23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantik Dipandang, Hampa di Hati

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 28, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, jika Anda membuka Instagram, TikTok, atau Facebook kita hari ini, Anda mungkin akan menemukan parade konten yang luar biasa rapih. Di beranda kita satu dua  akan hadir gambar-gambar manusia sempurna yang entah lahir dari mana, video pemandangan bak surga yang terlalu mulus untuk dipercaya, hingga cerita-cerita dramatis yang rupanya hasil racikan prompt dua baris. Kualitasnya bagus, warnanya pas, komposisinya presisi. Seolah-olah teknologi AI ini membuat kita sadar betapa medioker-nya kita sebagai manusia.

Tapi coba kita tengok kolom komentar.  Tetap saja ada yang komen. “Aaah, ini mah AI,” atau “Bosaaaan. AI mulu, bikin semuanya rusak.” “Keren sih, tapi jelas ini AI.” Lha ini menarik. Di satu sisi, kemampuan AI memang membuat kita kagum. Di sisi lain, produk AI  gampang sekali disepelekan. Kok bisa, muncul rasa hambar saat melihat video lucu atau bagus tapi merupakan hasil AI?

Mengapa di mana-mana mulai muncul kecenderungan untuk meremehkan sesuatu, yang harus diakui, secara teknis jauh mengungguli buatan manusia pada umumnya? Padahal dulu kita membayangkan masa depan dipenuhi teknologi canggih yang mempermudah semua urusan kita. Giliran itu benar-benar terjadi, tak dinyana, ternyata yang muncul justru kehilangan rasa. Ibarat makan nasi padang versi 3D render di mana secara visual sempurna, tapi tak ada sambal yang menempel di jari, tak ada juga sensasi minyak yang mengalir ke pinggir piring.

Fenomena “ah, ini cuma AI” ternyata punya akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar selera visual. Ia menyentuh identitas, otentisitas, dan cara kita memahami hubungan antar manusia di dunia digital. Dan di sinilah tiga pemikir besar seperti Anthony Giddens, Martin Buber, dan Homi Bhabha, mendadak jadi terasa relevan di era Reels dan TikTok jaman ini.

Kegelisahan Paling Mendasar

Anthony Giddens, sosiolog yang terkenal dengan teori modernitas refleksifnya, pernah mengatakan bahwa hubungan antar manusia di era modern semakin diangkat dari konteks aslinya dan dimediasi oleh suatu sistem abstrak, entah itu institusi, teknologi, atau algoritma. Di media sosial, kita tidak lagi bertemu orang, tetapi bertemu representasinya, katakanlah itu berupa foto, teks, emoji, sedikit curhat, dan kini tambahan terbarunya adalah konten buatan mesin. 

Saat ini AI adalah bentuk paling mutakhir dari sistem abstrak itu. Ia membuat hubungan makin ruwet. Coba kita renungkan, apakah seseorang benar-benar mengalami apa yang ia unggah? Apakah foto itu beneran diambil dari kenyataan? Apakah betul bahwa suara itu suaranya? Apakah pengalaman yang di share itu sungguh terjadi, atau produk halu yang disimulasi berdasar prompt yang di-render dengan server mahal penguras air minum populasi manusia?

Kebingungan semacam ini memunculkan apa yang Giddens sebut sebagai “ketidakamanan ontologis”, yaitu suatu kecemasan halus ketika manusia merasa tidak memiliki rasa kepastian mendasar tentang keberadaan dirinya dan dunia di sekitarnya. Ketika orang komentar, “ah ini cuma AI,” sebenarnya ia sedang berusaha mengembalikan dirinya ke pijakan realitasnya semula, berusaha membedakan mana yang manusia, mana yang bukan. Sebuah upaya kecil, yang menurut saya kok agak menyedihkan, untuk mempertahankan dunia agar tetap masuk akal.

Tapi mari kita geser sebentar ke filsuf eksistensial yang lebih romantis, Martin Buber, yang membagi hubungan manusia ke dua jenis relasi. Ada relasi Aku – Engkau, dan relasi Aku – Itu. Menurut Buber, hubungan Aku-Engkau adalah hubungan tulus, saling mengakui keberadaan satu sama lain, penuh empati, penuh subjektivitas. Sementara Aku-Itu adalah hubungan instrumental, artinya di mana yang dihadapi hanya berupa objek yang bisa dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan.

Masalah di zaman ini, AI hanya bisa masuk ke relasi Aku-Itu. AI  ini program atau mesin yang tidak punya pengalaman, luka batin, kenangan masa kecil, kejengkelan yang dipendam, atau keceplosan tawa yang tidak sengaja keluar. Ia hanya punya struktur,  data, dan algoritma. Karena itulah, maka kita bisa menggunakana AI, memanfaatkannya, atau bahkan bergantung padanya. Di luar konteks itu, kita tidak bisa merasa terhubung sebagai pribadi antar pribadi dengan si AI ini.

Sepertinya itulah mengapa banyak konten AI, meski sempurna, seringkali terasa dingin dan hambar. Cantik, tapi tidak hangat. Cantik dipandang, hampa di hati. Artistik, tapi tidak menyentuh. Membaca puisi cinta yang dihasilkan generator statistik, baris-barisnya indah, tapi tidak ada yang menggetarkan dada. Tidak ada kehadiran subjektif manusia. Tidak ada “Engkau.” Pantas saja, pernah dulu saya jengkel sekali waktu ada salah satu TV swasta merilis pembaca berita yang di-generate oleh AI. Rasanya seperti saya dibodohi terang-terangan.

Realitas Tanpa Rasa

Publik mungkin tidak membaca Buber, tapi tubuh kita menyadari secara alami bahwa tidak ada resonansi emosional di sana. Maka keluarlah komentar yang terdengar sepele tadi, “Ini mah AI.” Bukan sekadar kemampuan observasi teknis, tapi ekspresi kekecewaan yang dalam pada realita. Bahwa kita tidak merasakan kehidupan dalam konten yang dilihat.  

Nah, mari kita tambahkan satu tokoh lagi,  Homi K. Bhabha. Ia berbicara tentang hibriditas dan “Third Space”, ruang campuran yang berada di antara dua identitas, menghasilkan sesuatu yang familiar tapi asing, dekat tapi tak dapat dipercayai sepenuhnya. AI, dalam cara yang paling aneh dan sekaligus juga paling memukau, dia menciptakan ruang ketiga itu.

Konten AI tampak terlihat seperti kita, tapi tetap saja bukan kita. Ia meniru suara guru kita, meniru tulisan penulis favorit kita, bahkan membuat video bergerak berdasar foto teman lama yang bahkan sudah hilang kontak. Lalu kita bingung juga, apakah kita sedang melihat representasi manusia, atau sesuatu yang hanya bekerja menirukan manusia? Bukannya hal ini mirip adegan film horor saat si iblis menirukan hal-hal yang kita kenal?

Sasat kita memasuki ruang hibrid semacam ini, ambivalensi muncul,  kita suka tapi ragu, kagum tapi timbul waspada. Kita tertarik, tapi ada rasa mengganjal bahwa yang kita lihat adalah makhluk tanpa sejarah, tanpa pengalaman, tanpa masa lalu. Seseorang yang cantik dipandang, tapi hampa di hati. Dan memang AI tidak punya masa lalu. Ia hanya punya output.

Begitu orang sadar dengan hal itu, muncullah kebosanan. Kebosanan yang sebenarnya unik, bukan karena kualitasnya buruk, tapi karena kualitasnya yang kelewat sempurna, tapi nuansanya sama yaitu terlalu datar, terlalu seragam, terlalu tidak manusiawi. Seperti berlibur ke kota futuristik yang semuanya rapi dan glossy, tapi tidak ada warga sekitar yang bisa diajak ngobrol tentang hujan semalam atau harga cabai hari ini.

Ruang Otentik Manusia

Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar sentimentil, tapi harus kita akui dengan jujur. Media sosial dengan segala konsekuensinya, tetaplah merupakan ruang hubungan manusia. Orang masuk ke medsos bukan sekadar mencari konten, tapi mencari kehadiran. Bukan sekedar mencari estetika, tapi mencari emosi. Bukan mencari gambar bagus, tapi mencari cerita yang terasa hidup.

AI boleh mampu membuat apa saja entah foto, video, musik, narasi apa pun sebut saja. Tapi ia tidak bisa membuat rasa pengalaman manusia. Dan itulah yang kita rindukan.  Itu menjawab pertanyaan mengapa foto buram sahabat lebih berharga daripada foto AI yang super tajam. Foto kenangan yang buram itu punya kehadiran, punya niat, punya tangan yang gemetar sedikit saat menjepret, punya subjek yang tertawa tolol sungguhan, bukan gambar tawa sempurna yang di-generate dari dataset.

Mengapa repetan curhat teman yang kacau-balau lebih menyentuh hati ketimbang kisah motivasi AI yang rapi jali? Karena ada manusia yang hadir di situ, dengan segala kepedihan, ketidaksempurnaan, dan keautentikannya. Makin kini, makin kita merindukan manusia, kala dunia mulai dipenuhi simulasi perfecto. 

Dan bukannya tidak mungkin suatu saat nanti, algoritma justru akan melacak satu fenomena yang lucu bahwa konten paling diminati justru kembali ke hal-hal sederhana dan autentik, seperti suara serak, tawa jelek, foto goyang, cerita sehari-hari yang tidak dramatis, tapi semua itu nyata.  

Karena akhirnya, kita tidak benar-benar bosan pada AI. Kita hanya sadar sedang mencari manusia. Kita hanya ingin memastikan bahwa di balik layar ini, masih ada seseorang, bukan sekadar sesuatu. Ya, seperti Anda dan saya ini. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecantikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Carpet Crawlers’: Kita Harus Masuk untuk Keluar

Next Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co