23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Adakah Śakuni di Antara Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 25, 2025
in Esai
Adakah Śakuni di Antara Kita?

DALAM epos Mahābhārata, satu tokoh yang kadang luput dari sorotan publik tetapi justru memegang peran kunci dalam kehancuran generasi Kurawa adalah Śakuni—pangeran dari Gandhāra, kakak dari Gandārī, dan pamannya para Kurawa. Sosok ini bukan sekadar karakter licik; ia adalah simbol dari kecerdikan yang kehilangan kompas moral, kecanggihan strategi yang berubah menjadi manipulasi, serta kekuasaan yang memakai kecerdasan untuk menjerumuskan, bukan mencerahkan. Dalam konteks Indonesia hari ini—terutama Bali yang sedang menghadapi tantangan sosial, politik, dan budaya—kisah Śakuni adalah cermin yang tak bisa dihindari.

Sakuni yang “Terlanjur Tinggal”

Secara tradisi, Śakuni seharusnya hanya mengantar adiknya, Gandārī, menikah dengan Raja Dhṛtarāṣṭra di Hastināpura. Setelah itu, ia diharapkan kembali ke Gandhāra untuk menjalankan kewajiban sebagai pangeran dan penerus negeri. Tetapi ia memilih tinggal. Keputusan kecil yang tampaknya pribadi itulah yang membuka jalan bagi kejatuhan besar. Dari situ muncul intrik, hasutan, permainan dadu, dan akhirnya perang Bharatayuddha yang memusnahkan seluruh dinasti Kuru.

Keputusan Śakuni untuk menetap—meski sebenarnya tidak pada tempatnya—adalah simbol dari seseorang yang tidak berada di habitat moralnya, tetapi tetap bertahan demi ambisi. Di sinilah pelajaran itu menjadi relevan: ketika seseorang berkuasa atau memiliki akses ke pusat kekuatan, tetapi bukan untuk melayani, melainkan untuk mengendalikan; bukan untuk membangun, tetapi untuk memecah belah; bukan untuk kembali pada tugas asalnya, tetapi menancap di tengah kekuasaan demi keuntungan pribadi.

Sakuni di Zaman Now

Di Indonesia—dan Bali tidak terkecuali—kita menyaksikan fenomena “Śakuni zaman now”:

  • Penasihat yang sebenarnya tidak layak menjadi penasihat, tetapi justru menjerumuskan penguasa.
  • Tokoh yang menempati posisi bukan karena kapasitas, tetapi kedekatan, dan kemudian memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan pribadi.
  • Mereka yang bukan bagian dari sistem tetapi memengaruhi sistem, ibarat “orang dalam” yang bukan pejabat tetapi menentukan arah kebijakan.
  • Kelompok yang merusak harmoni, padahal Bali khususnya bertumpu pada prinsip tatwam asi, tri hita karana, dan keseimbangan sosial-budaya.

Seperti Śakuni yang bukan warga Hastināpura namun mengendalikan istana, kita melihat figur-figur yang memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan untuk menggerakkan agenda politik, bisnis, atau kepentingan kelompok tertentu. Ada juga yang memainkan narasi, melempar isu, menciptakan konflik horizontal, atau memanipulasi informasi demi memengaruhi keputusan publik.

Pelajaran untuk Pemimpin: Jangan Biarkan Śakuni Menentukan Arah

Raja Dhṛtarāṣṭra sebenarnya tidak jahat; ia lemah. Kebutaannya bukan hanya fisik, tetapi batin: ia tidak mampu menolak godaan, tidak mampu mengambil sikap tegas terhadap anak-anaknya, dan tidak mampu menghentikan pengaruh buruk Śakuni. Di konteks Indonesia, kita belajar bahwa pemimpin yang baik tidak cukup hanya “baik”—ia harus tegas, mampu membedakan mana nasihat jujur dan mana manipulasi.

Untuk Bali, yang sedang bergerak di tengah arus modernisasi, pariwisata, dan penetrasi kapital besar, pemimpin harus menghindari jebakan “penasihat-penasihat pribadi” atau kelompok berkepentingan yang mengambil alih kendali di balik layar. Bali yang kukuh dalam spirit dharma harus mampu membedakan mana yang melayani keseimbangan, mana yang merusaknya.

Śakuni dan Politik Narasi

Salah satu senjata Śakuni adalah narasi: ia piawai memutarbalikkan keadaan, membuat para Kurawa percaya bahwa merekalah yang diperlakukan tidak adil oleh para Pandawa. Ia menciptakan persepsi yang menjustifikasi kedengkian. Bukankah ini juga fenomena zaman sekarang?

Narasi adalah kekuatan besar dalam media sosial, politik elektoral, hingga perdebatan keseharian. Dengan satu framing, seseorang bisa menjadi pahlawan; dengan framing lain, ia bisa menjadi penjahat. Dalam masyarakat yang rentan pada polarisasi, figur-figur “Śakuni modern” memakai narasi untuk menebar kebencian, memecah suku, agama, wilayah, bahkan keluarga politik.

Pelajaran penting bagi Bali dan Indonesia: waspadalah pada narasi yang menggiring kita menjauh dari welas asih, kebijaksanaan, dan kesalingan.

Mengapa Śakuni Berbahaya? Karena Ia Cerdas Tanpa Moral

Śakuni sangat cerdas. Ia ahli strategi, jago membaca karakter orang lain, piawai merancang skenario politik. Tetapi keahliannya tidak dibarengi moralitas. Itulah kombinasi paling berbahaya dalam sejarah manusia: kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Di mana pun—dalam lembaga, keluarga, parpol, bisnis, hingga desa adat—figur yang sangat cerdik tetapi miskin integritas bisa menghancurkan tatanan yang telah berdiri ratusan tahun.

Untuk Bali, yang menjaga tatanan adat, pura, subak, dan awig-awig, sosok seperti ini bisa merusak tatanan hanya dalam waktu singkat.

Rakyat Juga Bisa Menjadi Korban dan Sekaligus Pelaku

Dalam Mahābhārata, rakyat Hastināpura ikut hancur bukan karena kejahatan Śakuni saja, tetapi karena diamnya mereka melihat ketidakadilan terjadi. Dalam konteks Indonesia, rakyat bisa menjadi korban manipulasi tetapi juga dapat menjadi bagian dari reproduksi manipulasi—misalnya ikut menyebarkan hoaks, ikut memperkuat narasi manipulatif, atau menikmati politik balas budi.

Pelajaran penting: setiap warga adalah penjaga dharma, bukan sekadar penonton.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

  1. Pemimpin harus memiliki keberanian moral
    Seorang pemimpin yang tidak bisa berkata “tidak” pada figur negatif akan menjadi Dhṛtarāṣṭra kedua.
  2. Rakyat perlu literasi moral, bukan hanya literasi digital
    Masyarakat harus mampu membedakan kritik konstruktif dan hasutan merusak.
  3. Bangun ekosistem transparansi
    Ruang gelap adalah tempat subur bagi Śakuni; ruang terang membuat intrik sulit tumbuh.
  4. Pertahankan budaya dialog
    Bali punya tradisi simakrama, paruman, sangkep, dan musyawarah—itu benteng terhadap manipulasi satu orang.

Setiap Zaman Punya Śakuni, Tetapi Juga Punya Peluang untuk Dharma

Mahābhārata bukan sekadar kisah perang; ia adalah kisah bagaimana satu karakter mampu mengubah arah sejarah. Śakuni menunjukkan bahwa satu tokoh yang salah tempat—dan memilih untuk tetap berada di tempat itu—bisa menghancurkan peradaban.

Di Bali dan Indonesia, Śakuni hadir dalam sosok-sosok yang memakai kecerdasan untuk memecah, bukan menyatukan. Tetapi kita juga memiliki Yudhiṣṭhira, Arjuna, Bhīma, Krishna—simbol kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan.

Pertanyaan untuk kita hari ini bukan “siapa Śakuni di antara kita?”, tetapi:

Apakah kita menjadi bagian dari kekuatan yang melawan pengaruh Śakuni, atau justru membiarkan intriknya menentukan arah masa depan kita? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kisah mahabharataMahabharataSekuniSengkuni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umanis Galungan, Jalan-jalan ke Butiyang di Puncaknya Desa Les

Next Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Tak Mudah Menjadi Guru

Tak Mudah Menjadi Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co