2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Kadek Agus Yoga Dwipranata by Kadek Agus Yoga Dwipranata
November 18, 2025
in Esai
Antara Tradisi dan Rutinitas: Refleksi atas Perubahan Tradisi Galungan

Hari Raya Galungan

MENJELANG Hari Raya Galungan, aroma persiapan sudah mulai tercium di setiap sudut desa. Di halaman rumah, di balai banjar, di jalan-jalan yang mulai dihiasi penjor. Bagi umat Hindu di Bali, Galungan bukan sekadar hari kemenangan Dharma melawan Adharma, tetapi juga momentum kebersamaan yang hidup melalui berbagai tradisi. Salah satunya adalah Mepatung, tradisi yang tidak hanya berbicara tentang daging babi, melainkan juga tentang rasa, kebersamaan, dan gotong royong yang menjiwai kehidupan masyarakat Bali.

Dalam praktiknya, Mepatung dilakukan dengan cara beberapa keluarga/sekaa (kelompok) bergabung membeli seekor babi untuk disembelih bersama. Dagingnya kemudian dibagi sesuai bagian, untuk keperluan proses persiapan bahan upakara dan sajian Galungan. Melalui cara ini, beban biaya bisa diringankan, dan yang lebih penting, semangat kebersamaan tumbuh alami di antara warga. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua bersatu dalam satu tujuan yaitu menyiapkan Yadnya dengan tulus ikhlas dan gembira.

Suasana Mepatung biasanya penuh tawa. Sejak pagi, para Bapak sudah sibuk menyiapkan peralatan, sementara para Ibu menyiapkan bumbu dapur dan sarana upacara. Anak-anak berlarian di sekitar halaman, menikmati riuhnya persiapan Galungan. Dalam setiap tumpah darah babi itu, terselip makna pengorbanan, bahwa sesuatu yang hidup harus rela dikorbankan untuk menjaga keseimbangan antara Bhuta dan Manusia. Mepatung bukan sekadar urusan dapur, tapi ritual sosial yang mempererat persaudaraan.

Namun, seperti banyak tradisi lain yang bergulat dengan perubahan zaman, Mepatung kini mulai menghadapi pergeseran. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan baru, penyembelihan babi dilakukan lebih awal, bahkan sudah ramai sejak hari Senin (Penyajaan), padahal secara tradisi, Penampahan dilakukan pada hari Selasa Pon Dungulan.

Tradisi penampahan menjelang Galungan

Entah karena alasan praktis banyak yang bekerja di luar desa, sibuk dengan rutinitas modern, atau ingin “beres lebih cepat” kita jadi terbiasa mendahului. Hari Senin yang seharusnya masih menjadi Penyajaan Galungan (hari penyucian diri menjelang kemenangan Dharma), kini berubah menjadi hari nampah babi yang riuh. Suara tawa, pedagang bumbu, dan aroma darah babi bercampur yang seharusnya digunakan untuk penyucian.

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, saya berbincang dengan Pak Nyoman, salah satu  masyarakat yang sejak lama terlibat dalam tradisi Mepatung. Menurutnya, perubahan waktu ini bukan muncul tanpa sebab.“Sekarang banyak orang yang kerja di luar desa, ada yang di kota, ada yang merantau dan ada yang pulangnya malam. Kalau nunggu hari Penampahan, takutnya mereka tidak sempat. Jadi mau tidak mau Mepatung dimajukan sehari agar semua bisa ikut,” ujar Pak Nyoman.

Bagi Pak Nyoman, memajukan hari bukan berarti mengurangi rasa hormat pada tradisi.
“Yang penting niatnya tetap sama. Waktu boleh berubah sedikit, tapi rasa dan kebersamaan jangan hilang. Galungan tetap Galungan,” tutupnya.

Fenomena ini tampak sepele di permukaan, tetapi menyimpan tanda bahwa makna waktu suci mulai terabaikan. Pergeseran hari bukan sekadar soal teknis, melainkan soal kesadaran spiritual. Dalam ajaran Tattwa, waktu memiliki makna sakral. Ada tahapan yang tidak sekadar kronologis, tapi simbolis. Hari Penyajaan dimaksudkan untuk menyucikan diri dan lingkungan sebelum memasuki hari Penampahan, saat manusia menaklukkan sifat-sifat Adharma dalam diri. Ketika waktu ini dilompati, maka simbol perjuangan spiritual itu ikut tereduksi.

Tidak hanya Tradisi Mepatung yang mengalami pergeseran makna. Tradisi Mepenjor pun kini tampak melaju lebih cepat dari waktunya. Seharusnya, Penjor dipasang setelah nampah, pada hari Penampahan, sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma merupakan lambang kejayaan dan kesuburan bumi setelah melalui proses pengorbanan dan penyucian. Namun kini, jauh sebelum hari itu, jalan-jalan sudah ramai oleh penjor yang berdiri megah. Bahkan seminggu sebelum Galungan, bambu-bambu sudah menunduk anggun di tepi jalan, lengkap dengan sampian, tamiang, dan plawa.

Indah memang dipandang, apalagi di sore hari ketika matahari menyorot ujung janur yang melambai. Tetapi di balik keindahan itu, ada tanda tanya kecil yang mungkin patut kita renungkan. apakah penjor itu berdiri karena semangat Dharma, atau karena ingin “beres lebih cepat” karena kesibukan? Penjor yang seharusnya simbol kemenangan setelah perjuangan, kini berdiri lebih dulu bahkan sebelum perjuangan itu dimulai. Kita mungkin sedang terburu-buru menyambut kemenangan, tanpa benar-benar melewati prosesnya.

Tentu, tidak ada yang sepenuhnya salah dalam perubahan itu. Zaman memang berubah. Hidup semakin sibuk, waktu semakin terbatas. Tidak semua orang bisa berada di rumah pada hari Penampahan. Ada yang harus berangkat kerja, ada yang jauh dari kampung halaman. Namun yang perlu diingat, setiap pergeseran punya konsekuensi makna. Ketika kita mendahului, bukan hanya hari yang berubah, tapi juga rasa yang terkikis. Lambat laun, tradisi yang dahulu penuh makna spiritual bisa berubah menjadi formalitas belaka.

Mepatung dan Mepenjor sejatinya adalah dua simbol penting dalam perayaan Galungan. Yang satu berbicara tentang kerja sama dan pengorbanan, yang satu lagi tentang kemenangan dan keindahan hasilnya. Jika keduanya dilakukan dengan kesadaran penuh, maka Galungan menjadi perayaan spiritual yang utuh dari penyucian, pengorbanan, hingga kemenangan. Tapi jika salah satunya tergesa-gesa, maka keseimbangan itu pun terganggu.

Mungkin sudah saatnya kita kembali menata niat dalam tradisi. Mepatung bisa tetap dijalankan, Penjor bisa tetap berdiri indah, tetapi biarlah semuanya berlangsung dalam keselarasan waktu dan makna Galungan. Karena di balik hiruk pikuk sembelih babi, keriuhan menegakkan penjor, dan sibuknya dapur, ada pesan yang lebih dalam bahwa kemenangan Dharma bukan hanya diperingati, tapi dijalani dengan kesadaran, ketertiban, dan saling menghormati. Sebab sejatinya, Galungan bukan hanya datang di kalender, tapi di hati yang sudah menang melawan tergesa-gesa dan kelalaian diri sendiri. [T]

Penulis: Kadek Agus Yoga Dwipranata
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Next Post

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata

Kadek Agus Yoga Dwipranata, S.M., M.M. lahir di Tabanan pada tanggal 21 Oktober 1998. Saat ini, penulis merupakan Guru tetap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Selain itu, penulis juga mengabdi sebagai Dosen tidak tetap pada Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Dharma Duta, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, serta di Program Studi Manajemen Ekonomi, Fakultas Dharma Duta, Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Manajemen di Universitas Warmadewa Denpasar (2016-2020), dan melanjutkan studi magister (S2) pada Program Studi Magister Manajemen di Universitas Hindu Indonesia Denpasar (2020-2022).

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co