BANYAK kasus yang terjadi dalam industri pariwisata di beberapa negara. Terbaru, warga lokal atau warlok menolak kehadiran wisatawan di negaranya. Alasannya beragam, mulai dari perilaku negatif wisatawan, kemacetan lalu lintas, hingga mahalnya harga properti di satu negara akibat pariwisata yang melaju pesat.
Demonstrasi besar terjadi di kota Barcelona, Spanyol. Warga setempat menolak pariwisata yang semakin tak terkendali di wilayah itu. Berbagai spanduk dibentangkan, bertuliskan: “Barcelona bukan untuk dijual”, “Wisatawan pulang”, “Kurangi pariwisata sekarang”, “Turis keluar dari lingkungan kami”.
Bukan hanya itu, warga bahkan menembaki wisatawan dengan pistol air. Apa yang dilakukan warlok Barcelona tentu merupakan akumulasi dari sekian lama pariwisata massal yang dibiarkan terjadi. Dampak seriusnya baru dirasakan sekarang.
Pulau wisata Capri di Italia menghentikan aktivitas pariwisatanya. Pemerintah setempat melarang kedatangan wisatawan, karena sedang dilanda krisis air. Sementara di Amsterdam, Belanda muncul kampanye untuk menolak wisatawan yang berperilaku negatif di wilayah itu.
Indonesia secara tegas memang tidak menolak kehadiran wisatawan asing. Namun berbagai kasus yang terjadi selama ini, membuat banyak pihak untuk berpikir tentang pentingnya mencegah overtourism dan perilaku buruk wisatawan.
Bali kini menjadi destinasi yang banyak menjadi bahan pergunjingan wisatawan. Kemacetan lalu lintas di Bali membuat wisatawan kesal. Perilaku wisatawan asing yang ugal-ugalan di Bali juga menjadikan Bali tak nyaman bagi sebagian wisatawan yang mendambakan ketenangan. Apalagi sebagian daerah di Bali baru saja diterjang banjir besar.
Berwisata di hari libur, apalagi long week end ke Puncak, Bogor atau ke Bandung sudah tidak nyaman lagi. Kemacetan lalu lintas pasti akan terjadi. Alih-alih menikmati liburan dengan santai, wisatawan justru mengalami lelah di jalan.
Menyikapi kondisi destinasi di beberapa negara, wisatawan mulai melirik destinasi underrated. Destinasi ini merupakan objek dan daya tarik wisata yang dianggap tidak begitu populer, tidak bermasalah dengan kemacetan, polusi, sampah, kerusakan lingkungan, maupun perilaku buruk wisatawan. Intinya adalah destinasi yang tidak dianggap penting, namun nyaman untuk dikunjungi.
Simbol Perlawanan
Mengunjungi destinasi underrated bukan hanya dapat menemukan destinasi alternatif yang tidak banyak masalah. Destinasi underrated dapat menjadi simbol bagi wisatawan untuk menolak destinasi wisata yang amburadul. Destinasi amburadul perlahan namun pasti akan ditinggalkan wisatawan.
Pilihan destinasi underrated cukup banyak. Merunut TimeOut, terdapat 24 destinasi wisata underrated di dunia yang menawarkan alternatif berwisata yang bagus namun sepi. Dalam daftar itu tidak terdapat destinasi terkenal seperti Bangkok maupun Bali ( detikTravel, 14 Juli 2024).
Beberapa destinasi baru diperkenalkan. Salah satunya adalah Filandia yang ada di Kolombia. Destinasi underrated ini menempati posisi pertama. Pemandangan khas pedesaan dan arsitektur warna-warni menjadi andalan. Dikenal pula sebagai “permata” dengan wilayah yang penuh perkebunan kopi, keindahan alam, dan suasana lokalnya. Filandia menjadi salah satu Desa Wisata Terbaik di dunia versi UN WTO.
Sedangkan untuk Indonesia, TimeOut menyebut Lombok sebagai destinasi wisata underrated. Lombok berada di posisi 24 sebagai destinasi wisata alternatif dunia. Meski Lombok kini mulai ramai dikunjungi wisatawan asing sejak berdirinya Sirkuit Mandalika, namun belum seramai dan seamburadul Bali.
Sementara itu CNN Travel mencatat 18 destinasi wisata underrated di Asia yang layak untuk dikunjungi wisatawan. Kota Ipoh di Malaysia menjadi destinasi alternatif di urutan pertama di Asia. Ipoh merupakan distrik di Malaysia dengan perkebunan teh dan berhawa sejuk (CNN Indonesia, 26 Desember 2022).
Destinasi underrated Indonesia menurut CNN Travel bukanlah Lombok, melainkan Pulau Samosir, Sumatra Utara yang ada di posisi 10. Pulau Samosir merupakan pulau vulkanik di Danau Toba yang merupakan kawah terbesar di dunia.
Begitu banyak pilihan destinasi underrated, baik di dunia maupun di kawasan Asia. Semua destinasi itu masih nyaman untuk dikunjungi wisatawan. Memilih berkunjung ke destinasi alternatif itu akan dapat mengurangi derasnya arus wisatawan pada destinasi yang populer namun amburadul kondisinya. Sekaligus ini juga bentuk perlawanan wisatawan pada destinasi wisata amburadul.
Preferensi Wisatawan
Tidak semua destinasi wisata underrated tidak populer di mata wisatawan. Semua tergantung preferensi wisatawan untuk memilih destinasi underrated sesuai dengan karakteristik destinasinya. Banyak tokoh maupun pesohor yang mengunjungi destinasi yang tidak populer di Indonesia.
Destinasi wisata alam Pulau Moyo di Nusa Tenggara Barat dimanfaatkan sebagai tempat liburan tersembunyi bagi selebriti dunia seperti Mick Jagger, David Bowie, hingga David Beckham. Begitu pula Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur pernah menjadi destinasi liburan Gwyneth Paltrow, pemeran Pepper Potts di film Iron Man, dan pembalap MotoGP Valentino Rossi ( kemenparekaf.go.id, 15 November 2021).
Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Nanggro Aceh Darussalam merupakan destinasi wisata underrated yang sempat dikunjungi peraih Oscar, Leonardo DiCaprio. Begitu pula Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat, pernah dikunjungi bintang film Fast Furious, mendiang Paul Walker.
Semua pesohor maupun selebriti itu bukan sekadar asal-asalan memilih destinasi untuk berlibur. Mereka memang sengaja memilih tempat yang masih alami, sejuk, indah, bersih, dan belum banyak pengunjung. Artinya, mereka melawan dengan memilih destinasi wisata yang autentik dan meninggalkan destinasi amburadul.
Alasan wisatawan mengunjungi destinasi underrated lantaran menawarkan pengalaman yang lebih autentik daripada destinasi yang ramai dikunjungi. Destinasi itu menampilkan budaya lokal yang beragam, tradisi unik, atau pemandangan alam yang belum terlalu terjamah oleh wisata massal.
Destinasi underrated juga cenderung lebih tenang dan kurang ramai dibandingkan destinasi populer. Wisatawan bisa menikmati kebebasan untuk mengeksplorasi tanpa keramaian dan antrean yang panjang, serta memiliki kesempatan untuk merasakan atmosfer yang lebih damai.
Dengan mengunjungi destinasi underrated, wisatawan juga dapat memberikan dampak positif pada ekonomi lokal. Mereka dapat membantu mendukung bisnis kecil dan komunitas lokal, yang sering kali sangat mengandalkan pariwisata untuk pendapatan mereka.
Pada akhirnya, destinasi underrated memang dapat dipandang sebagai perlawanan terhadap pengelolaan pariwisata yang amburadul. Dengan catatan, destinasi underrated pun tetap perlu memiliki konsep yang jelas, agar tidak terjebak menjadi destinasi massal di kemudian hari. Begitu banyak pilihan berwisata. Saatnya lawan dan tinggalkan destinasi yang amburadul! [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole


























