SAUDARA, jika Anda membuka Instagram, TikTok, atau Facebook kita hari ini, Anda mungkin akan menemukan parade konten yang luar biasa rapih. Di beranda kita satu dua akan hadir gambar-gambar manusia sempurna yang entah lahir dari mana, video pemandangan bak surga yang terlalu mulus untuk dipercaya, hingga cerita-cerita dramatis yang rupanya hasil racikan prompt dua baris. Kualitasnya bagus, warnanya pas, komposisinya presisi. Seolah-olah teknologi AI ini membuat kita sadar betapa medioker-nya kita sebagai manusia.
Tapi coba kita tengok kolom komentar. Tetap saja ada yang komen. “Aaah, ini mah AI,” atau “Bosaaaan. AI mulu, bikin semuanya rusak.” “Keren sih, tapi jelas ini AI.” Lha ini menarik. Di satu sisi, kemampuan AI memang membuat kita kagum. Di sisi lain, produk AI gampang sekali disepelekan. Kok bisa, muncul rasa hambar saat melihat video lucu atau bagus tapi merupakan hasil AI?
Mengapa di mana-mana mulai muncul kecenderungan untuk meremehkan sesuatu, yang harus diakui, secara teknis jauh mengungguli buatan manusia pada umumnya? Padahal dulu kita membayangkan masa depan dipenuhi teknologi canggih yang mempermudah semua urusan kita. Giliran itu benar-benar terjadi, tak dinyana, ternyata yang muncul justru kehilangan rasa. Ibarat makan nasi padang versi 3D render di mana secara visual sempurna, tapi tak ada sambal yang menempel di jari, tak ada juga sensasi minyak yang mengalir ke pinggir piring.
Fenomena “ah, ini cuma AI” ternyata punya akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar selera visual. Ia menyentuh identitas, otentisitas, dan cara kita memahami hubungan antar manusia di dunia digital. Dan di sinilah tiga pemikir besar seperti Anthony Giddens, Martin Buber, dan Homi Bhabha, mendadak jadi terasa relevan di era Reels dan TikTok jaman ini.
Kegelisahan Paling Mendasar
Anthony Giddens, sosiolog yang terkenal dengan teori modernitas refleksifnya, pernah mengatakan bahwa hubungan antar manusia di era modern semakin diangkat dari konteks aslinya dan dimediasi oleh suatu sistem abstrak, entah itu institusi, teknologi, atau algoritma. Di media sosial, kita tidak lagi bertemu orang, tetapi bertemu representasinya, katakanlah itu berupa foto, teks, emoji, sedikit curhat, dan kini tambahan terbarunya adalah konten buatan mesin.
Saat ini AI adalah bentuk paling mutakhir dari sistem abstrak itu. Ia membuat hubungan makin ruwet. Coba kita renungkan, apakah seseorang benar-benar mengalami apa yang ia unggah? Apakah foto itu beneran diambil dari kenyataan? Apakah betul bahwa suara itu suaranya? Apakah pengalaman yang di share itu sungguh terjadi, atau produk halu yang disimulasi berdasar prompt yang di-render dengan server mahal penguras air minum populasi manusia?
Kebingungan semacam ini memunculkan apa yang Giddens sebut sebagai “ketidakamanan ontologis”, yaitu suatu kecemasan halus ketika manusia merasa tidak memiliki rasa kepastian mendasar tentang keberadaan dirinya dan dunia di sekitarnya. Ketika orang komentar, “ah ini cuma AI,” sebenarnya ia sedang berusaha mengembalikan dirinya ke pijakan realitasnya semula, berusaha membedakan mana yang manusia, mana yang bukan. Sebuah upaya kecil, yang menurut saya kok agak menyedihkan, untuk mempertahankan dunia agar tetap masuk akal.
Tapi mari kita geser sebentar ke filsuf eksistensial yang lebih romantis, Martin Buber, yang membagi hubungan manusia ke dua jenis relasi. Ada relasi Aku – Engkau, dan relasi Aku – Itu. Menurut Buber, hubungan Aku-Engkau adalah hubungan tulus, saling mengakui keberadaan satu sama lain, penuh empati, penuh subjektivitas. Sementara Aku-Itu adalah hubungan instrumental, artinya di mana yang dihadapi hanya berupa objek yang bisa dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan.
Masalah di zaman ini, AI hanya bisa masuk ke relasi Aku-Itu. AI ini program atau mesin yang tidak punya pengalaman, luka batin, kenangan masa kecil, kejengkelan yang dipendam, atau keceplosan tawa yang tidak sengaja keluar. Ia hanya punya struktur, data, dan algoritma. Karena itulah, maka kita bisa menggunakana AI, memanfaatkannya, atau bahkan bergantung padanya. Di luar konteks itu, kita tidak bisa merasa terhubung sebagai pribadi antar pribadi dengan si AI ini.
Sepertinya itulah mengapa banyak konten AI, meski sempurna, seringkali terasa dingin dan hambar. Cantik, tapi tidak hangat. Cantik dipandang, hampa di hati. Artistik, tapi tidak menyentuh. Membaca puisi cinta yang dihasilkan generator statistik, baris-barisnya indah, tapi tidak ada yang menggetarkan dada. Tidak ada kehadiran subjektif manusia. Tidak ada “Engkau.” Pantas saja, pernah dulu saya jengkel sekali waktu ada salah satu TV swasta merilis pembaca berita yang di-generate oleh AI. Rasanya seperti saya dibodohi terang-terangan.
Realitas Tanpa Rasa
Publik mungkin tidak membaca Buber, tapi tubuh kita menyadari secara alami bahwa tidak ada resonansi emosional di sana. Maka keluarlah komentar yang terdengar sepele tadi, “Ini mah AI.” Bukan sekadar kemampuan observasi teknis, tapi ekspresi kekecewaan yang dalam pada realita. Bahwa kita tidak merasakan kehidupan dalam konten yang dilihat.
Nah, mari kita tambahkan satu tokoh lagi, Homi K. Bhabha. Ia berbicara tentang hibriditas dan “Third Space”, ruang campuran yang berada di antara dua identitas, menghasilkan sesuatu yang familiar tapi asing, dekat tapi tak dapat dipercayai sepenuhnya. AI, dalam cara yang paling aneh dan sekaligus juga paling memukau, dia menciptakan ruang ketiga itu.
Konten AI tampak terlihat seperti kita, tapi tetap saja bukan kita. Ia meniru suara guru kita, meniru tulisan penulis favorit kita, bahkan membuat video bergerak berdasar foto teman lama yang bahkan sudah hilang kontak. Lalu kita bingung juga, apakah kita sedang melihat representasi manusia, atau sesuatu yang hanya bekerja menirukan manusia? Bukannya hal ini mirip adegan film horor saat si iblis menirukan hal-hal yang kita kenal?
Sasat kita memasuki ruang hibrid semacam ini, ambivalensi muncul, kita suka tapi ragu, kagum tapi timbul waspada. Kita tertarik, tapi ada rasa mengganjal bahwa yang kita lihat adalah makhluk tanpa sejarah, tanpa pengalaman, tanpa masa lalu. Seseorang yang cantik dipandang, tapi hampa di hati. Dan memang AI tidak punya masa lalu. Ia hanya punya output.
Begitu orang sadar dengan hal itu, muncullah kebosanan. Kebosanan yang sebenarnya unik, bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena kualitasnya yang kelewat sempurna, tapi nuansanya sama yaitu terlalu datar, terlalu seragam, terlalu tidak manusiawi. Seperti berlibur ke kota futuristik yang semuanya rapi dan glossy, tapi tidak ada warga sekitar yang bisa diajak ngobrol tentang hujan semalam atau harga cabai hari ini.
Ruang Otentik Manusia
Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar sentimentil, tapi harus kita akui dengan jujur. Media sosial dengan segala konsekuensinya, tetaplah merupakan ruang hubungan manusia. Orang masuk ke medsos bukan sekadar mencari konten, tapi mencari kehadiran. Bukan sekedar mencari estetika, tapi mencari emosi. Bukan mencari gambar bagus, tapi mencari cerita yang terasa hidup.
AI boleh mampu membuat apa saja entah foto, video, musik, narasi apa pun sebut saja. Tapi ia tidak bisa membuat rasa pengalaman manusia. Dan itulah yang kita rindukan. Itu menjawab pertanyaan mengapa foto buram sahabat lebih berharga daripada foto AI yang super tajam. Foto kenangan yang buram itu punya kehadiran, punya niat, punya tangan yang gemetar sedikit saat menjepret, punya subjek yang tertawa tolol sungguhan, bukan gambar tawa sempurna yang di-generate dari dataset.
Mengapa repetan curhat teman yang kacau-balau lebih menyentuh hati ketimbang kisah motivasi AI yang rapi jali? Karena ada manusia yang hadir di situ, dengan segala kepedihan, ketidaksempurnaan, dan keautentikannya. Makin kini, makin kita merindukan manusia, kala dunia mulai dipenuhi simulasi perfecto.
Dan bukannya tidak mungkin suatu saat nanti, algoritma justru akan melacak satu fenomena yang lucu bahwa konten paling diminati justru kembali ke hal-hal sederhana dan autentik, seperti suara serak, tawa jelek, foto goyang, cerita sehari-hari yang tidak dramatis, tapi semua itu nyata.
Karena akhirnya, kita tidak benar-benar bosan pada AI. Kita hanya sadar sedang mencari manusia. Kita hanya ingin memastikan bahwa di balik layar ini, masih ada seseorang, bukan sekadar sesuatu. Ya, seperti Anda dan saya ini. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole


























