6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Adakah Śakuni di Antara Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 25, 2025
in Esai
Adakah Śakuni di Antara Kita?

DALAM epos Mahābhārata, satu tokoh yang kadang luput dari sorotan publik tetapi justru memegang peran kunci dalam kehancuran generasi Kurawa adalah Śakuni—pangeran dari Gandhāra, kakak dari Gandārī, dan pamannya para Kurawa. Sosok ini bukan sekadar karakter licik; ia adalah simbol dari kecerdikan yang kehilangan kompas moral, kecanggihan strategi yang berubah menjadi manipulasi, serta kekuasaan yang memakai kecerdasan untuk menjerumuskan, bukan mencerahkan. Dalam konteks Indonesia hari ini—terutama Bali yang sedang menghadapi tantangan sosial, politik, dan budaya—kisah Śakuni adalah cermin yang tak bisa dihindari.

Sakuni yang “Terlanjur Tinggal”

Secara tradisi, Śakuni seharusnya hanya mengantar adiknya, Gandārī, menikah dengan Raja Dhṛtarāṣṭra di Hastināpura. Setelah itu, ia diharapkan kembali ke Gandhāra untuk menjalankan kewajiban sebagai pangeran dan penerus negeri. Tetapi ia memilih tinggal. Keputusan kecil yang tampaknya pribadi itulah yang membuka jalan bagi kejatuhan besar. Dari situ muncul intrik, hasutan, permainan dadu, dan akhirnya perang Bharatayuddha yang memusnahkan seluruh dinasti Kuru.

Keputusan Śakuni untuk menetap—meski sebenarnya tidak pada tempatnya—adalah simbol dari seseorang yang tidak berada di habitat moralnya, tetapi tetap bertahan demi ambisi. Di sinilah pelajaran itu menjadi relevan: ketika seseorang berkuasa atau memiliki akses ke pusat kekuatan, tetapi bukan untuk melayani, melainkan untuk mengendalikan; bukan untuk membangun, tetapi untuk memecah belah; bukan untuk kembali pada tugas asalnya, tetapi menancap di tengah kekuasaan demi keuntungan pribadi.

Sakuni di Zaman Now

Di Indonesia—dan Bali tidak terkecuali—kita menyaksikan fenomena “Śakuni zaman now”:

  • Penasihat yang sebenarnya tidak layak menjadi penasihat, tetapi justru menjerumuskan penguasa.
  • Tokoh yang menempati posisi bukan karena kapasitas, tetapi kedekatan, dan kemudian memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan pribadi.
  • Mereka yang bukan bagian dari sistem tetapi memengaruhi sistem, ibarat “orang dalam” yang bukan pejabat tetapi menentukan arah kebijakan.
  • Kelompok yang merusak harmoni, padahal Bali khususnya bertumpu pada prinsip tatwam asi, tri hita karana, dan keseimbangan sosial-budaya.

Seperti Śakuni yang bukan warga Hastināpura namun mengendalikan istana, kita melihat figur-figur yang memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan untuk menggerakkan agenda politik, bisnis, atau kepentingan kelompok tertentu. Ada juga yang memainkan narasi, melempar isu, menciptakan konflik horizontal, atau memanipulasi informasi demi memengaruhi keputusan publik.

Pelajaran untuk Pemimpin: Jangan Biarkan Śakuni Menentukan Arah

Raja Dhṛtarāṣṭra sebenarnya tidak jahat; ia lemah. Kebutaannya bukan hanya fisik, tetapi batin: ia tidak mampu menolak godaan, tidak mampu mengambil sikap tegas terhadap anak-anaknya, dan tidak mampu menghentikan pengaruh buruk Śakuni. Di konteks Indonesia, kita belajar bahwa pemimpin yang baik tidak cukup hanya “baik”—ia harus tegas, mampu membedakan mana nasihat jujur dan mana manipulasi.

Untuk Bali, yang sedang bergerak di tengah arus modernisasi, pariwisata, dan penetrasi kapital besar, pemimpin harus menghindari jebakan “penasihat-penasihat pribadi” atau kelompok berkepentingan yang mengambil alih kendali di balik layar. Bali yang kukuh dalam spirit dharma harus mampu membedakan mana yang melayani keseimbangan, mana yang merusaknya.

Śakuni dan Politik Narasi

Salah satu senjata Śakuni adalah narasi: ia piawai memutarbalikkan keadaan, membuat para Kurawa percaya bahwa merekalah yang diperlakukan tidak adil oleh para Pandawa. Ia menciptakan persepsi yang menjustifikasi kedengkian. Bukankah ini juga fenomena zaman sekarang?

Narasi adalah kekuatan besar dalam media sosial, politik elektoral, hingga perdebatan keseharian. Dengan satu framing, seseorang bisa menjadi pahlawan; dengan framing lain, ia bisa menjadi penjahat. Dalam masyarakat yang rentan pada polarisasi, figur-figur “Śakuni modern” memakai narasi untuk menebar kebencian, memecah suku, agama, wilayah, bahkan keluarga politik.

Pelajaran penting bagi Bali dan Indonesia: waspadalah pada narasi yang menggiring kita menjauh dari welas asih, kebijaksanaan, dan kesalingan.

Mengapa Śakuni Berbahaya? Karena Ia Cerdas Tanpa Moral

Śakuni sangat cerdas. Ia ahli strategi, jago membaca karakter orang lain, piawai merancang skenario politik. Tetapi keahliannya tidak dibarengi moralitas. Itulah kombinasi paling berbahaya dalam sejarah manusia: kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Di mana pun—dalam lembaga, keluarga, parpol, bisnis, hingga desa adat—figur yang sangat cerdik tetapi miskin integritas bisa menghancurkan tatanan yang telah berdiri ratusan tahun.

Untuk Bali, yang menjaga tatanan adat, pura, subak, dan awig-awig, sosok seperti ini bisa merusak tatanan hanya dalam waktu singkat.

Rakyat Juga Bisa Menjadi Korban dan Sekaligus Pelaku

Dalam Mahābhārata, rakyat Hastināpura ikut hancur bukan karena kejahatan Śakuni saja, tetapi karena diamnya mereka melihat ketidakadilan terjadi. Dalam konteks Indonesia, rakyat bisa menjadi korban manipulasi tetapi juga dapat menjadi bagian dari reproduksi manipulasi—misalnya ikut menyebarkan hoaks, ikut memperkuat narasi manipulatif, atau menikmati politik balas budi.

Pelajaran penting: setiap warga adalah penjaga dharma, bukan sekadar penonton.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

  1. Pemimpin harus memiliki keberanian moral
    Seorang pemimpin yang tidak bisa berkata “tidak” pada figur negatif akan menjadi Dhṛtarāṣṭra kedua.
  2. Rakyat perlu literasi moral, bukan hanya literasi digital
    Masyarakat harus mampu membedakan kritik konstruktif dan hasutan merusak.
  3. Bangun ekosistem transparansi
    Ruang gelap adalah tempat subur bagi Śakuni; ruang terang membuat intrik sulit tumbuh.
  4. Pertahankan budaya dialog
    Bali punya tradisi simakrama, paruman, sangkep, dan musyawarah—itu benteng terhadap manipulasi satu orang.

Setiap Zaman Punya Śakuni, Tetapi Juga Punya Peluang untuk Dharma

Mahābhārata bukan sekadar kisah perang; ia adalah kisah bagaimana satu karakter mampu mengubah arah sejarah. Śakuni menunjukkan bahwa satu tokoh yang salah tempat—dan memilih untuk tetap berada di tempat itu—bisa menghancurkan peradaban.

Di Bali dan Indonesia, Śakuni hadir dalam sosok-sosok yang memakai kecerdasan untuk memecah, bukan menyatukan. Tetapi kita juga memiliki Yudhiṣṭhira, Arjuna, Bhīma, Krishna—simbol kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan.

Pertanyaan untuk kita hari ini bukan “siapa Śakuni di antara kita?”, tetapi:

Apakah kita menjadi bagian dari kekuatan yang melawan pengaruh Śakuni, atau justru membiarkan intriknya menentukan arah masa depan kita? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kisah mahabharataMahabharataSekuniSengkuni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umanis Galungan, Jalan-jalan ke Butiyang di Puncaknya Desa Les

Next Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tak Mudah Menjadi Guru

Tak Mudah Menjadi Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co