23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Kadek Agus Yoga Dwipranata by Kadek Agus Yoga Dwipranata
November 18, 2025
in Esai
Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Hari Raya Galungan

MENJELANG Hari Raya Galungan, aroma persiapan sudah mulai tercium di setiap sudut desa. Di halaman rumah, di balai banjar, di jalan-jalan yang mulai dihiasi penjor. Bagi umat Hindu di Bali, Galungan bukan sekadar hari kemenangan Dharma melawan Adharma, tetapi juga momentum kebersamaan yang hidup melalui berbagai tradisi. Salah satunya adalah Mepatung, tradisi yang tidak hanya berbicara tentang daging babi, melainkan juga tentang rasa, kebersamaan, dan gotong royong yang menjiwai kehidupan masyarakat Bali.

Dalam praktiknya, Mepatung dilakukan dengan cara beberapa keluarga/sekaa (kelompok) bergabung membeli seekor babi untuk disembelih bersama. Dagingnya kemudian dibagi sesuai bagian, untuk keperluan proses persiapan bahan upakara dan sajian Galungan. Melalui cara ini, beban biaya bisa diringankan, dan yang lebih penting, semangat kebersamaan tumbuh alami di antara warga. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua bersatu dalam satu tujuan yaitu menyiapkan Yadnya dengan tulus ikhlas dan gembira.

Suasana Mepatung biasanya penuh tawa. Sejak pagi, para Bapak sudah sibuk menyiapkan peralatan, sementara para Ibu menyiapkan bumbu dapur dan sarana upacara. Anak-anak berlarian di sekitar halaman, menikmati riuhnya persiapan Galungan. Dalam setiap tumpah darah babi itu, terselip makna pengorbanan, bahwa sesuatu yang hidup harus rela dikorbankan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuta dan Manusia. Mepatung bukan sekadar urusan dapur, tapi ritual sosial yang mempererat persaudaraan.

Namun, seperti banyak tradisi lain yang bergulat dengan perubahan zaman, Mepatung kini mulai menghadapi pergeseran. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan baru, penyembelihan babi dilakukan lebih awal, bahkan sudah ramai sejak hari Senin (Penyajaan), padahal secara tradisi, Penampahan dilakukan pada hari Selasa Pon Dungulan.

Tradisi penampahan menjelang Galungan

Entah karena alasan praktis banyak yang bekerja di luar desa, sibuk dengan rutinitas modern, atau ingin “beres lebih cepat” kita jadi terbiasa mendahului. Hari Senin yang seharusnya masih menjadi Penyajaan Galungan (hari penyucian diri menjelang kemenangan Dharma), kini berubah menjadi hari nampah babi yang riuh. Suara tawa, pedagang bumbu, dan aroma darah babi bercampur yang seharusnya digunakan untuk penyucian.

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, saya berbincang dengan Pak Nyoman, salah satu  masyarakat yang sejak lama terlibat dalam tradisi Mepatung. Menurutnya, perubahan waktu ini bukan muncul tanpa sebab.“Sekarang banyak orang yang kerja di luar desa, ada yang di kota, ada yang merantau dan ada yang pulangnya malam. Kalau nunggu hari Penampahan, takutnya mereka tidak sempat. Jadi mau tidak mau Mepatung dimajukan sehari agar semua bisa ikut,” ujar Pak Nyoman.

Bagi Pak Nyoman, memajukan hari bukan berarti mengurangi rasa hormat pada tradisi.
“Yang penting niatnya tetap sama. Waktu boleh berubah sedikit, tapi rasa dan kebersamaan jangan hilang. Galungan tetap Galungan,” tutupnya.

Fenomena ini tampak sepele di permukaan, tetapi menyimpan tanda bahwa makna waktu suci mulai terabaikan. Pergeseran hari bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kesadaran spiritual. Dalam ajaran Tattwa, waktu memiliki makna sakral. Ada tahapan yang tidak sekadar kronologis, tapi simbolis. Hari Penyajaan dimaksudkan untuk menyucikan diri dan lingkungan sebelum memasuki hari Penampahan, saat manusia menaklukkan sifat-sifat Adharma dalam diri. Ketika waktu ini dilompati, maka simbol perjuangan spiritual itu ikut tereduksi.

Tidak hanya Tradisi Mepatung yang mengalami pergeseran makna. Tradisi Mepenjor pun kini tampak melaju lebih cepat dari waktunya. Seharusnya, Penjor dipasang setelah nampah, pada hari Penampahan, sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma merupakan lambang kejayaan dan kesuburan bumi setelah melalui proses pengorbanan dan penyucian. Namun kini, jauh sebelum hari itu, jalan-jalan sudah ramai oleh penjor yang berdiri megah. Bahkan seminggu sebelum Galungan, bambu-bambu sudah menunduk anggun di tepi jalan, lengkap dengan sampian, tamiang, dan plawa.

Indah memang dipandang, apalagi di sore hari ketika matahari menyorot ujung janur yang melambai. Tetapi di balik keindahan itu, ada tanda tanya kecil yang mungkin patut kita renungkan. apakah penjor itu berdiri karena semangat Dharma, atau karena ingin “beres lebih cepat” karena kesibukan? Penjor yang seharusnya simbol kemenangan setelah perjuangan, kini berdiri lebih dulu bahkan sebelum perjuangan itu dimulai. Kita mungkin sedang terburu-buru menyambut kemenangan, tanpa benar-benar melewati prosesnya.

Tentu, tidak ada yang sepenuhnya salah dalam perubahan itu. Zaman memang berubah. Hidup semakin sibuk, waktu semakin terbatas. Tidak semua orang bisa berada di rumah pada hari Penampahan. Ada yang harus berangkat kerja, ada yang jauh dari kampung halaman. Namun yang perlu diingat, setiap pergeseran punya konsekuensi makna. Ketika kita mendahului, bukan hanya hari yang berubah, tapi juga rasa yang terkikis. Lambat laun, tradisi yang dahulu penuh makna spiritual bisa berubah menjadi formalitas belaka.

Mepatung dan Mepenjor sejatinya adalah dua simbol penting dalam perayaan Galungan. Yang satu berbicara tentang kerja sama dan pengorbanan, yang satu lagi tentang kemenangan dan keindahan hasilnya. Jika keduanya dilakukan dengan kesadaran penuh, maka Galungan menjadi perayaan spiritual yang utuh dari penyucian, pengorbanan, hingga kemenangan. Tapi jika salah satunya tergesa-gesa, maka keseimbangan itu pun terganggu.

Mungkin sudah saatnya kita kembali menata niat dalam tradisi. Mepatung bisa tetap dijalankan, Penjor bisa tetap berdiri indah, tetapi biarlah semuanya berlangsung dalam keselarasan waktu dan makna Galungan. Karena di balik hiruk pikuk sembelih babi, keriuhan menegakkan penjor, dan sibuknya dapur, ada pesan yang lebih dalam bahwa kemenangan Dharma bukan hanya diperingati, tapi dijalani dengan kesadaran, ketertiban, dan saling menghormati. Sebab sejatinya, Galungan bukan hanya datang di kalender, tapi di hati yang sudah menang melawan tergesa-gesa dan kelalaian diri sendiri. [T]

Penulis: Kadek Agus Yoga Dwipranata
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Next Post

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata, S.M., M.M. lahir di Tabanan pada tanggal 21 Oktober 1998. Saat ini, penulis merupakan Guru tetap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Selain itu, penulis juga mengabdi sebagai Dosen tidak tetap pada Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Dharma Duta, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, serta di Program Studi Manajemen Ekonomi, Fakultas Dharma Duta, Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Manajemen di Universitas Warmadewa Denpasar (2016-2020), dan melanjutkan studi magister (S2) pada Program Studi Magister Manajemen di Universitas Hindu Indonesia Denpasar (2020-2022).

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co