22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Kadek Agus Yoga Dwipranata by Kadek Agus Yoga Dwipranata
November 18, 2025
in Esai
Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Hari Raya Galungan

MENJELANG Hari Raya Galungan, aroma persiapan sudah mulai tercium di setiap sudut desa. Di halaman rumah, di balai banjar, di jalan-jalan yang mulai dihiasi penjor. Bagi umat Hindu di Bali, Galungan bukan sekadar hari kemenangan Dharma melawan Adharma, tetapi juga momentum kebersamaan yang hidup melalui berbagai tradisi. Salah satunya adalah Mepatung, tradisi yang tidak hanya berbicara tentang daging babi, melainkan juga tentang rasa, kebersamaan, dan gotong royong yang menjiwai kehidupan masyarakat Bali.

Dalam praktiknya, Mepatung dilakukan dengan cara beberapa keluarga/sekaa (kelompok) bergabung membeli seekor babi untuk disembelih bersama. Dagingnya kemudian dibagi sesuai bagian, untuk keperluan proses persiapan bahan upakara dan sajian Galungan. Melalui cara ini, beban biaya bisa diringankan, dan yang lebih penting, semangat kebersamaan tumbuh alami di antara warga. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua bersatu dalam satu tujuan yaitu menyiapkan Yadnya dengan tulus ikhlas dan gembira.

Suasana Mepatung biasanya penuh tawa. Sejak pagi, para Bapak sudah sibuk menyiapkan peralatan, sementara para Ibu menyiapkan bumbu dapur dan sarana upacara. Anak-anak berlarian di sekitar halaman, menikmati riuhnya persiapan Galungan. Dalam setiap tumpah darah babi itu, terselip makna pengorbanan, bahwa sesuatu yang hidup harus rela dikorbankan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuta dan Manusia. Mepatung bukan sekadar urusan dapur, tapi ritual sosial yang mempererat persaudaraan.

Namun, seperti banyak tradisi lain yang bergulat dengan perubahan zaman, Mepatung kini mulai menghadapi pergeseran. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan baru, penyembelihan babi dilakukan lebih awal, bahkan sudah ramai sejak hari Senin (Penyajaan), padahal secara tradisi, Penampahan dilakukan pada hari Selasa Pon Dungulan.

Tradisi penampahan menjelang Galungan

Entah karena alasan praktis banyak yang bekerja di luar desa, sibuk dengan rutinitas modern, atau ingin “beres lebih cepat” kita jadi terbiasa mendahului. Hari Senin yang seharusnya masih menjadi Penyajaan Galungan (hari penyucian diri menjelang kemenangan Dharma), kini berubah menjadi hari nampah babi yang riuh. Suara tawa, pedagang bumbu, dan aroma darah babi bercampur yang seharusnya digunakan untuk penyucian.

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, saya berbincang dengan Pak Nyoman, salah satu  masyarakat yang sejak lama terlibat dalam tradisi Mepatung. Menurutnya, perubahan waktu ini bukan muncul tanpa sebab.“Sekarang banyak orang yang kerja di luar desa, ada yang di kota, ada yang merantau dan ada yang pulangnya malam. Kalau nunggu hari Penampahan, takutnya mereka tidak sempat. Jadi mau tidak mau Mepatung dimajukan sehari agar semua bisa ikut,” ujar Pak Nyoman.

Bagi Pak Nyoman, memajukan hari bukan berarti mengurangi rasa hormat pada tradisi.
“Yang penting niatnya tetap sama. Waktu boleh berubah sedikit, tapi rasa dan kebersamaan jangan hilang. Galungan tetap Galungan,” tutupnya.

Fenomena ini tampak sepele di permukaan, tetapi menyimpan tanda bahwa makna waktu suci mulai terabaikan. Pergeseran hari bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kesadaran spiritual. Dalam ajaran Tattwa, waktu memiliki makna sakral. Ada tahapan yang tidak sekadar kronologis, tapi simbolis. Hari Penyajaan dimaksudkan untuk menyucikan diri dan lingkungan sebelum memasuki hari Penampahan, saat manusia menaklukkan sifat-sifat Adharma dalam diri. Ketika waktu ini dilompati, maka simbol perjuangan spiritual itu ikut tereduksi.

Tidak hanya Tradisi Mepatung yang mengalami pergeseran makna. Tradisi Mepenjor pun kini tampak melaju lebih cepat dari waktunya. Seharusnya, Penjor dipasang setelah nampah, pada hari Penampahan, sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma merupakan lambang kejayaan dan kesuburan bumi setelah melalui proses pengorbanan dan penyucian. Namun kini, jauh sebelum hari itu, jalan-jalan sudah ramai oleh penjor yang berdiri megah. Bahkan seminggu sebelum Galungan, bambu-bambu sudah menunduk anggun di tepi jalan, lengkap dengan sampian, tamiang, dan plawa.

Indah memang dipandang, apalagi di sore hari ketika matahari menyorot ujung janur yang melambai. Tetapi di balik keindahan itu, ada tanda tanya kecil yang mungkin patut kita renungkan. apakah penjor itu berdiri karena semangat Dharma, atau karena ingin “beres lebih cepat” karena kesibukan? Penjor yang seharusnya simbol kemenangan setelah perjuangan, kini berdiri lebih dulu bahkan sebelum perjuangan itu dimulai. Kita mungkin sedang terburu-buru menyambut kemenangan, tanpa benar-benar melewati prosesnya.

Tentu, tidak ada yang sepenuhnya salah dalam perubahan itu. Zaman memang berubah. Hidup semakin sibuk, waktu semakin terbatas. Tidak semua orang bisa berada di rumah pada hari Penampahan. Ada yang harus berangkat kerja, ada yang jauh dari kampung halaman. Namun yang perlu diingat, setiap pergeseran punya konsekuensi makna. Ketika kita mendahului, bukan hanya hari yang berubah, tapi juga rasa yang terkikis. Lambat laun, tradisi yang dahulu penuh makna spiritual bisa berubah menjadi formalitas belaka.

Mepatung dan Mepenjor sejatinya adalah dua simbol penting dalam perayaan Galungan. Yang satu berbicara tentang kerja sama dan pengorbanan, yang satu lagi tentang kemenangan dan keindahan hasilnya. Jika keduanya dilakukan dengan kesadaran penuh, maka Galungan menjadi perayaan spiritual yang utuh dari penyucian, pengorbanan, hingga kemenangan. Tapi jika salah satunya tergesa-gesa, maka keseimbangan itu pun terganggu.

Mungkin sudah saatnya kita kembali menata niat dalam tradisi. Mepatung bisa tetap dijalankan, Penjor bisa tetap berdiri indah, tetapi biarlah semuanya berlangsung dalam keselarasan waktu dan makna Galungan. Karena di balik hiruk pikuk sembelih babi, keriuhan menegakkan penjor, dan sibuknya dapur, ada pesan yang lebih dalam bahwa kemenangan Dharma bukan hanya diperingati, tapi dijalani dengan kesadaran, ketertiban, dan saling menghormati. Sebab sejatinya, Galungan bukan hanya datang di kalender, tapi di hati yang sudah menang melawan tergesa-gesa dan kelalaian diri sendiri. [T]

Penulis: Kadek Agus Yoga Dwipranata
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Next Post

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata, S.M., M.M. lahir di Tabanan pada tanggal 21 Oktober 1998. Saat ini, penulis merupakan Guru tetap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Selain itu, penulis juga mengabdi sebagai Dosen tidak tetap pada Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Dharma Duta, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, serta di Program Studi Manajemen Ekonomi, Fakultas Dharma Duta, Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Manajemen di Universitas Warmadewa Denpasar (2016-2020), dan melanjutkan studi magister (S2) pada Program Studi Magister Manajemen di Universitas Hindu Indonesia Denpasar (2020-2022).

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co