2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantik Dipandang, Hampa di Hati

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 28, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, jika Anda membuka Instagram, TikTok, atau Facebook kita hari ini, Anda mungkin akan menemukan parade konten yang luar biasa rapih. Di beranda kita satu dua  akan hadir gambar-gambar manusia sempurna yang entah lahir dari mana, video pemandangan bak surga yang terlalu mulus untuk dipercaya, hingga cerita-cerita dramatis yang rupanya hasil racikan prompt dua baris. Kualitasnya bagus, warnanya pas, komposisinya presisi. Seolah-olah teknologi AI ini membuat kita sadar betapa medioker-nya kita sebagai manusia.

Tapi coba kita tengok kolom komentar.  Tetap saja ada yang komen. “Aaah, ini mah AI,” atau “Bosaaaan. AI mulu, bikin semuanya rusak.” “Keren sih, tapi jelas ini AI.” Lha ini menarik. Di satu sisi, kemampuan AI memang membuat kita kagum. Di sisi lain, produk AI  gampang sekali disepelekan. Kok bisa, muncul rasa hambar saat melihat video lucu atau bagus tapi merupakan hasil AI?

Mengapa di mana-mana mulai muncul kecenderungan untuk meremehkan sesuatu, yang harus diakui, secara teknis jauh mengungguli buatan manusia pada umumnya? Padahal dulu kita membayangkan masa depan dipenuhi teknologi canggih yang mempermudah semua urusan kita. Giliran itu benar-benar terjadi, tak dinyana, ternyata yang muncul justru kehilangan rasa. Ibarat makan nasi padang versi 3D render di mana secara visual sempurna, tapi tak ada sambal yang menempel di jari, tak ada juga sensasi minyak yang mengalir ke pinggir piring.

Fenomena “ah, ini cuma AI” ternyata punya akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar selera visual. Ia menyentuh identitas, otentisitas, dan cara kita memahami hubungan antar manusia di dunia digital. Dan di sinilah tiga pemikir besar seperti Anthony Giddens, Martin Buber, dan Homi Bhabha, mendadak jadi terasa relevan di era Reels dan TikTok jaman ini.

Kegelisahan Paling Mendasar

Anthony Giddens, sosiolog yang terkenal dengan teori modernitas refleksifnya, pernah mengatakan bahwa hubungan antar manusia di era modern semakin diangkat dari konteks aslinya dan dimediasi oleh suatu sistem abstrak, entah itu institusi, teknologi, atau algoritma. Di media sosial, kita tidak lagi bertemu orang, tetapi bertemu representasinya, katakanlah itu berupa foto, teks, emoji, sedikit curhat, dan kini tambahan terbarunya adalah konten buatan mesin. 

Saat ini AI adalah bentuk paling mutakhir dari sistem abstrak itu. Ia membuat hubungan makin ruwet. Coba kita renungkan, apakah seseorang benar-benar mengalami apa yang ia unggah? Apakah foto itu beneran diambil dari kenyataan? Apakah betul bahwa suara itu suaranya? Apakah pengalaman yang di share itu sungguh terjadi, atau produk halu yang disimulasi berdasar prompt yang di-render dengan server mahal penguras air minum populasi manusia?

Kebingungan semacam ini memunculkan apa yang Giddens sebut sebagai “ketidakamanan ontologis”, yaitu suatu kecemasan halus ketika manusia merasa tidak memiliki rasa kepastian mendasar tentang keberadaan dirinya dan dunia di sekitarnya. Ketika orang komentar, “ah ini cuma AI,” sebenarnya ia sedang berusaha mengembalikan dirinya ke pijakan realitasnya semula, berusaha membedakan mana yang manusia, mana yang bukan. Sebuah upaya kecil, yang menurut saya kok agak menyedihkan, untuk mempertahankan dunia agar tetap masuk akal.

Tapi mari kita geser sebentar ke filsuf eksistensial yang lebih romantis, Martin Buber, yang membagi hubungan manusia ke dua jenis relasi. Ada relasi Aku – Engkau, dan relasi Aku – Itu. Menurut Buber, hubungan Aku-Engkau adalah hubungan tulus, saling mengakui keberadaan satu sama lain, penuh empati, penuh subjektivitas. Sementara Aku-Itu adalah hubungan instrumental, artinya di mana yang dihadapi hanya berupa objek yang bisa dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan.

Masalah di zaman ini, AI hanya bisa masuk ke relasi Aku-Itu. AI  ini program atau mesin yang tidak punya pengalaman, luka batin, kenangan masa kecil, kejengkelan yang dipendam, atau keceplosan tawa yang tidak sengaja keluar. Ia hanya punya struktur,  data, dan algoritma. Karena itulah, maka kita bisa menggunakana AI, memanfaatkannya, atau bahkan bergantung padanya. Di luar konteks itu, kita tidak bisa merasa terhubung sebagai pribadi antar pribadi dengan si AI ini.

Sepertinya itulah mengapa banyak konten AI, meski sempurna, seringkali terasa dingin dan hambar. Cantik, tapi tidak hangat. Cantik dipandang, hampa di hati. Artistik, tapi tidak menyentuh. Membaca puisi cinta yang dihasilkan generator statistik, baris-barisnya indah, tapi tidak ada yang menggetarkan dada. Tidak ada kehadiran subjektif manusia. Tidak ada “Engkau.” Pantas saja, pernah dulu saya jengkel sekali waktu ada salah satu TV swasta merilis pembaca berita yang di-generate oleh AI. Rasanya seperti saya dibodohi terang-terangan.

Realitas Tanpa Rasa

Publik mungkin tidak membaca Buber, tapi tubuh kita menyadari secara alami bahwa tidak ada resonansi emosional di sana. Maka keluarlah komentar yang terdengar sepele tadi, “Ini mah AI.” Bukan sekadar kemampuan observasi teknis, tapi ekspresi kekecewaan yang dalam pada realita. Bahwa kita tidak merasakan kehidupan dalam konten yang dilihat.  

Nah, mari kita tambahkan satu tokoh lagi,  Homi K. Bhabha. Ia berbicara tentang hibriditas dan “Third Space”, ruang campuran yang berada di antara dua identitas, menghasilkan sesuatu yang familiar tapi asing, dekat tapi tak dapat dipercayai sepenuhnya. AI, dalam cara yang paling aneh dan sekaligus juga paling memukau, dia menciptakan ruang ketiga itu.

Konten AI tampak terlihat seperti kita, tapi tetap saja bukan kita. Ia meniru suara guru kita, meniru tulisan penulis favorit kita, bahkan membuat video bergerak berdasar foto teman lama yang bahkan sudah hilang kontak. Lalu kita bingung juga, apakah kita sedang melihat representasi manusia, atau sesuatu yang hanya bekerja menirukan manusia? Bukannya hal ini mirip adegan film horor saat si iblis menirukan hal-hal yang kita kenal?

Sasat kita memasuki ruang hibrid semacam ini, ambivalensi muncul,  kita suka tapi ragu, kagum tapi timbul waspada. Kita tertarik, tapi ada rasa mengganjal bahwa yang kita lihat adalah makhluk tanpa sejarah, tanpa pengalaman, tanpa masa lalu. Seseorang yang cantik dipandang, tapi hampa di hati. Dan memang AI tidak punya masa lalu. Ia hanya punya output.

Begitu orang sadar dengan hal itu, muncullah kebosanan. Kebosanan yang sebenarnya unik, bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena kualitasnya yang kelewat sempurna, tapi nuansanya sama yaitu terlalu datar, terlalu seragam, terlalu tidak manusiawi. Seperti berlibur ke kota futuristik yang semuanya rapi dan glossy, tapi tidak ada warga sekitar yang bisa diajak ngobrol tentang hujan semalam atau harga cabai hari ini.

Ruang Otentik Manusia

Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar sentimentil, tapi harus kita akui dengan jujur. Media sosial dengan segala konsekuensinya, tetaplah merupakan ruang hubungan manusia. Orang masuk ke medsos bukan sekadar mencari konten, tapi mencari kehadiran. Bukan sekedar mencari estetika, tapi mencari emosi. Bukan mencari gambar bagus, tapi mencari cerita yang terasa hidup.

AI boleh mampu membuat apa saja entah foto, video, musik, narasi apa pun sebut saja. Tapi ia tidak bisa membuat rasa pengalaman manusia. Dan itulah yang kita rindukan.  Itu menjawab pertanyaan mengapa foto buram sahabat lebih berharga daripada foto AI yang super tajam. Foto kenangan yang buram itu punya kehadiran, punya niat, punya tangan yang gemetar sedikit saat menjepret, punya subjek yang tertawa tolol sungguhan, bukan gambar tawa sempurna yang di-generate dari dataset.

Mengapa repetan curhat teman yang kacau-balau lebih menyentuh hati ketimbang kisah motivasi AI yang rapi jali? Karena ada manusia yang hadir di situ, dengan segala kepedihan, ketidaksempurnaan, dan keautentikannya. Makin kini, makin kita merindukan manusia, kala dunia mulai dipenuhi simulasi perfecto. 

Dan bukannya tidak mungkin suatu saat nanti, algoritma justru akan melacak satu fenomena yang lucu bahwa konten paling diminati justru kembali ke hal-hal sederhana dan autentik, seperti suara serak, tawa jelek, foto goyang, cerita sehari-hari yang tidak dramatis, tapi semua itu nyata.  

Karena akhirnya, kita tidak benar-benar bosan pada AI. Kita hanya sadar sedang mencari manusia. Kita hanya ingin memastikan bahwa di balik layar ini, masih ada seseorang, bukan sekadar sesuatu. Ya, seperti Anda dan saya ini. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecantikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Carpet Crawlers’: Kita Harus Masuk untuk Keluar

Next Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co