23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantik Dipandang, Hampa di Hati

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 28, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, jika Anda membuka Instagram, TikTok, atau Facebook kita hari ini, Anda mungkin akan menemukan parade konten yang luar biasa rapih. Di beranda kita satu dua  akan hadir gambar-gambar manusia sempurna yang entah lahir dari mana, video pemandangan bak surga yang terlalu mulus untuk dipercaya, hingga cerita-cerita dramatis yang rupanya hasil racikan prompt dua baris. Kualitasnya bagus, warnanya pas, komposisinya presisi. Seolah-olah teknologi AI ini membuat kita sadar betapa medioker-nya kita sebagai manusia.

Tapi coba kita tengok kolom komentar.  Tetap saja ada yang komen. “Aaah, ini mah AI,” atau “Bosaaaan. AI mulu, bikin semuanya rusak.” “Keren sih, tapi jelas ini AI.” Lha ini menarik. Di satu sisi, kemampuan AI memang membuat kita kagum. Di sisi lain, produk AI  gampang sekali disepelekan. Kok bisa, muncul rasa hambar saat melihat video lucu atau bagus tapi merupakan hasil AI?

Mengapa di mana-mana mulai muncul kecenderungan untuk meremehkan sesuatu, yang harus diakui, secara teknis jauh mengungguli buatan manusia pada umumnya? Padahal dulu kita membayangkan masa depan dipenuhi teknologi canggih yang mempermudah semua urusan kita. Giliran itu benar-benar terjadi, tak dinyana, ternyata yang muncul justru kehilangan rasa. Ibarat makan nasi padang versi 3D render di mana secara visual sempurna, tapi tak ada sambal yang menempel di jari, tak ada juga sensasi minyak yang mengalir ke pinggir piring.

Fenomena “ah, ini cuma AI” ternyata punya akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar selera visual. Ia menyentuh identitas, otentisitas, dan cara kita memahami hubungan antar manusia di dunia digital. Dan di sinilah tiga pemikir besar seperti Anthony Giddens, Martin Buber, dan Homi Bhabha, mendadak jadi terasa relevan di era Reels dan TikTok jaman ini.

Kegelisahan Paling Mendasar

Anthony Giddens, sosiolog yang terkenal dengan teori modernitas refleksifnya, pernah mengatakan bahwa hubungan antar manusia di era modern semakin diangkat dari konteks aslinya dan dimediasi oleh suatu sistem abstrak, entah itu institusi, teknologi, atau algoritma. Di media sosial, kita tidak lagi bertemu orang, tetapi bertemu representasinya, katakanlah itu berupa foto, teks, emoji, sedikit curhat, dan kini tambahan terbarunya adalah konten buatan mesin. 

Saat ini AI adalah bentuk paling mutakhir dari sistem abstrak itu. Ia membuat hubungan makin ruwet. Coba kita renungkan, apakah seseorang benar-benar mengalami apa yang ia unggah? Apakah foto itu beneran diambil dari kenyataan? Apakah betul bahwa suara itu suaranya? Apakah pengalaman yang di share itu sungguh terjadi, atau produk halu yang disimulasi berdasar prompt yang di-render dengan server mahal penguras air minum populasi manusia?

Kebingungan semacam ini memunculkan apa yang Giddens sebut sebagai “ketidakamanan ontologis”, yaitu suatu kecemasan halus ketika manusia merasa tidak memiliki rasa kepastian mendasar tentang keberadaan dirinya dan dunia di sekitarnya. Ketika orang komentar, “ah ini cuma AI,” sebenarnya ia sedang berusaha mengembalikan dirinya ke pijakan realitasnya semula, berusaha membedakan mana yang manusia, mana yang bukan. Sebuah upaya kecil, yang menurut saya kok agak menyedihkan, untuk mempertahankan dunia agar tetap masuk akal.

Tapi mari kita geser sebentar ke filsuf eksistensial yang lebih romantis, Martin Buber, yang membagi hubungan manusia ke dua jenis relasi. Ada relasi Aku – Engkau, dan relasi Aku – Itu. Menurut Buber, hubungan Aku-Engkau adalah hubungan tulus, saling mengakui keberadaan satu sama lain, penuh empati, penuh subjektivitas. Sementara Aku-Itu adalah hubungan instrumental, artinya di mana yang dihadapi hanya berupa objek yang bisa dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan.

Masalah di zaman ini, AI hanya bisa masuk ke relasi Aku-Itu. AI  ini program atau mesin yang tidak punya pengalaman, luka batin, kenangan masa kecil, kejengkelan yang dipendam, atau keceplosan tawa yang tidak sengaja keluar. Ia hanya punya struktur,  data, dan algoritma. Karena itulah, maka kita bisa menggunakana AI, memanfaatkannya, atau bahkan bergantung padanya. Di luar konteks itu, kita tidak bisa merasa terhubung sebagai pribadi antar pribadi dengan si AI ini.

Sepertinya itulah mengapa banyak konten AI, meski sempurna, seringkali terasa dingin dan hambar. Cantik, tapi tidak hangat. Cantik dipandang, hampa di hati. Artistik, tapi tidak menyentuh. Membaca puisi cinta yang dihasilkan generator statistik, baris-barisnya indah, tapi tidak ada yang menggetarkan dada. Tidak ada kehadiran subjektif manusia. Tidak ada “Engkau.” Pantas saja, pernah dulu saya jengkel sekali waktu ada salah satu TV swasta merilis pembaca berita yang di-generate oleh AI. Rasanya seperti saya dibodohi terang-terangan.

Realitas Tanpa Rasa

Publik mungkin tidak membaca Buber, tapi tubuh kita menyadari secara alami bahwa tidak ada resonansi emosional di sana. Maka keluarlah komentar yang terdengar sepele tadi, “Ini mah AI.” Bukan sekadar kemampuan observasi teknis, tapi ekspresi kekecewaan yang dalam pada realita. Bahwa kita tidak merasakan kehidupan dalam konten yang dilihat.  

Nah, mari kita tambahkan satu tokoh lagi,  Homi K. Bhabha. Ia berbicara tentang hibriditas dan “Third Space”, ruang campuran yang berada di antara dua identitas, menghasilkan sesuatu yang familiar tapi asing, dekat tapi tak dapat dipercayai sepenuhnya. AI, dalam cara yang paling aneh dan sekaligus juga paling memukau, dia menciptakan ruang ketiga itu.

Konten AI tampak terlihat seperti kita, tapi tetap saja bukan kita. Ia meniru suara guru kita, meniru tulisan penulis favorit kita, bahkan membuat video bergerak berdasar foto teman lama yang bahkan sudah hilang kontak. Lalu kita bingung juga, apakah kita sedang melihat representasi manusia, atau sesuatu yang hanya bekerja menirukan manusia? Bukannya hal ini mirip adegan film horor saat si iblis menirukan hal-hal yang kita kenal?

Sasat kita memasuki ruang hibrid semacam ini, ambivalensi muncul,  kita suka tapi ragu, kagum tapi timbul waspada. Kita tertarik, tapi ada rasa mengganjal bahwa yang kita lihat adalah makhluk tanpa sejarah, tanpa pengalaman, tanpa masa lalu. Seseorang yang cantik dipandang, tapi hampa di hati. Dan memang AI tidak punya masa lalu. Ia hanya punya output.

Begitu orang sadar dengan hal itu, muncullah kebosanan. Kebosanan yang sebenarnya unik, bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena kualitasnya yang kelewat sempurna, tapi nuansanya sama yaitu terlalu datar, terlalu seragam, terlalu tidak manusiawi. Seperti berlibur ke kota futuristik yang semuanya rapi dan glossy, tapi tidak ada warga sekitar yang bisa diajak ngobrol tentang hujan semalam atau harga cabai hari ini.

Ruang Otentik Manusia

Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar sentimentil, tapi harus kita akui dengan jujur. Media sosial dengan segala konsekuensinya, tetaplah merupakan ruang hubungan manusia. Orang masuk ke medsos bukan sekadar mencari konten, tapi mencari kehadiran. Bukan sekedar mencari estetika, tapi mencari emosi. Bukan mencari gambar bagus, tapi mencari cerita yang terasa hidup.

AI boleh mampu membuat apa saja entah foto, video, musik, narasi apa pun sebut saja. Tapi ia tidak bisa membuat rasa pengalaman manusia. Dan itulah yang kita rindukan.  Itu menjawab pertanyaan mengapa foto buram sahabat lebih berharga daripada foto AI yang super tajam. Foto kenangan yang buram itu punya kehadiran, punya niat, punya tangan yang gemetar sedikit saat menjepret, punya subjek yang tertawa tolol sungguhan, bukan gambar tawa sempurna yang di-generate dari dataset.

Mengapa repetan curhat teman yang kacau-balau lebih menyentuh hati ketimbang kisah motivasi AI yang rapi jali? Karena ada manusia yang hadir di situ, dengan segala kepedihan, ketidaksempurnaan, dan keautentikannya. Makin kini, makin kita merindukan manusia, kala dunia mulai dipenuhi simulasi perfecto. 

Dan bukannya tidak mungkin suatu saat nanti, algoritma justru akan melacak satu fenomena yang lucu bahwa konten paling diminati justru kembali ke hal-hal sederhana dan autentik, seperti suara serak, tawa jelek, foto goyang, cerita sehari-hari yang tidak dramatis, tapi semua itu nyata.  

Karena akhirnya, kita tidak benar-benar bosan pada AI. Kita hanya sadar sedang mencari manusia. Kita hanya ingin memastikan bahwa di balik layar ini, masih ada seseorang, bukan sekadar sesuatu. Ya, seperti Anda dan saya ini. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecantikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Carpet Crawlers’: Kita Harus Masuk untuk Keluar

Next Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co