24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aji Mumpung: Mumpung Berkuasa, Mumpung Segalanya

Chusmeru by Chusmeru
November 16, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PEMILU telah lama usai. Presiden dan wakil presiden terpilih sudah lebih setahun bekerja. Semua telah selesai. Namun masih ada yang menyisakan tanda tanya. Masih banyak yang menyangsikan prosesnya. Mereka yang terpilih meninggalkan catatan kelam dalam proses demokrasi di Tanah Air.

Betapa tidak. Hanya dalam hitungan bulan sebelum Pemilu berlangsung, drama politik dan hukum menjadi tontonan rakyat. Apalagi, kalau bukan persoalan batas minimal usia calon wakil presiden saat itu. Sim salabim, Mahkamah Konstitusi memutuskan calon wakil presiden yang tadinya tak memenuhi syarat dari segi usia, menjadikannya lolos memenuhi syarat.

Mengapa bisa terjadi? Aji mumpung jawabannya. Mumpung Pemilu tinggal menunggu waktu. Mumpung masih berkuasa. Mumpung sedang terjadi dinamika politik dan hukum. Selagi semua bisa diatur. Maka, dengan sentuhan kekuasaan apa yang tak mungkin menjadi bisa. Kapan lagi dapat membangun oligarki bila tidak sekarang. Itulah aji mumpung.

Aji mumpung berasal dari frasa bahasa Jawa. Aji berarti harga atau nilai diri. Mumpung bermakna selagi ada kesempatan. Kata aji mumpung acapkali mendapat konotasi yang negatif dan selalu dikaitkan dengan penyalahgunaan jabatan maupun kepercayaan. Aji mumpung dianggap sebagai pemanfaatan peluang tanpa mempertimbangkan kejujuran, keadilan, dan etika; hanya demi kepentingan diri sendiri maupun kelompok.

 Bukan hanya dalam urusan politik. Aji mumpung bisa dalam segalanya. Tengoklah kehidupan sebagian para remaja. Mereka ada yang berperilaku hedon, ugal-ugalan, mabuk, dan terlibat kenakalan remaja. Jika ditanya mengapa mereka berperilaku seperti itu, jawabnya mumpung masih muda.

Tidak cuma ada di jagat nyata. Aji mumpung juga bisa terjadi di jagat maya. Begitu mudah orang memanfaatkan media sosial untuk bergunjing, flexing, menyebarkan ujaran kebencian, maupun hoaks. Bila ditanya alasan mereka berbuat seperti itu, jawabnya mumpung era digital memberi kebebasan. Bahkan, doa pun bisa dijual dan dibeli secara online, mumpung era digital.

Karenanya, aji mumpung berkaitan dengan tiga dimensi. Pertama, dimensi waktu saat ini. Kedua, dimensi keadaan seperti sepi, ramai, bebas, dan berkuasa. Ketiga, dimensi tindakan, berupa perilaku melanggar, melawan, menerabas, mengumbar, dan sebagainya. Aji mumpung adalah persoalan mentalitas memanfaatkan ketiga dimensi tersebut.

Mumpung

Orang-orang yang memanfaatkan aji mumpung memang dilandasi oleh adanya sumber daya, baik sumber daya sosial, politik, maupun ekonomi; serta upaya untuk menjadikan sumber daya itu sebagai keuntungan pribadi dan kelompoknya. Siapa pun dapat terjangkit aji mumpung selagi ada kesempatan.

Anggaran pemerintah yang begitu melimpah bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), mendorong orang untuk aji mumpung menikmati anggaran ratusan triliun rupiah itu. Banyak orang lantas mendirikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Persoalan profesionalitas kadang diabaikan. Mereka berpikir, jika kenyataannya terjadi kasus keracunan akibat MBG, itu urusan dokter dan rumah sakit yang akan mengatasinya.

Mumpung jadi anggota DPR, ajukan gaji dan tunjangan yang setinggi mungkin. Kapan lagi. Itu mungkin isi pikiran mereka. Bagaimana dengan masih banyaknya masyarakat yang miskin dan menganggur? Sudah ada menteri yang mengurus masalah tenaga kerja dan masalah kemiskinan. Barangkali itu jawaban mereka.

Rezim yang sedang berkuasa acapkali memanfaatkan aji mumpung ini untuk berbagai kepentingan. Selagi berkuasa, seseorang yang oleh sebagian besar rakyat dianggap sebagai diktator diangkat sebagai pahlawan nasional. Penguasa yang dilengserkan rakyat secara beramai-ramai itu, justru mendapat gelar pahlawan.

Mumpung sedang berkuasa, orang-orang terdekatnya diangkat menduduki berbagai jabatan. Tak peduli dengan kelayakan. Ukurannya selalu mumpung saat ini berkuasa. Esok mungkin tak lagi. Perkara tudingan kolusi dan nepotisme dianggap sebagai kicauan orang-orang yang tak menikmati kekuasaan.

Orang yang berkuasa memang cenderung berperilaku aji mumpung dengan kekuasaannya. Mumpung berkuasa, seseorang dapat eksploitatif, menindas, atau berbuat zalim kepada orang lain. Kekuasaan yang dimilikinya dimanfaatkan untuk meraup dan menumpuk harta dengan cara korupsi.

Mereka yang menggunakan kekuasaan untuk korupsi sedikit pun tidak pernah merasa bersalah. Bahkan ketika rakyat hidup dalam penderitaan akibat kemiskinan, oknum penguasa yang korup itu tak pernah merasa bersalah. Begitu pun saat korupsinya terbongkar dan oknum itu ditahan, dia tetap tidak merasa bersalah.

Nyaris tidak dijumpai pejabat yang menyesali tindak korupsinya. Bahkan mantan terpidana korupsi yang telah bebas, suatu ketika kembali ditangkap KPK karena kasus korupsi juga. Aji mumpung telah menutup mata dan telinga; bahkan hati, rasa malu, dan rasa bersalah mereka.

Eling

Masyarakat Jawa memiliki pepatah yang juga dijadikan ajaran dan filosofi dalam kehidupan, yaitu urip mung mampir ngombe. Hidup itu ibarat orang yang hanya singgah untuk minum. Hanya sebentar. Oleh karenanya hidup ini mesti penuh makna.

Namun demikian, filosofi urip mung mampir ngombe ini diterjemahkan secara berbeda oleh masing-masing orang. Ada yang mengartikan sebagai hidup yang sejenak, sehingga harus diisi dengan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ada pula yang memaknai sebagai hidup yang sebentar dan perlu dinikmati dengan senang hati. Mumpung ada kesempatan memiliki jabatan dan kekayaan, harus dimanfaatkan untuk kesenangan diri dan keluarga.

Memanfaatkan waktu yang tidak lama dalam hidup ini sangat tergantung pada kesadaran orang tentang hakikat eling marang dumadi, yaitu selalu ingat pada proses terjadinya segala sesuatu. Hidup ini selalu ada sebab-musabab, ada awal dan akhir. Eling adalah kesadaran diri, sebentuk komunikasi intrapersonal untuk selalu ingat pada proses awal dan akhir dari segalanya. Dumadi adalah proses mengada, proses menjadi, semacam komunikasi eksistensial.

Menjadi manusia yang sadar akan makna kehidupan memerlukan pemahaman tentang sangkaning dumadi, tataraning dumadi, dan paraning dumadi. Ketiga hal itu seringkali menjadi filosofi dan pedoman hidup masyarakat Jawa di masa lalu (Chusmeru, 2023).

Semua yang berkaitan dengan eksistensi awal sesuatu adalah sangkaning dumadi. Dalam perspektif lebih luas, sangkaning dumadi dapat digunakan untuk menelisik asal-muasal harta, kekayaan, maupun jabatan seseorang. Dari mana seseorang mendapatkan harta, kekayaan, maupun jabatan?. Apakah dari hasil kerja keras yang panjang, sehingga ia layak mendapatkan semua itu?. Ataukah dari hasil korupsi, kolusi, dan nepotisme?

 Tataraning dumadi berkaitan dengan martabat seseorang dalam kehidupannya. Jabatan atau kekuasaan yang dimiliki seseorang seyogyanya dapat mengangkat harkat dan martabatnya. Namun tidak jarang, dengan kekuasaan yang dimiliki orang justru bertindak semena-mena kepada orang lain. Orang menjadi kehilangan kesadaran untuk eling.

 Begitu pun harta dan kekayaan yang dimiliki semestinya dapat menjaga martabatnya. Pamer harta dan kekayaan di media sosial bukanlah contoh perilaku yang menjunjung tinggi martabat, sementara banyak orang yang hidup dalam himpitan kesulitan ekonomi. Apalagi harta dan kekayaan itu diperolehnya dari cara-cara yang tidak bermartabat.

Akan seperti apa harta, kekayaan, dan jabatan orang di kemudian hari merupakan pertanyaan dari paraning dumadi. Konsepsi ini lebih bersifat futuristik. Artinya, orang diajak untuk berpikir jauh ke depan tentang apa yang kini dimiliki. Apakah jabatan yang ia emban akan membawa kebaikan buat orang banyak. Apakah harta dan kekayaan yang ia miliki tidak membuatnya semakin rakus untuk menimbun lebih banyak lagi.

 Banyak ajaran nenek moyang yang bernilai luhur. Namun tidak banyak yang melaksanakannya. Sebagaimana Pancasila yang sungguh bernilai luhur sebagai dasar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Tetapi nyatanya, makin banyak orang yang mempertuhankan harta dan kekuasaan. Makin banyak yang berperilaku biadab, memancing perpecahan, membuat keputusan yang tak bijak, dan bertindak yang jauh dari rasa keadilan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Next Post

Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co