24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Adakah Śakuni di Antara Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 25, 2025
in Esai
Adakah Śakuni di Antara Kita?

DALAM epos Mahābhārata, satu tokoh yang kadang luput dari sorotan publik tetapi justru memegang peran kunci dalam kehancuran generasi Kurawa adalah Śakuni—pangeran dari Gandhāra, kakak dari Gandārī, dan pamannya para Kurawa. Sosok ini bukan sekadar karakter licik; ia adalah simbol dari kecerdikan yang kehilangan kompas moral, kecanggihan strategi yang berubah menjadi manipulasi, serta kekuasaan yang memakai kecerdasan untuk menjerumuskan, bukan mencerahkan. Dalam konteks Indonesia hari ini—terutama Bali yang sedang menghadapi tantangan sosial, politik, dan budaya—kisah Śakuni adalah cermin yang tak bisa dihindari.

Sakuni yang “Terlanjur Tinggal”

Secara tradisi, Śakuni seharusnya hanya mengantar adiknya, Gandārī, menikah dengan Raja Dhṛtarāṣṭra di Hastināpura. Setelah itu, ia diharapkan kembali ke Gandhāra untuk menjalankan kewajiban sebagai pangeran dan penerus negeri. Tetapi ia memilih tinggal. Keputusan kecil yang tampaknya pribadi itulah yang membuka jalan bagi kejatuhan besar. Dari situ muncul intrik, hasutan, permainan dadu, dan akhirnya perang Bharatayuddha yang memusnahkan seluruh dinasti Kuru.

Keputusan Śakuni untuk menetap—meski sebenarnya tidak pada tempatnya—adalah simbol dari seseorang yang tidak berada di habitat moralnya, tetapi tetap bertahan demi ambisi. Di sinilah pelajaran itu menjadi relevan: ketika seseorang berkuasa atau memiliki akses ke pusat kekuatan, tetapi bukan untuk melayani, melainkan untuk mengendalikan; bukan untuk membangun, tetapi untuk memecah belah; bukan untuk kembali pada tugas asalnya, tetapi menancap di tengah kekuasaan demi keuntungan pribadi.

Sakuni di Zaman Now

Di Indonesia—dan Bali tidak terkecuali—kita menyaksikan fenomena “Śakuni zaman now”:

  • Penasihat yang sebenarnya tidak layak menjadi penasihat, tetapi justru menjerumuskan penguasa.
  • Tokoh yang menempati posisi bukan karena kapasitas, tetapi kedekatan, dan kemudian memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan pribadi.
  • Mereka yang bukan bagian dari sistem tetapi memengaruhi sistem, ibarat “orang dalam” yang bukan pejabat tetapi menentukan arah kebijakan.
  • Kelompok yang merusak harmoni, padahal Bali khususnya bertumpu pada prinsip tatwam asi, tri hita karana, dan keseimbangan sosial-budaya.

Seperti Śakuni yang bukan warga Hastināpura namun mengendalikan istana, kita melihat figur-figur yang memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan untuk menggerakkan agenda politik, bisnis, atau kepentingan kelompok tertentu. Ada juga yang memainkan narasi, melempar isu, menciptakan konflik horizontal, atau memanipulasi informasi demi memengaruhi keputusan publik.

Pelajaran untuk Pemimpin: Jangan Biarkan Śakuni Menentukan Arah

Raja Dhṛtarāṣṭra sebenarnya tidak jahat; ia lemah. Kebutaannya bukan hanya fisik, tetapi batin: ia tidak mampu menolak godaan, tidak mampu mengambil sikap tegas terhadap anak-anaknya, dan tidak mampu menghentikan pengaruh buruk Śakuni. Di konteks Indonesia, kita belajar bahwa pemimpin yang baik tidak cukup hanya “baik”—ia harus tegas, mampu membedakan mana nasihat jujur dan mana manipulasi.

Untuk Bali, yang sedang bergerak di tengah arus modernisasi, pariwisata, dan penetrasi kapital besar, pemimpin harus menghindari jebakan “penasihat-penasihat pribadi” atau kelompok berkepentingan yang mengambil alih kendali di balik layar. Bali yang kukuh dalam spirit dharma harus mampu membedakan mana yang melayani keseimbangan, mana yang merusaknya.

Śakuni dan Politik Narasi

Salah satu senjata Śakuni adalah narasi: ia piawai memutarbalikkan keadaan, membuat para Kurawa percaya bahwa merekalah yang diperlakukan tidak adil oleh para Pandawa. Ia menciptakan persepsi yang menjustifikasi kedengkian. Bukankah ini juga fenomena zaman sekarang?

Narasi adalah kekuatan besar dalam media sosial, politik elektoral, hingga perdebatan keseharian. Dengan satu framing, seseorang bisa menjadi pahlawan; dengan framing lain, ia bisa menjadi penjahat. Dalam masyarakat yang rentan pada polarisasi, figur-figur “Śakuni modern” memakai narasi untuk menebar kebencian, memecah suku, agama, wilayah, bahkan keluarga politik.

Pelajaran penting bagi Bali dan Indonesia: waspadalah pada narasi yang menggiring kita menjauh dari welas asih, kebijaksanaan, dan kesalingan.

Mengapa Śakuni Berbahaya? Karena Ia Cerdas Tanpa Moral

Śakuni sangat cerdas. Ia ahli strategi, jago membaca karakter orang lain, piawai merancang skenario politik. Tetapi keahliannya tidak dibarengi moralitas. Itulah kombinasi paling berbahaya dalam sejarah manusia: kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Di mana pun—dalam lembaga, keluarga, parpol, bisnis, hingga desa adat—figur yang sangat cerdik tetapi miskin integritas bisa menghancurkan tatanan yang telah berdiri ratusan tahun.

Untuk Bali, yang menjaga tatanan adat, pura, subak, dan awig-awig, sosok seperti ini bisa merusak tatanan hanya dalam waktu singkat.

Rakyat Juga Bisa Menjadi Korban dan Sekaligus Pelaku

Dalam Mahābhārata, rakyat Hastināpura ikut hancur bukan karena kejahatan Śakuni saja, tetapi karena diamnya mereka melihat ketidakadilan terjadi. Dalam konteks Indonesia, rakyat bisa menjadi korban manipulasi tetapi juga dapat menjadi bagian dari reproduksi manipulasi—misalnya ikut menyebarkan hoaks, ikut memperkuat narasi manipulatif, atau menikmati politik balas budi.

Pelajaran penting: setiap warga adalah penjaga dharma, bukan sekadar penonton.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

  1. Pemimpin harus memiliki keberanian moral
    Seorang pemimpin yang tidak bisa berkata “tidak” pada figur negatif akan menjadi Dhṛtarāṣṭra kedua.
  2. Rakyat perlu literasi moral, bukan hanya literasi digital
    Masyarakat harus mampu membedakan kritik konstruktif dan hasutan merusak.
  3. Bangun ekosistem transparansi
    Ruang gelap adalah tempat subur bagi Śakuni; ruang terang membuat intrik sulit tumbuh.
  4. Pertahankan budaya dialog
    Bali punya tradisi simakrama, paruman, sangkep, dan musyawarah—itu benteng terhadap manipulasi satu orang.

Setiap Zaman Punya Śakuni, Tetapi Juga Punya Peluang untuk Dharma

Mahābhārata bukan sekadar kisah perang; ia adalah kisah bagaimana satu karakter mampu mengubah arah sejarah. Śakuni menunjukkan bahwa satu tokoh yang salah tempat—dan memilih untuk tetap berada di tempat itu—bisa menghancurkan peradaban.

Di Bali dan Indonesia, Śakuni hadir dalam sosok-sosok yang memakai kecerdasan untuk memecah, bukan menyatukan. Tetapi kita juga memiliki Yudhiṣṭhira, Arjuna, Bhīma, Krishna—simbol kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan.

Pertanyaan untuk kita hari ini bukan “siapa Śakuni di antara kita?”, tetapi:

Apakah kita menjadi bagian dari kekuatan yang melawan pengaruh Śakuni, atau justru membiarkan intriknya menentukan arah masa depan kita? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kisah mahabharataMahabharataSekuniSengkuni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umanis Galungan, Jalan-jalan ke Butiyang di Puncaknya Desa Les

Next Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tak Mudah Menjadi Guru

Tak Mudah Menjadi Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co