.

Julukan “Kafir” awalnya diberikan dengan penuh kebencian. Orang-orang risih melihatku berdoa di mana saja. Mereka mencaci: “Dasar kafir!” “Murtad!” “Tidak punya agama!” “Mencampur-adukkan semua agama!” Tapi lama kelamaan, aku menyukainya. Kata itu terasa seperti pakaian yang nyaman. Aku bahkan mulai merasa nama itu keren. Tapi kalah tenar dibandingkan sobat fb-ku Muhammad Amin yang bikin cerpen: Ziarah ke Makam Tuhan.

Lalu seseorang menambahkan: “Murtad!” Jadilah aku: Si Kafir Murtad.

Aku merasa itu sebuah kemewahan. Nama yang sempurna. Nama yang membuatku bebas dari semua label sekaligus terikat pada satu label yang paling dibenci.

Aku membaca Nietzsche—atau tepatnya, aku membaca terjemahan lusuh yang kubeli dari pedagang buku bekas di kios buku Palasari Bandung, sebelum terbakar. Nietzsche, menurutku, adalah makhluk paling sakti di dunia. Seorang diri, dia mampu membunuh “Hantu yang terbalik”. Bukan hantu gentayangan berselendang putih, tetapi hantu yang jauh lebih menakutkan: hantu kepercayaan buta. Ketika membaca kalimatnya, aku merasa seperti disambar petir: “Tuhan telah mati.” Tapi semakin kupikirkan, semakin aku yakin: yang mati adalah konsep Tuhan, bukan Dia, yang Maha Tidak Terkonsepkan.

Lalu muncul pemikiran yang lebih berbahaya: jika Tuhan bisa mati dalam konsep manusia, bukankah itu berarti manusia yang menciptakan konsep tersebut? Dan jika manusia menciptakan konsep, bukankah manusia juga bisa menghancurkannya?

Aku pun menyimpulkan dengan gegabah—atau jenius, tergantung sudut pandang: Tuhan tidak membutuhkan agama. Manusialah yang membutuhkan agama.

Itu membuatku semakin dibenci.

Suatu hari, saat duduk di bawah pohon randu besar, beberapa pemuda, juga pemudi datang menghampiriku. Mereka penasaran. Mereka lelah dengan perdebatan agama yang tak kunjung usai. Mereka jenuh dengan pepesan kosong janji surga, dan ancaman api neraka. Mereka ingin kebebasan, tapi tidak tahu harus mencari ke mana.

Mereka bertanya: “Apa agamamu?”

Aku menjawab: “Sanatana dharma atau kebenaran abadi tanpa label. Kebenaran abadi yang bisa menerima kemuliaan dari sumber manapun, dari tokoh tercerahkan manapun”

Mereka saling pandang. Tidak mengerti.

Salah satu bertanya lagi: “Siapa Tuhanmu?”

Aku menunjuk ke dada. “Dia ada di sini. Dan juga di hati kalian semua. Pertanyaannya adalah: apakah kalian menyadariNya atau tidak? Sesimpel itu. Terkadang, saat lapar tingkat dewa, makanan pun adalah Tuhan, Annam Brahman. Saat serasa mau mati karena sulit bernafas, Prana adalah Tuhan, Pranam Brahman.”

Mereka tertegun.

Keesokan harinya, mereka datang lagi. Kali ini membawa teman. Lalu datang lagi. Dan lagi. Hingga tanpa kusadari, setiap sore ada puluhan orang duduk mengelilingiku di bawah pohon itu, mendengarkan aku bicara tentang kebebasan, cinta universal, dan Tuhan yang hadir dalam segala sesuatu. Di laut, di sungai di gunung dan pada setiap comberan.

Aku tidak pernah meminta mereka datang. Aku tidak pernah menyuruh mereka mendengarkan. Tapi mereka datang juga.

Tiba-tiba, aku menjadi guru.

Awalnya aku senang. Siapa yang tidak mau dihormati? Mereka mencium tanganku. Mereka memanggilku “Guru.” Mereka menuliskan kata-kataku di buku catatan. Mereka mengutip ucapanku di media sosial. Mereka memberiku segala macam upeti, dari buku filsafat sampai Holland Bakery, padahal sudah jelas makananku masih “sela metunu”.

Rasanya seperti terbang.

Aku yang dulu dipanggil “Kafir” kini menjadi sumber kebijaksanaan.

Namun perlahan, keganjilan muncul.

Seseorang berkata: “Guru, ajarilah kami cara sembahyang yang benar.”

Aku menjawab: “Tidak ada yang benar atau salah. Ikuti hati nurani kalian. Kalian harus bisa bedakan mana agama personal dan mana agama institusional atau agama terorganisir.”

Lalu kuberikan kopian ringkas satu halaman yang kubuat sendiri dari buku William James: The Varities of Religous Experience.

Tetapi mereka tetap menunggu instruksi.

Ada yang bertanya: “Guru, bolehkah kami memuja fotomu?”

Aku terkejut. “Untuk apa?”

“Agar kami merasa dekat denganmu.”

Aku menolak. Tapi diam-diam, mereka tetap melakukannya.

Puncaknya terjadi ketika salah satu pengikut berdiri dengan penuh semangat dan berteriak:

“Saudara-saudara! Mulai hari ini, kita mendeklarasikan komunitas baru: Pengikut Guru Kafir Murtad!”

Sorak sorai dan tepuk tangan membahana.

“Hidup Guru Kafir Murtad!” seseorang memberi komando. Serentak yang lainnya berteriak lantang: “Hidup!”

Aku tercengang. Mereka mengangkatku ke atas bahu, seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Mereka membawa spanduk bertuliskan: “Kebebasan atau Mati!” Mereka lalu membuat ritual membakar buku setebal kitab suci, aku tidak melihat persis judulnya—bukan sebagai penghinaan, tetapi sebagai simbol kebebasan.

Saat itu aku merasakan sesuatu yang sangat menakutkan.

Aku yang menolak berhala… sedang dijadikan berhala.

Aku yang menertawakan pemimpin agama… sedang diposisikan sebagai pemimpin agama baru.

Aku yang merasa bebas… sedang menciptakan penjara baru.

Malam itu, aku duduk sendiri di bawah pohon randu. Angin berhembus pelan. Bulan tampak pucat di kejauhan. Dadaku sesak. Aku bertanya pada diri sendiri:

“Apa yang telah kulakukan?”

Namun tak ada jawaban.

Aku ingin membebaskan mereka dari dogma. Tapi kini mereka memperlakukanku sebagai dogma.

Aku ingin menghancurkan berhala. Tapi kini aku dijadikan berhala baru.

Aku ingin menjadi bebas. Tapi kini aku terikat oleh penghormatan mereka.

Air mataku jatuh.

Di kejauhan, terdengar suara seseorang membaca doa malam dari masjid. Lalu suara lonceng gereja. Lalu lonceng berdentang di vihara. Lalu suara denting genta dari pura, bercampur aroma dupa.

Semua suara itu berpadu menjadi satu harmoni yang menyayat hati.

“Betapa bodohnya aku,” bisikku.

Aku teringat pengalaman paling jujur dalam hidupku: saat pagi-pagi beol di kamar mandi. Saat semua topeng jatuh. Saat tubuh dan jiwa telanjang tanpa pretensi.

Saat itu aku merasakan Tuhan.

Kini?

Yang kurasakan hanyalah diriku sendiri.

Keesokan paginya, orang-orang kembali berkumpul di bawah pohon randu. Mereka menunggu. Mereka berharap aku berkata sesuatu yang agung. Mereka ingin deklarasi resmi.

Aku berdiri.

Menghela napas.

Lalu berkata dengan suara pelan:

“Saudara-saudaraku, hari ini aku baru menyadari sesuatu. Berhala terakhir yang harus dihancurkan… adalah diriku sendiri.”

Hening.

Tak ada sorak sorai.

Tak ada tepuk tangan.

Mereka saling pandang, bingung.

Aku tersenyum, lalu berjalan pergi tanpa menoleh.

Entah ke mana. Bahkan aku sendiri tidak tahu.

Yang kutahu hanya satu:

Jika Tuhan benar-benar hadir dalam segala sesuatu, maka aku akan menemukannya lagi—di mana pun, bahkan mungkin di kamar mandi paling bau sekali pun.

Namaku Kafir.

Dan inilah ziarahku.

Menuju kehancuran berhala terakhir: diriku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar bebas. Bebas untuk tidak menjadi siapa-siapa.

Inilah akhir perjalananku, sekaligus awal perjalanan berikutnya, dalam sunyi, seorang diri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Faqod Faaz | Menipu Tuhan

Next Post

Orang Bali Kurang Bersyukur?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Orang Bali Kurang Bersyukur?

Orang Bali Kurang Bersyukur?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co