23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantik Dipandang, Hampa di Hati

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 28, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, jika Anda membuka Instagram, TikTok, atau Facebook kita hari ini, Anda mungkin akan menemukan parade konten yang luar biasa rapih. Di beranda kita satu dua  akan hadir gambar-gambar manusia sempurna yang entah lahir dari mana, video pemandangan bak surga yang terlalu mulus untuk dipercaya, hingga cerita-cerita dramatis yang rupanya hasil racikan prompt dua baris. Kualitasnya bagus, warnanya pas, komposisinya presisi. Seolah-olah teknologi AI ini membuat kita sadar betapa medioker-nya kita sebagai manusia.

Tapi coba kita tengok kolom komentar.  Tetap saja ada yang komen. “Aaah, ini mah AI,” atau “Bosaaaan. AI mulu, bikin semuanya rusak.” “Keren sih, tapi jelas ini AI.” Lha ini menarik. Di satu sisi, kemampuan AI memang membuat kita kagum. Di sisi lain, produk AI  gampang sekali disepelekan. Kok bisa, muncul rasa hambar saat melihat video lucu atau bagus tapi merupakan hasil AI?

Mengapa di mana-mana mulai muncul kecenderungan untuk meremehkan sesuatu, yang harus diakui, secara teknis jauh mengungguli buatan manusia pada umumnya? Padahal dulu kita membayangkan masa depan dipenuhi teknologi canggih yang mempermudah semua urusan kita. Giliran itu benar-benar terjadi, tak dinyana, ternyata yang muncul justru kehilangan rasa. Ibarat makan nasi padang versi 3D render di mana secara visual sempurna, tapi tak ada sambal yang menempel di jari, tak ada juga sensasi minyak yang mengalir ke pinggir piring.

Fenomena “ah, ini cuma AI” ternyata punya akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar selera visual. Ia menyentuh identitas, otentisitas, dan cara kita memahami hubungan antar manusia di dunia digital. Dan di sinilah tiga pemikir besar seperti Anthony Giddens, Martin Buber, dan Homi Bhabha, mendadak jadi terasa relevan di era Reels dan TikTok jaman ini.

Kegelisahan Paling Mendasar

Anthony Giddens, sosiolog yang terkenal dengan teori modernitas refleksifnya, pernah mengatakan bahwa hubungan antar manusia di era modern semakin diangkat dari konteks aslinya dan dimediasi oleh suatu sistem abstrak, entah itu institusi, teknologi, atau algoritma. Di media sosial, kita tidak lagi bertemu orang, tetapi bertemu representasinya, katakanlah itu berupa foto, teks, emoji, sedikit curhat, dan kini tambahan terbarunya adalah konten buatan mesin. 

Saat ini AI adalah bentuk paling mutakhir dari sistem abstrak itu. Ia membuat hubungan makin ruwet. Coba kita renungkan, apakah seseorang benar-benar mengalami apa yang ia unggah? Apakah foto itu beneran diambil dari kenyataan? Apakah betul bahwa suara itu suaranya? Apakah pengalaman yang di share itu sungguh terjadi, atau produk halu yang disimulasi berdasar prompt yang di-render dengan server mahal penguras air minum populasi manusia?

Kebingungan semacam ini memunculkan apa yang Giddens sebut sebagai “ketidakamanan ontologis”, yaitu suatu kecemasan halus ketika manusia merasa tidak memiliki rasa kepastian mendasar tentang keberadaan dirinya dan dunia di sekitarnya. Ketika orang komentar, “ah ini cuma AI,” sebenarnya ia sedang berusaha mengembalikan dirinya ke pijakan realitasnya semula, berusaha membedakan mana yang manusia, mana yang bukan. Sebuah upaya kecil, yang menurut saya kok agak menyedihkan, untuk mempertahankan dunia agar tetap masuk akal.

Tapi mari kita geser sebentar ke filsuf eksistensial yang lebih romantis, Martin Buber, yang membagi hubungan manusia ke dua jenis relasi. Ada relasi Aku – Engkau, dan relasi Aku – Itu. Menurut Buber, hubungan Aku-Engkau adalah hubungan tulus, saling mengakui keberadaan satu sama lain, penuh empati, penuh subjektivitas. Sementara Aku-Itu adalah hubungan instrumental, artinya di mana yang dihadapi hanya berupa objek yang bisa dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan.

Masalah di zaman ini, AI hanya bisa masuk ke relasi Aku-Itu. AI  ini program atau mesin yang tidak punya pengalaman, luka batin, kenangan masa kecil, kejengkelan yang dipendam, atau keceplosan tawa yang tidak sengaja keluar. Ia hanya punya struktur,  data, dan algoritma. Karena itulah, maka kita bisa menggunakana AI, memanfaatkannya, atau bahkan bergantung padanya. Di luar konteks itu, kita tidak bisa merasa terhubung sebagai pribadi antar pribadi dengan si AI ini.

Sepertinya itulah mengapa banyak konten AI, meski sempurna, seringkali terasa dingin dan hambar. Cantik, tapi tidak hangat. Cantik dipandang, hampa di hati. Artistik, tapi tidak menyentuh. Membaca puisi cinta yang dihasilkan generator statistik, baris-barisnya indah, tapi tidak ada yang menggetarkan dada. Tidak ada kehadiran subjektif manusia. Tidak ada “Engkau.” Pantas saja, pernah dulu saya jengkel sekali waktu ada salah satu TV swasta merilis pembaca berita yang di-generate oleh AI. Rasanya seperti saya dibodohi terang-terangan.

Realitas Tanpa Rasa

Publik mungkin tidak membaca Buber, tapi tubuh kita menyadari secara alami bahwa tidak ada resonansi emosional di sana. Maka keluarlah komentar yang terdengar sepele tadi, “Ini mah AI.” Bukan sekadar kemampuan observasi teknis, tapi ekspresi kekecewaan yang dalam pada realita. Bahwa kita tidak merasakan kehidupan dalam konten yang dilihat.  

Nah, mari kita tambahkan satu tokoh lagi,  Homi K. Bhabha. Ia berbicara tentang hibriditas dan “Third Space”, ruang campuran yang berada di antara dua identitas, menghasilkan sesuatu yang familiar tapi asing, dekat tapi tak dapat dipercayai sepenuhnya. AI, dalam cara yang paling aneh dan sekaligus juga paling memukau, dia menciptakan ruang ketiga itu.

Konten AI tampak terlihat seperti kita, tapi tetap saja bukan kita. Ia meniru suara guru kita, meniru tulisan penulis favorit kita, bahkan membuat video bergerak berdasar foto teman lama yang bahkan sudah hilang kontak. Lalu kita bingung juga, apakah kita sedang melihat representasi manusia, atau sesuatu yang hanya bekerja menirukan manusia? Bukannya hal ini mirip adegan film horor saat si iblis menirukan hal-hal yang kita kenal?

Sasat kita memasuki ruang hibrid semacam ini, ambivalensi muncul,  kita suka tapi ragu, kagum tapi timbul waspada. Kita tertarik, tapi ada rasa mengganjal bahwa yang kita lihat adalah makhluk tanpa sejarah, tanpa pengalaman, tanpa masa lalu. Seseorang yang cantik dipandang, tapi hampa di hati. Dan memang AI tidak punya masa lalu. Ia hanya punya output.

Begitu orang sadar dengan hal itu, muncullah kebosanan. Kebosanan yang sebenarnya unik, bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena kualitasnya yang kelewat sempurna, tapi nuansanya sama yaitu terlalu datar, terlalu seragam, terlalu tidak manusiawi. Seperti berlibur ke kota futuristik yang semuanya rapi dan glossy, tapi tidak ada warga sekitar yang bisa diajak ngobrol tentang hujan semalam atau harga cabai hari ini.

Ruang Otentik Manusia

Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar sentimentil, tapi harus kita akui dengan jujur. Media sosial dengan segala konsekuensinya, tetaplah merupakan ruang hubungan manusia. Orang masuk ke medsos bukan sekadar mencari konten, tapi mencari kehadiran. Bukan sekedar mencari estetika, tapi mencari emosi. Bukan mencari gambar bagus, tapi mencari cerita yang terasa hidup.

AI boleh mampu membuat apa saja entah foto, video, musik, narasi apa pun sebut saja. Tapi ia tidak bisa membuat rasa pengalaman manusia. Dan itulah yang kita rindukan.  Itu menjawab pertanyaan mengapa foto buram sahabat lebih berharga daripada foto AI yang super tajam. Foto kenangan yang buram itu punya kehadiran, punya niat, punya tangan yang gemetar sedikit saat menjepret, punya subjek yang tertawa tolol sungguhan, bukan gambar tawa sempurna yang di-generate dari dataset.

Mengapa repetan curhat teman yang kacau-balau lebih menyentuh hati ketimbang kisah motivasi AI yang rapi jali? Karena ada manusia yang hadir di situ, dengan segala kepedihan, ketidaksempurnaan, dan keautentikannya. Makin kini, makin kita merindukan manusia, kala dunia mulai dipenuhi simulasi perfecto. 

Dan bukannya tidak mungkin suatu saat nanti, algoritma justru akan melacak satu fenomena yang lucu bahwa konten paling diminati justru kembali ke hal-hal sederhana dan autentik, seperti suara serak, tawa jelek, foto goyang, cerita sehari-hari yang tidak dramatis, tapi semua itu nyata.  

Karena akhirnya, kita tidak benar-benar bosan pada AI. Kita hanya sadar sedang mencari manusia. Kita hanya ingin memastikan bahwa di balik layar ini, masih ada seseorang, bukan sekadar sesuatu. Ya, seperti Anda dan saya ini. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecantikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Carpet Crawlers’: Kita Harus Masuk untuk Keluar

Next Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co