25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
November 13, 2025
in Ulas Musik
“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Personel band .Feast terdiri atas Baskara Putra, Adnan Satyanugraha, Dicky Renanda, dan Fadli Fikriawan | sumber foto KapanLagi.com

DI tengah lanskap musik Indonesia yang penuh warna dan eksperimen, nama .Feast menempati posisi yang unik. Band ini bukan sekadar kumpulan musisi yang pandai memainkan instrumen, tetapi juga para perenung yang menggugat kenyataan sosial dan emosional manusia modern. Di bawah naungan suara khas Baskara Putra, yang juga dikenal luas dengan proyek solonya Hindia, .Feast telah menulis banyak karya yang menggugah pikiran dan perasaan. Dari kritik sosial seperti “Peradaban” hingga eksplorasi personal seperti “Tarot”, mereka selalu menghadirkan lagu-lagu yang menembus lapisan makna.

Baskara sendiri dikenal sebagai sosok yang reflektif, intelektual, dan jujur dalam menulis lirik. Ia tidak hanya bercerita tentang cinta atau politik, tetapi tentang manusia yang berjuang memahami dirinya di tengah dunia yang semakin absurd. “Tarot”, yang diciptakannya untuk .Feast, merupakan salah satu karya paling emosional yang keluar dari tangannya. Lagu ini dirilis sebagai bagian dari album Membangun & Menghancurkan, dan sejak kemunculannya langsung memancing interpretasi berlapis dari para pendengar dan kritikus musik.

Sebuah Lagu yang Menyelam ke Batin, Bukan Sekadar ke Hati

“Tarot” bukan lagu cinta biasa. Ia tidak bercerita tentang manisnya hubungan atau janji yang mudah diucapkan. Sebaliknya, lagu ini membuka ruang bagi kita untuk merenungi sisi paling rumit dari cinta: ketika logika menyerah, tapi hati belum mau kalah. Liriknya yang berbunyi “Bertahan meski tak masuk logika” seolah menjadi mantra bagi banyak orang yang pernah berada di ambang keputusasaan emosional. Menurut Indomusikgram, lagu ini menggambarkan seseorang yang masih mencoba mempertahankan hubungan meski semua tanda-tanda mengatakan hubungan itu seharusnya berakhir.

Simbol “tarot” dalam lagu ini bukan sekadar alat ramalan, tetapi cermin dari ketidakpastian. Sebagaimana dijelaskan dalam ulasan Narasi.tv, tarot di tangan .Feast bukanlah permainan nasib, melainkan perjalanan batin seseorang yang berusaha membaca arah cintanya sendiri. Setiap kartu seakan menjadi refleksi dari pilihan, luka, dan harapan yang tersisa.

Dalam wawancara yang dikutip Medcom.id, Baskara menyebut bahwa lagu ini berbicara tentang “keputusan manusia untuk tetap mencintai, bahkan ketika logika tak lagi memberi ruang.” Ucapan itu menegaskan bahwa “Tarot” bukanlah lagu melankolis biasa. Ia adalah bentuk meditasi emosional — renungan tentang keberanian untuk bertahan di tengah ketidakpastian.

Perpaduan Lirik dan Suara yang Menggetarkan

Secara musikal, “Tarot” memadukan kekuatan aransemen khas .Feast dengan lirik yang intim dan reflektif. Nada-nadanya berat, megah, dan misterius — seolah membentuk suasana ritual yang penuh intensitas. Menurut ulasan Liputan6, elemen musikal dalam “Tarot” terasa seperti “doa yang diucapkan dalam keheningan,” dengan atmosfer spiritual yang menyelimuti setiap baitnya.

Suara Baskara yang dalam dan penuh tekanan emosi memperkuat nuansa konflik batin dalam lagu ini. Ada ketegangan yang konstan: antara keinginan untuk melepaskan dan kebutuhan untuk tetap menggenggam. Pendengar seolah diajak duduk di meja ramalan, menatap kartu cinta yang belum tentu berpihak padanya.

Ketika Ramalan Menjadi Simbol Manusia Modern

Salah satu kekuatan utama lagu ini adalah cara .Feast memanfaatkan simbol tarot sebagai metafora kehidupan modern. Seperti yang diulas oleh Kompasiana, tarot dalam lagu ini bisa dimaknai sebagai “peta batin manusia”—setiap kartu mencerminkan fase kehidupan: cinta, kehilangan, harapan, dan kebimbangan. Lagu ini mengajak pendengarnya menyadari bahwa dalam kehidupan, manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang menunggu di depan. Kita hanya bisa menebak, berharap, dan menerima hasilnya.

Tarot menjadi cermin dari zaman di mana manusia berusaha menemukan kepastian di tengah ketidakpastian. Dalam dunia modern yang serba logis dan digital, lagu ini seolah berkata: bahkan dengan teknologi secanggih apa pun, manusia tetap makhluk yang rapuh, penuh harap, dan sering kali tidak rasional ketika mencintai.

Antara Hati dan Logika: Sebuah Pertaruhan

Dari sisi psikologis, “Tarot” bisa dibaca sebagai refleksi dari fenomena cognitive dissonance, yaitu ketegangan batin ketika perasaan dan logika saling bertentangan. Kita tahu hubungan itu tak sehat, tetapi hati menolak berhenti. Di titik inilah seni berbicara: bukan untuk memperbaiki logika, melainkan untuk menenangkan jiwa.

Lagu ini membuat pendengarnya sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksa menjadi masuk akal. Dalam cinta, orang bisa berkorban, bertahan, dan bahkan menyangkal kenyataan. Namun, sebagaimana disiratkan dalam lagu ini, keberanian untuk mencintai meski tanpa kepastian justru menjadi bentuk kemanusiaan yang paling sejati.

.Feast dan Pergulatan Estetika yang Dewasa

“Tarot” juga menandai fase kematangan baru bagi .Feast. Jika di album-album sebelumnya mereka lantang menyuarakan kritik sosial dan politik, kali ini mereka masuk ke wilayah introspektif yang lebih sunyi tapi tak kalah mengguncang. Menurut Kapanlagi, lagu ini menunjukkan bahwa .Feast kini tak hanya berbicara tentang dunia luar, tapi juga dunia dalam diri manusia.

Transformasi ini membuat “Tarot” menjadi karya yang relevan bagi siapa pun, bukan hanya bagi pecinta musik alternatif. Ia menyentuh persoalan universal — rasa takut kehilangan, kerinduan, dan keberanian untuk tetap percaya meski tanpa alasan yang jelas.

Cinta yang Tak Masuk Logika, Tapi Masuk Nurani

Di tengah dunia yang kian rasional, “Tarot” hadir sebagai ruang untuk merayakan ketidakrasionalan yang manusiawi. Lagu ini tidak mengajak kita menjadi bodoh karena cinta, tapi mengajarkan bahwa terkadang, bertahan meski tak masuk logika adalah cara paling jujur untuk mencintai. Karena sejatinya, cinta bukan perkara logika, tapi keberanian untuk tetap merasa — bahkan ketika perasaan itu menyakitkan.

Seperti kata pepatah lama, “hati punya alasan yang tak dimengerti oleh pikiran.” “Tarot” menjadi pengingat bahwa di balik setiap keputusan emosional, ada kejujuran yang tak bisa diukur dengan akal. Ia mengajak pendengarnya tidak malu untuk lemah, tidak takut untuk salah, dan tidak menyesal untuk mencinta — meski akhirnya luka.

Seni yang Tak Memberi Jawaban, Tapi Menemani

Yang membuat “Tarot” begitu menggugah adalah caranya berbicara tanpa menggurui. Lagu ini tidak berusaha menyembuhkan siapa pun, tapi menemani mereka yang sedang terluka. Ia tak menjanjikan akhir bahagia, tetapi memberi ruang bagi pendengarnya untuk menerima bahwa luka pun bagian dari perjalanan.

Sebagaimana tarot yang membuka banyak kemungkinan, lagu ini pun terbuka untuk ditafsirkan. Ada yang menganggapnya lagu patah hati, ada yang menyebutnya lagu perjuangan, dan ada pula yang menilainya sebagai meditasi spiritual. Keindahannya terletak pada kebebasan itu — kebebasan untuk menemukan diri sendiri di antara notasi dan kata-kata.

Penutup: Keberanian untuk Terus Percaya

Pada akhirnya, “Tarot” bukan hanya tentang cinta yang rumit, tetapi juga tentang keberanian untuk percaya pada sesuatu yang tak pasti. Ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan, kita semua adalah penafsir kartu — menebak, berharap, dan terkadang, berdoa agar kartu terakhir tidak membawa kehancuran. Lagu ini adalah serenade bagi mereka yang berani mencinta tanpa syarat, yang memilih percaya meski sadar akan risiko kehilangan.

Dan mungkin, itulah esensi dari karya seni sejati: bukan sekadar memberi hiburan, tapi menyentuh sisi terdalam manusia — tempat di mana logika berhenti, dan hati mulai berbicara. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

Tags: .FeastmusikTarot
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Next Post

Apresiasi Buku ‘Sanghyang Siksa Kandang Karesian’: Ajaran Luhur Sunda Kuno untuk Melahirkan Manusia Visioner

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Apresiasi Buku ‘Sanghyang Siksa Kandang Karesian’: Ajaran Luhur Sunda Kuno untuk Melahirkan Manusia Visioner

Apresiasi Buku 'Sanghyang Siksa Kandang Karesian': Ajaran Luhur Sunda Kuno untuk Melahirkan Manusia Visioner

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co