PECINTA seni rupa seakan dikejutkan dengan karya-karya yang kreatif dari 7 perupa perempuan ketika melakukan pameran di Artspace, ARTOTEL Sanur – Bali. Walau sama-sama menyajikan karya seni di atas kanvas, namun masing-masing perupa menyajikan ide, gagasan ataupun gaya yang tidak sama. Ada yang menggelitik, ada yang mengangkat isu lingkungan, ada pula menyuarakan isi hatinya, sehingga dalam setiap deretan karya yang menghiasi lobi ARTOTEL Sanur itu menyajikan berbagai cerita menarik untuk dinikmati.
Pameran Us (Kita), menjadi sebuah pameran seni kolaboratif antara Artotel Sanur Bali dan Red Dragonfly. Sebanyak 7 perupa perempuan yang terdiri dari Wike, Novi, Reski, Nadya, Lily, Ina dan Gaby itu benar-banar menyoroti suara, perspektif, dan ekspresi tulus mereka melalui beragam material dan pendekatan artistik. Sedikitnya ada 27 karya dengan berbagai gaya dipamerkan. Jika menyimak karya-karya itu, sebagai bukti tujuh seniman perempuan ini memang luar biasa. Pameran dimulai pada 16 November 2025 hingga 25 Februari 2026.
Alirannya sangat beragam, ada yang kontenporer art, abstrak, realis, ilustrasi dan lainnya. Masing-masing karya tampak jelas perbedaannya. Itu karena karya mereka saling menonjolkan individualis dari masing-masing. Walau demikian, dari semua perbedaan itu ada sebuah kesamaanya yang menghubungan, yakni harmoni.
“Persamaan dari kita semua, karena kita suka art. Ini cara kami untuk mengekspresikan apa yang kita sukai. Maka kita panggil Us, karena hubungan dari kita semua. Jadi ibu-ibu itu saling menyupot satu sama lain. Us itu mengungkapkan perjalanan hidup kita, apa yang kita sukai. Us itu hubungan dari artis dan orang yang melihat art-nya itu. Hubungan juga terjadi antara orang yang melihat lukisan dengan karya kita,” ucap Wike, kordinator pameran.

Wike mengatakan, cerita ‘Us’ (Kita) bermula pada akhir tahun 2022 dengan sebuah postingan sederhana di salah satu sosial media oleh Wike di grup Komunitas Sanur, undangan terbuka untuk pertemuan seni informal di sebuah kafe lokal.
“Awalnya bermula dari keinginan untuk menciptakan ruang aman dan inspiratif bagi perempuan untuk berkumpul, mengekspresikan diri, dan saling mendukung melalui kreativitas, kemudian berkembang menjadi tempat di mana perempuan menuangkan hati mereka ke dalam karya seni yang mengubah dunia batin mereka menjadi karya nyata penuh passion dan kebebasan,” paparnya.

Pada tahun 2023, kelompok ini melahirkan Red Dragonfly Artisan Corner, sebuah pusat kreatif kolaboratif di mana seniman perempuan berbagi kisah mereka dan memamerkan karya seni mereka kepada publik. “Corner ini dengan cepat berkembang melampaui ruang fisik, menjadi rumah bagi ekspresi artistik di mana setiap karya mencerminkan perjalanan pribadi dan jiwa pembuatnya,” imbuhnya.
Dalam karya-karyanya, Wike menyampaikan perjalanan hidupnya yang terkait dengan planet yang lagi menderita. Laut menjadi sangat penting yang diangkat lewat karya lukisanya. Hal itu diungkapkan lewat warna yang semuanya mengandung cerita. Momen yang diangkat adalah sun rice di Pantai Sanur, bale, wanita Bali dan kura-kura sebagai simbol panjang umur. Semua onjek itu memberi kekuatan. “Pesannya untuk memberi kekuatan bagi para wanita, kita pasti bias, maka penting membangkikat keyakinan itu,” terangnya.

Reski menyajikan karya-karya yang dibuatnya secara tiba-tiba. Ketika ia jalan-jalan dan melihat sesuatu, ia langsung menggambarnya. Wanita ini memang suka sketsa atau menggambar langsung di tempat (en plein air) saat bepergian atau berjalan-jalan. Ini menunjukkan Reski memiliki sifat observatif dan kreatif, di mana ide atau pemandangan menarik langsung diabadikan dalam bentuk visual.
Lily suka menggambar dengan teknik border. Teknik ini sebagai cara untuk mengkomunikasikan emosi dan perasaannya. Ia melukis dengan menggunakan benang yang menyampaikan pesan kebaikan, juga kejujuran. Sulaman tangan menampilkan gambar wajah wanita yang dilengkapi bunga. “Inspirasi dari keseharian saya. Saya banyak memikirkan inspirasi dari sudut pandang seoarang perempuan,” bebernya.
Novi menyajikan line art, jenis seni yang dibuat dari garis-garis tegas untuk membentuk sebuah gambar. Ia lebih banyak menggunakan warna hitam putih dan tanpa gradasi warna. Karya seni visual ini berfokus pada kontur dan bentuk objek melalui goresan garis.

Sementara Gaby menyajikan karya lukis bergaya realis yang menggunakan media akrilik. Gaya ini menekankan pada penggambaran yang akurat dan jujur terhadap objek, pemandangan atau potret untuk merefleksikan realitas secara sedekat mungkin dengan aslinya. Ia lebih banyak mengangkat tema air, dan tentang elemen wanita.
Sedangkan Nadya, menggunakan cat air dalam karya lukisanya. Ia juga lebih banyak mengangkat tema alam yang belakangan ini sering diperskosa oleh manusia. “Kita sebagai wanita harus percaya diri, jangan minder. Semua perbedaan itu pasti ada sesuatu yang lebih untuk saling membangun,” ucap Nadya.
General Manager ARTOTEL Sanur – Bali, Agus Ade Surya Wirawan mengaku bangga untuk bisa berkolaborasi dengan sekelompok perupa yang terdiri dari para wanita dengan kreativitas yang kemudian menghasilkan karya. “Mereka menggambarkan kebebasan dan passion dari diri masing – masing sehingga karya – karya ini dapat dinikmati oleh tamu hotel, tamu luar hotel, dan semua penikmat seni,” ucapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























