9 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
November 13, 2025
in Ulas Musik
“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Personel band .Feast terdiri atas Baskara Putra, Adnan Satyanugraha, Dicky Renanda, dan Fadli Fikriawan | sumber foto KapanLagi.com

DI tengah lanskap musik Indonesia yang penuh warna dan eksperimen, nama .Feast menempati posisi yang unik. Band ini bukan sekadar kumpulan musisi yang pandai memainkan instrumen, tetapi juga para perenung yang menggugat kenyataan sosial dan emosional manusia modern. Di bawah naungan suara khas Baskara Putra, yang juga dikenal luas dengan proyek solonya Hindia, .Feast telah menulis banyak karya yang menggugah pikiran dan perasaan. Dari kritik sosial seperti “Peradaban” hingga eksplorasi personal seperti “Tarot”, mereka selalu menghadirkan lagu-lagu yang menembus lapisan makna.

Baskara sendiri dikenal sebagai sosok yang reflektif, intelektual, dan jujur dalam menulis lirik. Ia tidak hanya bercerita tentang cinta atau politik, tetapi tentang manusia yang berjuang memahami dirinya di tengah dunia yang semakin absurd. “Tarot”, yang diciptakannya untuk .Feast, merupakan salah satu karya paling emosional yang keluar dari tangannya. Lagu ini dirilis sebagai bagian dari album Membangun & Menghancurkan, dan sejak kemunculannya langsung memancing interpretasi berlapis dari para pendengar dan kritikus musik.

Sebuah Lagu yang Menyelam ke Batin, Bukan Sekadar ke Hati

“Tarot” bukan lagu cinta biasa. Ia tidak bercerita tentang manisnya hubungan atau janji yang mudah diucapkan. Sebaliknya, lagu ini membuka ruang bagi kita untuk merenungi sisi paling rumit dari cinta: ketika logika menyerah, tapi hati belum mau kalah. Liriknya yang berbunyi “Bertahan meski tak masuk logika” seolah menjadi mantra bagi banyak orang yang pernah berada di ambang keputusasaan emosional. Menurut Indomusikgram, lagu ini menggambarkan seseorang yang masih mencoba mempertahankan hubungan meski semua tanda-tanda mengatakan hubungan itu seharusnya berakhir.

Simbol “tarot” dalam lagu ini bukan sekadar alat ramalan, tetapi cermin dari ketidakpastian. Sebagaimana dijelaskan dalam ulasan Narasi.tv, tarot di tangan .Feast bukanlah permainan nasib, melainkan perjalanan batin seseorang yang berusaha membaca arah cintanya sendiri. Setiap kartu seakan menjadi refleksi dari pilihan, luka, dan harapan yang tersisa.

Dalam wawancara yang dikutip Medcom.id, Baskara menyebut bahwa lagu ini berbicara tentang “keputusan manusia untuk tetap mencintai, bahkan ketika logika tak lagi memberi ruang.” Ucapan itu menegaskan bahwa “Tarot” bukanlah lagu melankolis biasa. Ia adalah bentuk meditasi emosional — renungan tentang keberanian untuk bertahan di tengah ketidakpastian.

Perpaduan Lirik dan Suara yang Menggetarkan

Secara musikal, “Tarot” memadukan kekuatan aransemen khas .Feast dengan lirik yang intim dan reflektif. Nada-nadanya berat, megah, dan misterius — seolah membentuk suasana ritual yang penuh intensitas. Menurut ulasan Liputan6, elemen musikal dalam “Tarot” terasa seperti “doa yang diucapkan dalam keheningan,” dengan atmosfer spiritual yang menyelimuti setiap baitnya.

Suara Baskara yang dalam dan penuh tekanan emosi memperkuat nuansa konflik batin dalam lagu ini. Ada ketegangan yang konstan: antara keinginan untuk melepaskan dan kebutuhan untuk tetap menggenggam. Pendengar seolah diajak duduk di meja ramalan, menatap kartu cinta yang belum tentu berpihak padanya.

Ketika Ramalan Menjadi Simbol Manusia Modern

Salah satu kekuatan utama lagu ini adalah cara .Feast memanfaatkan simbol tarot sebagai metafora kehidupan modern. Seperti yang diulas oleh Kompasiana, tarot dalam lagu ini bisa dimaknai sebagai “peta batin manusia”—setiap kartu mencerminkan fase kehidupan: cinta, kehilangan, harapan, dan kebimbangan. Lagu ini mengajak pendengarnya menyadari bahwa dalam kehidupan, manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang menunggu di depan. Kita hanya bisa menebak, berharap, dan menerima hasilnya.

Tarot menjadi cermin dari zaman di mana manusia berusaha menemukan kepastian di tengah ketidakpastian. Dalam dunia modern yang serba logis dan digital, lagu ini seolah berkata: bahkan dengan teknologi secanggih apa pun, manusia tetap makhluk yang rapuh, penuh harap, dan sering kali tidak rasional ketika mencintai.

Antara Hati dan Logika: Sebuah Pertaruhan

Dari sisi psikologis, “Tarot” bisa dibaca sebagai refleksi dari fenomena cognitive dissonance, yaitu ketegangan batin ketika perasaan dan logika saling bertentangan. Kita tahu hubungan itu tak sehat, tetapi hati menolak berhenti. Di titik inilah seni berbicara: bukan untuk memperbaiki logika, melainkan untuk menenangkan jiwa.

Lagu ini membuat pendengarnya sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksa menjadi masuk akal. Dalam cinta, orang bisa berkorban, bertahan, dan bahkan menyangkal kenyataan. Namun, sebagaimana disiratkan dalam lagu ini, keberanian untuk mencintai meski tanpa kepastian justru menjadi bentuk kemanusiaan yang paling sejati.

.Feast dan Pergulatan Estetika yang Dewasa

“Tarot” juga menandai fase kematangan baru bagi .Feast. Jika di album-album sebelumnya mereka lantang menyuarakan kritik sosial dan politik, kali ini mereka masuk ke wilayah introspektif yang lebih sunyi tapi tak kalah mengguncang. Menurut Kapanlagi, lagu ini menunjukkan bahwa .Feast kini tak hanya berbicara tentang dunia luar, tapi juga dunia dalam diri manusia.

Transformasi ini membuat “Tarot” menjadi karya yang relevan bagi siapa pun, bukan hanya bagi pecinta musik alternatif. Ia menyentuh persoalan universal — rasa takut kehilangan, kerinduan, dan keberanian untuk tetap percaya meski tanpa alasan yang jelas.

Cinta yang Tak Masuk Logika, Tapi Masuk Nurani

Di tengah dunia yang kian rasional, “Tarot” hadir sebagai ruang untuk merayakan ketidakrasionalan yang manusiawi. Lagu ini tidak mengajak kita menjadi bodoh karena cinta, tapi mengajarkan bahwa terkadang, bertahan meski tak masuk logika adalah cara paling jujur untuk mencintai. Karena sejatinya, cinta bukan perkara logika, tapi keberanian untuk tetap merasa — bahkan ketika perasaan itu menyakitkan.

Seperti kata pepatah lama, “hati punya alasan yang tak dimengerti oleh pikiran.” “Tarot” menjadi pengingat bahwa di balik setiap keputusan emosional, ada kejujuran yang tak bisa diukur dengan akal. Ia mengajak pendengarnya tidak malu untuk lemah, tidak takut untuk salah, dan tidak menyesal untuk mencinta — meski akhirnya luka.

Seni yang Tak Memberi Jawaban, Tapi Menemani

Yang membuat “Tarot” begitu menggugah adalah caranya berbicara tanpa menggurui. Lagu ini tidak berusaha menyembuhkan siapa pun, tapi menemani mereka yang sedang terluka. Ia tak menjanjikan akhir bahagia, tetapi memberi ruang bagi pendengarnya untuk menerima bahwa luka pun bagian dari perjalanan.

Sebagaimana tarot yang membuka banyak kemungkinan, lagu ini pun terbuka untuk ditafsirkan. Ada yang menganggapnya lagu patah hati, ada yang menyebutnya lagu perjuangan, dan ada pula yang menilainya sebagai meditasi spiritual. Keindahannya terletak pada kebebasan itu — kebebasan untuk menemukan diri sendiri di antara notasi dan kata-kata.

Penutup: Keberanian untuk Terus Percaya

Pada akhirnya, “Tarot” bukan hanya tentang cinta yang rumit, tetapi juga tentang keberanian untuk percaya pada sesuatu yang tak pasti. Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan, kita semua adalah penafsir kartu — menebak, berharap, dan terkadang, berdoa agar kartu terakhir tidak membawa kehancuran. Lagu ini adalah serenade bagi mereka yang berani mencinta tanpa syarat, yang memilih percaya meski sadar akan risiko kehilangan.

Dan mungkin, itulah esensi dari karya seni sejati: bukan sekadar memberi hiburan, tapi menyentuh sisi terdalam manusia — tempat di mana logika berhenti, dan hati mulai berbicara. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

Tags: .FeastmusikTarot
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Next Post

Apresiasi Buku ‘Sanghyang Siksa Kandang Karesian’: Ajaran Luhur Sunda Kuno untuk Melahirkan Manusia Visioner

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Apresiasi Buku ‘Sanghyang Siksa Kandang Karesian’: Ajaran Luhur Sunda Kuno untuk Melahirkan Manusia Visioner

Apresiasi Buku 'Sanghyang Siksa Kandang Karesian': Ajaran Luhur Sunda Kuno untuk Melahirkan Manusia Visioner

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot
Esai

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
Terbang di Atas Sepi
Esai

Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

by Angga Wijaya
May 8, 2026
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single
Pop

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama
Esai

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan
Esai

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co