12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Kadek Agus Yoga Dwipranata by Kadek Agus Yoga Dwipranata
November 18, 2025
in Esai
Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Hari Raya Galungan

MENJELANG Hari Raya Galungan, aroma persiapan sudah mulai tercium di setiap sudut desa. Di halaman rumah, di balai banjar, di jalan-jalan yang mulai dihiasi penjor. Bagi umat Hindu di Bali, Galungan bukan sekadar hari kemenangan Dharma melawan Adharma, tetapi juga momentum kebersamaan yang hidup melalui berbagai tradisi. Salah satunya adalah Mepatung, tradisi yang tidak hanya berbicara tentang daging babi, melainkan juga tentang rasa, kebersamaan, dan gotong royong yang menjiwai kehidupan masyarakat Bali.

Dalam praktiknya, Mepatung dilakukan dengan cara beberapa keluarga/sekaa (kelompok) bergabung membeli seekor babi untuk disembelih bersama. Dagingnya kemudian dibagi sesuai bagian, untuk keperluan proses persiapan bahan upakara dan sajian Galungan. Melalui cara ini, beban biaya bisa diringankan, dan yang lebih penting, semangat kebersamaan tumbuh alami di antara warga. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua bersatu dalam satu tujuan yaitu menyiapkan Yadnya dengan tulus ikhlas dan gembira.

Suasana Mepatung biasanya penuh tawa. Sejak pagi, para Bapak sudah sibuk menyiapkan peralatan, sementara para Ibu menyiapkan bumbu dapur dan sarana upacara. Anak-anak berlarian di sekitar halaman, menikmati riuhnya persiapan Galungan. Dalam setiap tumpah darah babi itu, terselip makna pengorbanan, bahwa sesuatu yang hidup harus rela dikorbankan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuta dan Manusia. Mepatung bukan sekadar urusan dapur, tapi ritual sosial yang mempererat persaudaraan.

Namun, seperti banyak tradisi lain yang bergulat dengan perubahan zaman, Mepatung kini mulai menghadapi pergeseran. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan baru, penyembelihan babi dilakukan lebih awal, bahkan sudah ramai sejak hari Senin (Penyajaan), padahal secara tradisi, Penampahan dilakukan pada hari Selasa Pon Dungulan.

Tradisi penampahan menjelang Galungan

Entah karena alasan praktis banyak yang bekerja di luar desa, sibuk dengan rutinitas modern, atau ingin “beres lebih cepat” kita jadi terbiasa mendahului. Hari Senin yang seharusnya masih menjadi Penyajaan Galungan (hari penyucian diri menjelang kemenangan Dharma), kini berubah menjadi hari nampah babi yang riuh. Suara tawa, pedagang bumbu, dan aroma darah babi bercampur yang seharusnya digunakan untuk penyucian.

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, saya berbincang dengan Pak Nyoman, salah satu  masyarakat yang sejak lama terlibat dalam tradisi Mepatung. Menurutnya, perubahan waktu ini bukan muncul tanpa sebab.“Sekarang banyak orang yang kerja di luar desa, ada yang di kota, ada yang merantau dan ada yang pulangnya malam. Kalau nunggu hari Penampahan, takutnya mereka tidak sempat. Jadi mau tidak mau Mepatung dimajukan sehari agar semua bisa ikut,” ujar Pak Nyoman.

Bagi Pak Nyoman, memajukan hari bukan berarti mengurangi rasa hormat pada tradisi.
“Yang penting niatnya tetap sama. Waktu boleh berubah sedikit, tapi rasa dan kebersamaan jangan hilang. Galungan tetap Galungan,” tutupnya.

Fenomena ini tampak sepele di permukaan, tetapi menyimpan tanda bahwa makna waktu suci mulai terabaikan. Pergeseran hari bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kesadaran spiritual. Dalam ajaran Tattwa, waktu memiliki makna sakral. Ada tahapan yang tidak sekadar kronologis, tapi simbolis. Hari Penyajaan dimaksudkan untuk menyucikan diri dan lingkungan sebelum memasuki hari Penampahan, saat manusia menaklukkan sifat-sifat Adharma dalam diri. Ketika waktu ini dilompati, maka simbol perjuangan spiritual itu ikut tereduksi.

Tidak hanya Tradisi Mepatung yang mengalami pergeseran makna. Tradisi Mepenjor pun kini tampak melaju lebih cepat dari waktunya. Seharusnya, Penjor dipasang setelah nampah, pada hari Penampahan, sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma merupakan lambang kejayaan dan kesuburan bumi setelah melalui proses pengorbanan dan penyucian. Namun kini, jauh sebelum hari itu, jalan-jalan sudah ramai oleh penjor yang berdiri megah. Bahkan seminggu sebelum Galungan, bambu-bambu sudah menunduk anggun di tepi jalan, lengkap dengan sampian, tamiang, dan plawa.

Indah memang dipandang, apalagi di sore hari ketika matahari menyorot ujung janur yang melambai. Tetapi di balik keindahan itu, ada tanda tanya kecil yang mungkin patut kita renungkan. apakah penjor itu berdiri karena semangat Dharma, atau karena ingin “beres lebih cepat” karena kesibukan? Penjor yang seharusnya simbol kemenangan setelah perjuangan, kini berdiri lebih dulu bahkan sebelum perjuangan itu dimulai. Kita mungkin sedang terburu-buru menyambut kemenangan, tanpa benar-benar melewati prosesnya.

Tentu, tidak ada yang sepenuhnya salah dalam perubahan itu. Zaman memang berubah. Hidup semakin sibuk, waktu semakin terbatas. Tidak semua orang bisa berada di rumah pada hari Penampahan. Ada yang harus berangkat kerja, ada yang jauh dari kampung halaman. Namun yang perlu diingat, setiap pergeseran punya konsekuensi makna. Ketika kita mendahului, bukan hanya hari yang berubah, tapi juga rasa yang terkikis. Lambat laun, tradisi yang dahulu penuh makna spiritual bisa berubah menjadi formalitas belaka.

Mepatung dan Mepenjor sejatinya adalah dua simbol penting dalam perayaan Galungan. Yang satu berbicara tentang kerja sama dan pengorbanan, yang satu lagi tentang kemenangan dan keindahan hasilnya. Jika keduanya dilakukan dengan kesadaran penuh, maka Galungan menjadi perayaan spiritual yang utuh dari penyucian, pengorbanan, hingga kemenangan. Tapi jika salah satunya tergesa-gesa, maka keseimbangan itu pun terganggu.

Mungkin sudah saatnya kita kembali menata niat dalam tradisi. Mepatung bisa tetap dijalankan, Penjor bisa tetap berdiri indah, tetapi biarlah semuanya berlangsung dalam keselarasan waktu dan makna Galungan. Karena di balik hiruk pikuk sembelih babi, keriuhan menegakkan penjor, dan sibuknya dapur, ada pesan yang lebih dalam bahwa kemenangan Dharma bukan hanya diperingati, tapi dijalani dengan kesadaran, ketertiban, dan saling menghormati. Sebab sejatinya, Galungan bukan hanya datang di kalender, tapi di hati yang sudah menang melawan tergesa-gesa dan kelalaian diri sendiri. [T]

Penulis: Kadek Agus Yoga Dwipranata
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Next Post

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata, S.M., M.M. lahir di Tabanan pada tanggal 21 Oktober 1998. Saat ini, penulis merupakan Guru tetap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Selain itu, penulis juga mengabdi sebagai Dosen tidak tetap pada Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Dharma Duta, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, serta di Program Studi Manajemen Ekonomi, Fakultas Dharma Duta, Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Manajemen di Universitas Warmadewa Denpasar (2016-2020), dan melanjutkan studi magister (S2) pada Program Studi Magister Manajemen di Universitas Hindu Indonesia Denpasar (2020-2022).

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co